31 January 2008

Album 'Ayam Berkokok' Maria Eva


Masih ingat Maria Eva? Hehehe... penyanyi asal Sidoarjo ini pada akhir 2006 bikin heboh gara-gara video mesranya dengan Yahya Zaini, politikus Golkar, beredar di masyarakat. Adegan ranjang ini membuat Yahya terpental dari kursi empuk Dewan Perwakilan Rakyat.

Sebaliknya, Maria Eva justru makin populer. Setidaknya makin dikenal masyarakat luas. Nah, baru-baru ini Maria Eva merilis album Ayam Berkokok. Ada 10 lagu, semuanya bercorak house musik. Maria Eva menulis:

"Ini adalah harapan saya sejak lama untuk dapat menyanyikan lagu dangdut dengan corak dan warna yang berbeda. Kombinasi antara dangdut, pop, dan house music yang diramu menjadi seni yang abadi."

Kalau kita menyimak album perdananya, Pelangi Senja [digarap seniman legendaris Abdul Malik Buzaid], jelaslah bahwa Maria Eva telah berubah 180 derajat. Abah Malik mendesain Maria Eva sebagai penyanyi pop-dangdut dengan sentuhan keanggunan musik Melayu klasik. Sebaliknya, di album ini Maria Eva tampil sebagai penyanyi penghibur untuk konsumsi tempat-tempat dugem alias hiburan malam.

Tak apalah. Ini memang pertimbangan bisnis musik yang tak ingin melepaskan begitu saja popularitas Maria Eva yang terangkat cepat berkas video adegan ranjang ME-YZ tersebut.
Daripada momentum itu hilang, dibuatlah album ini. Apalagi, kompetisi di kalangan penyanyi dangdut sekarang memang sangat-sangat ketat dan gila-gilaan.

Saya beruntung mendapat album ini langsung dari tangan Maria Eva. "Buat referensi Mas Hurek," kata artis yang baru tampil di sebuah film layar lebar itu. Tadinya saya mengira 10 lagu di album ini sepenuhnya dinyanyikan Maria Eva. Eh, ternyata hanya tiga lagu saja. Selebihnya dibawakan penyanyi lain, perempuan, dengan corak house music pula.

Selain Ayam Berkokok [ciptaan Sandi Sulung], Maria Eva membawakan dua lagu lagi: Madu dan Susu [M. Kumala] serta Video Cinta [M. Kumala]. Bisa ditebak, penulis lagu mengeksploitasi habis-habisan video cinta yang heboh tersebut. Simak saja refrein Video Cinta:

"gambar-gambar cinta itu
bukti rahasia kasih kita
telah terbuka dan jadi petaka

gambar-gambar cinta itu
telah memusnahkan harapan kita
bahkan memisahkan cinta kasih kita

tinggal kini menanggung malu
setiap waktu
tinggal kini berserah nasib
karena aib".


Saya kira, sulit bagi Maria Eva untuk menjadikan album ini sebagai "karya seni yang abadi" sebagai dia harapkan. Betapa tidak. Pola musik mengekor beberapa lagu dangdut yang hit macam Bang SMS atau Kucing Garong. Rupanya, Maria Eva terlampau buru-buru merilis album, kerja instan, mumpung masyarakat masih mengenalnya sebagai artis heboh gara-gara video mesum.

Lagu Video Mesum justru semakin membangkitkan ingatan orang akan adegan suami-istri itu. Padahal, akan lebih bagus kalau Maria Eva berusaha tampil dengan citra yang baru sama sekali. Ternyata, Maria Eva kurang berani menampilkan sisi lain dari dirinya di luar urusan video itu. Sayang sekali!

ARTIST MANAGEMENT MARIA EVA
0816 - 776928

30 January 2008

Romo Paul Klein SVD dan KB alamiah


Paul Klein SVD itu pastor alias romo. Biarawan Societas Verbi Divini alias SVD yang tentu saja terikat kaul kemurnian alias tidak menikah. Tapi pengetahuan dan pengalamannya di bidang keluarga berencana luar biasa.

Pater Paul lah promotor Keluarga Berencana Alamiah (KBA) di Indonesia sejak 1970-an. Ia menganggap Metode Ovulasi Billings (MOB) sebagai pilihan yang paling efektif bagi suami-isteri yang ingin mendapatkan anak atau mencegah kehamilan.

Pastor asal Jerman yang baru saja merayakan ulan tahun ke-70 ini memang sangat gencar kampanye KBA, khususnya di Flores dan Nusa Tenggara Timur, umumnya. Kini, di usia senja, Paul Klein mengembangkan sayap di Malang, Jawa Timur. Dia juga mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Widya Sasana di Malang [seminari, tempat pendidikan calon pastor], dan sudah menjadi warga negara Indonesia.

Berikut percakapan dengan Dr. Paul Klein SVD tentang Dr. John Billings [wafat 1 April 2007] di Australia di usia 89 tahun. Billings adalah penggagas metode KBA yang kini dikembangkan di Indonesia oleh Paul Klein dan kawan-kawan, khususnya kelompok pro-life.

Apa kesan Anda tentang Dokter John Billings?

Saya mengenal Dokter John Billings dan isterinya, Dokter Evelyn, sejak Kongres Internasional MOB di Melbourne tahun 1978. Pada waktu itu, saya ikut delegasi Konferensi Waligereja Indonesia yang terdiri atas beberapa dokter dan bidan. Tugas kami ialah mengevaluasi MOB dan memberi jawaban atas pertanyaan para uskup Indonesia apakah metode KBA bisa juga digunakan di Indonesia. Evaluasi delegasi itu positif.

Kemudian saya bertemu beberapa kali dengan Dokter John Billings. Sejak saat pertama, Dokter John Billings menunjukkan minat besar untuk mempromosikan MOB di Indonesia. Kami juga terus berkontak lewat korespondensi dan e-mail, sampai tahun lalu. Saya menganggap Dokter John Billings sebagai sahabat.

Saya kagum terhadap pribadi orang ini, yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk perkembangan dan promosi KBA di seluruh dunia, termasuk Cina. Dia yakin bahwa penemuan MOB merupakan satu sumbangan penting untuk membela martabat hidup manusia serta membawa berkat yang luar biasa untuk para pasutri (pasangan suami-istri) yang rela menggunakannya.

Dalam ceramah dan wawancaranya, Dokter John Billings selalu berbicara secara ilmiah sebagai otoritas yang sangat profesional dan meyakinkan. Dalam hidup pribadi, dia adalah seorang yang rendah hati, tidak menuntut pelayanan khusus, penuh humor, dan sabar mendengar orang besar maupun kecil. Sumber hidup spiritualnya memang adalah iman Katolik yang dalam dan kerelaan berkorban demi kepentingan semua orang yang membutuhkan bantuannya.

Apa yang Anda lakukan setelah kongres internasional itu?

Saya menjadi promotor MOB untuk seluruh Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Alasan mengapa MOB begitu cepat berkembang di NTT adalah karena para uskup di NTT mendukung sepenuhnya, atas dasar ajaran Paus Paulus VI dalam ensiklik "Humanae Vitae" tahun 1968 yang mengajak para pasutri Katolik di seluruh dunia untuk memakai metode KBA.

Namun, ketika Dokter John Billings mendengar bahwa di Indonesia, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) hanya mempromosikan metode-metode kontrasepsi, apalagi kebanyakan pasutri Katolik tidak ikut metode KBA, dia memang kecewa. Tapi dia terus berusaha untuk memahami situasi di Indonesia, termasuk politik. Dia tidak ragu bahwa di waktu yang akan datang, MOB akan diterima juga oleh masyarakat Indonesia.

Betapa bahagia dia ketika saya memberitahu WOOMB (World Organization Ovulation Method Billings) di Melbourne bahwa MOB sudah secara resmi diakui pemerintah tahun 1983, meskipun waktu itu hanya untuk NTT.

Saya mengundang Dokter John Billings dan isterinya ke Indonesia tahun 1989 pada perayaan Hari Ulang Tahun Ke-10 Lembaga Kesejahteraan Keluarga Katolik Indonesia (LK3I), yang merupakan motor promosi MOB. Mereka bertemu dengan para pasutri Katolik yang menerima MOB dan menginap di Wisma Nazaret di Nele, yang saya bangun untuk menjalankan berbagai kursus KBA. Pemerintah Indonesia mengakui secara resmi MOB untuk seluruh Indonesia pada 28 Desember 1990.

Bagaimana masyarakat Indonesia menanggapi metode KBA?

Pada awal sejarah KBA, promosi metode-metode KBA seperti kalender, temperatur, dan lainnya oleh masyarakat tertentu dilihat sebagai "metode Katolik.” Tetapi dengan perkembangan MOB, pendapat tentang metode KBA yang paling canggih ini, yang sangat bisa diandalkan bukan saja untuk mencegah kehamilan tetapi juga untuk mendapatkan anak, pelan-pelan berubah. Justru para promotor gerakan ekologi dan emansipasi wanita menganggap MOB sebagai metode yang paling tepat untuk menghindari "pencemaran tubuh wanita."

Promosi MOB di Indonesia secara nyata merupakan satu tantangan baik untuk industri yang memproduksi alat-alat kontrasepsi seperti kondom, spiral, suntikan, dan susuk, maupun untuk dunia medis seperti dokter, bidan, dan perawat yang tetap mendukung metode artifisial walaupun secara nyata metode ini mempunyai efek samping yang merugikan kesehatan fisik dan mental.

Promosi MOB tidak mengenal batas-batas budaya, agama, dan ras. Para pasutri beragama Islam semakin tertarik dengan MOB, misalnya di Pusat Informasi Metode Ovulasi Billings (PUSIMOB) Indonesia di Malang. Setengah dari staf Pembina KBA beragama Islam. MOB dilihat sebagai metode yang memanfaatkan “hukum-hukum biologis” saja, yang ditanamkan oleh Sang Pencipta sendiri ke dalam tubuh suami-isteri demi kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga.

Program pemerintah yang diperkenalkan BKKBN sejak zaman mantan Presiden Soeharto memang berhasil mengurangi pertumbuhan penduduk secara drastis. BKKBN mengakui MOB secara resmi tahun 1983 dan 1990, tetapi secara operasional dan finansial belum mendukung MOB dan memandang promosi KBA sebagai tugas dari organisasi-organisasi swasta dan agama.

Bagaimana Gereja Katolik menanggapi MOB?

Gereja Katolik adalah perintis promosi MOB di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Walaupun para uskup se-Indonesia pada tahun 1972 mengeluarkan satu dokumen tentang penjelasan pastoral KB, toh jelas bahwa Gereja Katolik di Indonesia tetap mengutamakan penggunaan metode KBA, khususnya MOB. Hal ini terbukti dengan beberapa fakta, seperti pedoman pastoral 1975 untuk melengkapi dokumen 1972 tersebut.

MOB kini diperkenalkan dalam kursus-kursus persiapan perkawinan. Komisi Keluarga level keuskupan dan Seksi Keluarga level paroki serta karya PUSIMOB Indonesia di Malang menawarkan maupun menyelenggarakan kursus-kursus MOB di seluruh nusantara, baik untuk pasutri Katolik maupun non-Katolik. Namun, boleh dikatakan, di masa depan MOB akan berkembang di Indonesia secara memuaskan jika umat Islam makin lama makin mengambilalih komando untuk mempromosikan KBA-MOB.

Apakah MOB bisa secara efektif menekan pertumbuhan penduduk?

Dengan jujur harus diakui, dengan melihat perkembangan dan akseptan MOB pada masa ini, sumbangan metode-metode KBA untuk mengurangi laju pertumbuhan penduduk itu relevan, namun tidak terlalu besar. Alasan-alasan seperti salah paham masih kuat mengakar dalam opini masyarakat. Kalangan staf medis masih menyamakan MOB dengan metode kalender yang sudah lama tidak diusulkan oleh para ahli karena kegagalannya tinggi.

Dalam banyak penelitian di banyak negara, seperti Australia, menunjukkan bahwa MOB bekerja secara efektif seperti pil, yakni 97-100 persen. Hasil studi World Health Organization (WHO) di beberapa negara seperti di Afrika dan Amerika Latin menunjukkan bahwa MOB 97 persen efektif.

Di Indonesia, BKKBN dan Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (Perdhaki) melaporkan bahwa MOB itu 98 persen efektif. Namun penelitian-penelitian yang dilakukan sendiri oleh Dokter John Billings menunjukkan bahwa MOB itu 100 persen efektif.

Apa peran PUSIMOB dalam mempromosikan MOB?

Saya mendirikan PUSIMOB Indonesia di Malang tahun 1998 pada saat semangat di banyak tempat di Indonesia, seperti poliklinik dan tempat praktek dokter, menurun dan pada saat organisasi-organisasi swasta yang dulu rajin terlibat dalam promosi KBA mulai berhenti bekerja karena kekurangan dana.

Sejak PUSIMOB didirikan, pusat ini memiliki tugas utama untuk mempersiapkan kader-kader MOB dan untuk mensosialisasikan KBA di Indonesia melalui media massa, seminar, kursus, ceramah, dan konsultasi pribadi. PUSIMOB juga mempublikasikan brosur-brosur dan booklet-booklet berisi informasi tentang MOB dan bekerja sama dengan pemerintah, khususnya BKKBN di masing-masing kabupaten, untuk mempromosikan MOB.

PUSIMOB juga mengundang umat Islam, khususnya para bidan yang tergabung dalam Ikatan Bidan Indonesia (IBI), untuk terlibat lebih aktif dalam promosi MOB di Indonesia.

[ditambah bahan dari UCAN News]

27 January 2008

Teman-teman Kobe Band rilis album




Senang juga teman-teman Kobe akhirnya bisa merilis album. Didukung Log Zhelebour dengan Logiss Records-nya, ben beraliran modern rock ini mengusung Positive Thinking sebagai album debut. Sampulnya pakai gambar tengkorak, tulisan KOBE pun bisa menunjukkan karakter band anak muda ini.

Saya berkali-kali menonton, juga menulis catatan ringan seputar konser-konser KOBE di Sidoarjo dan sekitarnya. Saya juga kerap lewat Jalan Brigjen Katamso, Waru, Sidoarjo, di situ ada Friday Studio, markas sekaligus tempat latihan mereka. Saya juga mengikuti dari dekat penampilan KOBE bersama para finalis festival rock ala Log Zhelebour di Stadion Tambaksari Surabaya, 11 Desember 2004.

Waktu itu Kobe terpilih sebagai ben berpenampilan terbaik. Pada babak final, teman-teman KOBE ini mengalami gangguan teknis sangat serius: basnya mati. Karena itu, finalis yang sempat difavoritkan ini pun gagal meraih kemenangan. Mujizat Band dari Bandung yang juara satu.

Dari latar belakang ini, saya sedikit banyak tahu lah pahit getir anak-anak Kobe merintis karier di industri musik. Benar-benar dari bawah. Bagaimana Ibu Fatimah Pringadi melarang Idham dan Helmi main musik, karena bisa ganggu sekolah, tapi mereka tetap nekat belajar musik.

Ibu Fatimah pun luluh dan malah membuat studio untuk sang anak. "Ya, sudah, kalau kalian serius di musik, silakan jalan terus. Sebagai orang tua saya hanya bisa berdoa dan mendukung," ujar Ibu Fatimah, ibunda Helmi [gitar] dan Idham [drum, perkusi], kepada saya.

Teman-teman dari kawasan Waru, dekat pabrik paku, sebelah timur Terminal Bungurasih, terbukti sangat serius. Kerja keras dengan pilihannya main musik. Setelah empat tahun tampil di berbagai panggung [lokal, regional, nasional], akhirnya KOBE dipercaya Log Zhelebour untuk rekaman.

"Potensi mereka bagus. Musiknya unik, lain dari ben-ben yang sudah ada," ujar Log Zhelebour. Produser dan promotor rock kawakan ini memang meminta generasi rock sekarang ini tidak mengekor rocker-rocker gaek yang musiknya sudah tidak diterima pasar sekarang.

Selain HELMI [gitar] dan IDHAM (drum, perkusi], personel KOBE di album peradana adalah PAY (gitar), DAYAT (bas), CHEKO (vokal), SANCHE (vokal), serta Rendy [DJ, sampler]. Adapun FARIZ yang ikut merintis KOBE kini berstatus "eks", namun ikut mendukung KOBE saat rekaman di Natural Studio Surabaya. Boleh dikata, KOBE ini relatif solid daripada beberapa band pemenang festival yang langsung berantakan pascafestival.

Ada 12 bernuansa modern rock hingga hip metal:

1. Pesta Rakyat,
2. Dimensi Lain,
3. Positive Thinking,
4. Cinta Ditolak
5. Ekstrim
6. Dunia Milik Berdua,
-------
7. Wake Up,
8. Menunggu Nada Cinta,
9. Tertipu,
10. Dokter Cinta,
11. Gang Dolly,
12. Rock Show.

Berbeda dengan grupgrup rock senior, yang selalu menyoroti masalah sosial, ketidakadilan, lingkungan, mengkritik penguasa..., hampir semua lagu KOBE bercerita tentang asmara anak muda. Sama lah dengan album ben-ben populer saat ini. Positive Thinking bertutur soal remaja yang putus cinta lalu nelangsa. KOBE kasih nasihat:

"Sakit hati bukan berarti pasrah
Pasti semua kan ada hikmahnya
Berusaha terus, terus berdoa
Anggap saja dia bukan jodohmu."


Juga ada lagu bertema "Mbah Dukun", namanya Cinta Ditolak. KOBE pakai ungkapan "cinta ditolak dukun bertindak". Saya rasa frase ini sudah terlalu klise di Jawa Timur, bahkan Indonesia. Bukan ungkapan baru nan segar. Mungkin inilah cara KOBE mengambil hati penikmatnya. Syair dibuat sesederhana mungkin, musiknya pun manis, meskipun warna rock, metal, sangat terasa.

Dua vokalis KOBE punya karakter berbeda. Satu vokal nyanyi dengan manis, macam ben-ben sekarang {Peterpan, Padi, Nidji, dan sebangsanya]. Kemudian vokalis satunya "merusak suasana" dengan auman khas rocker. Ramuan musik KOBE dari dulu memang demikian. Dan, terbukti, konser-konser KOBE selalu dipenuhi anak-anak muda di Sidoarjo dan sekitarnya.

Akankah album debut KOBE ini diterima pasar musik? Waktu jugalah yang akan menjawab. Yang jelas, KOBE berusaha menawarkan hal baru di tengah industri musik nasional yang dijejali ben-ben beraliran pop-manis. Ini jelas tantangan berat bagi KOBE mengingat hampir semua anak muda kita sejak 10 tahun lalu menikmati sajian musik yang mirip-mirip.

Apa pun hasilnya, mengutip judul album ini, KOBE hendaknya selalu berpikir positif. "Tetap tenang, positive thinking!" kata syair lagu KOBE.

Selamat untuk Helmi, Idham, Cheko, Sanche, Pay, Dayat, Hendy!

ALAMAT KONTAK

E-mail : logz[at]logissgroup.com
Faksimili : [021] 666 93766
Mobile : 081 671 8815
Website : www.logissgroup.com


BACA JUGA
Kobe Band Sidoarjo yang naik daun.

23 January 2008

Aming Aminoedhin raja geguritan Jawa Timur



Empat tahun silam Aming Aminoedhin, 50 tahun, jalan-jalan di Orchard Road, Singapura. Ini pusat belanja utama, tempat para pelancong Indonesia mlaku-mlaku sekaligus belanja oleh-oleh di negara tetangga itu. Segala barang branded ada di sini dan relatif murah.

Aming Aminoedhin tercenung melihat kondisi Singapura yang sangat bersih, rapi, teratur. Ia mengaku langsung ingat Tunjungan, kawasan belanja utama di Surabaya. Sekilas mirip, sama-sama ramai, hiruk-pikuk, tetapi ada beda besar. "Orchard Road ini sangat bersih. Luar biasa bersihnya," cerita Aming kepada saya.

Singkat cerita, Cak Amin lantas menggores puisi bahasa Jawa Timuran alias geguritan bertajuk ‘Orchard Road’. Petikannya:

mlaku-mlaku sakdawane Orchard Road
aku lan kanca-kanca padha nggayut
apa ta sing bisa dicritakeke marang kanca ing ndesa
dene ing kene ora adoh karo Tunjungan
akeh wong padha mlaku-mlaku pating sliweran
mung wae akeh wong wadon mlaku mung nganggo
suwal cekak lan kutang
ana uga kang brukut nganggo jilbab

empere toko-toko ing Orchard Road katon rijik
dene Tunjungan kok adoh saka aran resik

mlaku-mlaku ana ing sakdawane Orchard Road
aku lan kanca-kanca ora padha gumun
amarga ana kutha Surabaya, pase ana Tunjungan
wis katon kaya ing kutha manca
mung wae ya'apa carane
gawe resik gawe rijike sakdawane Tunjungan
sing ndadekake pakaryan kang ora gampang ngetrapake

pitakonku iki ora gampang
nanging wali kota Surabaya kang bisa njlentrehake
piye bisane


Lahir di Ngawi 22 Desember 1957, sejak remaja Aming Aminoedhin tak lepas dari urusan mengolah kata-kata. Menulis puisi, geguritan, naskah drama, main teater, baca puis, mengkaji bahasa, menulis reportase budaya, tak bisa lepas dari Cak Aming. Ia juga masih dipercaya sebagai pengurus Dewan Kesenian Mojokerto. Pada 1983 Cak Aming terpilih sebagai aktor terbaik se-Jawa Timur.

"Saya sudah telanjur cinta dengan sastra," ujar lulusan Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo itu.

Dalam 10 tahun terakhir Cak Aming makin giat membina sastra Jawa di berbagai daerah di Jawa Timur. Bersama Paguyuban Pengarang Sastra Jawa, Aming membuat jejaring dengan para pegiat sastra Jawa di seluruh Indonesia. "Jagad sastra Jawa wus kudu mlayu kayak sastra liyane," ujar pria yang murah senyum ini.

Aming sadar bahwa sastra Jawa di Jawa Timur belum bergerak, apalagi mlayu (berlari), seperti sastra Indonesia. Apalagi, sastra Barat yang kian mendominasi peradaban manusia. Alih-alih maju, peminat sastra Jawa makin lama makin sedikit. Bahkan, minat generasi muda mendalami bahasa daerahnya pun berkurang drastis. "Makanya, saya dan teman-teman bergerilya dengan cara sendiri," ujar staf Balai Bahasa Surabaya ini.

Salah satu bentuk gerilya, ya, menerbitkan kumpulan puisi bahasa Jawa dengan biaya sendiri. Buku terakhir berjudul ‘Tanpa Mripat’. Ada 30 geguritan yang isinya memotret berbagai persoalan sosial di Surabaya dan sekitarnya. Pasar Wonokromo digusur, Surabaya yang makin panas, bulan puasa, hari raya, jalan-jalan di luar negeri, bulan purnama, lampu iklan.

Saat mampir di Menara Kembar Petronas, Kuala Lumpur, Malaysia, Aming lagi-lagi bikin guritan. "Sing melu mbangun simbol Kuala Lumpur iku ya wong-wong Jawa. Malah akeh sing dadi patine kanggo tumbal mbangun Petronas Twin Tower iki," tulis Aming.

Semua geguritan Cak Aming pakai bahasa ngoko, mudah dipahami. Orang yang baru belajar bahasa Jawa pun gampang mengikuti geguritan khas Amin. "Saya memang ingin geguritan saya dinikmati sebanyak mungkin orang, khususnya generasi muda. Siapa saja bisa menulis geguritan," katanya.




Sebagai perawat bahasa, khususnya bahasa Jawa, suatu ketika Aming Aminoedhin mengaku gundah. Anak-anak muda di kota-kota macam Surabaya, Malang, Sidoarjo, makin menjauhi bahasa daerah. Padahal, orangtuanya berlatar belakang Jawa. "Lha, kalau dilestarikan apa mungkin bahasa Jawa bertahan?" gugat Aming.

Celakanya, beberapa tahun lalu ada rencana untuk menghapus pelajaran bahasa Jawa di sekolah-sekolah. "Kalau sampai benar-benar dihapus, saya sulit membayangkan masa depan bahasa Jawa. Ada pelajarannya saja sudah seperti sekarang," tukas Aming yang kerap dijuluki 'raja guritan' saking banyaknya geguritan yang sudah ditulisnya.

Aming Aminoedhin tak sekadar gundah. Diam-diam dia menggagas lomba mengarang cerita cekak dan geguritan untuk sekolah-sekolah di Jawa Timur. Hasilnya? “Alhamdulillah, pesertanya cukup banyak. Dan, yang menarik, kalangan santri sekarang ini banyak yang menekuni sastra Jawa,” tutur penyair yang kerap menulis puisi untuk berbagai media massa di tanah air itu.

Di saat Aming dan kawan-kawan bergerak ‘di bawah tanah’ untuk merawat sastra Jawa, Dinas Pendidikan Surabaya bikin kejutan. Sekolah-sekolah diimbau membiasakan murid-muridnya berbahasa Jawa sekali sepekan. Istilah kerennya, Java Day. “Kebijakan ini tentu sangat menggembirakan,” kata Aming Aminoedhin.

Apakah bahasa Jawa masih relevan di tengah arus globalisasi? Bukankah bahasa Inggris lebih diperlukan?

Bagi Aming, bahasa Jawa, juga bahasa-bahasa daerah lain di tanah air, senantiasa relevan dari masa ke masa. Bahasa Inggris dan bahasa-bahasa asing lain, juga bahasa Indonesia, sangat penting di era globalisasi, tapi bukan berarti orang Jawa melupakan jatidiri dan bahasa ibunya. Jangan sampai suatu ketika orang Jawa harus belajar bahasa dan budaya Jawa di negara lain seperti Suriname atau Belanda.


BLOG RESMI AMING AMINOEDHIN
http://amingaminoedhin.blogspot.com/

Natal bersama di Sidoarjo


Jumat, 18 Januari 2008, sekira 6.000 jemaat mengikuti perayaan Natal bersama di GOR Sidoarjo, Jawa Timur. Ini perayaan tingkat provinsi Jawa Timur. Gubernur Imam Utomo hadir, juga sejumlah petinggi daerah.

Yah, liturgi atau misa atau kebaktian Natal memang sudah berlangsung pada 24/25 Desember lalu. Namun, lazimnya, perayaan syukur digelar sepanjang Januari hingga awal Februari.

"Kita sengaja cari momen yang pas. Maklum, para pejabat dan tokoh masyarakat itu kan orang sibuk. Kita sesuaikan lah dengan jadwal mereka," ujar Lina Simatupang, salah satu anggota panitia kepada saya.

Berkat kerja keras dan hubungan baik Lina serta suaminya, Agus Susanto, Natal bersama kali ini dihadiri cukup banyak tokoh masyarakat yang bukan Kristen. Selain Pak Gubernur, juga Anwar Nasution [ketua Badan Pemeriksa Keuangan], Kiai Haji Hasyim Muzadi [ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama], serta 20-an kiai. Sejak dulu kerja sama di antara para pemimpin agama di Jawa Timur berlangsung sangat baik.

Ulama Islam ikut Natalan? Eitt... tentu saja mereka tidak ikut kebaktian, nyanyi-nyanyi, pasang lilin, dan liturgi Natal. Para ulama serta pejabat baru masuk tempat acara usai kebaktian. Acaranya pun hanya pidato-pidato, hiburan, tak ada lagi unsur ibadat atau kebaktian. Tak ada ajakan agar orang bukan Kristen menjadi pengikut Yesus Kristus.

Penjelasan ini penting agar teman-teman bukan Nasrani tidak alergi atau curiga macam-macam. Asal tahu saja, di Indonesia ada fatwa majelis ulama agar umat Islam tidak menghadiri undangan perayaan Natal di mana pun. Alih-alih hadir, sekadar mengucapkan selamat Natal saja pun dilarang. Saya lupa kapan tepatnya fatwa itu dikeluarkan, tapi selalu dibahas di media massa, termasuk televisi di Jawa Timur.

Prof Anwar Nasution, ekonom terkemuka asal Tapanuli, diberi kesempatan bicara. Ia senang dengan tema kebersamaan yang sengaja dipilih panitia, Mas Agus dan kawan-kawan. Menurut Pak Anwar, kebersamaan, saling mengormati, toleransi... sangat penting bagi bangsa Indonesia yang jumlahnya 200 juta lebih, yang punya agama/keyakinan berbeda-beda.

Tanpa kebersamaan kita tidak mungkin maju. Bayangkan apa jadinya bila sesama anak bangsa tiap hari berkelahi, baku hina, hanya karena beda agama? Pak Anwar juga mengingatkan jemaat kristiani tentang Pancasila, dasar dan ideologi negara kita. "Saya juga teringat masa kecil saya di Sipirok, Tapanuli," ujar Anwar Nasution, pejabat yang dikenal sangat antikorupsi itu.

Warga di kampung halaman Pak Anwar sangat toleran. Pada malam Natal Anwar Nasution kecil bersama teman-temannya ikut ke gereja. Untuk apa? "Tunggu pembagian kue setelah kebaktian," cerita Pak Anwar diambut tawa hadirin. Sebaliknya, saat mauludun anak-anak Kristen ikut berebut makanan.

Mereka juga gotong-royong membantu pembangunan masjid atau gereja. Nah, kebersamaan dan toleransi itu mudah-mudahan tetap lestari di Indonesia. Pidato Pak Anwar mendapat aplaus meriah dari hadirin.

Poin yang sama disampaikan Kiai Hasyim Muzadi, ketua umum PBNU. Ulama terkemuka ini menekankan pentingnya kebersamaan meskipun kita berbeda agama. Jangan jadikan agama sebagai kendaraan untuk meraih kekuasaan. Pak Hasyim juga mengingatkan bahwa toleransi umat beragama bukan berarti yang Islam menjadi Kristen, Kristen menjadi Islam, dan seterusnya.

"Toleransi itu bagaimana kita bisa saling menghormati masing-masing individu dengan keyakinannya," tegas pengasuh Pesantren Al-Hikam Malang ini.

Zindar Kar Marbun, ketua panitia, sangat gembira. "Mudah-mudahan Natal bersama membuat kita lebih solider dan peduli pada sesama," ujar Pak Marbun yang juga orang Batak ini.

22 January 2008

Album SBY Rinduku Padamu


Saya baru saja membeli album Rinduku Padamu, kumpulan sembilan lagu karya Susilo Bambang Yudhoyono. Harganya Rp 20.000. SBY, begitu pria kelahiran Pacitan 9 September 1949 ini biasa dipanggil, adalah presiden Republik Indonesia. Bagus lah, presiden kita bisa menulis lagu, main gitar, bisa nyanyi.

"Sejak masa remaja saya menyenangi seni. Termasuk seni musik, seni lukis, dan menulis puisi. Bermain musik bersama grup band di kota kecil Pacitan tahun 60-an tentu meninggalkan kenangan manis dan kerinduan tersendiri," tulis SBY di sampul albumnya.

SBY tidak nyanyi sendiri. Adalah Dharma Oratmangun, pemusik senior yang dulu populer dengan lagu Januari di Kota Dili, mengajak sepasukan penyanyi dan pemusik untuk bikin album perdana SBY. Selain Dharma sebagai penyanyi paling dominan, dan rupanya cocok dengan selera SBY, terdapat nama-nama Gee Foregia, Senno Haryo, Kerispatih [band], Ebiet G. Ade, Widi Mulia, serta Dea Mirella.

Penata musik: Jumadi [paling dominan], Jimmie Manopo, serta Purwatjaraka. Kerispatih yang memainkan lagu Kawan tentu membuat aransemen sendiri sesuai dengan gayanya. Pemusik senior Bartje van Houten, gitaris, ikut mempermanis lagu-lagu melankolis ala SBY.

Yah... bagaimanapun SBY itu presiden, politikus, tentara, pemikir. Musik atau menulis lagu sekadar hobi. Pengisi waktu senggang belaka. Karena itu, kita tak perlu berharap terlalu banyak pada album ini. Datar-datar saja. Tak ada sesuatu yang baru selain kerinduan pada Indonesia yang damai, aman, makmur. Juga kebanggaan akan tanah air yang indah.

Gaya nyanyi Dharma Oratmangun mirip Broery Marantika [alm]. Iringan musik pun dibuat ala lagu-lagu Broery yang ditulis Rinto Harahap atau Pance Pondaag. Karena itu, pendengar bisa mengira seakan-akan ini album Broery pada 1980-an atau 1990-an. Beda banget deh dengan langgam musik sekarang yang heboh, meriah, khas remaja. Kerispatih menjadi kecuali.

Pejabat bikin album, bahkan menjadi penyanyi bukan hal baru. Di Jawa Timur dulu Gubernur Basofi Sudirman tiba-tiba menjadi penyanyi dangdut. Basofi sempat mencetak hit Tidak Semua Laki-Laki. Karena sulit bersaing di pasar musik, maka penjualannya pun dilakukan ala birokrasi.

Semua pejabat mulai provinsi, kabupaten, kecamatan, sampai desa dikerahkan untuk menjual album Basofi Sudirman. Hasilnya, laku keras, tapi sukses semu. Padahal, suara Basofi jelek, khas penyanyi tujuh belasan di kampung. Mudah-mudahan saja album SBY ini tidak dipasarkan lewat mesin birokrasi. Hehehe....

SISI A
1. Rinduku Padamu [vokal: Dharma Oratmangun]
2. Rinduku Padamu [tempo lebih cepat]
3. Kasih Aku pun Rindu [Gee Foregia]
4. Mentari Bersinar [Senno Haryo]
5. Kawan [Kerispatih]

SISI B
1. Dendang di Malam Purnama [Dharma Oratmangun]
2. Mencari Keberkahan Tuhan [Ebiet G. Ade]
3. Hening [Widi Mulia]
4. Kuasa Tuhan [Dharma Oratmangun]
5. Selamat Berjuang [Dea Mirella]

19 January 2008

Perempuan enggan memasak


Begitu masuk ke blognya Mbak Judith [www.dapur-judith.blogspot.com], perempuan Jawa yang nikah sama laki-laki Swiss, saya langsung merasa segar. Belum apa-apa kita disuguhi aneka makanan lezat.

Masakannya macam-macam: masakan kampung, agak kota, hotel berbintang, hingga barat. Melihat gambarnya saja, saya langsung ngiler. Tapi, karena sejak tahun 2006 kadar kolesterol saya sedikit di atas normal, saya pun tahu diri lah. Kalau nafsu makan dituruti, wah... makin sulit kita menjaga kebugaran. Hehehe....

Judith, mama dari lima precil [bocah-bocah manis] ini sangat senang memasak. "Masak dengan cinta hasilnya lezat," tulis Mbak Judith yang pernah tinggal cukup lama di Ternate, Maluku.

Memang, apa pun, kalau dilakukan dengan cinta, hasilnya niscaya lebih baik. Tadi malam, teman saya 'terpaksa' menggarap grafis kasus perampokan di Surabaya. Tidak ikhlas, marah-marah. Maka, hasilnya pun tidak bagus. Maka, saya senang membaca ungkapan Mbak Judith di Swiss: "masak dengan cinta hasilnya lezat".

Sambil minum kopi dan dengar reportase radio soal kesehatan Pak Harto, saya merenung sejenak tentang budaya masak-memasak. Tradisi di kampung saya, Pulau Flores: memasak itu urusan perempuan alias istri. Tugas laki-laki bukan di dapur, tapi di luar rumah. Anak laki-laki janganlah dipaksa memasak.

Kalaupun laki-laki masak, ya, masak air atau kalau terpaksa, misalnya berkemah, ikut pramuka, atau karena tidak ada perempuan. Selama ada perempuan, ya, dia yang masak. Masih di Flores, sebelum 1990-an, gadis yang belum bisa masak, hanya bisa macak atau merias diri, dianggap tidak pantas dinikahi.

"Lha, kalau istrimu nggak bisa masak, terus bagaimana. Jangan-jangan suami yang disuruh ke dapur," begitu kata-kata orang kampung di Flores.

Tradisi patriarkis ini pelan-pelan memudar karena kini perempuan sudah makan sekolah. Kalau sudah sekolah tinggi, pekerjaan bagus, biasanya tugas memasak didelegasikan kepada pembantu. Istri yang tak pandai masak, apa boleh buat, hanya bisa makan, makan, makan... dan perintah sana sini. Dia tidak bisa kasih petunjuk atau komando kepada pembantu harus masak begini, begini, begini, komposisi bumbu, dan sebagainya.

Bagaimana dengan di Jawa?

Dulu, sekali lagi dulu, memasak pun jadi urusan perempuan. Istri itu tugasnya tiga: masak, manak [melahirkan], macak [berdandan, menjaga kerapian rumah tangga]. Bagaimana kalau istri tidak bisa masak karena sejak kecil dimanja orang tuanya?

"Yah, mau bagaimana lagi. Saiki kan jaman moderen, nasi iso tuku," ujar Slamet, teman saya. Maksudnya, makanan bisa dibeli di mana-mana.

Istrinya wanita karier yang tidak bisa memasak. Jangankan memasak, masuk ke dapur pun tak mau. Kompor gas di rumahnya sudah setahun ini nganggur. Slamet yang juga manusia modern mengaku tak mempermasalahkan 'kelemahan' istrinya yang tidak bisa masak.

"Aku kan udah tahu sejak pacaran. Aku terima kelebihan dan kekurangannya," tutur pekerja di hotel berbintang di Surabaya ini. "Justru aku yang sekali-sekali masak. Aku dan istri makan bersama. Hehehe...."

Saya pernah iseng-iseng 'mensurvei' 20 gadis remaja, lulusan SMA, usia di bawah 21 tahun, di Sidoarjo. Kebetulan saat itu mereka baru diterima sebagai staf marketing sebuah media massa terkenal di Jawa Timur. Pertanyaan saya sederhana saja:

"Apakah anda bisa memasak? Berapa harga beras di pasar? Harga telur? Apakah anda pernah berbelanja bersama ibu anda?"

Hasilnya hanya satu cewek, namanya Eni, yang bisa memasak dan sangat menikmati pekerjaan ini. Sekitar 99 persen responden saya ternyata tidak bisa memasak. "Tapi aku kan bisa masak air. Hehehe..," ujar Wati disambut tawa teman-temannya. Lucu memang!

Yanti, lulusan SMA swasta di Buduran, secara terus terang mengatakan, dia tidak suka memasak, tapi sangat senang makan. Lalu, siapa yang memasak di rumah? "Ya, ibu saya," jawabnya enteng.

"Anda ikut belanja sama mamamu di pasarkah?" tanya saya.

"Gak loh yauw! Aku kalau bangun itu suka kesiangan. Mana sempat ke pasar," tegas Yanti.

Hmmm... saya pun terdiam sejenak. Ternyata, Yanti memperlakukan mamanya sebagai pembantu alias tukang masak. "Wah, kalau di Flores, tindakan si Yanti ini jelas pelanggaran berat. Masa, anak perempuan kok tak pernah bantu mamanya ke pasar atau dapur. Syukur, ini Jawa Timur, kota besar, punya tradisi yang berbeda," pikir saya.

Kemarin, saya bertemu dengan Silvi, profesional muda yang baru menikah. Setelah bicara ngalor-ngidul, saya tanya apakah dia bisa memasak. Masakan kegemarannya apa. "Hehehe... Hare gini disuruh masak? Sorry loh yauw. Kan bisa beli. Toh, jam kerja saya sama suami itu beda banget," ujar teman yang ramah ini.

Saya juga pernah 'survei' kecil-kecilan di kalangan perempuan jurnalis di Surabaya dan Sidoarjo. Hasilnya sami mawon: 95 persen tak pernah memasak. Alasannya: tak ada waktu, makan di luar, sering ditraktir, dan sebagainya. Di rumah pun ada pembantu atau mama yang bertugas menjaga cucu plus masak. "Buat apa masak?" kata teman-teman saya.

Melihat kenyataan ini, sebagian besar perempuan kota tidak bisa memasak [atau tak punya waktu memasak], saya diam-diam bangga dan kagum pada perempuan kota yang gandrung memasak. Contohnya, Stefani, putri pengusaha real estat terkemuka di Sidoarjo. Gadis ini sangat hobi memasak, bahkan sering bikin menu untuk dapur media massa.

Ia juga sering mengundang wartawan, termaasuk saya, mencicipi masakannya. Ia senang sekali kalau masakannya dibilang bagus, istimewa, wuenaaak tenan. "Kok ada ya gadis kota, belajar lama di Sydney, hobinya memasak?" kata saya kepada Stefani.

"Lha iya. Hobi saya sejak dulu memang masak. Kalau ada waktu luang, saya pasti masak, bikin kue, memasak apa sajalah. Kalau kamu pengin makan, silakan datang ke tempat saya," ujarnya lalu tertawa kecil. Sayang sekali, saya sudah trauma dengan makhluk brengsek bernama KOLESTEROL.

Maka, membaca blognya Mbak Judith yang penuh masakan, selalu ada menu baru, dimasak dengan cinta [katanya], juga Stefani yang doyan masak, muncul harapan dalam diri saya. Bahwa tidak semua perempuan kota yang makin gaul, pintar, modern, setara... melarikan diri dari pawon alias dapur.

Cuma, karena zamannya sudah sangat berbeda, orang tua tidak bisa lagi 'memaksa' anaknya untuk memasak seperti di Flores. Ungkapan MASAK, MACAK, MANAK di Jawa pun rasanya tidak relevan lagi. Sekarang banyak lho istri yang enggan melahirkan, apalagi mengurus anak-anak, karena takut kariernya rusak. Apalagi, disuruh masak, berpanas-panas di dapur, korak-korak, umbah-umbah, nyapu-nyapu, ngepel-ngepel.

Prabu Jayabaya berkata: "Polahe wing Jawa kayak gabah diinteri, endi sing bener endi sing sejati. Wanodya padha wani ing ngendi-endi." [Tingkah lakunya orang Jawa ibarat gabah ditampi, tak jelas mana yang benar mana yang salah. Perempuan makin berani di mana-mana.]

Hehehehe....

Hmm.. bocah disunat jin


Saya tinggal di kawasan Gedangan, dekat Bandara Internasional Juanda, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Saya terkejut karena berkali-kali saya mendengar informasi bocah disunat jin. Disunat jin, makhluk halus?

Begitulah istilah umum di Sidoarjo. Kulit penis si bocah tahu-tahu terkelupas, persis sudah disirkumsisi. Bentuknya sempurna, tak kalah dengan sunat versi dokter atau tukang sunat kampung. Menariknya lagi, rata-rata para bocah ini tidak merasa sakit.

Pihak keluarga pun senang karena tidak perlu keluar uang untuk biaya sunat, tasyakuran, dan macam-macam lah. Asal tahu saja, biaya sunat plus-plus untuk bocah di kampung paling minim Rp 500 ribu. Belum lagi kalau tanggap orkes dan pernak-pernik lain.

Nah, Jumat 18 Januari 2008, seorang bocah di Desa Pekarungan, Sukodono, disunat jin. Putra pasangan suami-istri Koko Triharto (42) dan Supriyati (42) ini bernama Fajri Jumah Ramadhan, kelas satu SDN Pekarungan. Usianya enam tahun. Bagaimana rasanya disunat jin?

"Awalnya burung saya terasa gatal. Eh, setelah itu saya lihat sudah seperti punyanya teman yang sudah sunat," ujar Fajri malu-malu.

Alkisah, sekitar pukul 11.00 WIB, setelah pulang sekolah, Fajri main-main bersama teman-temannya di sekitar rumpun bambu. Fajri pun kebelet kencing, lalu pipis di sebuah sungai kecil dekat kebun bambu itu. Setelah kencing tidak ada yang terjadi pada diri Fajri.

Puas bermain, dia pulang dan belajar. Sambil tidur tengkurap di ruang tamu, Fajri membaca buku pelajaran. Tiba-tiba burungnya terasa gatal dan kemudian sudah hilang kulit pembungkusnya. Tak ada darah, rasa sakit, dan sebagainya. "Saya cerita sama ibu kalau burung saya disunat," tutur Fajri.

Mendengar cerita anaknya, Supriyati terkejut dan memeriksa kondisi burung anaknya. Benar. Fajri sudah disunat. Karena bingung, Fajri dibawa ke kiai alias guru ngaji setempat.

"Pak Kiai bilang kalau Fajri sudah disunat oleh makhluk halus. Katanya, gak masalah, sing penting selamat," ujar Supriyati yang juga korban lumpur panas Lapindo Brantas Inc. Dulu, dia tinggal di Perumahan Tanggulangin Anggun sejahtera Blok D/10. Sekitar 3.000 unit rumah di kawasan ini sudah ditenggelamkan lumpur panas sejak 22 November 2006.

Beberapa waktu lalu saya menemui seorang bocah di kawasan Candi, juga Kabupaten Sidoarjo. Anak kelas lima sekolah dasar ini juga disunat jin. Kasusnya mirip si Fajri di Sukodono, namun bedanya bocah ini [kalau tak salah bernama Ahmad} sempat mengalami pendarahan di burung.

Awalnya di main-main bersama teman di halaman, dekat sawah. Saat teman-temannya bermain dia tiba-tiba naik ke atas sebatang pohon. Nah, di atas pohon itu Ahmad terkejut karena celananya berdarah. Panik, dia pulang ke rumah untuk mengadu ke ayah dan ibu. Orang tuanya kaget karena burung si Ahmad sudah tersunat.

Mengapa bisa terjadi kasus macam ini? Apakah ada penjelasan ilmiah?

18 January 2008

Komunitas sepeda kuno Surabaya




Kelompok pencinta sepeda kuno di Surabaya semakin membanjir saja. Datanglah ke Taman Surya (Balai Kota Surabaya) setiap Minggu pagi bila ingin melihat sepada kuno. Berbagai sepeda kuno produksi sejumlah pabrik semua ada.

Di antaranya dari Raleigh, Gazelle, Humber, Fongers, Rudge, Phillips, Simplex, Rambler, Hercules. Sepeda-sepeda tersebut milik anggota Paguyuban Sepeda Kuno Arek Suroboyo (Paskas), perkumpulan pecinta sepeda kuno yang cukup besar di Surabaya.

"Berkumpul di Taman Surya menjadi kegiatan rutin kami," kata Darmingun, penasihat Paskas.

Pakaian yang dikenakan mereka pun menunjukkan peradaban zaman dulu. Misalnya, topi layaknya seorang meneer Belanda. Begitu pula dengan warna pakaian yang didominasi putih tulang.

Pada zamannya, sepeda itu menjadi perlambang status sosial. Pasalnya, hanya orang-orang yang mampu saja yang bisa memiliki sepeda. Maklum, harganya tak murah. Sekitar tahun 1950, Darmingun ingat betul ketika ayahnya, H Kastin, membelikan sepeda untuknya. "Waktu itu, Bapak saya harus menjual empat ekor sapi untuk beli sepeda ini," bebernya.

Ceritanya, Haji Kastin bernazar, bila anaknya lahir laki-laki akan membeli sepeda untuknya. Dan, kenginan itu terkabul. Ketika Darmingun lahir, H Kastin harus memenuhi nazarnya. Tapi, rezeki tak dapat dihitung secara matematis. H Kastin baru bisa ketika Darmingun mulai beranjak remaja. Dia dibelikan sepeda merek Gazelle.

"Sepeda saya ini warisan orang tua, saya tak pernah menjualnya," tandas Darmingun.

Darmingun memiliki 11 unit Gazelle dengan nomor urut produksi 2 hingga 11. "Masih kurang satu, yaitu keluaran yang pertama, dan saya belum menemukan."

Kebetulan anak-anaknya juga suka dengan sepeda tua, jadi dia tak terlalu repot untuk merawat. Setidaknya kedua anak laki-lakinya ikut merawat. Sampai sekarang, belum ada rencana untuk melego koleksinya.

Darmingun juga tak pernah melewatkan mencari referensi tentang sepeda kuno. Hingga akhirnya, ia bertemu para pecinta sepeda kuno di Surabaya. Mereka kemudian bersepakat mendirikan Paskas, 1992.

Menurut Darmingun, Paskas tak sekadar berkumpulnya pecinta sepeda kuno. Mereka juga melakukan kegiatan sosial, misalnya ada anggota yang sakit atau pun hajatan, maka anggota yang lain memberi bantuan.

"Ada dana kas yang didapat dari iuran setiap bulan Rp 2.000 rupiah sebulan," ungkap Darmingun.

Setiap kali ada pertemuan juga dimanfaatkan untuk tukar-menukar informasi terkait permasalahan onderdil sepeda. Terlebih, di pasaran sekarang sulit mendapatkan onderdil sepeda kuno. Kalaupun ada, itu bukan buatan negara sepeda tersebut diproduksi.

"Mungkin saya butuh lampu, eh ternyata ada teman yang ingin menjual lampunya, harganya pun bervariasi," ujarnya.

Di sudut kota Surabaya lainnya, juga ada kelompok pecinta sepeda kuno. Tepatnya di halaman Museum Mpu Tantular. Di sana menjadi tempat berkumpulnya Senopati (Sepeda Kuno Patriot Sejati). Waktunya pun di hari Minggu pagi. Untuk menjalin silaturahmi, Senopati mengadakan arisan sukarela.

"Yang penting guyub," kata Ratna, anggota Senopati.

Ketua Senopati Sutoto mengatakan, kelompoknya sering terlibat kegiatan sosial, misalnya taman pohon pada 2007 dan tanam pohon jati di sekitar monumen Kapal Selam. "Kami memang minta agar kelompok pecinta sepeda kuno dilibatkan dalam kegiatan sosial," tutur dia.

BEBERAPA KOMUNITAS SEPEDA KUNO DI SURABAYA

1. Paskas (Paguyuban Sepeda Kuno Arek Suroboyo)
Ploso VI/18 Surabaya

2. Gasenos (Gabungan Sepeda Kuno Surabaya)
Kalijudan VIII/43 Surabaya

3. Pasebo (Paguyuban Sepeda Kebo) Surabaya
Dukuh Pakis III/8 Surabaya

4. Senopati (Sepeda Kuno Patriot Sejati) Surabaya
Tengilis Timur 7 AH-6 Surabaya.

5. Paguyuban sepeda Tempo Doeloe Dhen Bagoes Sidoarjp
Bungurasih Timur 9 Waru, Sidoarjo

6. Persatuan Sepeda Kuno Kureksari Sidoarjo
Anggrek III/7 Kureksari Waru Sidoarjo

7. Persatuan Kereta Angin Rewwin Sidoarjo
Taman Cendrawasih 20 Rewwin, Waru, Sidoarjo

8. Paguyuban Sepeda Kuno "Oemar Bakrie" Sidoarjo
Hasanudin 165 Celep, Sidoarjo

9. PSKK Paguyupan Sepeda Kuno Krian
Jeruk Gamping RT 02/RW 01 Krian, Sidoarjo

10. Paguyuban sepeda Unto-Bungah Gresik
Raya Nongkokerep Bungah, Gresik

11. PASAR, Paguyuban Sepeda Antik Rungkut
Bakung II/2 Rungkut. Surabaya.
Telepon: 031 71871685, 085 648619620 [Cak Rio]

17 January 2008

Sunarto tokoh pengungsi lumpur Lapindo di Pasar Porong


Musibah lumpur panas di Sidoarjo terjadi sejak 29 Mei 2006. Namun, hingga hari ini [Januari 2008], masih ada 668 keluarga atau sekitar 3.000 orang bertahan sebagai pengungsi di Pasar Porong. Makan, tidur, bersosialisasi, di pasar baru yang terletak kurang lebih dua kilometer dari pusat semburan di Desa Siring, Kecamatan Porong.

Karena tekanan ekonomi, juga stamina yang kian melorot, pelan-pelan warga pengungsi ini akhirnya takluk pada ketentuan pemerintah dan Lapindo Brantas Inc. Yakni, menerima Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2007 yang intinya korban lumpur dibayar ganti rugi dengan skema 20:80. Mula-mula korban dibayar 20 persen, sedangkan sisanya 80 persen dibayar belakangan.

Nah, pengungsi di pasar ini menolak habis Perpres ini. Sejak awal mereka menuntut skema ganti rugi 50:50. Padahal, sebagian besar korban lumpur, sekitar 97 persen, sudah menerima skema 20:80. Bukan itu saja. Warga yang tergabung dalam Paguyuban Warga Renokenongo Menolak Kontrak [Pagar Rekontrak] juga minta lahan seluas 30 hektare untuk relokasi mandiri.

Pada 2007 mereka berunjuk rasa hampir setiap pekan untuk mengegolkan petisi mereka. Namun, mudah ditebak, pemerintah dan Lapindo Brantas bergeming saja. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika berkantor di Lanudal Sidoarjo, akhir Juni 2007, juga mengimbau Pagar Rekontrak untuk menyesuaikan diri dengan skema pemerintah. Bupati Sidoarjo Win Hendrarso pun tak mau ketinggalan.

Win menenggat warga Renokenongo untuk meninggalkan pasar selambat-lambatnya Agustus 2007. Hasilnya? Nol besar. Pengungsi di pasar bahkan bikin perlawanan. Mereka mempersenjatai diri dengan bambu runcing. Mereka juga menggelar berbagai acara dengan mendatangkan tokoh-tokoh nasional. Maka, kasus pengungsi lumpur di Pasar Porong mendapat liputan luas dari media massa.

Pertanyaannya, mengapa Pagar Rekontrak begitu kukuh dengan sikapnya? Bukankah 97 persen korban lumpur [total sekitar 20 ribu] sudah menerima uang muka ganti rugi? Bahkan, sudah kontrak rumah di mana-mana? Aha, jawabannya karena ada Sunarto. Pak Haji yang akrab disapa Sunar ini merupakan pemikir, tokoh, sekaligus koordinator Pagar Rekontrak.

Dia selalu berada di baris depan dalam setiap aksi atau manuver Pagar Rekontrak. "Lha, kalau hanya dapat 20 persen, mau buat apa? Kami ini korban lumpur, desa kami sudah tenggelam, kondisi kami berantakan. Kenapa kami selalu dipojokkan?" ujar Sunarto dengan nada tinggi.

Menurut Sunarto, pihaknya tidak pernah memaksakan kehendak kepada warga yang ada di pengungsian. Juga pemerintah dan Lapindo. Apa yang dituntut selama ini, skema ganti rugi 50:50, sebagai hal yang sangat rasional. "Silakan saja kalau ada teman-teman yang akhirnya memilih untuk kelua dari pasar. Itu hak warga," ujarnya enteng.

Menjelang akhir tahun 2007 memang kondisi pengungsi Pagar Rekontrak tidak solid lagi. Satu per satu dari mereka mulai menerima uang muka 20 persen dan hengkang dari pasar. Bagaimana ini? "Monggo mawon. Kalau ada warga yang menerima uang kontrak, uang jadup, serta uang evakuasi itu hak warga. Kami tidak memiliki hak untuk melarang atau intimidasi agar tidak menerima paket kontrak dari Lapindo."

Oh, ya, paket bantuan dari Lapindo itu berupa uang kontrak rumah Rp 5 juta untuk dua tahun, uang evakuasi Rp 500 ribu/keluarga, uang jaminan hidup Rp 300 ribu/jiwa selama delapan bulan.

Sekarang ini Sunarto dan para pengungsi di pasar semakin kesepian. Selain 'dimusuhi' pemerintah daerah dan pusat, mereka juga diadu domba dengan para pedagang di pasar lama. Anggota DPRD Sidoarjo bahkan secara terbuka menyebut Sunarto dan kawan-kawan di Pasar Porong "telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia para pedagang di pasar lama".

"Pasar itu kan haknya pedagang. Lha, kalau Sunarto dan kawan-kawan tetap bertahan di pasar, apa tidak melanggar HAM para pedagang?" gugat Jalaluddin Alham, wakil ketua DPRD Sidoarjo. Jalaluddin dari Partai Demokrat ini termasuk anggota dewan yang sering mengecam sebagian warga Renokenongo yang memilih bertahan di Pasar Porong.

"Lantas, apakah tidak ada upaya kompromo, Pak Sunarto?"

"Ada. Kami bersedia menerima uang muka 20 persen," tegas orang biasa yang mendadak terkenal di Jawa Timur setelah tampil sebagai koordinator korban lumpur lapindo.

Hanya saja, tuntutan Sunarto dkk tetap berbeda dengan versi Perpres 14/2007. Menurut Sunarto, pembayaran sisa 80 persen harus dilakukan dalam kurun waktu tiga bulan setelah penerimaan 20 persen. Padahal, kita tahu, Perpres menghendaki pembayaran 80 persen baru dilakukan tiga bulan sebelum habis masa kontrak dua tahun. Artinya, setelah 20 bulan.

Sunarto dkk juga minta lahan 30 hektare untuk relokasi mandiri. Atau, sebagai gantinya, berupa uang Rp 9 miliar-Rp 10 miliar. "Meski jumlah kami terus berkurang, kami akan tetap memperjuangkan tuntutan ini," tegas Sunarto.

Sampai kapan? Akankah Sunarto dan pengurus Pagar Rekontrak punya stamina luar biasa menghadapi kolaborasi pemerintah, Lapindo, parlemen, dan sesama korban lumpur? Waktu juga yang akan menjawab. Tapi, sebagai perbandingan, warga Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera I [ribuan rumah mereka tenggelam pada 22 November 2006] ternyata tidak bisa bernapas panjang.

Mereka akhirnya takluk pada ketentuan pemerintah. Padahal, mereka tadinya dikenal sebagai korban lumpur paling trengginas dalam urusan unjuk rasa.

13 January 2008

Tempat-tempat dugem di Surabaya



1. Club Deluxe [Tunjungan Center]
Jalan Tunjungan 3 Lantai 4

Didominasi kalangan mapan dan matang usia. Sering mendatangkan artis-artis ibukota yang juga sudah mapan, terkenal, tapi sudah merosot di industri rekaman. Tergolong kelab legendaris di kota pahlawan.

2. Tavern [Hotel Hyatt]
Jalan Basuki Rahmat 124-128

Berkelas, pengunjung rata-rata profesional/eksekutif muda. Selalu ada band yang dikontrak main dalam jangka panjang.

3. Hugo's Cafe [Hotel Sheraton]
Jalan Embong Malang 25-31



Pengelolanya sangat kreatif merancang event. Dus, selalu ada kemasan baru, gregetnya terasa banget. Pengunjung didominasi usia muda, di bawah 24, tapi banyak juga pengusaha mapan berjiwa muda gabung di Hugo's. Musik sangat dinamis, berkelas.

4. Vertical Six Club [Hotel JW Marriott]
Jalan Embong Malang 85-89

Berkelas, layaknya hotel berbintang. Pengunjung bervariasi: profesional muda, pebisnis, tetamu hotel, ekspatriat. Musiknya standar lah.

5. Colors Pub
Jalan Sumatera 81

Didesain sebagai tempat hiburan anak-anak muda, ya, di bawah 24 tahunlah. Corak musiknya ya rancak, dinamis, Top 40. Didukung Radio Colors FM, pub ini sering mendatangkan artis/band terkenal. Sayangnya, tempat kurang luas, terutama ketika ada konser band papan atas. Terima kasih atas layanan yang bagus dari public relations untuk kalangan media.

6. Kowloon Palace [Plaza Surabaya]
Jalan Pemuda 31-37



Didominasi kalangan pengusaha mapan, kebanyakan Tionghoa, tajirlah. Sajian musiknya variatif, dengan menu makanan istimewa, tapi tentu saja harganya pun istimewa pula. Selalu ramai dalam kondisi apa pun. Ciamik soro, Rek!!!

7. Qemi Club [Hotel Elmi]
Jalan Panglima Sudirman 42-44

Rata-rata pengunjung usia matang, mapan ekonomi, suka bicara politik dan omong-omong kosong. Maka, lagu-lagu lawas laku keras. Termasuk kelab tua di Surabaya. "Kalau mau entertain rekanan, beta ajak ke Qemi. Mesti cocok," kata kenalan saya orang Maluku.


8. Bill Belle Lounge [Hotel Garden Palace]
Jalan Yos Sudarso 11



Aha, yang ini cocok untuk mereka-mereka yang suka dansa segala jenis. Mau latihan dansa, di sini tempatnya. Pengunjung rata-rata usia mapan dan tajir pula. Yang menarik, band anak-anak Indonesia Timur paling disukai karena dianggap paling paham irama dansa, khususnya waltz.

"Siapa bilang pelaut mata keranjang, kapal bastom lapas tali lapas cinta..," begitu antara lain lagu pop Manado yang disuka di Bill Belle. Lagu-lagu ala Indonesia Timur dapat tempat di sini. Ayo, badansa sampe li pu pinggang patah! Ihik.. ihiiiik... ihiiiik!


9. Desperado's
Jalan Mayjen Sungkono

Tempat hiburan di Hotel Shangri-La, didominasi orang mapan usia dan dompet. Ekspatriat paling banyak dijumpai di sini. Musiknya bervarisi, Top 40 juga disuka. Kadang-kadang ada band bagus dari luar kota dikontrak main jangka panjang. Makanan-minuman wuenak tenan, tapi siapkan duit lebih banyak lah.

10. Station Discotheque
Plaza Tunjungan II
Jalan Tunjungan

Sejak dulu dikenal sebagai ajangnya penggila disko di Jawa Timur. Sebelum masuk, pemanasan dulu, lemaskan otot, siap duit.. dan ihiiik-ihiiik-ihiiik.... Ditanggung cepat kurus bagi yang perutnya buncit.

11. RedBoxx
Pakuwon Trade Center #16

Tempat baru seiring berdirinya PTC di kawasan Surabaya Barat. Kelas menengah atas, elit, mapan. Sediakan uang cukup.

12. Vista Sidewalk Cafe
Hotel Garden, Jalan Pemuda 2



Ini paling saya suka. Kafe di pinggir jalan raya, alam terbuka, spesial musik jazz. Bekerja sama dengan HM Sampoerna, manajemen hotel sengaja menghadirkan jazz, musik yang tidak umum. Ada beberapa band jazz baik pemula maupun kawakan menemani pengunjung setiap malam. Selalu ada event bulanan dengan mendatangkan penyanyi/pemusik jazz terkenal di tanah air. Moga-moga awet karena jazz bukanlah musik gampang simak.

13. Drago La Brasserie
Mex Building, Jalan Pregolan 1-5

Ini juga tempat baru. Pengunjung rata-rata pengusaha mapan, eksekutif papan atas, ekspat, yang ingin melemaskan saraf setelah kerja keras siang hari.

14. Meteor One Stop Entertainment
Jalan Arjuna



Tempat yang lumayan baru, tapi sangat terkenal karena sering masuk koran. Bercita-cita menjadi pusat hiburan malam utama di Surabaya. Rata-rata pengunjung usia mapan, duitnya pun mantap.

15. D'Boss Club
Jalan Kedungdoro 34-45

Kelab lama dengan suasana khas. Sering mendatangkan artis-artis ternama. Punya kastamer fanatik yang setia ke sana bertahun-tahun. Maka, pengunjung muka baru, apalagi yang penampilannya biasa-biasa, langsung ketahuan. Ihiiik-ihiiikkk....

16. Studio East
Jalan Simpang Dukuh 38

Ini juga tempat hiburan lama, diskotek lawas yang masih bertahan. Punya konsumen setia. Pengunjung bervariasi mulai remaja sampai usia mapan.

17. Cangkir Cafe
Jalan Sriwijaya [belakang BCA Darmo]

Sama dengan Colors, didesain sebagai tempat dugem anak-anak muda. Awalnya bernama Cangkir Sawunggaling, tapi manajemennya tak bertahan lama. Setelah jadi Cangkir Cafe, pengunjungnya stabil sampai sekarang. Mau lihat gaya anak muda Surabaya, silakan mampir di sini. Musik dinamis, tarif terjangkau.

18. LCC Club
Jalan Kedungdoro

Kelab lama untuk orang-orang mapan. Juga sering mendatangkan artis-artis papan atas dari Jakarta. Punya member fanatik.

19. RASA SAYANG HERO
Jalan Raya Naglik 17

Khas kafe dangdut. Ada orkes dangdut, beberapa penyanyi sintal, menor, goyangan berani. Harga terjangkau, maksudnya harga makanan dan minuman. Ihiiik-ihiiik-ihiiik...

20. RASA SAYANG BAMBOODEN
Jalan Diponegoro 219

Idem.

21. RASA SAYANG BRAVO HOUSE
Jalan Demak 279B

Idem.

22. RASA SAYANG VERANZA
Jalan Mayjen Sungkono 180

Idem.

23. RASA SAYANG THR
Jalan Wijaya Kusuma

Idem.

24. My Way
Jalan Tidar

Pengunjung rata-rata usia mapan, kerja mantap, suka musik rock klasik. Pengelola menghadirkan band-band yang pernah ngetop pada 1980-an dan 1990-an. Ada interaksi antara penonton--yang sangat gila musik, kritis, tahu banyak tentang musik--dengan musisi. Karena itu, pengunjungnya rata-rata penggemar band-band itu. Shadow Band, misalnya, ke mana-mana selalu diikuti belasan penggemar classic rock. Mereka punya semacam komunitas informal.

25. TRS (Taman Remaja Surabaya)
Jalan Kusuma Bangsa



Selalu ramai dengan sajian dangdut live. Penyanyi-penyanyi dangdut Jawa Timur yang belum ngetop biasanya mengawali karier di sini dengan bayaran murah. Untuk nambah jam terbanglah. Kalau sudah mulai "kelihatan", pedangdut-pedangdut itu mulai muncul di televisi lokal hingga nasional. Ramai kayak pasar malam. Murah meriah, kelas ekonomi.

Oh ya, di TRS juga ada Waria Show. Kabaret dan hiburan yang dibawakan komunitas waria Surabaya. Para waria ini ternyata punya bakat di entertainment. Kalau gabung di Waria Show, rada waspadalah karena teman-teman bencong itu dari sononya memang agresif. Ihiiik-ihiiik-ihiiik....

26. Flamingo
Jalan Gentengkali



Termasuk tempat hiburan lama yang masih awet. Pengunjungnya usia mapan dan sangat setia.


27. Four play di Sutos (Surabaya Town Square)
Jalan HR Muhammad.

Tempat hiburan baru karena Sutos sendiri pusat belanja baru.

28. 360' di Royal Plaza
Jalan Ahmad Yani.

Juga tempat hiburan baru. Royal Plaza, meski tergolong baru, langsung menyedot pengunjung karena lokasinya strategis. Jadi jujugan penduduk di kawasan Surabaya Selatan, Sidoarjo, Krian, hingga Mojokerto.

29. Mystique di MEX Building Lantai 5
Jalan Pregolan 1-5



Ini juga pusat rekreasi baru di Kota Surabaya. Lokasinya strategis di jantung kota.

30. Eclectic di Sutos
Jalan HR Muhammad.

Tempat hiburan baru. Sutos ini dulunya lahan kosong, alang-alang, tak terurus di pinggiran kota. Seiring pertumbuhan Surabaya Barat, yang berkembang menjadi kawasan permukiman kelas elite, muncul berbagai pusat belanja dan hiburan baru.

31. Blowfish di MEX Building Lantai 7
Jalan Pregolan 1-5

Ini juga tempat rekreasi anyar.

Maharani Kahar, si Desember Kelabu




DESEMBER KELABU
By A. Riyanto

Angin dingin meniup mencekam
di bulan Desember
air hujan turun deras dan kejam
hati berdebar

kuteringat bayangan impian
di malam itu malam yang kelabu
kau ucapkan kata
selamat tinggal sayang

Bulan madu yang engkau janjikan
semakin melayang
lenyap hilang ditelan air hujan
engkau tak datang

Bulan ini Desember kedua
aku menanti dua tahun sudah
kusabar menanti ku dilanda sepi

Angin dingin menusuk di hati
terasa oh nyeri
bulan madu tinggallah impian
tanpa kenyataan

Sinar cinta seterang rembulan
kini pudar sudah
Desember kelabu selalu menghantui
setiap mimpiku


Tembang DESEMBER KELABU ini membuat nama Maharani Kahar sangat terkenal di seluruh Indonesia pada 1980-an. Di mana-mana lagu pop manis ini dinyanyikan. Dibawakan dalam berbagai versi. Sri Maharani Kahar pun berbunga-bunga. Gak nyangka lagunya menjadi hit.

"Padahal, saya sih nyanyinya biasa-biasa saja. Diajak Om Kelik masuk studio, nyanyi, ya, sudah," cerita Maharani Kahar kepada saya di Surabaya beberapa waktu lalu. Oh, ya, Mbak Rani ini tinggal di kawasan Pagesangan, tak jauh dari Masjid Al Akbar Surabaya.

Kehidupan Mbak Rani saat ini jauh dari industri musik pop. Dia juga tidak lagi merasa dirinya artis. Juga bukan penyanyi yang pernah sangat terkenal pada 1980-an. Bagi Mbak Rani, lebih baik bicara masa sekarang atau masa depan ketimbang bercerita tentang masa lalu.

"Buat apa? semuanya kan sudah lama berlalu. Aku ini orang biasa kok. Hehehe...," ujar karyawan sebuah perusahaan badan usaha milik negara [BUMN] itu.

Toh, pesona Maharani Kahar belum sirna. Setidaknya bagi remaja 1980-an yang pernah menikmati lembutnya suara sang Maharani di masa keemasan. Mereka tetap melihat Mbak Rani sebagai biduan yang pernah 'membius' telinga orang Indonesia. Maka, Mbak Rani kerap didapuk menyanyi di berbagai acara. Juga memintanya sebagai pembawa acara [MC] di kantor serta komunitas-komunitas tertentu.

Tak ingin mengecewakan penggemarnya, Maharani Kahar pun menyanyi. DESEMBER KELABU pun menjadi lagu wajib yang mustahil diabaikannya. "Padahal, lagu-lagu saya banyak lho. Bukan cuma DESEMBER KELABU," tutur perempuan yang ramah dan murah senyum ini.

Seperti diketahui, belantika musik pop Indonesia pada 1970-an dan 1980-an belum seheboh sekarang. Industri musik masih dalam taraf awal. Penyanyi belum banyak, band masih sedikit. Para orang tua masih melarang anak-anaknya terjun sebagai penyanyi, bintang film, atau dunia kesenian umumnya. Sebab, artis atau seniman belum dianggap sebagai profesi yang bisa menjamin masa depan.

Maka, penyanyi masa itu hanya sebagai hobi saja. Hitung-hitung untuk menghibur diri sendiri atau teman-teman. Beda dengan masa sekarang, di mana para orang tua justru mendorong anak-anaknya ikut AFI, KDI, Indonesian Idol, atau berbagai event agar anak-anaknya bisa jadi artis. Banyak orang tua bahkan nekat menghabiskan puluhan atau ratusan juta rupiah agar anaknya jadi penyanyi. Padahal, modal suara si anak pas-pasan. Gila benar!

Nah, Mbak Maharani Kahar mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi penyanyi. Apalagi, masuk rekaman dan suaranya dikenal orang dari Sabang sampai Merauke. Rani kecil sangat mengutamakan sekolah, pendidikan. Namun, singkat cerita, Om Kelik alias A. Riyanto pada suatu ketika berhasil menemukan gadis remaja di Surabaya. Manis, merdua suara, layak direkam suaranya.

Lantas, pencipta dan penata lagu ternama di era 1970-an dan 1980-an ini menulis DESEMBER KELABU. Lagu ini disesuaikan dengan karakter suara Maharani Kahar. Almarhum A. Riyanto memang sangat piawai membuat lagu yang disesuaikan dengan karakter si penyanyi. Ambitus suara, timbre [warna suara], tebal tipis suara... semua karakter penyanyi dicermati betul oleh Om Kelik alias A. Riyanto, ayahanda artis Lisa [Elizabeth Riyanto].

Hasilnya memang luar biasa. Lagu DESEMBER KELABU melejit berkat suara Maharani Kahar. Sejak itulah Mbak Rani menancapkan namanya sebagai penyanyi pendatang baru di Indonesia. Job mengalir, namun Mbak Rani lebih fokus ke sekolah. "Lha, kalau aku nyanyi terus, masa depan saya bagaimana? Kan nggak mungkin orang bisa hidup hanya dari menyanyi dan menyanyi," ujar Maharani Kahar.

Karena fokus ke sekolah, nama Maharani Kahar lama-kelamaan tenggelam. Padahal, lagu DESEMBER KELABU tetap saja melejit lantaran selalu diputar di radio-radio swasta. Tiap bulan Desember hampir pasti DESEMBER KELABU mewarnai radio-radio di seluruh Indonesia. Asal tahu saja, dulu di radio-radio swasta [juga RRI, Radio Republik Indonesia] yang berada di gelombang AM punya acara PILIHAN PENDENGAR.

Yakni, para pendengar mengirim surat, kartu pos, atau kupon meminta diputarkan lagu pop yang disukai. Lagu itu dikirim untuk siapa dengan ucapan.... Ketika telepon [biasa, belum ada seluler] mulai masuk ke rumah-rumah, pendengar minta lagu dan kirim salam. Nah, pada saat itu DESEEMBER KELABU menjadi lagu favorit pendengar radio.

"Mbak minta lagu DESEMBER KELABU untuk Mas Arif di Sepanjang. Dengan ucapan selamat bersantai dan jangan lupa sama saya," ujar seorang pendengar radio di Surabaya pekan lalu. Hehehe.... Ternyata, di tahun 2008 ini pun masih ada saja orang Surabaya yang gandrung DESEMBER KELABU.

Kok popularitas lagu DESEMBER KELABU jauh melampaui penyanyinya, Maria Margaretha Sri Maharani Kahar, ya? Mbak Rani tertawa kecil. Dia mengaku geli juga dengan kenyataan ini. Namun, dia merasa bangga karena sedikit banyak telah mewarnai belantika musik pop Indonesia dengan suaranya.

"Puji Tuhan, ternyata orang masih ingat saya! Padahal, saya sudah bertahun-tahun nggak terlibat lagi di musik pop," kata Mbak Rani yang makin lama makin religius.

Dia bangga karena telah mempersembahkan talenta berupa suara emasnya untuk dinikmati orang banyak. Waktu berganti, zaman berlalu, tapi DESEMBER KELABU tetap dikenang. Kalau mendengar lagu DESEMBER KELABU, saya selalu ingat Mbak Rani yang ramah, murah senyum, dan optimistis.




Judul Album : Desember Kelabu
Penyanyi : Maharani Kahar
Tahun Produksi : 1982
Produser : A. Riyanto
Produksi : Yulia LL Records

DAFTAR LAGU

1. DESEMBER KELABU
A. Riyanto
2. IMPIAN SUNYI
Dadang
3. MUSIM PETIK
Gagoek
4. ILUSI BIRU
Syech Abidin
5. SEMUSIM DUKA
Dadang
6. INDAHNYA CINTA SUCI
Syech Abidin
7. HATI SEORANG KAWAN BARU
A. Riyanto
8. NYANYIAN RINDU
Martin M.
9. SETAHUN TELAH BERLALU
Harry DH
10. BUKIT BERBUNGA
Yonas Pareira
11. TAK INGIN TIDUR LAGI
A. Riyanto

12 January 2008

Dahlan Iskan sang maestro bertutur




Hanya dalam seminggu buku GANTI HATI karya Dahlan Iskan [56 tahun] habis terjual. Diterbitkan JP Books, buku 328 halaman ini memuat kisah ganti hati alias transplantasi lever Pak Dahlan, bos Grup Jawa Pos, di Tianjin, Tiongkok. Operasi besar yang mahal, tapi juga sangat riskan bagi pasien.

Sebetulnya naskah karangan khas [features] ini sudah dimuat secara bersambung di halaman satu Jawa Pos sebanyak 32 seri. Tapi pembaca tidak puas. Mereka ingin mengoleksi tulisan enak ala Pak Dahlan dalam bentuk buku. Dan itu yang bikin buku ini laku keras.

"Setelah baca di tulisan-tulisan Pak Dahlan di Jawa Pos, saya justru semakin ingin membeli bukunya," ujar Pak Syamsul. Ia datang jauh-jauh dari Jember 'hanya' untuk mendapatkan buku GANTI HATI di Graha Pena, markas Jawa Pos, Jalan Ahmad Yani 88 Surabaya.

Menurut Mashud Yunasa, pengelola JP Books, buku GANTI HATI awalnya dicetak 30 ribu kopi. Langsung habis dalam sepekan. Padahal, belum semua permintaan terpenuhi. Maka, buku itu dicetak lagi 20 ribu kopi. Habis lagi. Cetak lagi. Nah, awal tahun 2008 diperkirakan sudah cetak 100 ribu lebih. Bukan main!

"Di Indonesia buku best seller baru habis enam bulan. Itu pun paling-paling cetak 5.000," ujar Mashud Yunasa. Dus, bisa dikatakan bahwa buku yang diluncurkan pada November 2007 ini merupakan best seller di Indonesia. Bisa jadi paling fenomenal dalam sejarah perbukuan di Indonesia.

Apa yang menarik dari GANTI HATI? Cerita tentang repotnya dokter-dokter di Tianjin mengganti lever Pak Dahlan? Bagaimana keluarga Pak Dahlan dag-dig-dug mengikuti proses transplantasi? Bagaimana Pak Dahlan harus sangat sabar menunggu lever hingga masuk ke ruang operasi? Bisa jadi, semuanya benar. Pak Dahlan menguraikan semua itu secara runut, jernih, gamblang.

Deskripsi atau penggambaran Pak Dahlan--elemen paling penting dalam tulisan features--sangat sempurna. Sejak masih mahasiswa, saya menganggap tulisan-tulisan Pak Dahlan termasuk the best di Indonesia. Ayah dua anak ini [Azrul dan Isna] sangat piawai menggambarkan sesuatu dalam kata-kata. Ibarat persilatan, Pak Dahlan termasuk pendekar pilih tanding. "Seng ada lawan," kata orang Ambon.

Namanya juga pendekar di rimba silat jurnalisme, Pak Dahlan memperkenalkan gaya baru dalam penulisan biografi di Indonesia. Judul buku memang GANTI HATI, proses transplantasi, pascatransplantasi, dan pernak-perniknya. Namun, kalau disimak baik-baik, Dahlan Iskan ingin bercerita tentang siapa sebenarnya dia. Buku ini menjadi ajang bagi Dahlan Iskan untuk menulis dirinya sendiri. Membeberkan dirinya kepada publik.

Masa kecil di Takeran, Magetan. Keluarga yang sangat miskin [kemiskinan struktural, miskin ramai-ramai.] "Baju kami sekeluarga tidak lebih dari 10," tulis Pak Dahlan. Saking bersahajanya, Dahlan kecil tak beralas kaki saat sekolah. Maka, cita-citanya sederhana saja: ingin punya SEPATU meskipun rombengan.

Gambaran kemiskinan di Takeran, kampung halaman Pak Dahlan, mungkin dramatis buat teman-teman yang tinggal di kota besar. Tapi bagi orang-orang desa, apalagi di luar Jawa, apalagi di Flores, bukan hal yang luar biasa. Memang demikianlah wajah kemiskinan di kampung-kampung kita.

Baju sekeluarga tak sampai 10. Rumah lantai tanah. Dinding bambu, atap daun kelapa (atau alang-alang). Tak pernah makan daging. Sebutir telur dimakan lima atau enam orang. Sekolah tak pakai sandal, apalagi sepatu. Banyak orang meninggal dunia karena tak ada dokter dan rumah sakit.

"Ah, ceritanya Pak Dahlan kok macam kita di Flores ya," komentar Frans, pria asal Flores, yang kerja di sebuah pabrik di Sidoarjo.

Nah, di sinilah menurut saya benang merah yang hendak disampaikan Pak Dahlan Iskan dalam bukunya. Yakni, MOTIVASI untuk berubah. Motivasi untuk mengubah nasib ke arah yang lebih. Okelah, kita lahir di kampung pelosok, desa terpencil, orang tua sangat miskin, penuh kekurangan. Tapi jangan sekali-kali engkau tangisi kemiskinanmu. Engkau harus kerja keras, kerja keras, kerja keras.

Jangan lupa berdoa [di buku ini terungkap bahwa Dahlan Iskan itu santri yang sangat religius]! Sebab, Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang kalau orang itu sendiri tidak mau mengubahnya. Jika masa lalumu yang miskin itu dikelola, dijadikan motivasi, maka hasilnya luar biasa. Pak Dahlan, kita tahu, merupakan 'raja media' di Indonesia. Ia mengelola ratusan media, sekian puluh anak perusahaan, yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Saya mulai membangun Jawa Pos dari sebuah koran yang hampir bangkrut. Saya harus bekerja sepanjang malam. Besoknya tidak pakai libur. Bahkan, sudah bekerja sejak pagi lagi. Sampai malam lagi. Begitu seterusnya. Tidak libur.

"Besoknya sepanjang malam lagi, sepanjang siang lagi dan sepanjang malam lagi. Tujuh hari seminggu, 30 hari sebulan, 350 hari setahun, dikurangi saat bepergian,"
tulis pria kelahiran 17 Agustus 1951 ini.

Oh, ya, mengenai tanggal lahir 17 Agustus ini ada cerita lucu di halaman 202 yang bikin anda tertawa-tawa. Ternyata, tanggal lahir itu dikarang sendiri oleh Pak Dahlan karena di Takeran tidak ada catatan kelahiran.

"Bagi saya, tidak tahu tanggal lahir tidak penting-penting amat. Saya putuskan sendiri saja: saya lahir tanggal 17 Agustus 1951," tulis Pak Dahlan. Hehehe....

Buku ini juga bernilai religius. Religiositas ala Dahlan Iskan, tentu saja. Di sepanjang tulisan-tulisannya Pak Dahlan 'menyusupkan' filosofinya tentang doa, Tuhan, hidup, umur manusia, kritiknya terhadap takhayul, serta pandangan-pandangan keagamaan yang picik. Ada muatan sekularisasi [harus dibedakan dengan sekularisme lho!] dan rasionalisasi paham keagamaan yang sangat kuat.

Saya terkesan dengan cerita tentang doa Pak Dahlan sebelum menjalani operasi cangkok hati pada 6 Agustus 2007. Pak Dahlan saat disorong memasuki ruang operasi mengaku belum sempat berdoa. Lalu, dia ingat, sebagai orang beriman, harus berdoa, apalagi menghadapi momen sangat krusial dalam hidupnya. Tapi doa apa?

"Saya tidak mau ada kesan bahwa saya sombong kepada Tuhan. Tapi, segera saja saya terlibat perdebatan dengan diri saya sendiri: harus mengajukan permintaan apa kepada Tuhan? Bukankah manusia cenderung minta apa saja kepada Tuhan sehingga terkesan dia malas berusaha?

"Saya tidak mau Tuhan mengejek saya sebagai orang yang bisanya hanya berdoa. Saya tidak mau Tuhan mengatakan kepada saya: Untuk apa kamu saya beri otak kalau sedikit-sedikit masih juga minta kepada-Ku?

"Karena itu, saya memutuskan tidak akan banyak-banyak mengajukan doa. Saya tidak mau serakah. Kalau saya minta-minta terus kepada Tuhan, kapan saya menggunakan pemberian Tuhan yang paling berharga itu: OTAK? Maka, saya putuskan akan berdoa sesimpel mungkin,"
papar Dahlan Iskan.

Singkat cerita, Pak Dahlan pun berdoa menjelang operasi. Doa pendek, cermin kepribadiannya. "Tuhan, terserah Engkau sajalah. Terjadilah yang harus terjadi...." tutur Pak Dahlan.

Membaca kutipan ini, saya langsung ingat Pater Noster, doa kristiani yang sangat populer dan dihafal orang Flores macam saya. Fiat voluntas tua! Jadilah kehendak-Mu!

NASKAH LENGKAP DAHLAN ISKAN GANTI HATI

10 January 2008

In memoriam Mgr. Darius Nggawa SVD


Hari ini [10 Januari 2008] saya mendapat surat elektronik dari Pak Theophilus Bela, aktivis lintas agama di Jakarta. Ia mengabarkan, Mgr. Darius Nggawa SVD, Uskup Larantuka, telah wafat pada hari Rabu, 9 Januari 2008 jam 10.30 Witeng, di RS Katolik Lela, Maumere, Flores.

Kamis 10 Januari 2008 ada Misa Requiem Agung di Gereja Seminari Tinggi Ledalero, Maumere, di mana jenazah disemayamkan. Jumat 11 Januari 2008 jenazah akan diantar ke Larantuka, disemayamkan di Gereja Katedral. Upaca pemakaman akan dihadiri para uskup dari seluruh Indonesia, Nuncio (Duta Besar Vatikan), Gubernur Nusa Tenggara Timur Piet Alexander Tallo, para bupati seluruh NTT, pada hari Minggu 13 Januari 2008 di halaman Gereja Katedral Larantuka, Kelurahan Postoh.

Saya langsung menunduk, berdoa sebentar di depan komputer. Tak terasa air mata saya jatuh.

Selamat jalan Bapa Uskup! Selamat jalan gembala agung yang sangat berjasa bagi kami di Flores Timur, termasuk Lembata. Tiga dekade menjadi Uskup Larantuka membuat almarhum sangat dekat dengan warga Flores Timur, masyarakat Lamaholot. Mgr, Darius, beristirahatlah dalam damai di sisi-Nya.

Berikut sedikit catatan tentang Mgr. Darius Nggawa SVD, sosok uskup yang sangat membekas dalam ingatan saya. Saya masih ingat bagaimana beliau menyapa kami, anak-anak asrama SMPK San Pankratio di San Domingo, Larantuka, yang kebetulan bertetangga dengan kediaman Bapa Uskup.

“Setiap kali mendengar lagu dolo-dolo dinyanyikan dalam perayaan ekaristi di mana saja, hati dan pikiran saya selalu kembali mengenang peristiwa bersejarah itu dalam hidupku. Seolah-olah film itu diputar kembali,” ujar Mgr. Darius Nggawa SVD, Uskup Larantuka [emeritus] suatu ketika.

Paket lagu misa dolo-dolo yang diciptakan oleh Matius Wari Weruin ini memang pertama kali dibawakan di Stadion Ile Mandiri, Larantuka, pada 16 Juni 1974 ketika Mgr. Darius Nggawa ditahbiskan sebagai uskup Larantuka.

Darius menjadi uskup ketiga Dioses Larantuka. Uskup pertama Gabriel Manek, S.V.D. (1951-1961), uskup kedua Mgr. Antonius Thijsen, S.V.D. (1961-1973). Setelah menggembalakan umat Keuskupan Larantuka selama 30 tahun, pada Juni 2004 dia digantikan Mgr. Frans Kopong Kung, Pr., uskup keempat, asli Flores Timur.

Moto tahbisan Mgr Darius Nggawa Veritatem facientis in Caritate: melaksanakan kebenaran dalam cinta kasih (Efesus 4:15). Dia sangat yakin bahwa perjuangan untuk kebenaran dan keadilan harus dilandaskan pada kasih Kristiani. Untuk mencapai kebenaran, setiap kita harus bergumul, tetapi yang lebih penting lagi mempraktikkan kebenaran itu.

Lahir di Pora, Kabupaten Ende, 16 Juli 1929, Darius Wilhelmus Nggawa merupakan generasi pertama umat Katolik di Lio Selatan. Dia dipermandikan pada 16 Juli 1929 oleh Pastor Suntrup SVD.

Tahun 1941 masuk Seminari Mataloko. Di sini ia tidak menemui banyak kesulitan. “Saya sangat rajin belajar dan jalan lancar-lancar saja,” katanya.

Tahun 1948, Darius masuk Seminari Tinggi Ledalero. Pada 1954 Darius sakit berat. Dia berdoa kepada Tuhan, “Biarlah saya menjadi imam cukup lima tahun saja sebelum saya diambil untuk selama-lamanya.”

Pada 12 Oktober 1955 ia ditahbiskan menjadi imam bersama Hendrik Djawa, S.V.D. (almarhum) dan Alo Mitan, S.V.D. Darius memilih moto: “Lihatlah, Aku Telah Kau Panggil” (I Sam 3:8).

Setelah ditahbiskan, Darius Nggawa bekerja selama tiga tahun di Kisol, Manggarai: sebagai guru seminari merangkap pastor paroki Kisol pada akhir pekan.

Pada 1959-1964 Darius melanjutkan studi sejarah Asia Timur dan Tenggara sampai tingkat doktoral di Universitas Santo Thomas Manila; sambil mengajar di Christ the King Mission Seminary. Sekembali dari Filipina, ditugaskan menjadi guru di SMAK Syuradikara Ende selama setahun sebelum menjadi dosen di STFK Ledalero untuk mata kuliah sejarah gereja dan misiologi, 1966-1972.

Sejak 1966, Darius Nggawa bertugas di Seminari Ritapiret: tiga tahun pertama sebagai prefek dan tiga tahun berikutnya praeses. Di Ritapiret inilah dia dipilih menjadi Regional Regio SVD Ende dan menjadi orang Indonesia pertama yang terpilih sebagai pemimpin Serikat Regio Ende.

Sebelum masa tugasnya berakhir, ia diangkat menjadi Uskup Larantuka pada Februari 1974 dan ditahbiskan pada 16 Juni 1974. Data ini saya kutip dari tulisan Steph Tupeng Witin.

Bagi saya, sebagai anak Flores Timur, Mgr. Darius Nggawa ini seorang uskup yang luar biasa. Bila dia turne ke kampung-kampung di Lembata untuk memberi Sakramen Krisma, terasa sekali kewibawaannya sebagai imam agung. Saya bersyukur menerima Sakramen Krisma dari tangan beliau di Ile Ape, Lembata.

Kunjungannya ke stasi-stasi di desa jauh berbeda dengan kunjungan uskup di tempat lain di Indonesia. Di Jawa, misalnya, uskup masih dianggap sebagai 'orang biasa', mirip romo-romo atau pastor lain. Wibawanya baru tampak saat memimpin misa pontifikal.

Di Flores Timur lain sekali. Saya sulit melukiskan dengan kata-kata keagungan seorang uskup--dalam hal ini Mgr Darius Nggawa--bagi jemaat desa yang sederhana.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana warga ramai-ramai membenahi kampung sebelum Mgr Darius tiba. Di luar kampung dibuat gapura agung dengan hiasan indah. Seluruh masyarakat menjemput di gapura luar kampung dengan upacara adat. Makan sirih pinang. Pidato penerimaan. Lalu, jalan kaki bersama, warga mengelu-elukannya.

Bupati atau gubernur sekalipun tidak pernah disambut dengan upacara kehormatan macam ini.

Karena umat Katolik di Flores Timur sangat banyak, sementara gereja sebesar apa pun tak akan menampung, maka misa pontifikal digelar di lapangan bola. Altar raksasa. Janur kuning. Hiasan meriah. Tari-tarian tradisional. Pakai busana terbaik.

Sekali lagi, saya tidak pernah menyaksikan misa raya seagung dan semeriah itu di Jawa. Jangankan uskup, kardinal sekalipun penyambutannya di Jawa biasa-biasa saja. Satu-satunya misa pontifikal paling meriah di tanah Jawa sepanjang sejarah Indonesia adalah saat Paus Yohanes Paulus II berkunjung ke Jogjakarta pada 1989.

Mgr. Darius Nggawa tergolong rohaniwan serius. Jarang bercanda atau tertawa. Ini saya rasakan ketika jadi anak asrama SMPK San Pankratio, San Dominggo, Larantuka. Kebetulan asrama putra ini satu kompleks dengan 'istana keuskupan' di bukit San Dominggo.

Mgr Darius biasanya memimpin misa pagi di asrama setiap Kamis (kalau tidak salah ingat). Saya beberapa kali jadi ajuda alias misdinar. Beliau ingin semua perlengkapan misa, buku-buku, suasana liturgi beres. Tidak pernah menuntut macam-macam. Jika ajuda melaksanakan tugas dengan baik, beliau bilang terima kasih.

Setelah itu cepat-cepat ke istana karena sibuk. Begitu berwibawanya, sehingga remaja SMP macam kami segan bertanya ini itu.

Kewibawaan Mgr. Darius Nggawa sangat terasa saat berkhotbah. Sebagai intelektual, banyak baca, isi khotbahnya sangat mendalam, analitis, ilmiah. Begitu berwibawanya, sehingga suara Mgr. Darius senantiasa didengarkan oleh bupati, pembantu bupati, atau camat.

Mgr. Darius Nggawa melewati hari tuanya di Pusat Penelitian Agama dan Kebudayaan, Candraditya, Wairklau, Maumere. “Saya membaca buku, berdoa, merayakan ekaristi, dan menulis renungan harian dengan tangan sendiri,” katanya.

Meski sudah tidak tinggal di Flores Timur, penggembalaan Mgr. Darius Nggawa selama 30 tahun di kabupaten paling timur 'pulau bunga' ini niscaya tak akan hilang dari warga Flores Timur. Setidaknya saya!

Selamat jalan Bapa Uskup, Ama Darius Nggawa! Maiko molo, kame dore! Peten kame pi Lamaholot, Flores Timur!

08 January 2008

Sulitnya menjual surat kabar


"Bikin majalah atau koran itu gampang. Jualnya itu yang sulit."

Kata-kata ini selalu saya dengar setiap kali ketemu Setyo Utomo alias Pak Tommy di kawasan Joyoboyo, belakang Kebun Binatang Surabaya. Ia sudah 20 tahun lebih menjadi agen surat kabar dan majalah di Kota Surabaya. Karena itu, ia tahu betul suka-duka, lika-liku, bisnis yang satu ini.

"Bang Hurek, selera pembaca atau pembeli di Surabaya dan Sidoarjo itu sangat sulit ditebak. Kalian bisa saja bilang koran ini bagus, kelas, bermutu. Tapi apakah bisa dijual? Bermutu tapi gak payu, lapo. Hehehe...," ujar Pak Tommy yang pernah menjadi fotografer lepas spesialis pertandingan-pertandingan Persebaya itu.

"Lalu, media apa yang gampang dijual di Surabaya?" tanya saya.

"Hanya Jawa Pos," tegasnya. "Kalau Jawa Pos, saya jamin jalan. Media-media lain saya nggak jamin."

"Tapi media-media lain kan bagus juga kualitasnya. Liputannya lengkap, halamannya banyak, lumayan mendalam," saya menyela.

"Hehehe... Itu kan menurut sampean. Pembaca itu kan punya penilaian sendiri. Buktinya, saya sulit menjual media-media di luar Jawa Pos. Koran Jakarta yang namanya Kompas saja nggak laku, padahal dijual seribu," tegas Pak Tommy. Saya kemudian minum kopi tubruk yang disediakan pria kelahiran Madura ini.

Pak Tommy bicara ngalor-ngidul membahas bisnis media, isi surat kabar, serta mutu wartawan masa kini yang ia nilai kurang tangguh, kurang tekun. "Masa, ada wartawan yang minta-minta berita sama teman. Nggak turun ke lapangan. Nulisnya nggak enak. Apa nggak malu sama diri sendiri? Kalau nggak bisa jadi wartawan ya leren [berhenti] saja," papar Pak Tommy.

Pria berkulit gelap [sering kena matahari] ini tak asal bicara. Sebab, dia kerap kali berkumpul dengan wartawan di berbagai pos. "Saya sering heran, Bang, wartawan nggak datang ke acara, tapi kok beritanya ada. Eh, isinya meleset karena kebetulan saya berada di sana. Hehehe...," kritik Pak Tommy.

Begitulah. Kalau Pak Tommy [60-an tahun, penggemar fanatik Deep Purple] bicara, saya tidak bisa apa-apa. Jikapun saya menyanggah, ia akan membeberkan fakta-fakta baru yang saya akui akurat. Ia bukan pakar media, pemantau media [media watch], bukan wartawan, tapi tahu banyak isi perut media.

"Saya sudah 20 tahun lebih jualan media, Bang. Jam tiga pagi saya sudah di terminal sama istri. Kalau nggak begini, mau makan apa? Hidup itu berat, tapi harus disyukuri. Alhamdulillah, anak-anak saya bisa sekolah dan mandiri," ujar Pak Tommy.

Saya diam. Merenungkan kata-kata loper koran bernama Pak Tommy. "Bikin media itu gampang, tapi jualnya itu lho... wuangeeeeel tenan!"

Bikin media gampang? Bisa jadi. Internet memang memberi begitu banyak kemudahan. Mau tahu berita-berita apa saja tinggal masuk ke internet, baca situs online... dan kelar. Televisi swasta pun menyiarkan berita-berita kapan saja. Mau cari foto? Gampang. Klik google dan dapat. Situs berita macam www.detik.com banjir berita setiap hari. Wawancara tinggal telepon, bersurat elektronik, dan sebagainya.

Tak heran sejumlah media hanya mengandalkan segelintir pasukan redaksi untuk bikin koran, tabloid, majalah, dan sebagainya. Liputannya dari mana? Internet. Maka, saya tidak kaget ketika melihat sejumlah tulisan saya di blog ini terbit dalam edisi cetak. Kok gak izin saya sebagai penulis? Kok nongol begitu saja tanpa permisi? Bagaimana kalau tulisan itu digugat di pengadilan? Apakah saya harus bertanggung jawab?

Instan, semua serba instan. Era internet membuat manusia modern cenderung mengalpakan proses. Tapi, mengutip loper koran di Joyoboyo, Pak Tommy, media-media instan yang asal comot, asal jadi, asal terbit, asal-asalan, sulit dijual di Surabaya. "Teriak-teriak, jual seribu, pun nggak laku. Pembaca sekarang kan pintar-pintar, bukan orang bodoh. Mereka tahu mana media berkualitas dan mana yang asal-asalan," tegas Pak Tommy.

Kini, selain berjualan surat kabar, Pak Tommy buka warung soto di rumahnya. Saya nilai masakannya lumayan atau nilainya C. Ia dan istri harus berusaha keras agar soto ayam itu naik menjadi B, bahkan A, bahkan A+. "Namanya juga baru belajar. Hehehe...," ujar Pak Tommy. Ia tertawa ketika mendengar komentar saya bahwa sotonya masih bernilai C.

"Kenapa anda merintis usaha warung? Apa jualan koran nggak cukup?" tanya saya.

"Untuk siap-siap lah. Nanti kalau koran-koran sudan tidak bisa dijual lagi, semua orang beralih ke televisi atau internet, paling tidak saya dan keluarga masih bisa makan. Kita kan tidak tahu sampai kapan media-media cetak ini akan bertahan. Kondisi sekarang ini ngeri lho, Bang. Susah cari uang!" tegas Pak Tommy.

06 January 2008

Air terjun Dlundung, Trawas, Mojokerto





Kabupaten Mojokerto dan Pasuruan beruntung punya banyak objek wisata alam di pegunungan. Ini penting sekali bagi orang Surabaya untuk melepas penat setelah kerja keras selama satu minggu. Tiap akhir pekan banyak orang Surabaya yang rekreasi ke pegunungan.

Menghirup udara segar, menikmati alam pegunungan yang sejuk. Maklum, udara di Surabaya sangat panas, bisa tembus 35-37 derajat Celcius pada puncak kemarau. "Akhir pekan kami sekeluarga, kalau gak ada halangan, mesti ke pegunungan," tutur Willy, pengusaha di Surabaya. Naik pegunungan itu bisa berarti Prigen, Tretes, Pacet, Ledok, Pujon, Batu, dan seterusnya.

Salah satu objek pegunungan yang bagus dinikmati adalah air terjun [kerennya: waterfall]. Ada tiga air terjun bertetangga: Kakekbodo, Putuktruno, Dlundung. Nah, Minggu 6 Januari 2007 saya menengok air terjun Dlundung di Trawas, Mojokerto. Ini kali pertama saya ke sana.

Jalan relatif bagus. Dari Sidoarjo [macet di Porong karena lumpur lapindo], Pandaan, masuk Raya Trawas, lalu berbelok ke arah Dlundung. Ada papan nama cukup besar. Para tukang ojek siap memberikan petunjuk kalau kita bingung. Sekira dua kilometer dari jalan raya, menanjak, sampailah di pintu gerbang.

Bayar karcis Rp 3.500 per orang [termasuk asuransi Rp 100]. Ini retribusi untuk Pemerintah Kabupaten Mojokerto. Beda dengan Kakekbodo atau Putuktruno [kedua air tejun ini di Kabupaten Pasuruan], kita bisa bawa kendaraan bermotor hingga di depan air terjun. Parkir, lalu jalan kaki sebentar saja sampai. Tak perlu ngos-ngosan macam di Air Terjun Kakekbodo.

Cipratan air terjun menambah sejuk suasana. Ada sensasi tersendiri. Kita bisa merasakan kebesaran Tuhan, berefleksi, di depan air terjun sekira 50-60 meter itu. Volumenya kecil saja. Suara air yang konstan, menghantam batu-batu gunung, asyik disimak. Di sini tidak begitu ramai karena lokasinya relatif jauh ketimbang Kakekbodo dan Putuktruno.

Saya perhatikan mayoritas pengunjung anak-anak muda. Mereka membawa pasangan [pacar] masing-masing. Bikin acara sendiri-sendiri. Khas anak muda, remaja, yang baru kenal nikmatnya berkasih mesra. "Memang yang datang ke sini umumnya anak-anak muda. Tapi ada juga lho keluarga yang bawa anak-anak," tutur Riyati, pemilik warung. Ibu ini didampingi Lia, anaknya.

"Sampean kok sendiri? Nggak bawa pasangan?" tanya Bu Riyati.

"Maunya sih pacaran, tapi ketuaan," jawab saya sekenanya. Bu Riyati, Lia, dan beberapa pengunjung tertawa lebar. Suasana makin gayeng. Saya pesan mie rebus, teh hangat, untuk sarapan. Lalu, saya bertanya sedikit tentang kondisi wisata alam Dlundung, Trawas, nan alami itu.

Air terjun Dlundung bukanlah objek wisata kemarin sore. Pada era Hindia Belanda lokasi ini sudah sering dikunjungi tuan-tuan dan nyonya-nyonya Belanda untuk rekreasi. Pada 10 Februari 2007, Carolina Lenkiewicz-Andreiessen alias Rieki berkunjung ke rumah Bapak Max Arifin [seniman, tokoh teater Jawa Timur, kini almarhum] dan Ibu Sitti Hadidjah di Mojokerto. Rieki ini anaknya Gerardus Andriessen, arsitek terkenal pada masa penjajahan Belanda.

Gerardus membangun banyak gedung bersejarah di Jawa, salah satunya kantor Gubernur Jawa Timur di Jalan Pahlawan Surabaya. Rieki kebetulan membawa album kenangan semasa di Jawa Timur. Di antaranya, air terjun Dlundung, Trawas, pada tahun 1934. Hebat benar orang Belanda! Dokumen lama pun masih dirawat dengan sangat baik.

Sebaliknya, kita di Indonesia lemah dalam urusan arsip dan dokumentasi macam ini. Bisa saya pastikan, Pemkab Mojokerto tidak punya foto masa lalu Dlundung atau objek wisata lain di Mojokerto. Harus cari di Belanda dulu! Hehehe.....

Membandingkan air terjun Dlundung pada 1934 dan 2008 sungguh jauh berbeda. Di foto lawas itu aliran air sangat deras, tebal. Sekarang saya perkirakan tinggal 20 persen saja. Saya bisa bayangkan betapa gemuruhnya air terjun Dlundung pada masa Hindia Belanda. Sekarang gemuruh itu tak ada. Hanya kecipak-kecipak kecil saja. Kalau tidak dijaga baik-baik, hutan gundul, bisa jadi suatu ketika air terjun ini hilang.

Hampir satu jam saya berada di lokasi air terjun Dlundung. Tak banyak yang bisa digali dari objek wisata alam ini karena petugas maupun pedagang di Dlundung tak punya referensi sejarah. "Saya jualan, jam lima sore pulang," kata Ibu Riyati.




Air terjun Dlundung, Trawas, 1934, koleksi Carolina Lenkiewicz-Andreiessen.