30 December 2008

Tajuk Natal Radar Surabaya



Oleh Lambertus L Hurek
Radar Surabaya, 25 Desember 2008

MAYORITAS orang Singapura jelas bukan Kristen. Namun, sejak November lalu negara kecil ini mengadakan Christmas Festival terbesar di Asia. Yah, orang Singapura memang doyan belanja. Dan momentum Natal sengaja dikemas sedemikian rupa untuk merangsang nafsu berbelanja manusia.

"Di negara lain, terutama Eropa, mungkin pusat-pusat perbelanjaan dan tempat nongkrong menjadi sepi pada hari Natal. Orang berkumpul dengan keluarganya, merayakan Natal. Tidak begitu yang terjadi di Singapura. Semua pusat perbelanjaan penuh sesak oleh manusia, ya yang mau belanja, makan, atau sekadar jalan-jalan. Aneh tapi nyata. Wong ini hari raya keagamaan kok dirayakan di mal? Tapi begitulah Singapura," tulis Dyah, guru sebuah sekolah di Singapura.

Gambaran macam ini, saya kira, tak hanya di Singapura. Di Jakarta, Surabaya, Bandung, atau Denpasar pun sama. Sejak permulaan Desember berbagai pusat belanja berhias aksesoris Natal: pohon terang, Santa Claus, bintang, kandang, hingga lagu-lagu Natal. Orang dirangsang berbelanja sebanyak mungkin dengan embel-embel Christmas.

Sebaliknya, kalau kita tengok gereja-gereja atau katakanlah tempat ziarah, praktis tidak ada apa-apa. Paling hanya hiasan sekadarnya. Itu pun dibuat terburu-buru sehari dua hari menjelang misa malam Natal. Hari raya keagamaan kok dirayakan di mal?

Gugatan macam ini bukan barang baru. Sejak dulu umat manusia diingatkan akan bahaya konsumerisme dan hedonisme. Orang dirangsang terus-menerus berbelanja tanpa tahu kegunaannya. "Natal tidak ada hubungan dengan kesalehan. Natal memang identik dengan konsumsi. Belanja," tulis James E Combs (1993).

Mudah-mudahan refleksi malam Natal bisa menyadarkan umat kristiani akan makna Natal yang sejati. Bahwa Yesus lahir dalam kesederhanaan, di palungan binatang, disaksikan gembala-gembala miskin, yang kali pertama mengunjungi bayi Yesus.

"Pesan Injil sangat jelas. Yakni, Tuhan sungguh-sungguh solider dengan kaum miskin, demi pembebasan manusia dari kemiskinan," tulis Gustavo Gutierrez, teolog terkemuka.

Silakan berlibur ke mal, tapi jangan lupa palungan. Selamat Natal!

No comments:

Post a Comment