30 December 2008

Tahun Baru, Budaya Tandingan




Juru Tulis: Lambertus L. Hurek


Ada sebuah berita kecil, empat alinea, di KOMPAS. Seorang artis muda, Dominique Agisca Diyose, memilih merayakan Natal di Rawaseneng, Jawa Tengah. Tepatnya di pertapaan para abas, biarawan Trapis. Bukan main! Saya geleng-geleng kepala.

Orang Katolik di Jawa tentu tahu persis Rawaseneng itu. Apa saja kegiatannya, pola meditasi, senandung, hingga pola makan dan bercocok tanam. "Apa gak salah artis natalan di Rawaseneng?" batin saya.

Memilih bernatal sembari silentium, refleksi minim wicara, di Rawaseneng, jelas bukan pilihan orang kota sebesar Jakarta. Apalagi artis yang sedang naik daun. Rawaseneng itu pusat retret. Tempat umat bersemadi, berdoa dalam bisu. Berita ini ibarat angin segar ketika Natal di Jawa--kota-kota besar umumnya--dicitrakan sebagai pesta belanja, hura-hura, perayaan hedonistis.

Saya bersyukur karena si Dominique telah membuat budaya tandingan. Ini hanya sebuah arus kecil di tengah arus besar sekularisme modern yang sukses besar mengenyahkan makna spiritual Natal. "Kita perlu membuat sebanyak mungkin budaya tandingan. Dan itu harus dimulai dari diri kita sendiri," kata kawan saya, penggila buku filsafat.

Habis Natal, disusul tahun baru. Ini pun identik dengan malam hura-hura. Saya tidak tahu sejak kapan orang-orang Jawa, tidak semua tentu, senang sekali menghabiskan malam pergantian tahun di jalan raya. Bawa terompet kertas, bikin ramai, keliling kota tanpa tujuan. Atau menyaksikan orkes dangdut yang penyanyi-penyanyinya overacting.

Seingat saya, di Pulau Flores, yang hampir semua penduduknya beragama Katolik, tidak ada tradisi menghabiskan malam tahun baru di jalan raya. Tidak ada tiup terompet. Tidak ada dangdut. Tidak ada konser musik. Tidak ada booking hotel.

Yang ada hanya kebaktian bersama--disebut ibadat sabda tanpa imam--doa rosario, renungan umum, lalu makan bersama. Makanannya pun sangat sederhana, khas desa. Saling mengucap "selamat tahun baru", apalagi pakai cium-ciuman, tidak dikenal di desa-desa Flores. Ndeso banget ya!

Saya bersyukur bahwa di Jawa Timur pun makin banyak orang yang memaknai malam tahun baru secara khusyuk. Tahun baru itu tahun Masehi (Kristen), tapi sudah menjadi milik dunia. Semua orang--apa pun agama, kepercayaan, budaya--bersatu untuk memberi kandungan makna.

Di kawasan Sidoarjo, misalnya, warga kampung bikin tirakatan. Berkumpul, berzikir, berdoa, mensyukuri tahun lama dan berharap semoga tahun baru membawa kebaikan bagi semua. Berserah total kepada Sang Pencipta. Selepas zikir, ya, makan bersama. Juga makan jajanan pasar, polo pendhem (ubi-ubian rebus), minum kopi, teh, sambil ngobrol ngalor-ngidul.

Nonton televisi, khususnya Liga Ingris yang selalu heboh. Orang-orang kampung di Jawa Timur memang sangat gila bola. Biarpun siaran langsung pukul 02.00 atau 03.00, jika yang bertanding itu Manchester United, Chelsea, Liverpool, Arsenal, Real Madrid, Barcelona, Inter Milan, Juventus... ya ditunggu sambil ngopi di pinggir jalan... plus main domino.

Suasana malam tahun baru ala kampung-kampung di Jawa Timur ini juga semacam budaya tandingan, counter culture. Pejabat-pejabat tinggi di Jakarta dan daerah pun saya dengar mengisi malam tahu baru dengan zikir. Bagus sekali! Teladan macam ini perlu terus dilakukan para pemimpin kita di pusat hingga kampung-kampung.

Saya bermimpi, suatu ketika tidak ada lagi orang Indonesia yang hura-hura di jalan raya, pesta terompet, booking hotel, bermewah-mewahan di hotel berbintang. Saya juga bermimpi stasiun-stasiun televisi tidak lagi menyiarkan program hiburan hura-hura, dengan artis-artis menor overacting, yang tidak ada gunanya.

Selamat Tahun Baru untuk semua!

Tuhan memberkati!

5 comments:

  1. Setuju..... melakukan renungan dan introspeksi tentunya lebih bermanfaat daripada hura-hura nggak karuan..... Salam damai!

    ReplyDelete
  2. hallo..salam kenal..
    Happy New Year.

    Dewa.
    http://aboutpc-tips.blogspot.com
    http://dewamira.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. met taun baru. hura2 boleh asal gak kebablasan.

    ReplyDelete
  4. Selamat Tahun Baru, Mas Hurek! ditunggu tulisan2nya yang selalu menarik untuk disimak dan direnungkan di tahun 2009.

    ReplyDelete
  5. Selamat tahun baru juga untuk Mbak Elyani. Semoga anda lebih sukses dari diberkati Tuhan. Terima kasih sudah mengunjungi blog saya selama ini.

    ReplyDelete