30 December 2008

Shinta Devi Teliti Boen Bio



Tidak banyak anak muda--apalagi yang bukan Tionghoa--tertarik mendalami sejarah keberadaan etnis Tionghoa di Surabaya. Shinta Devi, 28 tahun, mengupas eksistensi Boen Bio sejak era kolonial hingga Orde Baru.

Juru Tulis: Lambertus L. Hurek
Juru Foto: Freddy Sukoco

Shinta Devi, lulusan ilmu sejarah Universitas Airlangga, menulis buku berjudul Boen Bio, Benteng Terakhir Umat Konghuchu. "Saya mencoba mengungkap masalah-masalah yang dihadapi umat Boen Bio dari tahun 1907 hingga 1967," ujar Shinta Devi yang saya hubungi via telepon.

Menurut Shinta, sejak dulu para tokoh Boen Bio, kelenteng ternama di Jalan Kapasan berjuang untuk mendapat pengakuan bahwa sesungguhnya Konghuchu merupakan sebuah agama. Dan perjuangan itu tidak gampang, khususnya pada awal Orde Baru. Rezim itu antara lain melarang aksara Tionghoa dan berbagai perayaan seperti Sin Cia dan Cap Go Meh.

Yang menarik, jemaat Boen Bio tetap saja melaksanakan peribadatan di kelentengnya. Bahkan, jumlah umat yang hadir semakin lama semakin banyak. Aparat pemerintah pun tak bisa berbuat banyak.

"Ini menunjukkan bahwa melarang orang untuk beribadah itu tidak pernah efektif. Larangan itu bertentangan dengan hak asasi manusia," kata wanita kelahiran Surabaya, 21 Maret 1980 itu.

Buku tentang Boen Bio karya Shinta Devi, yang diterbitkan JP Books, ternyata menjadi rujukan berbagai kalangan, mulai wartawan, penulis, peneliti, novelis, hingga masyarakat umum. Lan Fang, misalnya, menjadikan buku Shinta Devi sebagai salah satu referensi menulis novel Perempuan Kembang Jepun.

"Saya sendiri tidak menyangka kalau buku saya dijadikan rujukan dan bahan diskusi tentang sejarah etnis Tionghoa di Surabaya," papar Shinta Devi yang tengah menyelesaikan studi pascasarjana di Jogjakarta ini.

Bingky Irawan, tokoh Konghuchu, mengaku salut dan terharu dengan kerja keras Shinta Devi menggali sejarah etnis Tionghoa di Surabaya, khususnya eksistensi Boen Bio di Jalan Kapasan. Karya Shinta dinilai bisa membantu masyarakat memahami komunitas Konghuchu serta partisipasinya dalam sejarah republik ini.

"Yang buat saya terharu, Shinta Devi ini muslimah, orang Jawa, tapi bersusah payah meneliti Kelenteng Boen Bio," ujar Bingky Irawan.

2 comments:

  1. Hallo Bang Hurek,
    Selamat Tahun Baru,
    Tulisan Shinta Devi mengenai Boen Bio sangat mencengangkan bagi saya, ternyata pernak pernik ornament yang ada di dalam Kelenteng Boen Bio itu semua sarat akan makna dan uniknya masih relevan saja sampai sekarang.
    Bang Hurek, kala bertemu Bunsu Bingky Irawan tolong sampaikan salam kebajikan dari saya.

    sugeng sentoso imam
    sugengcetak@yahoo.co.id

    ReplyDelete
  2. Selamat tahun baru dan salam kebajikan juga untuk Mas Sugeng Sentosa.

    ReplyDelete