09 December 2008

Orkes musik Tionghoa Surabaya

Juru Tulis: Lambertus L. Hurek



Asyik juga melihat langsung latihan orkes musik Mandarin. Saya, meski sudah lama aktif mengikuti kegiatan masyarakat Tionghoa di Surabaya, baru kali ini beroleh kesempatan menyaksikan bagaimana proses latihan musik oriental itu.

Joko Haryono (Liang Jang Aoo), ketua Yayasan PH Nusantara, yang memungkinkan ini semua. Selama latihan--dua jam lebih--saya dan dua mahasiswa magang UPN Veteran (Rima Maduwati Putri dan Nur Aini Wahidah) bahkan selalu ditemani Pak Joko. Juga Ibu Linda Chandriani, direktur Little Sun, sekolah Tionghoa di samping Plaza Surabaya.

Minggu, 7 Desember 2008, siang itu saya melihat ada 14 pemain. Lima perempuan, sembilan laki-laki. Ada Pauline Soengkono, 8 tahun, sekolah di SD Ellyon kelas 3. William 10 tahun, sekolah di SD Cinta Kasih. Ada remaja, mahasiswa, dan pemusik senior.

"Dulu pemain kami sampai 30 orang. Tapi banyak yang mrotol karena kuliah di luar negeri, sibuk kerja, dan sebagainya," jelas Welly Sunjaya, pemusik senior, sekaligus instruktur.

"Beginilah kesulitan mengembangkan musik tradisional Tionghoa di Surabaya. Peminatnya masih sangat sedikit. Eh, setelah sudah bisa main, mentas beberapa kali, mereka kuliah dan sebagainya. Jadi, kita harus mulai mendidik pemain baru, dari nol," tambah Lydia Lie, juga pemusik senior plus pelatih.

Siang itu latihan berlangsung serius, tapi menyenangkan. Oriental Traditional Music Group Surabaya--nama resmi grup ini--mempersiapkan empat lagu untuk konser Natal bersama Surabaya Symphony Orchestra, 15 Desember 2008. Dua nomor Natal: Silent Night dan Jingle Bells. Kemudian dua nomor Mandarin: Gong Wu (kisah tentang pemanah) serta Xing Fu Nian (tahun bahagia).

Ke-14 pemain, termasuk si kecil Pauline, sudah menguasai instrumennya dengan baik. Hanya saja, beberapa pemain yang kurang pas intonasinya. Ini membuat Lydia harus bicara agak keras.

"Erlhu itu pegang suara dua, mi fa mi do... Makanya, jangan keras-keras. Suara utama yang harus menonjol," ujar Lydia saat latihan Silent Night alias Malam Kudus.

Perubahan suasana dari Malam Kudus yang agung, khidmat, ke Jingle Bells yang riang pun belum pas. Dan itu sangat disadari oleh Lydia, Welly, dan beberapa pemain senior. "Saya langsung betulkan begitu ada yang kedengaran nggak enak. Lebih baik dibetulkan sekarang daripada keterusan," tukas Mbak Lydia, pianis yang suka bicara ceplas-ceplos itu.

Si kecil Pauline, pemain simbal (da ba) tak luput dari koreksi. Pukulannya terlalu keras, bikin kaget. Harusnya dua bilah logam itu digeser. "Anak-anak kecil memang kita mulai dari latihan ritme, irama. Kalau sudah menguasai irama, yang lain-lain itu gampang," jelas Welly, pemusik asal Malang.

Setiap hari Minggu, Welly harus ke Surabaya untuk melatih anak-anak muda memainkan musik tradisional Tionghoa. Pemusik lain pun datang dari beberapa kota macam Purwokerto, Solo, Salatiga, dan Jakarta. Dirigennya Yudi Sutanto (Tan Yu Ming) asal Purwokerto.

Mereka rela ke Surabaya hanya karena CINTA musik dan budaya Tionghoa. Mereka tak ingin musik tradisional Tionghoa itu punah. "Kalau kita tidak lestarikan, siapa lagi yang bisa kita harap?" timpal Joko Haryono alias Liang Jang Aoo.

Pak Joko ini kebetulan semasa sekolah di Chung Chung--sekolah Tionghoa terkenal di Surabaya--sangat hobi musik. Setelah reformasi, dia bertekad menghidupkan kembali seni budaya Tionghoa yang dibredel selama tiga dekade oleh rezim Orde Baru.

"Kita benar-benar mulai dari nol. Semua alat musik terpaksa impor karena stok di dalam negeri sudah tidak ada. Dan minat anak-anak muda juga tidak ada. Bayangkan, 30 tahun lebih kesenian Tionghoa mati," kata Pak Joko.

Instrumentasi orkes Tionghoa ini cukup lengkap. Ada suling (sheng) yang suaranya eksotik. Ketika membawakan melodi pokok, suara sheng bisa menembus bunyi-bunyian lain. Suling ini ada tiga macam.

Kemudian Mbak Lydia pegang yang jin. Ini sejenis sitar 148 senar, dimainkan dengan cara dipukul. Suaranya berat. Kemudian yan jin (dua orang). Ku cen, sejenis harpa, yang disebut-sebut instrumen paling asli Tiongkok.

Instrumen gesek erlhu ada tiga macam: chong hu (alto), kao hu (sopran), pan hu (sopranino). Alat petik bernama liu jin. Muk yi alat pukul dan simbas (da ba) dimainkan Pauline. Ling instrumen nonmelodis yang dimainkan si kecil William. Tak ketinggalan gendang besar semacam timpani alias da gau.

Dengan instrumentasi yang komplet, sebenarnya orkes Tionghoa ini bisa memainkan lagu apa saja dengan baik. Tidak lagi terbatas pada nada-nada pentatonik yang selama ini dikenal. "Musik ini pada dasarnya universal dan saling terkait," kata Lydia Lie.

Jangan heran, sebagian besar pemain orkes ini sebelumnya sudah belajar musik klasik Barat, khususnya piano. Ketika pindah ke musik oriental, mereka sama sekali tidak kesulitan.

"Kita ingin agar musik Tionghoa juga dimainkan orang Jawa, Batak, Madura, Flores, dan sebagainya. Jangan hanya orang Tionghoa saja," harap Pak Joko.

9 comments:

  1. hallo

    saya dari solo

    boleh minta tukeran link

    Salam

    ReplyDelete
  2. mas Hurek,

    Saya lagi gandrung dengan seni budaya peranakan tionghoa. Apalagi di sini, ada museum namanya Museum Peranakan. Isinya ya ttg sejarah peranakan di Southeast Asia, termasuk di Indonesia.

    Kasut manik, batik pagi sore, tok panjang, ah...ah...cantik dan menawan sekali!

    ReplyDelete
  3. Hehehe... Mbak Dyah, terima kasih mampir terus di blog saya. Saya kebetulan lagi ditugaskan menangani seni budaya dan aktivitas warga Tionghoa di Surabaya.

    Yah, harus banyak belajar. Saya juga ingin segera belajar bahasa Mandarin lah. Selamat bekerja.

    ReplyDelete
  4. Untuk kawan2 yang memang ada minat ttg kebudayaan musik tionghua, salam kenal dari kami.
    Harmony Chinese Music Group Bandung.
    Berikut link video kami dengan nuansa Indonesia :
    http://www.youtube.com/watch?v=F7Wgq2OHlJo
    http://www.youtube.com/watch?v=TWWEm_xI27U
    http://www.youtube.com/watch?v=8MpRnRDcAww
    Terima Kasih

    ReplyDelete
  5. Ayo Suroboyo!, jangan kalah dengan Harmony, Bandung dan Nanfeng, Jakarta... :-)

    ReplyDelete
  6. salam kenal mas Lumbertus, kami dr program anak news trans7. Mas, kami tertarik dg tulisan mas ttg orkestra tionghoa, msh eksis ga y mas grupny? Ad contact person yg bs d hubungi mas? atau mngkn bs berhubungan lewat mas Lumbertus. Trm ksh sblmny.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo.. Kami dari Surabaya Chinese Orchestra - Sì Shuǐ Dōng Fāng Mín Yuè Tuán - 泗水东方民乐团
      Untuk informasi lebih lanjut tentang kami, bisa langsung saja kunjungi Facebook Page kami di link berikut :
      https://www.facebook.com/dongfang.sco/timeline

      Terima Kasih :)

      Delete
  7. Arsip Blog Hurek menarik untuk dibaca. Saya baru tahu erhu terbagi 3 : chong hu (alto), kao hu (sopran), pan hu (sopranino)

    ReplyDelete
  8. Tlg tanya bisa minta info ttg tempat kursus erhu dan perkiraan harga erhu... Terima kasih sebelumnya.

    ReplyDelete