09 December 2008

Nonton Jake Shimabukuro di San Francisco



Oleh Wens Gerdyman


Sebagai bagian dari San Francisco Jazz Festival tahun 2008, Jake Shimabukuro, 32 tahun, menggelar konser pendek di Palace of Fine Arts di San Francisco, California, pada tanggal 9 November. Kalau belum pernah dengar tentang Jake, dia ini pemain ukulele luar biasa, extraordinary.

Kalau mendengar ukulele, langsung kita berpikir, oh gitar kecil bersenar empat, untuk mengiring lagu-lagu Hawaii. Jaman saya kecil di Indonesia, Mang Udel aktor dan pelawak dari Jawa Barat itulah yang suka main ukulele di TVRI. Jake ini, walaupun kelahiran Hawaii, tidak menggunakan ukulelenya untuk main mengiringi lagu-lagu macam Somewhere Over the Rainbow yang dipopulerkan kembali oleh mendiang Israel Kamakawiwo (Iz), atau Tiny Bubbles-nya Don Ho.

Si Jake ini jauh-jauh membengkokkan persepsi kita tentang ukulele, karena ia menggunakannya untuk main dan menciptakan lagu-lagu dari berbagai macam genre: jazz, klasik, rock, dan tradisional.

Saya pertama kali tahu Jake dari YouTube. Karena saya penggemar Tommy Emmanuel, pemain gitar finger-style picking dari Australia, iseng-iseng saya cari Tommy Emmanuel di YouTube. Salah satu video yang tersedia ialah duetnya bersama Jake Shimabukuro memainkan lagunya George Harrison dari the Beatles, While My Guitar Gently Weeps. Kebetulan istri juga melihat, langsung kesengsem, dan menemukan konser pendeknya yang memperbolehkan keluarga membawa anak-anak.

Siang itu Jake tampil prima seperti diharapkan. Dia membuka dengan suatu lagu gitar klasik, disusul dengan lagu tradisional Jepang Sakura Sakura sebagai tribut terhadap tanah nenek moyangnya. Jari-jemarinya menari-nari, yang kiri berjalan, berlari sepanjang leher ukulelenya; yang kanan memetik, menggenjreng dan terkadang menghentak.

Walaupun postur tubuhnya kecil, tangan dan lengannya berotot akibat latihan main berjam-jam setiap hari. Ekspresi wajahnya seakan-akan ia berada di awing-awang, sangat menikmati permainannya sendiri, seperti orang kerasukan dewa-dewa musik.

Dengan lincah ia pindah dari satu genre ke genre lain. Karena ini festival jazz, ia mainkan lagu standar Spain karangan Chick Corea, yang dipopulerkan secara vokal oleh Al Jarreau di tahun 80-an. Ini lagu sulit, baik secara vokal maupun instrumen.

Di awalnya lagu ini pelan dan hampir hening seperti lagu gitar klasik dari Spanyol, Concierto de Aranjuez. Perlahan-lahan ia naik tempo. Bagian melodinya seperti orang bernyanyi scat dan berdansa Latin, dan sampai di klimaksnya terdapat banyak strumming seperti gitar flamenco. Semua itu dimainkan sempurna dengan ukulele!

Di lain lagu yang dikarangnya sendiri, ia memainkan ukulele seakan-akan ia main piano, lengkap dengan denting-denting dan latar belakang bas – lihai sekali dia mereproduksi suara dari alat musik sebesar piano dari ukulele yang hanya sepanjang lengan tangan.

Tidak lupa dia berdialog dengan penonton, ketika memainkan lagu Crazy G. Di sini ia memainkan ukulele seperti gitar swing jazz yang mengingatkan saya kepada Jango Reinhardt (pemain gitar swing di tahun 1930-an) dan filmnya Woody Allen yang dibintangi Sean Penn, Sweet and Lowdown (1999).

Selang beberapa menit, ia berhenti, dan penonton serentak bilang: Faster! Lebih cepat! Begitu berulang-ulang sampai kecepatan strumming-nya yang maksimum. Penonton senang, anak-anak terhibur dan terbangun dari kantuk karena udara yang mulai dingin di bulan November.

Di sela-sela lagu Jake mengadakan tanya jawab dengan anak-anak. Dalam berbagai jawabannya yang diselingi humor, dia memberi nasehat agar anak-anak melakukan dan membuat sesuatu yang mereka suka, agar mereka punya motivasi dari dalam diri sendiri.

Dia juga mendapatkan inspirasi dari orang-orang terkenal lainnya macam Bruce Lee, yang mampu memfokuskan otak dan usaha mereka dengan latihan selama bertahun-tahun untuk menjadi yang terbaik. Bukan anak-anak saja, saya yang sudah setengah tua ini pun ikut terinspirasi untuk fokus dan berlatih untuk memperbaiki cara berpikir dan bekerja.

Menjelang akhir konser ia mainkan lagu yang membuatnya seorang rock star di YouTube, While My Guitar Gently Weeps. Dia mempesona seluruh penonton di ruang konser itu. Walaupun sudah berkali-kali mendengarnya, tidak bosan kita melihat dan mendengarnya lagi, karena memang permainan dan ekspresinya yang tidak ada duanya.

Setelah konser, dengan senang hati Jake mau memberikan tanda-tangan dan diajak foto bersama oleh penggemarnya yang antre sampai dekat pintu keluar. Benar-benar orang hebat yang rendah hati. Sayang sekali saya lupa bawa ukulele yang baru saya beli dari Hawaii waktu liburan bulan Juli lalu.

Setelah konser selesai, kita makan di restoran Burma Superstar, dan seperti biasa, saya pesan Mow Hin Ga, kuah ikan kental yang rasanya hampir persis sama dengan soto ayam Lamongan di Jalan Ambengan, Surabaya!

Terima kasih buat Cak Wens yang menyumbang artikel ini. Ciamik soro, Cak! Mangan soto lamongan ojo lali awak2 nang Suroboyo.

1 comment: