22 December 2008

Nasib Musik Seriosa Kini





Irama Desa karya almarhum Iskandar. Lagu seriosa sederhana yang diperkenalkan kepada anak-anak sekolah. Sering jadi lagu wajib/pilihan lomba seni suara di Flores.

Oleh Theo Sunu Widodo
Theo Sunu Widodo Guru SMP Stella Duce I Yogyakarta


Ingar-bingar dunia musik Indonesia sudah begitu menggila. Aneka jenis musik menyerbu telinga pendengarnya. Pop, rock, blues, jazz, campursari, dan dangdut menyeruak masuk ke gendang telinga pendengarnya. Sungguh pesat perkembangan musik di Indonesia. Namun, sayang, perkembangan itu justru secara tak langsung mematikan jenis musik lain, musik seriosa. Musik seni, yang kini nasibnya tak tentu.

Pada tahun 1960-an, tiga jenis musik digelar dalam Pemilihan Bintang Radio (kemudian Pemilihan Bintang Radio dan Televisi). Ketiga jenis musik itu, hiburan, keroncong, dan musik seriosa. Begitu pula dengan urutan jumlah peminat untuk menjadi peserta pemilihan bintang radio dan televisi. Hiburan di peringkat pertama, keroncong di tangga kedua, dan seriosa di urutan buncit.

Mengapa hal itu terjadi. Salah satu penyebabnya, kemungkinan besar adalah tingkat kesulitan yang tinggi dalam membawakan musik seriosa. Harus serius. Memang, jenis musik lainnya pun memerlukan keseriusan yang tinggi, tetapi musik seriosa lain.

Menurut Dailami Hasan, seorang guru vokal, yang kendati sudah pensiun masih sempat mengajar di ISI Yogyakarta jurusan vokal, musik seriosa dapatlah disebut musik seni. Kualitasnya tinggi. Apakah kalau sulit, berarti kualitasnya tinggi? Belum tentu juga. Namun, kalau kita melihat, komposisi musik seriosa biasanya menyajikan tantangan bagi penyanyinya.

Pertama, komposisi musik seriosa, yang konon "meniru" lieder-nya tokoh musik zaman klasik, Franz Schubert, antara musik dan syairnya menyatu padu. Dari intro sampai ekstro, digubah sebagai sebuah kesatuan. Interlude dipasang dengan sengaja, terencana, dan ada maknanya.

Kita mengenal tokoh-tokoh penggubah musik seriosa hanya beberapa gelintir. Bisa kita sebut, Cornel Simanjuntak, Binsar Sitompul, Mochtar Embut, AJ Soedjasmin, dan yang baru saja "surut", meninggal dunia, FX Soetopo. Lepas dari itu, bisa dibilang tak ada lagi generasi penerus dalam dunia penciptaan musik seriosa. Dengan penuh harap, kita menunggu hadirnya komponis musik seriosa.

Kalau kita menyimak musik seriosa, tampaklah umumnya, pemusik bekerja sama dengan penyair. Penyair-penyair yang karyanya "dicomot" untuk dijadikan nyanyian seriosa cukup banyak. Di antaranya: Sanusi Pane, Usmar Ismail, JE Tatengkeng, Chairil Anwar, dan WS Rendra. Mengapa begitu. Mungkin para pemusik "tahu diri" bahwa lahannya berbeda. Namun, mereka bisa bekerja sama.

Dan yang pasti, syair garapan penyair andal pasti terjamin kualitasnya. Memang ada komponis yang sekaligus membuat musik dan liriknya. Lalu mengalunlah, Aku, Cintaku Jauh di Pulau, Citra, Dewi Anggreini, dan Embun, menjadi wakil nomor andalan musik seriosa. Umumnya, tanda ekspresi, tempo, dan dinamika sudah lengkap tertulis dalam partitur. Ini memudahkan penyanyi menginterpretasikan musik seriosa.

Teknik pembawaannya pun tidak gampang. Misalnya dari segi pernapasan, musik seriosa menuntut pernapasan diafragma. Tak ketinggalan, teknik produksi suara yang khas. Misalnya, adanya vibrato yang tidak mengeruhkan kejelasan ucapan (artikulasi). Soal resonansi (penggemaan suara) dan sonoritas pun menjadi poin tersendiri dari musik seriosa. Simaklah ketika Pavarotti beraksi dengan suara emasnya.

Belum lagi tingkat kesulitan dalam hal interval, pitch (tinggi nada), dan durasi. Umumnya musik seriosa menurut istilah awam, notnya banyak yang salah. Karena (kalau ditulis dengan not angka) menggunakan garis yang menerjang not. Atau nada-nada kromatis.

Dari segi durasi, nilai nada, tak jarang musik seriosa menghadirkan not yang rengket, rapat, not sepertiga puluh dua. Misalnya, satu ketukan dipakai untuk empat atau lebih not. Belum lagi triol kecil dan triol besar. Semuanya menuntut keterampilan yang tinggi untuk dapat dengan cermat membunyikannya.

Mungkin itulah penyebab sedikit orang yang melirik ke musik seriosa. Bisa dibilang, penyanyi seriosa di negeri ini dapat dihitung dengan jari. Taruhlah nama-nama Christopher Abimanyu, Aning Katamsi, dan Linda Sitinjak.

Di Yogyakarta, dulu pernah beredar nama Suyudono Hr, suami istri Teddy Sutadhy dan Susanti Andari. Mereka pernah berkibar di zamannya. Kini hanya sedikit nama yang bisa disebut. Taruhlah nama Ariani SP dan Albert Wisnu.

Guru vokal seriosa pun jarang, sebut saja, "Eyang" Dailami Hasan dan Moordiana. Kursus-kursus vokal pun kiblatnya ke musik hiburan, meski juga tidak selalu "ringan". Mengapa? Karena tren dan selera pasar menuntut begitu. Begitu banyak orang yang ingin menjadi penyanyi pop. AFI, KDI, Indonesian Idol daya tariknya begitu kuat. Tak mengherankan, sedikit yang ingin menjadi penyanyi seriosa.

Padahal, dasar-dasar bernyanyi musik seriosa bisa menjadi dasar bagi teknik menyanyi jenis-jenis yang lain. Dari teknik menyanyi seriosa, kita bisa "melebar", eksplorasi ke jenis musik yang lain. Tengok saja, almarhumah Pranawingrum Katamsi yang memberi dasar menyanyi seriosa kepada anak laki-lakinya yang penyanyi rock. Di samping mewariskan bakatnya kepada anak perempuannya, Aning Katamsi, untuk terus menggelutinya.

Lalu, bagaimana kita harus menyikapi hal ini. Utamanya mereka pandhemen musik seriosa. Ya, karena nasib musik seriosa tak menentu. Karena selera pasar dan perjalanan waktu, musik seriosa harus kita hidupkan lagi. Sayang bila musik seni musik seriosa sampai ditinggalkan orang dan tinggal kenangan. Komunitas musik seriosa harus berbenah diri untuk "membangun" kembali musik seriosa agar musik seriosa dikenal, disayang, dan dicinta kembali oleh masyarakat.

Komunitas musik seriosa harus memperkenalkan musik seriosa kepada khalayak secara lebih intensif, dengan pementasan-pementasan musik seriosa yang rutin digelar. Mengadakan lomba penciptaan musik seriosa dan menggelar lomba menyanyi seriosa merupakan dua langkah strategis untuk membangkitkan kembali musik seriosa.

Praktisi, penikmat, dan akademisi harus berjuang bersama- sama "membangkitkan kembali" musik seriosa yang bisa dibilang mati suri.

Ya, kita harus memaklumi bahwa selera musikal adalah masalah pribadi. Kita tidak dapat memaksakan selera kita terhadap orang lain. Akan tetapi, fanatik terhadap salah satu jenis musik pun bukan tindakan yang bijaksana. Akan lebih baik kalau kita mampu membuka hati dan telinga kita untuk jenis-jenis musik lain.

Musik sifatnya auditif. Jadi, yang disapa adalah telinga kita. Karenanya, mari kita memekakan-bukan memekakkan-telinga kita untuk mendengarkan berbagai jenis musik. Kita mencoba melihat, menyimak, merasakan, dan menghayati aneka jenis musik. Menjadi orang yang musikal. Itulah cita-cita kita bersama. Maka, terimalah ajakan penulis, marilah kita terbuka pula terhadap musik seriosa.

8 comments:

  1. Dan di Indonesia Musik seriosa dianggap musiknya orang gila.saya mengalaminya sendiri karena saya pecinta Musik Seriosa juga.terutama Opera Asli barat....

    ReplyDelete
  2. Pemerintah tidak membudidayakan musik seriosa. seorang yang bisa membawakan lagu seriosa dengan indah, harus bermodalkan suara asli orang tsb. Kemudian diasa dalam segala segi, tehnik, perasaan dan penjagaan. semua ini perlu waktu yang panjang. Seperti dibudi dayakan. Pemerintah perlu menggalakan penampilan2 dari luar negeri campur bibit baik dari dalam negeri. Saya pernah menjadi murid Pranawengrum Katamsi. Dia adalah guru yang tak terlupakan. Jiwa seorang guru yang mulia. Suara, itulah yang dia lihat dari muridnya. Suaranya seindah hatinya. Saat itu Beliaulah yg menyusun acara seriosa TVRI
    Banyak kita ketahui. Kecemburuan dalam kelompok dibidang seni sangat menyolok. Banyak bibit baik lenyap sebelum berkembang atau tidak ada kesempatan menampil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Putrinya bu Pranawengrum Katamsi yg bernama mbak Aning Katamsi saat ini masih aktif di seriosa. Mbak Aning punya murid vokal seriosa yg buanyaak...

      Delete
  3. Menurut saya, wajar jika musik seriosa surut di Indonesia. Musik ini kan pengaruh dari barat, di mana musik jenis seriosa (yang dlm Bhs Inggris disebut art songs atau dlm Bhs Jerman lieder) pun tidak populer lagi. Kalau pemerintah mau habiskan dana untuk mensupport kesenian, sebagusnya untuk mendukung kesenian lokal, seperti gamelan, wayang, ludruk, dll. Adakanlah festival, berikan gedung pertunjukan untuk wayang orang, gamelan, dll. yang sudah diajarkan di dalam kurikulum musik di universitas2 ternama. Di barat, art song tetap ada, tetapi menjadi bagian dari penampilan suatu orkestra atau musik kamar. Itu bukan budaya Indonesia jadi tidak perlu dipusingkan kalaupun nantinya menghilang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangankan seriosa dari barat, kesenian ludruk dan ketoprak sudah mati suri di surabaya dan sidoarjo. Ludruk tobong wis matek. Wayang orang tidak ada sejak lama.

      Seriosa masih bagus banget lah... Setiap minggu kita masih dengar teknik seriosa di gereja2 lah.

      Delete
  4. Sebetulnya seriosa tidak surut. Lihat saja kursus2 musik atau vokal klasik di kota2 besar kayak Surabaya itu selalu ada kelas vokal. Dan itu artinya seriosa. Begitu banyak anak kecil yg aktif nyanyi seriosa bahkan bikin album sendiri.

    Yang surut itu seriosa ala bintang radio dan televisi alias BRTV karena tidak mungkin lagi ditayangkan di televisi. Siapa yg nonton? Komposisi seriosa baru juga makin banyak dibuat oleh Ananda Sukarlan dkk.

    Yang lebih menarik lagi, sejak awal 2000 terjadi booming paduan suara di sekolah2 dan universitas yg berorientasi ke festival2 internasional. Bukan lagi hanya untuk ikut lomba2 di tingkat nasional kayak zaman saya kuliah dulu. Mereka yg aktif di choir ini otomatis belajar teknik vokal klasik alias gampangnya ya seriosa.

    Pemerintah khusunya pemerintah daerah jelas tidak mendukung seriosa karena lagu2 art macam ini tidak mendatangkan massa. Itulah sebabnya, bupati2 lebih suka datangi kontes2 dangdut di televisi untuk mendukung artis2 muda dari daerahnya. Lagi pula bupati2 dan gubernur2 ini boleh dikata tidak punya apresiasi terhadap musik klasik. Di surabaya pun tidak ada pejabat yg nonton konser musik klasik Surabaya Symphony Orchestra kecuali pak Bambang DH saat jadi wali kota.

    Dulu sebelum 1980an, musik seriosa ini dinikmati rakyat biasa kayak lagu2 pop. Tapi sekarang segmen pasar seriosa atau klasik menjadi sangat khusus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi trend-nya sama dengan di barat, yaitu menjadi bagian dari kegiatan musik klasik. Baguslah kalau tetap hidup. Banyak penyanyi pop terkenal yang dasarnya klasik, seperti mendiang Freddie Mercury, Billy Joel, bahkan yang baru seperti Lady Gaga pun fondasinya klasik.

      Delete
    2. Betul banget... beberapa tahun terakhir ada beberapa penyanyi pop yg latar belakangnya klasik atau seriosa. Di ajang pencarian bakat di televisi banyak sekali remaja yg unjuk kemampuan seriosa. Mereka malah sering membawakan seriosa barat yang jauh lebih sulit ketimbang seriosa versi BRTV. Salah satu Miss Indonesia juga hebat seriosanya.

      Delete