17 December 2008

Konser Natal SSO diganggu hujan

Juru Tulis: Lambertus L. Hurek



Hujan deras, banjir di sana-sini, angin kencang, mewarnai konser Natal Surabaya Symphony Orchestra (SSO) di Hotel Shangri-La. Rupanya cuaca buruk ikut mempengaruhi konser orkestra pimpinan Solomon Tong itu. Jadwal konser yang biasanya tepat waktu sedikit bergeser.

"Pa Tong itu disiplin, selalu on time. Tapi kali ini kayaknya beliau menyadari cuaca kurang baik," ujar Eddy Pattinasarane kepada saya.

Pak Eddy, ketua Badan Musyawarah Antargereja, malam itu ikut menjadi salah satu penampil. Dia membawakan lagu O Holy Night (Adolphe Adam) berduet dengan Pauline Poegoeh. (Pak Eddy sempat keseleo, mau masuk sebelum waktunya.)

Beberapa penerima tamu tak bisa menjelaskan mengapa hingga menjelang pukul 19.00 pintu belum juga dibuka. "Kita tunggu instruksi dari Pak Tong. Siapa tahu sebentar lagi hujan berhenti," kata salah satu kenalan saya.

Yah, berbeda dengan konser-konser sebelumnya, antusiasme pengunjung terasa merosot. Biasanya, kursi-kursi undangan penuh sesak. Termasuk jajaran orang-orang penting alias VIP, di bagian tengah. Saya, biasanya, selalu tidak dapat tempat duduk, hanya berdiri selama konser berlangsung.

Pada konser Kemerdekaan, Agustus 2008, misalnya, saya sempat "diminta berdiri" karena menduduki kursi guru-guru dan pelajar sekolah negeri yang ikut mengisi acara. "Maaf, tempat itu sudah ada orangnya," ujar gadis penerima tamu.

Tapi, Senin malam kemarin banyak tempat duduk yang kosong. Saya pun bebas memilih duduk di mana saja. Saya pilih dekat para pemusik Tionghoa, Dung Fang Min Yue Tuan, di bagian paling kanan. Kebetulan saya sudah kenal beberapa pemusik dan pelatih seperti Lydia Lie, Welly Sunjaya, William, atau si cilik Pauline. Duduk dekat orang yang kita kenal memang lebih aman secara psikologi.

Hingga konser dimulai, ruangan belum juga penuh. Anggota senior paduan suara yang berada di dekat pintu masuk, tak jauh dari tempat duduk saya, tampak emosional. "Yo ope Rek, kok undangane kok koyok ngene? Endi sing liyane?" kata bapak berbadan subur itu.

Konser pun dimulai. Sementara perlahan-lahan undangan masuk secara bergelombang. Setiap satu komposisi selesai, pintu memang dibuka untuk memberi kesempatan penonton masuk dan keluar. Pemandangan macam ini terlihat sepanjang konser berlangsung.

Padahal, dulu, setahu saya Pak Tong dan panitia konser SSO sangat ketat. Siapa pun dia, kalau terlambat, ya, lewat. Toh, di dalam sudah penuh penonton. "Puji Tuhan, akhirnya sebagian besar kursi undangan terisi meskipun tidak maksimal," ujar seorang panitia penuh syukur.

Awalnya, saya sendiri khawatir, konser ke-57 SSO ini tidak sukses penonton. Itu bisa-bisa mengurangi kepercayaan diri Pak Tong karena selama ini dia mengklaim punya sedikitnya 4.000 komunitas penggemar SSO. Setiap kali konser sedikitnya seribu orang hadir.

"Kita tidak pernah khawatir kekurangan penonton karena kita punya kiat khusus," ujar Pak Tong kepada saya dan beberapa kawan beberapa hari sebelum konser.

Bagaimana konser itu sendiri? Masuknya penonton secara bergelombang jelas mempengaruhi suasana. Keheningan, konsentrasi, menikmati musik klasik sedikit banyak terganggu. Apalagi, masih banyak orang--khususnya anak-anak muda dan anak kecil--yang bicara sendiri. Ada juga anak balita yang menangis.

Syukurlah, para pemusik berusaha memberikan yang terbaik. Daniel Chandra, violinis 23 tahun, tampil menawan sebagai solis Fantasie Ballet Op. 10. Kemudian soprano Pauline Poegoeh, yang juga guru vokal klasik, memperlihatkan kematangan teknik olah vokalnya. Pauline pun rupanya ikut "menyelamatkan" lima muridnya--yang semuanya istri pengusaha--di nomor Amigos Para Siempre.

"Ini komposisi sulit untuk ukuran penyanyi amatir. Ibu-ibu bisa nyanyi kayak begitu sudah sangat bagus," kata salah satu pemusik orkestra Tionghoa kepada saya.

Pak Solomon Tong sendiri tetap semangat di usia 69 tahun. Gerakan tangannya tegas, aba-abanya jelas. Semangat Pak Tong ikut menular pada paduan suara. Meskipun berintikan personel senior, Surabaya Oratorio Society punya power bagus.

Hanya saja, kita tidak bisa menangkap syair-syair lagu dengan jelas. Apakah itu bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, Mandarin... tidak terang. Saya kira, ini juga persoalan sound system kita yang memang masih sulit meng-cover paduan suara dan orkestra simfoni.

"Saya minta semua berdiri dan saya undang Anda ikut menyanyi," pinta Pak Tong menjelang akhir konser.

Yah, Hallelujah, petikan opera The Messijah, karya GF Handel. Komposisi koral favorit jemaat kristiani ini menjadi penutup Christmas Concert SSO 2008.

Acara dilanjutkan dengan pembagian karangan bunga untuk para pengisi konser. Ballroom Hotel Shangri-La sudah lengang. Hujan pun sudah lama reda.

No comments:

Post a Comment