18 December 2008

Kelenteng di Surabaya

Surabaya, seperti juga kota-kota besar lain di Indonesia, sejak ratusan tahun lalu didatangi komunitas Tionghoa. Tidak jelas tanggal persisnya. Namun, para sejarawan sepakat bahwa sejak Kerajaan Majapahit orang Tionghoa sudah masuk ke Surabaya.

Gelombang pertama kira-kira pada abad ke-14, orang Tionghoa beragama Islam. Pada 1450 Bon Swie Hoo mendirikan komunitas muslim di kawasan Ampel. Lantas, orang-orang Tionghoa ini datang secara begelombang hingga 1930-an. Mereka berasal dari empat suku: Hok Kian, Hakka (Khek), Teo Chiu, dan Kwong Fu (Kanton).

Orang-orang Tionghoa ini mendiami lokasi strategis. Lokasi yang sekarang disebut pecinan atawa China Town. Tentu saja, orang-orang Tionghoa ini membawa serta adat-istiadat, agama, serta kebudayaannya. Rumah ibadah Tionghoa--kita kenal dengan nama kelenteng (ada juga yang menulis "klenteng")--pun didirikan di Surabaya.

Berikut daftar kelenteng di Kota Surabaya. Kelenteng-kelenteng ini menjadi saksi kehadiran penduduk Tionghoa yang sudah berlangsung ratusan tahun. Dus, sangat tidak tepat jika masih ada orang yang memberikan label "nonpribumi" untuk penduduk keturunan Tionghoa.

1. HOK AN KIONG, Jalan Coklat (dulu Tepekong Straat)



Kelenteng paling tua di Surabaya, didirikan pada 1830 oleh Hok Kian Kong Tik, perkumpulan orang Tionghoa asal Hok Kian. Mula-mula kelenteng ini tempat menginap sementara orang yang baru datang dari Tiongkok. Lama-kelamaan dirasa perlu ada kelenteng bagi mereka untuk beribadah.

Tukang-tukang didatangkan langsung dari Tiongkok, juga bahan-bahan bangunan. Saat ini HOK AN KIONG dikelola oleh Yayasan Sukhaloka. "Setiap hari selalu ramai orang sembahyang atau sekadar berkunjung. Yang penelitian pun banyak," kata M. Halim, penjaga kelenteng.

Ramal-meramal ala Tiongkok pun ada di sini. Sembahyang rutin setiap tanggal 1 dan 15 Imlek selalu ramai.

2. HONG TIK HIAN, Jalan Dukuh.



Disebut juga Kelenteng Dukuh karena berlokasi di Jalan Dukuh, tak jauh dari kampung Arab. Sebelum 1899 sudah ada. Tanggal pasti berdirinya tidak diketahui.

HONG TIK HIAN sangat terkenal karena mampu melestarikan tradisi wayang potehi. Setiap hari ada pergelaran wayang potehi empat kali sehari nonstop. Bahkan, selama Orde Baru--ketika tradisi budaya Tionghoa dibredel--wayang potehi tetap eksis.

Yang menarik, dalang-dalang potehi semuanya orang Jawa seperti Sukar Mudjiono [foto di atas] atau Eddy Sutrisno. "Kami main wayang potehi karena sejak kecil sudah main di lingkungan kelenteng," kata Mas Mudjiono.

Salah satu tokoh Tridharma, Ong Kok Kiong, yang mengelola HONG TIK HIAN.


3. BOEN BIO, Jalan Kapasan.



Dibangun 1906, diresmikan 1907. Mulanya bernama BOEN TJHIANG SOE berlokasi di Kapasan Dalam. Atas saran Kang Yu Wei yang datang ke Surabaya pada 1904, kelenteng khusus Konghuchu ini dipindahkan ke Jalan Kapasan.

BOEN BIO terkenal karena menjadi pusat perjuangan umat Konghuchu pada masa Orde Baru agar diakui sebagai agama resmi. Setelah Orde Baru tumbang, Konghuchu kembali diakui sebagai agama keenam.

Pada era revolusi, BOEN BIO juga menjadi tempat pengungsian penduduk. Konon, pernah ada bom yang dijatuhkan di dekat kelenteng, tapi tidak jadi meledak. Aktivitas BOEN BIO selalu padat sejak dulu. Mulai sekolah minggu, kebaktian Minggu (anak dan dewasa), akupunktur, hingga bakti sosial.

4. PAK KIK BIO, Jalan Jagalan.



Disebut juga Kelenteng Jagalan. Mulai dibangun pada 8 April 1951 dan diresmikan pada 17 Juni 1952. PAK KIK BIO didirikan sebagai perluasan bisnis warga Tionghoa di pecinan.

Tadinya tanah milik Gan Ban Kiem yang rumahnya terbakar. Gan menghibahkan tanahnya kepada Pak Kik Bio Hian Thian Siang Tee, yayasan Konghuchu, untuk mendirikan kelenteng. Seperti BOEN BIO, Kelenteng PAK KIK BIO juga selalu ramai setiap Ahad.

5. SAM POO TAY DJHIEN, Jalan Demak.



Orang Surabaya lebih mengenal kelenteng ini sebagai MBAH RATU. Tadinya di Prapatkurung, kemudian direlokasi ke Jalan Demak. Kelenteng ini menarik karena menyimpan kayu dari perahu Laksamana Sam Poo Tay Djhien (alias Cheng Hoo?).

Laksamana terkenal ini oleh orang Jawa dijuluki Mbah Ratu. Sinkretisme Tionghoa dan Kejawen sangat kental. Maka, jangan heran kalau banyak orang Jawa datang ke MBAH RATU untuk berdoa, khususnya pada malam Jumat Kliwon. Macam-macam saja ujud atau permintaan pengunjung.

Sering digelar wayang kulit (purwa) semalam suntuk. "Tapi sekarang ini sudah lama gak ada wayangan. Mungkin karena ekonomi sedang sulit," ujar salah satu penjaga MBAH RATU kepada saya.

Yang juga disukai dari MBAH RATU adalah ramalan alias ciam sie. Ada konter khusus di sebelah kiri. Pengunjung bisa minta karcis untuk "ditelaah" si dukun Tionghoa. Percaya atau tidak, terserah Anda!


6. SANGGAR AGUNG, Pantai Ria Kenjeran.



Menarik karena lokasinya di laut, kalau air pasang. Ada patung besar Dewi Kwan Im dan ukiran-ukiran Tionghoa yang bagus. Satu kompleks dengan Pantai Ria Kenjeran, objek wisata pantai Surabaya. Banyak sekali fasilitas pariwisata yang sangat menarik.

Mula-mula ada kelenteng di Kenjeran bernama KWAN IM BIO (kalau tak salah). Kemudian pengusaha Soetiadji Yudho, bos PT Granting Jaya, pemilik Pantai Ria dan Hotel Pasar Besar, mengembangkannya menjadi SANGGAR AGUNG.

Kelenteng ini sangat tekenal, selain lokasinya strategis, juga karena sering menggelar even-even besar. Beberapa kali ada pemecahan rekor nasional Muri (Museum Rekor Indonesia) di SANGGAR AGUNG. Pak Soetiadji juga melengkapi kompleks ini dengan membangun rupang Buddha Empat Muka.


7. HONG SAN KO TEE, Jalan Cokroaminoto.



Lokasinya di tengah kota, dekat Jalan Raya Darmo. Tadinya kelenteng kecil, tapi berkembang pesat karena banyak jemaat yang datang beribadah. Pengelola kelenteng, Juliani Pudjiastuti, juga bekerja keras mengurus HONG SAN KO TEE.

"Ngurus kelenteng itu gak gampang lho. Tapi ini amanah yang harus saya laksanakan," ujar Ibu Juliani kepada saya. Dia duduk di kursi roda, tapi semangatnya luar biasa.

Setelah reformasi, HONG SAN KO TEE padat aktivitas mulai pembagian bahan pokok, buka puasa bersama, pengobatan alternatif, hingga lelang benda suci. HONG SAN KO TEE sering masuk koran karena pengurusnya, khususnya Ibu Juliani, sangat dekat dan terbuka dengan wartawan.

Berbeda dengan orang Tionghoa yang cenderung tertutup, Bu Juli murah senyum dan mau menjawab pertanyaan kami. "Saya ingin agar HONG SAN KO TEE ini dekat dengan siapa saja. Kita ini sama-sama orang Indonesia kok," kata Bu Juli.


8. JUN CIN KIUNG, Jalan Ir. Anwari 9.



Saya baru saja bincang-bincang dengan Ibu Xiao Cao Ing alias Sartika, 71 tahun. Sejak 1985 dia menjaga JUN CIN KIUNG. "Usianya sudah setengah abad lebih," kata Ibu Sartika dengan logat Betawinya.

Tak jauh dari HONG SAN KO TEE, Kelenteng JUN CIN KIUNG ini lebih kecil, dan lebih sepi, ketimbang kelenteng-kelenteng lain di Surabaya. Ini karena JUN CIN KIUNG hampir tidak pernah bikin even-even besar. "Kami gak punya sponsor," kata Ibu Sartika.

Meski begitu, Ibu Sartika tetap setia merawat rumah ibadah Tionghoa ini. Menyiapkan buah-buahan, menyapu lantai, membersihkan segala sesuatunya, hingga menerima tamu. Setiap hari dia berdoa seorang diri pada pukul 04.00 dan 00.00.

"Itu jam berdoa yang paling baik. Kamu coba di rumahlah, kalau yakin, permintaan kita didengarkan sama Tuhan," pesan Bu Sartika yang menerima saya dengan ramah. Sie-sie! Kamsiah!

9. KELENTENG GUNUNG KAWI, Jalan Dinoyo.



SUGIANTO (32) dan ibunya tampak khusyuk melakukan ritual ala kejawen. Bau kemenyam sangat menyengat, di samping semerbak hoshua yang harum. Suasana di lantai dua yang temaram cocok bagi jemaat yang ingin mengasah spiritualitasnya.

"Saya sejak kecil sudah biasa ritual di sini," ujar Sugianto kepada saya. Dia mengaku tidak tahu persis usia kelenteng yang berlokasi di samping sungai ini. Namun, dia memastikan sudah lebih dari setengah abad.

"Setahu saya kelenteng ini sudah ada sejak ibu pemilik rumah ini masih kecil," papar alumnus Fakultas Universitas Ekonomi Universitas Kristen Petra tersebut. Sang ibu yang dimaksud berusia 80-an tahun. Sayang, saya tak bisa meminta keterangan dari dia karena usianya yang lanjut.

Seperti di kelenteng-kelenteng lain, Kelenteng Gunung Kawi--begitu nama populernya--diisi dengan beberapa altar. Ada rupang (patung) dewa-dewa Tionghoa seperti Dewa Kwan Kong atau Dewi Kwan Im. Bedanya, ada ruangan khusus untuk ritual kejawen. Ruangannya dibungkus dengan kain merah.

"Itu tempatnya Eyang Jugo. Beliau itu sangat dihormati baik oleh orang Tionghoa maupun Jawa. Ruangannya sengaja dipisahkan karena bagaimanapun juga aliran kejawen kan beda sama aliran Tionghoa," jelas Sugianto lalu tersenyum.

Menurut dia, ritual di ruangan Eyang Jugo itu pada prinsipnya sama dengan di Gunung Kawi, Kabupaten Malang. Bahkan, pengurus kelenteng menyediakan alat-alat ritual bermerek Gunung Kawi.

"Sama dengan di Gunung Kawi, di sini biasanya ramai pada setiap malam Jumat Legi dan malam Jumat Kliwon. Yah, sesuai dengan kepercayaan tradisional Jawalah," tukas Sugianto.

10. KELENTENG SIDOTOPO
Jalan Sidotopo Wetan Baru I/33




Tidak banyak orang Surabaya, termasuk warga Tionghoa, yang tahu lokasinya. Maklum, jauh di dalam gang, kurang strategis. Didirikan 1969, kelenteng ini tergolong sepi jemaat. Saat saya datang ke sana, 30 Desember 2008, tidak ada aktivitas ritual. Aroma harum lilin Tionghoa alias hosyua pun tak terhidu.

Namun, Bapak Hendra Alim, pemilik kelenteng ini, aktif melayani pengobatan alternatif. Dia memang sinshe terkenal di kawasan Sidotopo. Kecuali akhir pekan dan hari libur, Pak Hendra bekerja sosial membantu sesama yang sakit.

"Maaf, saya tidak bisa melayani Anda karena pasien saya hari ini banyak banget. Kapan-kapan saja," kata Pak Hendra kepada saya. Memang ada 20-an pasien yang antre di ruang tunggu.

11. KELENTENG TAO
Jalan Dinoyo 19




Saya mampir ke kelenteng ini pada 6 Januari 2009. Nur Hidayat, 37 tahun, penjaga kelenteng selama 26 tahun, menyambut saya dengan ramah. Banyak material bangunan berserakan di tempat ibadah Tionghoa ini.

"Sedang direnovasi, Mas. Kebetulan ada sumbangan dana dari donatur yang peduli," kata Nur Hidayat.

Sepeninggal Lie Djong Ping, sinshe sekaligus ketua kelenteng, rumah ibadah ini sepi pengunjung. Dulu, ketika masih hidup, Pak Lie sangat aktif melayani masyarakat yang menginginkan kesembuhan dengan pengobatan ala Tiongkok.

"Tapi tanggal 1 dan 15 Imlek masih ada saja orang yang ke sini meskipun sangat sedikit," kata Nur Hidayat. Bersama istri, Sudarminingsih, serta tiga anaknya, Nur Hidayat yang muslim tetap setia merawat Kelenteng Dinoyo. Entah sampai kapan.

BACA JUGA
Kelenteng dan Tionghoa di Sidoarjo.

21 comments:

  1. Sekedar tambah catatan. Sebenarnya di Tiongkok sendiri kurang jelas konsep suku, yang ada ialah bangsa Han dan bangsa2 minoritas lainnya seperti Hui (yang muslim), Miao (di perbatasan Vietnam dan Laos), Uyghur, Kazakh di perbatasan barat, dll. Begitu orang Han keluar dari Tiongkok, baru lah mereka mengidentifikasi diri sebagai "suku" berdasarkan bahasa ibunya.

    Bahasa yang diucapkan oleh bangsa Han memang banyak, bahkan dalam satu propinsi Hokkian dari mana banyak orang Tionghoa di Indonesia berasal -- engkong saya datang tahun 1931 -- pun ada bahasa bahasa Hokkian selatan (Mandarin: Min-nan-yu atau bahasa Min selatan, yang juga dituturkan di Taiwan), Teochew, dan bahasa Min tengah macam Hokchia (penuturnya antara lain keluarga Liem Sioe Liong, keluarga pendiri Maspion, dan keluarga pendiri Gudang Garam, dan pedagang2 kain di Pasar Atum) dan Hokchew (kalau ini jarang di Indonesia tapi banyak di Serawak dan Sabah). Bahasa2 Min tengah lainnya di Surabaya ialah bahasa Heng-hwa yang banyak diucapkan pemilik toko sepeda di Bongkaran, dan bahasa Xianyou yang masih bau2 bahasa Heng-hwa.

    Kalau orang Khe (Hakka atau mandarin: Kejia) itu asalnya dari utara, dan akhirnya menetap di selatan antara propinsi Hokkian dan Kanton (Guangdong). Orang Khe dikenal sangat menghargai pendidikan tinggi. Orang Kanton termasuk Hongkong hampir seluruhnya berbahasa ibu Konghu (mandarin: guang-dong-hua). Di Surabaya mereka ini banyak yang menjadi pedagang mebel karena nenek moyangnya tukang kayu.

    Dulu kecil umur 4-5 tahun saya sering diajak mama ke kelenteng Hong Tik Hian. Ini kelenteng yang banyak dikunjungi orang Hokchia, dan saya mau diajak karena ada tontonan wayang potehi yang banyak adegan pertempuran seru. Selain itu disogok kue2 persembahan macam ang-ku, wajik ketan gula merah (yang ini sih sudah kecampuran jawa).

    Sesudah masuk sekolah Katolik di kawasan Kepanjen jadi gak pernah ke kelenteng lagi. Tapi masih sering main ke belakang kelenteng Bun Bio di Kapasan karena ada lapangan basketnya dan banyak teman2 sebaya yang latihan kungfu juga di sana.

    Terima kasih atas tulisannya yang membangkitkan nostalgia dari 35 tahun yang lalu.

    ReplyDelete
  2. Sam Po Tai Jin itu bahasa Hokkian. Taijin (mandarin: da-ren artinya orang besar atau pembesar. Sam Po (mandarin: Sanbao) itu nama aslinya, nama marganya Ma (transliterasi dari Muhammad). Setelah menjadi laksamana, namanya diganti menjadi Zhenghe (Hokkian: Cheng-hoo). Seperti tulisan Suparto Brata: "Tradisi orang Jawa gampang sekali ganti-ganti nama. Ada anak yang lahir dinamakan Sariman, tetapi parabannya Kuncung, maka sampai besar diapun dipanggil (dan mungkin ditulis) Kuncung. Selagi bocah namanya Sudarmo (nama kecil), setelah menikah namanya jadi Prawirosentiko. Ketika jadi wedana namanya Mangundisastra, setelah jadi bupati namanya Mangunnegara (nama jabatan). Semula namanya Widodo, setelah berjasa kepada Kraton diberi nama Raden Mas Tumenggung Baunegara."

    ReplyDelete
  3. thanks atas tulisan ttg klenteng yg bisa membantu kita memahami org tionghoa di surabaya. salam damai.

    freddy

    ReplyDelete
  4. terimaksih atas tulisan ttg keberadaan komunitas orang tionghoa di surabaya, mungkin juga perlu ada tulisan ttg hal yang sama di misalnya di madura, salam

    ReplyDelete
  5. Bung Wens di USA (CinaJawaAmrik),

    Terima kasih banyak. Respons macam inilah yang memperkaya catatan-catatan ringan saya. Saya memang lagi dapat tugas menangani rubrik khusus tentang komunitas Tionghoa di Surabaya dan sekitarnya.

    Saya harus banyak belajar dari teman-teman Tionghoa macam Bung Wens inilah. Jangan segan-segan kasih masukan atawa kritik, Bung!

    Teman lain yang anonim. Terima kasih kembali. Komunitas Tionghoa di Madura pernah saya tulis di koran (cetak), tapi versi komputernya rusak. Hard disk lawas kena virus. Sementara dulu saya belum kenal blog. Saya akan tulis lagi kalau main-main ke Madura. Salam kenal.

    ReplyDelete
  6. kalo klenteng di sidoarjo apa aja, mas? terima kasih sebelumnya.

    ira

    ReplyDelete
  7. mas Hurek,

    Menarik sekali artikelnya. Saya kebetulan sedang bantu bikin buku yang ada hubungannya dengan budaya dan tradisi peranakan Tionghoa di sini. Saya benar2 belajar banyak dari pengalaman saya...dan juga dengan membaca artikel ini :)

    ReplyDelete
  8. bagus banget, baru kali ini aq tahu ada tulisan paling komplet ttg kelenteng n etnis tionghoa di surabaya. terima kasih bung hurek. salam tahun baru.

    wahyudi di madiun

    ReplyDelete
  9. a very good story.

    ReplyDelete
  10. bung hurek, boleh saya minta no telp anda. ada beberapa hal yang mau saya tanyakan sehubungan dengan kelenteng.trimkasih

    rizky hasan

    ReplyDelete
  11. Mas Rizky Hasan, Anda bisa kirim pertanyaan via e-mail saya biar jawabnya gampang, kalau saya tahu. Telepon saya kurang aktif karena saya memang kurang suka ditelepon. Terima kasih.

    ReplyDelete
  12. baru kali ini aq ketemu blog yg komprehensif dlm membahas tradisi tionghoa. good luck.

    ReplyDelete
  13. mas ... ijin untuk memanfaat kan artikel ini ya sebagai materi pernik imlek di pro2fmsby..

    ReplyDelete
  14. Silakan Mas Adhi. Tapi saya takut jadi ngetop hehehe... Salam untuk teman2 di RRI Surabaya.

    ReplyDelete
  15. makasih, anda yg bukan or klenteng sdh memperkenalkan semua klenteng di surabaya.

    ReplyDelete
  16. Kepda bapak Lambertus L.H,
    terima kasih atas perhatiannya kepada kami (Klenteng Sidotopo Wetan baru -Sby),saya salah satu perkumpulan sana. kami sebentar lagi akan mengadakan renovasi terhadap Gedung Pendopo kami, kini sudah dalam proses,karna pilar Ged. telah berumur dan sering diterpa hujan sehingga kini telah Miring, jika sudah selesai Renovasi tersebut kami akan memberitahuan kepada Bapak, syukur kalau tahap ini lancar kami mungkin melanjutkan ke tahap lain jika semua berjalan dengan baik, selamat Pagi dan terimakasih.

    ReplyDelete
  17. Kepda bapak Lambertus L.H,
    terima kasih atas perhatiannya kepada kami (Klenteng Sidotopo Wetan baru -Sby),saya salah satu perkumpulan sana. kami sebentar lagi akan mengadakan renovasi terhadap Gedung Pendopo kami, kini sudah dalam proses,karna pilar Ged. telah berumur dan sering diterpa hujan sehingga kini telah Miring, jika sudah selesai Renovasi tersebut kami akan memberitahuan kepada Bapak, syukur kalau tahap ini lancar kami mungkin melanjutkan ke tahap lain jika semua berjalan dengan baik, selamat Pagi dan terimakasih.

    ReplyDelete
  18. maaf sebelumnya, kami lanjutkan...
    Kepada para senior/ krebat keluarga besar LCH, kami akan segera mungkin menghubungi Anda mengenai Acara Renovasi ini tentunya Senior/ Krebat dimana kami masih punya kontak personnya, apabila ada yang tidak sempat terkontak oleh kami, kami mohon maaf itu dikarenakan mungkin kami tidak memiliki data Anda, tapi kami punya beberapa no kontak person yang dapat di hubungi untuk rencana renovasi Ged. Pendopo Sidotopo LCH- Surabaya, diantaranya:Ko An (031-7239 3500), YungKy H (081-732 8998), Rudy (031-8321 6777), Yefta/Ko Yong 031-70218100)/ 081 23289825)terimaksasih.

    ReplyDelete
  19. Terima kasih Pak Rudy atas tambahan informasi yang sangat melegakan. Semoga renovasi berjalan lancar, cepat kelar. Salam untuk semua pengurus.

    ReplyDelete
  20. Salam kenal,

    Mau ralat sdr cinajawaamrik sedikit,arti 'tay djien' pada nama 'Sam poo tay djien' dalam bahasa Cina adalah 'tai jian' atau seorang kasim, bukan pembesar.

    Saya juga tertarik pada sejarah kelenteng Hong Tiek Hian, yg konon dibangun oleh tentara Tartar sewaktu di Jawa (berarti pada abad 13). Ada yg tahu cerita persisnya? Terima kasih.

    ReplyDelete