17 December 2008

Jazz Natal Diana Krall





Sangat lama saya tidak menulis jazz di blog ini. Yah, apa yang mau ditulis? Musik macam satu ini makin tenggelam di Indonesia. Industri musik semakin tidak memberi ruang pada jazz.

Regenerasi jazz, dikutip beberapa media, bagus, muncul sejumlah nama musisi muda, tapi menurut saya masih harus kerja keras sebelum benar-benar disebut pemusik jazz. Jazz itu perlu jiwa, soul. Harus merasuk, jadi napas kehidupan, si musisi.

Jazz di Indonesia stagnan. Jalan di tempat. Maka, saya selalu terkagum-kagum dengan usaha Ireng Maulana atau Peter F. Gontha yang masih rutin bikin festival jazz di Jakarta. Kabarnya, festival jazz selalu padat penonton dan punya greget.

Tapi, ketika kita lihat televisi, jazz benar-benar nihil. Sekarang setiap hari televisi-televisi kita hanya menanyangkan band-band industri pop yang lagi populer. Atau, yang belum populer, tapi didorong habis-habisan agar ngetop. Musik popnya seragam, sulit dibedakan satu sama lain. Tidak ada ruang untuk jazz.

Selasa 16 Desember 2008. Saya mampir ke Aquarius, toko kaset/CD terkenal, di Jalan dr Soetomo Surabaya. Mau lihat-lihat rekaman jazz, siapa tahu ada yang baru. Lama sekali saya tidak ke Aquarius. Wow, betapa mengejutkan, selama hampir satu jam hanya ada dua pengunjung: saya dan satu laki-laki 50-an tahun.

Padahal, dulu Aquarius ramai banget kayak pasar. Saya pun tersadar bahwa pola konsumsi musik saat ini sudah berbeda dengan beberapa bulan atau tahun lalu. Era digital murni. Orang dengar musik via ponsel. Tidak perlu beli kaset/CD, cukup mengunduh di internet atau saling berbagi via ponsel. Buat apa keluar uang untuk beli CD yang Rp 70 ribu atawa Rp 50 ribu itu?

"Aku minta lagu-lagu sama temen. Tiap hari aku dikirim 10 lagu," kata Vivin, 20 tahun, gadis Madiun yang maniak musik pop-rock. Tiap hari ponselnya disetel musik, musik, dan musik. Ponsel malah jarang dipakai untuk bicara atau kirim pesan pendek (SMS).

"Asyik banget, aku dah punya koleksi ratusan lagu. Baru-baru dan bagus-bagus lho," kata Vivin bangga. Ketika dikunjungi temannya, objek pembicaraan mereka ya tak jauh dari berbagi-bagi musik via ponsel.

Mungkin faktor ini yang menyebabkan Aquarius sepi. Toko-toko kaset/CD lain pun lengang. Saya bertambah kaget karena konter khusus jazz/blues tak ada lagi di Aquarius. Satu konter panjang itu kini dijadikan satu: Musik Indonesia. Semua jenis musik dicampur di rak itu.

Kaset/CD jazz benar-benar langka. Padahal, enam bulan lalu konter itu relatif komplet. Lumayanlah untuk melayani selera penggemar jazz/blues di Jawa Timur. "Kebetulan kami lagi bikin penataan baru," ujar si penjaga konter Aquarius.

Syukurlah, di konter itu saya masih menemukan album Natal Diana Krall. Judulnya CHRISTMAS SONGS featuring the Clayton/Hamilton Jazz Orchestra. Bergaun hijau, Diana duduk di kursi malas, melirik ke samping. Rambut pirangnya tergerai. Santai banget.

Rekaman ini produksi lama sebenarnya, 2005. Cuma saya memang belum punya. Paling sekali-sekali mendengar di komputer milik teman. Yang jelas, punya sendiri jauh lebih bagus ketimbang hanya menguping entah ke mana. Rekaman Natal Diana Krall ini rupanya tinggal satu. Kalau saya tidak cepat-cepat membeli, wah, lewatlah.

Ada 12 lagu Natal populer di album Diana Krall. "Dedicated to the memory of Adella Krall, Jean Marsh and Rosemary Clooney who taught me the joy of Christmas," tulis Diana Krall di sampul album.

Bagi orang Eropa atau Amerika, Natal memang selalu menjadi momen keluarga yang spesial. Di tengah lilitan salju yang dingin, Natal senantiasa dirayakan segenap anggota keluarga. Dan lagu-lagu Natal senantiasa dinyanyikan, setidaknya didengarkan, ramai-ramai. Natal bukan lagi urusan ibadat atau misa di gereja, tapi pesta keluarga.

Ini penting dipahami mengapa lagu-lagu Natal terkenal bukanlah lagu liturgi. Tapi cerita-cerita sederhana seputar salju, dongeng Santa Claus, keceriaan anak-anak main lonceng-lncengan alias jingle bells, pohon terang, malam tahun baru... dan semacamnya.

Nah, 12 lagu di album Diana Krall benar-benar murni lagu tentang suasana Natal keluarga di Barat sana, bukan lagu liturgi. Tak ada kutipan kitab suci, wejangan romo, atau doktrin gereja di sini.

Jingle Bells. Let It Snow. The Christmas Song. Winter Wonderland. I'll Be Home For Christmas. Christmas Time Is Here. Santa Claus Is Coming To Town. Have Yourself A Merry Little Christmas. White Christmas. What Are You Doing New Year's Eve. Sleigh Ride. Count Your Blessings Instead Of Sheep.

Saya yakin semua orang Indonesia, apalagi yang Kristen, tak asing dengan sebagian besar lagu ini. Tapi, yang membedakan, Diana Krall (vokal, piano) menyajikan dengan cara Diana Krall. Dengan iringan akustik, khas Diana, napas jazz sangat kental di sini.

Suara kontrabas yang tebal sangat ngejes. Instrumen tiup ciamik. Diana yang menyanyi tak kehilangan sentuhan pada piano. Orkestra jazz senantiasa mengingatkan kita pada musik jazz di era swing.

Di Indonesia musik macam ini pernah dihadirkan Indra Lesmana di album Rumah Ketujuh. Kapan ya bikin album kayak itu lagi Mas Indra? Jarang lho ada pemusik idealis macam Indra Lesmana yang masih mau-maunya merilis album yang berbeda dengan "selera pasar".

Diana Krall memang piawai membuai pendengar. Setelah dua nomor lincah, Jingle Bells dan Let It Snow, kita dibius dengan nomor yang sangat membuai The Christmas Song. Bas akustik menonjol, piano nan lebut, drum latar belakang. Diana Krall menyanyi dengan gayanya yang khas.

Ya, tidak sama dengan vokalis jazz kulit hitam, yang tebal, pakai scat singing, Diana Krall menyanyi dengan cara biasa. Macam orang berdendang di kamar atau kamar mandi.

No comments:

Post a Comment