09 December 2008

Catur Gajah - Xiangqi



Pekan lalu, saya nongkrong di Soto House, belakang Plaza Surabaya. Wow, betapa senangnya saya menyaksikan permainan catur gajah. Ada dua pasang pemain berusia 60-an ke atas asyik bertempur.

"Iseng-iseng asah otak," kata Pak Liang, salah satu pemain, kepada saya.

Pak Liang dan tiga temannya sangat ramah. Saya dipersilakan melihat-lihat permainan mereka. "Siapa tahu Anda tertarik. Kalau sudah bisa, silakan nantang saya," katanya lantas tertawa kecil.

Catur gajah alias xiangqi ini sangat berbeda dengan catur biasa. Pionnya warna hitam dan merah. Semuanya sama, hanya ada tulisan Mandarin. Anda yang bisa bahasa Mandarin niscaya bisa membaca, tidak kesulitan. Beda dengan saya yang buta Mandarin.

Catur gajah di Soto House hanya digelar setiap hari Minggu. Ini sekaligus memberi warna pada salah satu kantung budaya Tionghoa di pinggir Kalimas, Surabaya, itu.

"xiangqi itu hanya hiburan, tapi penting. Ia merupakan bagian dari tradisi Tionghoa," kata Pak Joko Haryono, ketua yayasan sekaligus pemilik Soto House, kepada saya.

Sebelum Orde Baru, menurut Pak Joko, catur gajah ini sangat marak. Para siswa sekolah Tionghoa macam dirinya biasa menekuni permainan ini. Lalu, rezim Orde Baru melarang habis semua ekspresi budaya Tionghoa. Catur gajah pun ikut meredup.

Kalaupun dimainkan, biasanya sembunyi-sembunyi di rumah, toko, arisan, atau kantor yayasan. Pada 1980-an catur gajah mulai muncul kembali di Pasar Atum. Aparat keamanan membiarkan saja karena toh permainan itu tidak berbahaya.

Gerakan reformasi, 1998, sukses menumbangkan Orde Baru. Catur gajah yang mati suri pun hidup di mana-mana. Kmunitas Pasar Atum kian ramai. Kemudian muncul di Lantai 3 ITC Mega Grosir dan tempat-tempat kongkow orang Tionghoa.

"Kalau di sini (Soto House) sih nggak banyak," kata Pak Joko Haryono.

Cahyono, salah satu sesepuh catur gajah, menjelaskan bahwa formasi awaln pion-pion hampir sama dengan catur biasa. Barisan prajurit di depan, sedangkan raja dan ratu di belakang.

Cahyono, sekretaris Masjid Cheng Hoo ini, mengibaratkan permainan ini dua kerajaan yang sedang bertikai dan dibatasi sungai. “Raja dan ratu tidak boleh keluar dari wilayah istana,” jelasnya.

Cahyono sendiri mulai bermain catur gajah sejak usia delapan tahun. “Sekarang saya sudah tua. Jadi, sudah jarang main,” ungkapnya.

Sama seperti barongsai, catur gajah sudah punya organisasi resmi. Namanya Persatuan xiangqi Jawa Timur yang dipimpin Sugianto Nyoto Prabowo. Pecatur Jawa Timur, khususnya Surabaya, kerap ikut turnamen tingkat nasional dan sering menang. “xiangqi di sini punya anggota-anggota hebat," tutur Cahyono.

Suasana di Pasar Atum jauh lebih ramai. Bukan hanya orang Tionghoa, orang-orang "pribumi" (istilah ini seharusnya tidak dipakai lagi) juga membaur menikmati permainan catur gajah. Kaum tua dan muda tampak serius dengan permainannya ditemani secangkir kopi hangat.

"Orang kalau sudah main catur gajah, wah, lupa yang lain. Nggak akan mau diganggu. Sebab, dia butuh konsentrasi penuh," kata Pak Joko.

"Ngomong-ngomong, apa ada perangsangnya?" pancing saya.

"Perangsang opo?" balas Pak Liang.

"Yah, taruhan kecil-kecillah. Biar lebih semangat."

"Hehehe... Nggak pakai taruhan. Ini murni olahraga otak. Ojo ditulis macem-macem lho," kata Pak Liang yang ramah ini. "Tulis aja: Catur Gajah Semakin Diminati di Surabaya!"

Hehehe...

Gantian saya yang dikasih sudut berita (news angle). Terima kasih! Xie-xie!

(Dibantu reportase Rima Maduwati Putri dan Nur Aini Wahidah, mahasiswa UPN Veteran Jatim. Matur suwun.)

1 comment:

  1. Sejumlah pecatur top dunia akan ikutserta pada Kejuaraan Dunia Xiangqi 2011 yang digelar akhir tahun ini di Jakarta.
    "Kita sedang mempersiapkan diri menjadi tuan rumah kejuaraan dunia. Seluruh pecatur xiangqi bakal ambilbagian pada event akbar ini," ujar Ketua Harian Persatuan Xiangqi Indonesia (PEXI) Pusat, Ir Darjotno Hardjo MNX, Jumat (1/7) malam di sela-sela Kejurnas Xiangqi 2011 di Gedung Perkumpulan Warga Teo Chew Jalan Gandi Medan.

    PEXI Pusat telah melakukan audiensi dengan Menpora RI Andi Malarangeng untuk menjadi tuan rumah event dunia tersebut. Pada audiensi itu langsung dipimpin Ketua Umum PEXI Pusat Tahir Ferdian, Ketua Harian Ir Darjotno Hardjo dan Ketua Umum PEXI Sumut James Tantono.

    Soal tuan rumah kejuaraan dunia ini juga menjadi agenda utama pada Rapat Kerja Olahraga Nasional (Rakornas) Xiangqi pada Kamis (30/6) yang dipimpin oleh Ir Darjotno Hardjo mewakili Wakil Ketua Umum PEXI Pusat Ali Hartono dan Eddy Salim dari PEXI Sumut.

    "PEXI Pusat mengharapkan dukungan dari Pengrov PEXI se-Indonesia mengingat event ini juga mengangkat nama bangsa dan negara," kata Darjotno Hardjo yang juga mantan Ketua Umum Pengprov PEXI DKI Jakarta itu.

    Pada Rakornas Xiangqi itu juga ditetapkan beberapa agenda diantaranya penetapan Jabar sebagai tuan rumah Kejurnas Xiangqi XII/2012.

    Pengurus PEXI Pusat juga melaporkan beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan seperti mengirim tim xiangqi mengikuti Kejuaraan Beregu Asia di Malaysia pada Nopember 2010 lalu. Kemudian mendukung Kejuaraan Perorangan Antarmaster Internasional Piala Angsapura yang digelar PEXI Sumut pada Juli 2010.

    Selanjutnya memberi dukungan pada PEXI Jatim menggelar Piala Jin Ceng pada Oktober 2010 serta mendukung DKI Open yang digelar PEXI DKI Jakarta pada Mei 2011 lalu. Pada saat bersamaan juga dilakukan pelantikan Ketua Umum Pengprov PEXI DKI Jakarta Agus Susantio mengantikan Darjotno Hardjo. Pelantikan itu juga dihadiri Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto.

    PEXI Pusat juga melaporkan PEXI Jabar yang merupakan pengurus baru telah mengembangkan xiangqi ke berbagai sekolah negeri di Bandung. Beberapa siswa tersebut ambilbagian pada kejurnas xiangqi di Medan ini. (td)

    ReplyDelete