03 December 2008

Bagus Supomo bos SHS



Surabaya Hotel School (SHS) baru saja merayakan ulang tahun ke-20. Tak terasa, sekolah khusus perhotelan di Jalan Joyoboyo 10 Surabaya ini selama dua dekade berhasil mencetak lebih dari 10 ribu alumni yang tersebar di dalam dan luar negeri.

Bagus Supomo, 57 tahun, general manager sekaligus pendiri SHS, pun tak menyangka bahwa SHS berkembang sepesat ini. Berikut petikan percakapan kami dengan Bagus Supomo di ruang kerjanya, Jumat (28/11/2008) siang.

Juru Tulis: LAMBERTUS L. HUREK
Juru Foto: AGUNG RAHMADIANSYAH

Dua hari terakhir ini Anda sibuk memberi pelatihan PKL di Taman Bungkul dan Dinas Koperasi. Apa saja poin yang Anda sampaikan?

Pedagang makanan di Taman Bungkul itu semangat kewirausahannya sudah bagus. Mereka berani ambi risiko dengan membuka usaha sendiri. Cuma, setelah saya survei, jenis makanan yang mereka jual hampir sama. Satunya nasi goreng, yang lain juga jualan nasi goreng semua. Tidak ada diferensiasi.

Mereka pun harus head to head. Makanya, saya dan tim SHS memberikan role play membuat masakan-masakan yang selama ini belum banyak dijual di sana. Alhamdulillah, mereka sangat antusias. Bahkan, minta pelatihan lagi.

Sekarang ini yang dibutuhkan rakyat itu tindakan nyata. Orang sudah jenuh kalau dikasih omongan. Kalau omong thok, ya, akeh tunggale. Kita langsung demo masak di depan para pedagang makanan itu.

Rupanya Anda sangat antusias dengan para PKL?


Jelas. Sektor informal itu justru menjadi ketahanan ekonomi kita. Ketika krisis moneter, perusahaan yang besar-besar ambruk, mereka justru bertahan. Sektor informal itu yang sesungguhnya menyelamatkan perekonomian kita.

Lalu, bagaimana Anda melihat mental mencari kerja yang masih dianut para sarjana. Misalnya, ribuan orang antre melamar PNS, padahal lowongan yang tersedia sangat sedikit?

Saya baru saja bicara di depan pengusaha mikro dan kecil. Masalah paling utama kita di mental, attitude. Itu yang bikin kita ini susah maju. Kenapa orang rame-rame daftar PNS? Karena mereka ingin enak dengan cara yang gampang.

Kerja gak kerja, ya, tetap dapat bayaran. Nah, sebaliknya seorang entrepreneur harus berjuang, kerja keras, tidak bisa berharap dari orang lain. Jadi, attitude ini yang harus lebih dulu diubah.

Ada juga yang ingin buka usaha sendiri, tapi tidak punya modal. Bagaimana?

Hehehe... Pertanyaan itu selalu saya dengar dari dulu setiap kali memberikan pelatihan atau seminar. Bagi saya, modal itu penting, tapi bukan yang terpenting. Coba kalau seseorang dikasih modal, apa ada jaminan kalau usahanya akan berkembang? Belum tentu. Repotnya lagi, orang kita ini sering menganggap modal sebagai hibah. Kalau mau jujur, masalah utamanya tetap mental attitude.

Bisa diceritakan pengalaman ketika memrintis SHS pada 1998?


Waktu itu kami bertiga (Bagus Supomo, Lukman Hakim, Bambang Hermanto) urunan masing-masing Rp 500 ribu. Kurs rupiah sekitar Rp 2.400. Artinya, modal awal untuk bikin SHS itu hanya Rp 1,5 juta. Nilai sekarang kira-kira Rp 7,5 juta. Jadi, modalnya sangat-sangat kecil.

Kami juga sewa bekas tempat praktik dr Ismangun (almarhum) Rp 250 ribu. Sekolah kayak orang kos-kosan itu. Kami buka tiga kelas, awalnya 75 mahasiswa.

Promosinya bagaimana sehingga bisa dapat 75 mahasiswa?

Gak bisa pasang iklan di media. Kami nekat pasang spanduk di jalan tanpa bayar pajak. Itu psikologi orang kepepet. Dia akan nekat melakukan apa saja. Hehehe... Saya dan teman keliling kota untuk pasang spanduk di pohon-pohon.

Alhamdulillah, kami dipinjami bangku sama Pak Junaedi di Karangempat. Bapak ini sangat baik hati. Dia bilang, silakan pakai dulu, nanti kalau sudah sukses baru bayar. Pak Junaedi ini niatnya benar-benar membantu sesama. Saya tidak bisa melupakan jasanya untuk SHS.

Anda kemudian merancang SHS sebagai pencetak tenaga kerja perhotelan yang siap pakai?

Saya ini kan sudah kerja di beberapa hotel berbintang dengan standar internasional. Saya sering menghadapi karyawan yang training. Saya suruh kerja ini gak bisa, kerja itu gak bisa. Padahal, dia sudah semester lima ke atas.

Kapan bangsa kita pinter kalau caranya begini. Sudah bayar uang kuliah mahal-mahal, tapi lulusannya tidak bisa kerja. Bikin apa saja tidak bisa. Buat saya, eman banget kok iso kayak ngene. Dan rupanya pendidikan kita itu berorientasi bisnis. Dosen sering gak masuk, mahasiswa tidak mendapat pembekalan maksimal, tapi akhirnya lulus sebagai sarjana.

Dari sini saya, berdasarkan pengalaman di hotel, membuat sistem yang aplikatif. Harus bisa langsung diterapkan di tempat kerja. Biaya harus serendah mungkin agar anak orang-orang miskin bisa masuk SHS. Kita subsidi silang. Alhamdulillah, selama 20 tahun ini tidak pernah ada kesulitan di SHS yang tanpa solusi.

Kuliah di SHS lebih banyak praktiknya?


Ya, 60-70 persen praktik karena SHS ini didesain untuk mencetak tenaga-tenaga pelaksana. Kita tidak muluk-muluk. Bagi kami, gelar sarjana itu tidak terlalu penting. Kenapa? Sebab, tidak semua tempat kerja memerlukan gelar.

Anda yang bergelar sarjana, tapi nggak bisa ngapa-ngapain, buat apa? Saya menekankan kepada mahasiswa saya bahwa Anda harus pinter agar bisa cari ilmu. Saya sendiri tidak pernah melamar pekerjaan, tapi justru dilamar. Di swasta itu orang digaji atas dasar apa yang dikerjakan.

Anda bisa menjamin semua alumni SHS mendapat pekerjaan?

Kalau tidak pilih-pilih, saya jamin. Ketika ada lowongan di Balikpapan, ada yang mengeluh, wah, terlalu jauh, di luar pulau, daerah gak maju. Dia tidak tahu kalau Balikpapan itu kota yang sangat maju di Kalimantan Timur. Ada posisi di Kalibaru, ada alumni menolak karena dianggap ndeso. Anak itu gak ngerti kalau di sana tempat jujukan turis Eropa, khususnya Belanda.

Saya bisa katakan, 98 persen alumni SHS punya karir yang bagus. Bahkan, 20 persen di antaranya bekerja di luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Brunei, Australia, dan di kapal-kapal pesiar kelas dunia. Sekarang ini saja ada lebih dari 10 ribu lowongan yang tersedia. Sementara setiap tahun kami hanya bisa menampung 600-700 mahasiswa baru.

Romantisme Sepeda Motor

MESKI sudah sukses membesarkan SHS (Surabaya Hotel School), punya gedung megah lima lantai di Jalan Joyoboyo 10 Surabaya, Bagus Supomo tetap sederhana. Ke mana-mana kakek tujuh cucu ini masih suka naik sepeda motor. Katanya, ada kenikmatan yang tidak akan dirasakan ketika mengendarai mobil.

"Mobil sih ada, tapi saya tetap lebih suka sepeda motor. Kalau naik motor, kita biasa rasakan panas atau kehujanan. Kalau naik mobil kan kita nggak kehujanan," ujar Bagus Supomo lantas tertawa kecil.

Kendaraan roda dua itu juga praktis, bisa menjangkau jalan-jalan setapak yang tak akan bisa dilewati mobil. Dan itu, kata Bagus, tidak membuat martabatnya sebagai bos sekolah perhotelan yang sedang naik daun ini merosot. Alasannya, orang tidak hanya bisa dinilai dari kendaraan yang dipakai atau penampilan fisik saja. "Saya sih enjoy aja naik motor ke mana-mana."

Ihwal sepeda motor ini, Bagus Supomo terkenang pengalaman ketika kali pertama membuka SHS pada 11 November 1988. Waktu itu Bagus bersama Lukman Hakim harus berboncengan sepeda motor keliling Kota Surabaya untuk memasang spanduk pendaftaran mahasiswa baru SHS. "Kami cari tali sendiri dan naik satu pohon ke pohon lain, tiang satu ke tiang lain, untuk mempromosikan SHS," kenangnya.

Benar-benar mulai dari nol. Berkat 'kerja nekat' Bagus bersama dua temannya, Lukman Hakim dan Bambang Hermanto, jabang bayi SHS pelan-pelan tumbuh menjadi sekolah hotel yang sehat dan diminati anak-anak berbagai daerah di Indonesia. Nah, romantisme perjuangan bersepeda motor itulah yang tak mungkin dilupakan Bagus Supomo.



BAGUS SUPOMO

Lahir : Surabaya, 13 Agustus 1951
Istri : Listiani
Keturunan : tiga anak, tujuh cucu.
Pendidikan : Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Denpasar.
Jabatan : GM Surabaya Hotel School

Pengalaman Kerja
F&B Hotel Sanur Beach Bali
Bar & Restaurant Manager Hotel Garden Palace
Manager Delta Palace Restaurant (Kowloon)
F&B Hotel Mirama

Penghargaan
Rekor Muri Dul-dulan Botol dengan Peserta Terbanyak.
Rekor Muri Festival Rujak Uleg Peserta Terbanyak.
Rekor Muri Pembuatan Kue Apem Terbesar dan Kreasi Apem Terbanyak.

PEWAWANCARA:
Lambertus Hurek
Sunardi Sutanto
Agung Rahmadiansyah
Rima Maduwati Putri
Nur Aini Wahidah

3 comments:

  1. selamat buat pak bagus. ini jadi masukan berharga buat aku. bahwa ijazah sarjana bukan hal yang sangat penting. yg penting ya dapat kerja.

    ReplyDelete
  2. Sebuah pelajaran yang sangat berharga..
    Anas

    ReplyDelete
  3. SELAMAT DAN SUKSES BUAT BAPAK BAGUS
    saya alumni SHS tahun 2004/2005
    meskipun usaha dan pekerjaan yang saya geluti sekarang tidak dalam bidang pariwisata dan perhotelan,
    alias saya sekarang usaha counter handphone di tuban,
    tapi saya dapat ilmu dari SHS,yaitu service and handling for customer.

    thanks SHS.....

    CLEORE MEDIKA
    081332253666

    ReplyDelete