30 December 2008

Andrew Weintraub pelopor dangdut Amerika

Andrew Weintraub nyanyi di Surabaya, 2008.


Dangdut, yang dulu dicibir sebagai musiknya kaum pinggiran, kini telah berkembang menjadi musik yang paling banyak penggemarnya di Indonesia. Sejumlah peneliti Barat bahkan secara khusus mempelajari dangdut. Prof Andrew N Weintraub PhD, profesor musik dari University of Pittsburgh, Amerika Serikat, termasuk peneliti Barat yang sangat serius mendalami musik dangdut.

Belum lama ini Andrew mendatangkan Rhoma Irama ke Amerika Serikat untuk konser di beberapa tempat. Berikut petikan wawancara khusus LAMBERTUS HUREK dengan Andrew N. Weintraub.


Profesor, apa pertimbangan Anda mengundang Rhoma Irama ke USA?

Tolong jangan panggil saya Profesor. Cukup Andrew saja biar lebih akrab (tersenyum). Saya mengundang Rhoma Irama karena dia memang raja dangdut. Rhoma itu ikon dangdut. Legenda hidup musik dangdut. Sehingga, menurut saya, dialah yang paling tepat bicara tentang musik dangdut dari tahun 1970-an sampai sekarang. Apalagi, Rhoma juga menjabat ketua PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia).

Selain konser, apa lagi kegiatan Rhoma Irama selama berada di kampus Anda?

Dia bicara dalam seminar tentang Islam di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Rhoma Irama menjelaskan bagaimana kehidupan umat Islam, hubungannya dengan musik dangdut, serta isu terorisme. Rhoma menegaskan bahwa terorisme sama sekali tidak ada kaitan dengan Islam. Pernyataan Rhoma Irama ini penting, agar orang Amerika punya pandangan yang benar tentang Islam, khususnya orang Indonesia.

Saya sendiri cukup lama tinggal di Indonesia, sering ke Indonesia untuk penelitian, sehingga sedikit banyak tahu tentang umat Islam di Indonesia. Tapi akan berbeda kalau ang bicara itu seorang Rhoma Irama. Anda tahu Rhoma itu paling banyak berdakwah melalui musik dangdut. Dan itu membuat pesannya lebih mudah sampai ke masyarakat di desa-desa.

Anda rupanya tetarik dengan musik dangdut dan kebudayaan Indonesia.

Ya, saya juga punya band dangdut, namanya Dangdut Cowboys. Saya sebelumnya melakukan penelitian tentang kebudayaan Sunda, khususnya gamelan dan wayang golek. Dari situ saya tahu bahwa dangdut punya tempat khusus di masyarakat. Saya lihat langsung pertunjukan musik dangdut di mana-mana. Ramai sekali. Anak-anak sampai orang tua sangat antusias menikmati musik dangdut. Ini berarti musik dangdut sudah diterima di hampir semua kalangan masyarakat.

Lantas, Anda berdiskusi dengan Rhoma Irama?

Salah satunya. Saya berusaha bertemu langsung dengan tokoh-tokoh dangdut di Indonesia. Saya ingin tahu lebih dalam tentang asal mula dangdut, perkembangannya, tokoh-tokohnya, hingga hubungannya dengan politik selama Orde Baru. Rhoma Irama pernah dilarang tampil di TVRI pada era Orde Baru karena pertimbangan politik. Ini sangat menarik bagi peneliti luar seperti saya.

Saya jadi semakin dekat dengan Rhoma Irama karena sering diskusi. Saya juga ikut tur keliling bersama Soneta Group di berbagai daerah di Jawa. Jadi, saya bisa melihat langsung bagaimana interaksi masyarakat dengan Rhoma Irama.

Pernah lihat pergelaran dangdut di Jawa Timur?

Sering. Oktober lalu (2008), ketika Rhoma Irama dengan Soneta Group tampil di daerah Mojokerto untuk mengisi kampanye salah satu calon gubernur. Ini juga menarik karena sejak dulu dangdut dipakai untuk memeriahkan kampanye politik.

Bagaimana dengan buku Anda yang mengupas perkembangan musik dangdut di Indonesia?

Sekarang masih dalam proses. Saya dapat banyak bahan baik hasil wawancara, rekaman kaset, CD, VCD, serta naskah-naskah lain selama saya berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu. Ini semua saya kaji dengan sebaik-baiknya agar buku ini bisa menjadi sumber referensi yang akurat. Sebab, rencananya, buku saya itu akan diedarkan di sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Amerika, Eropa, dan Asia. Tunggu saja, nanti saya kabarkan.

Anda juga sempat riset di Surabaya. Apa yang menarik dari Surabaya dan Jawa Timur umumnya?

Ya, karena Surabaya itu salah satu kota terpenting dalam perkembangan industri musik di Indonesia. Di sini ada Orkes Melayu (OM) Sinar Kemala yang sangat populer pada 1950-an hingga 1970-an. Kemudian ada juga okes-orkes lain yang mewarnai musik melayu sebelum berubah nama jadi dangdut. Sampai sekarang pun Jawa Timur masih menjadi barometer musik dangdut. Di mana-mana ada orkes dangdut, penyanyi dangdut, hingga pub dangdut.

Karena itu, sejak awal saya memang menetapkan Surabaya sebagai salah satu tempat penelitian saya. Syukurlah, saya akhirnya bisa bertemu dengan personel OM Sinar Kemala yang masih hidup. Saya mendapat banyak informasi menarik dari mereka.

Anda melakukan wawancara langsung satu per satu?

Betul. Sebagai peneliti, saya harus bisa menggali informasi langsung dari sumber di lapangan. Tidak bisa hanya mengandalkan data sekunder. Awalnya, saya mengajak personel Sinar Kemala bicara bersama-sama dengan Rhoma Irama, tapi setelah itu saya gali lagi ke masing-masing personel di rumahnya. Rhoma Irama sangat berjasa mempertemukan saya dengan para sesepuh dangdut. Tapi, sebagai peneliti, saya harus netral dan objektif.

Ada kendala selama melakukan penelitian di Indonesia?

Ada, tapi relatif bisa diatasi. Indonesia sangat luas dan itu membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Untuk penelitian ini, saya harus ke Surabaya, Jakarta, Banjarmasin, Medan, Makassar. Cukup melelahkan. Kendala lain soal kultur. Hampir semua pedangdut perempuan tidak bisa diwawancarai seorang diri, tapi selalu didampingi suaminya. Ini membuat narasumber saya tidak bisa bicara apa adanya.

Omong-omong, bagaimana respons warga Amerika terhadap grup dangdut Anda?

Cukup memuaskan. Band kami masih sebatas main di depan pengunjung yang terbatas. Jadi, belum banyak orang Amerika yang menikmati musik dangdut. Tapi saya juga sudah publikasikan lewat YouTube, mudah-mudahan semakin banyak orang Amerika yang suka dangdut dan kebudayaan Indonesia.

Anda bisa menyanyikan lagu dangdut Rhoma Irama dengan baik. Belajar di mana sih?

Belajar sendiri. Saya pelajari rekaman-rekaman dangdut, tidak hanya Rhoma Irama, kemudian lihat langsung konser dangdut di daerah-daerah. Setelah itu saya coba mainkan dan ternyata bisa. Tapi tentu saja kami belum bisa bersaing dengan Soneta Group. Kami kan masih pemula. Hehehe....


Dangdut Cowboys ala Pittsburgh

ANDREW N. Weintraub bukan peneliti biasa. Dia seorang etnomusikolog yang cepat menguasai musik apa saja. Ketika melakukan penelitian di Jawa Barat, Andrew pun tertarik dengan gamelan Sunda. Dia lantas belajar pada sejumlah pemusik tradisional Sunda.

Setelah menguasai gamelan, Andrew menggelar pementasan keliling di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa. "Saya hanya ingin memperkenalkan musik dan kebudayaan Indonesia di dunia internasional. Sebab, musik Indonesia itu sebenarnya unik dan sangat menarik," ujarnya.

Selama lima tahun melakukan riset di Bandung, Andrew akhirnya makin sadar bahwa sebagian besar orang Indonesia ternyata sangat suka musik dangdut. Khususnya Raden Haji Oma Irama alias Rhoma Irama. Lagi-lagi Andrew berusaha mendalami musik paling populer di tanah air itu.

"Saya semakin suka dangdut karena musiknya benar-benar unik. Hanya ada di Indonesia meskipun menggunakan banyak unsur India, Melayu, Arab, hingga Barat," kata pria yang hafal sebagian besar lagu karya Rhoma Irama itu.

Saking cintanya sama dangdut, ketika kembali ke kampusnya, University of Pittsburgh, Amerika Serikat, Andrew membentuk band dangdut. Tentu saja, dia lebih dulu memperkenalkan musik dangdut baik melalui rekaman maupun secara langsung. Maklum, Andrew sangat piawai memainkan berbagai alat musik, khususnya gitar. Suaranya pun bolehlah.

Nah, di bawah arahan Andrew, maka terbentuklah Dangdut Cowboys. Menurut dia, band ini membawakan dangdut ala koboi Amerika. Anggotanya, selain Andrew pada gitar dan vokal, adalah Kavin Paulraj (bas), Ben Rainey (gitar), dan Mike Witmore (kendang). Kostum mereka layaknya musisi country. "Saya kombinasikan musik dangdut dengan country serta irama Latin. Dan itu membuat band kami bisa diterima di Amerika," katanya bangga.

CV SINGKAT

Nama : ANDREW N. WEINTRAUB
Jabatan: Profesor Musik di University of Pittsburgh, USA.

Pendidikan:
Ph.D., University of California, Berkeley (1997)
M.A., University of Hawai`i (1990)
B.A., University of California, Santa Cruz (1985)
Hobi : Musik, travelling

Penelitian:

Musik tradisional Sunda, Jawa Barat.
Wayang golek di Jawa Barat.
Musik Asia Selatan.
Musik Dangdut.
Hubungan antara seni pertunjukan, budaya, dan politik di Indonesia selama Orde Baru, 1966-1998.

5 comments:

  1. thats good. menarik sekali...sy ingin tau bagaimana pengaruh dangdut di dunia internasional setelah bisa masuk ke amerika...kita tunggu aja
    bravo musik Indonesia!!!!

    ReplyDelete
  2. surprise !!!! ternyata Kang Andrew sangat konsisten dengan penelitian budaya di Indonesia. Saya orang Indonesia dari jawa Barat justru terinspirasi oleh Kang Andrew untuk "menyebarkan" salah satu ciri khas budaya Indonesia khususnya sunda seteleh saya baca penelitiannya tentang wayang golek dan resensi buku si Cepotnya.
    Ini sekedar sumbangan bagi budaya Indonesia :
    http://cepot-bandung.com
    http://antontirta.blogdetik.com

    ReplyDelete
  3. salut buat Prof Andrew maju terus pak dalam berdangdut....

    ReplyDelete
  4. salut dengan semangatnya... orang Indonesia jangan sapai kalah dong...

    http://sulingbambuku.blogspot.com/

    Sulingnya suling bambu....
    Siapa yang mau...
    Untuk dangdutan Oke......

    ReplyDelete
  5. Terimakasih ya Andrew,sudah memperkenalkan musik dan kebudayaan Indonesia di dunia internasional.

    ReplyDelete