11 November 2008

Tarian NTT di Festival Cak Durasim '08



Sebuah kejutan bagi kita, orang Nusatenggara Timur, di Jawa Timur. Tarian asal NTT ditampilkan sebagai pembuka Festival Cak Durasim di Taman Budaya Jawa Timur, Senin malam, 10 November 2008. Festival tahunan ini berkelas nasional. Grup-grup tari dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan luar negeri macam Malaysia atau Suriname, pernah ditampilkan.

Tapi NTT? Rasanya baru kali ini. Dan itu wajar karena semua orang tahu bahwa kesenian Flores, Sumba, Timor, Alor, sejatinya kesenian massal. Dibawakan ramai-ramai. Berbeda, misalnya, dengan tarian Jawa yang masuk kategori high culture, budaya tinggi. Kesenian NTT, menurut saya, tak pernah didesain sebagai "budaya tinggi".

"Tarian Jawa adalah tarian pertunjukan, dibawakan penari terlatih, dengan ekspresi yang hanya mungkin berkat keterampilan yang harus diperoleh dengan latihan lama," tulis Karl Edmund Prier SJ, direktur Pusat Musik Litugi di Jogjakarta. Romo Prier, komponis yang getol mempromosikan inkulturasi liturgi ini, berkali-kali melakukan riset dan lokakarya di NTT. Dia tahu persis kesenian dan kebudayaan NTT.

Karena itu, sejak dulu saya tidak pernah dengar ada sanggar tari di Flores. Tarian-tarian kampung macam oha, hedung, hamang, tari perang, likurai... dibawakan spontan saja. Tidak pakai latihan karena memang gerakan-gerakannya tak perlu latihan. Siapa saja silakan gabung. Ngawur sekalipun tidak apa-apa. Tarian NTT--yang bukan high culture tadi--memang ekspresi spontan dari masyarakat agraris yang jauh dari dunia sanggar.

Maka, saya salut dengan teman-teman koreografer yang malam itu menghadirkan tarian Njara Humba Matamba Savana di Surabaya. Mereka Paulina Samosir, Eldy Angi, Widyawati, Floribertus Fonna. Nama-namanya saja jelas kurang "berbau" NTT. Mereka alumni Institut Seni Indonesia, Jogjakarta, yang memang terbiasa dengan seni pertunjukan.

Savana atau sabana identik dengan Pulau Sumba. Ribuan kuda liar yang bergerak bebas di padang rumput luas. Bahan-bahan dasar dari kampung kemudian diolah Paulina dan kawan-kawan menjadi tarian yang kira-kira layak dihadirkan di festival nasional sekelas Cak Durasim. Persiapan hanya dua bulan. "Ini baru pertama kali kami pentaskan di panggung," cerita Flori.

Karakter kesenian yang massal, bukan high culture, tetap kental dalam garapan para seniman akademis alumni ISI itu. Para penari--pakai sarung tenun motif Sumba, ada gambar kuda--tampak trengginas, liar, energetik. Namun, para "kuda jantan" ini bisa bikin harmoni dan keindahan di panggung. Syukurlah, penonton festival paling tidak punya gambaran tentang orang NTT dan kebudayaannya melalui Tari Njara Humba Matamba Savana.

"Sangat sulit mengajak anak-anak muda NTT di kota untuk belajar dan mencintai kesenian daerah," ujar Flori.

Taman Budaya NTT selama lima tahun masuk keluar sekolah untuk mengajak para pelajar dan mahasiswa untuk ikut latihan tari-menari. Tapi hasilnya sangat sedikit. Hampir tidak ada yang mau karena kesenian tradisional dianggap old school, ndeso.

Jangankan tarian, orang-orang NTT yang makan sekolah atau kuliah di Kupang, misalnya, cenderung "lupa" bahasa dan kebudayaan daerahnya. Tiap hari bicara bahasa Melayu Kupang meskipun logatnya tetap saja kampung. Mana mau mereka menggali kebudayaan nenek moyangnya?

Terima kasih buat Paulina Samsir (orang Batak), Widyawati (orang Jawa), serta teman-teman koreografer yang telah berhasil mengangkat alam dan manusia NTT ke panggung Festival Cak Durasim 2008. Kami tunggu karya-karya kalian yang lain.

8 comments:

  1. sukses buat temen2 yg sudah mengangkat nama NTT.

    ReplyDelete
  2. Memang benar diantara tarian yang membuka Festival Cak Durasim 2008, tarian dari NTT itulah yang mendapat aplaus terbanyak dan paling memukau. Kebetulan waktu itu saya melihat sendiri dan merasakan sendiri atmosfer pada malam itu yang diselimuti hujan deras..tariannya memang lebih terasa kental NTT. hentakan, musik, dan triakan para penari dan pemusiknya sungguh membuatpenoonton yang melihat terpukau. Kebetulan juga saya berkenalan dengan para penari dan para koreografernya...ternyata asik2 juga ya...salam buat para penari dan semua orang di NTT...
    Firman
    alimmatus.firmansyah@yahoo.com

    ReplyDelete
  3. terimakasih juga

    ReplyDelete
  4. ngemeng-ngemeng...betul juga bos, saya juga dulu punta temen orang sono (ga enak klo disebutin) tapi klo diajak ngobrol soal daerahnya pasti ga banyak omong dan kurang bergairah...sayang memang padahal kita juga pengen tau daerah mereka dari cerita orang asli sana.
    Ini beberapa kali saya alami klo ngobrol dengan temen-temen (terutama) dari daerah (maaf) timur Indonesia, ga tau kenapa ya??? kurang bangga jadi putra daerah ato gitu???

    ReplyDelete
  5. Yah... Kalau dibahas bisa panjang lebar. Banyak faktor dan tergantung orangnya juga. Di blog ini saya cerita apa adanya. Terima kasih atas komentar anda.

    ReplyDelete
  6. deryaderya31@yahoomail.com12:01 AM, November 29, 2008

    NTT itu eksostis bagi saya, saya kemarin menonton tarian NTT di festival tari Nusantara, "tarian tentang kematian", dan saya takjub mereka teryata tetap energik dalam membawakan tarian kematian... ya, itulah sepak terjang seniman muda NTT, karena waktu itu saya melihat yang menari semuanya ABG he he he he, dan mereka dapat 4 piala, mengalahkan beberapa propinsi lainnya, walaupun jokjakarata mendapat 7 piala sebagai juara umum, NTT harus berbangga karena banyak propinsi besar, hanya dapat 1 piala, om Flory juga harus bangga ada anak muda NTT yang mau mengenal daerahnya... dan om flory harus bangga, dengar dengar baru sekali NTT dapat 4 piala di Festival ini, dan tarian yang mereka bawakan adalah hasil bimbingan om flory menurut kata Penggarapnya... HOREEEEEEE masih ada anak muda timor yang masih mencintai Timor... Sukses Buat om flory dan kakak yang lainnya,...


    sebait kata untuk Om flory...
    "Kematian saja yang sepertinya bisa menjemput om flory dari kesenian" dan om adalah Kuda sumba itu.

    ReplyDelete
  7. waktu iku menyaksikan, sungguh tarian yang luar biasa energik, kaki saya terhentak-2 mengikuti iramanya

    ReplyDelete
  8. Taman Budaya NTT!!!!!
    Makin kreatif aja!!!!
    Gwu...

    ReplyDelete