27 November 2008

Sidharta Adhimulya alias Poo Tjian Sie



Sibuk berbisnis, juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial di Jawa Timur. Sejak reformasi 1998, sudah puluhan organisasi yang diikuti Sidharta Adhimulya alias Poo Tjian Sie. Saat ini dia getol mengurus Kampoeng Ilmu, paguyuban pedagang buku dan majalah bekas di kawasan Jalan Semarang, Surabaya.

Oleh LAMBERTUS HUREK

Bagaimana ceritanya Anda mengajak Hermawan Kartajaya merayakan ulang tahun ke-61 di Kampoeng Ilmu?

Awalnya, pada 26 September ada peringatan 59 tahun hubungan Indonesia-Tiongkok di Hotel Shangri-La. Di sela-sela acara saya sampaikan pada Hermawan tentang Kampoeng Ilmu. Dia tertarik dan malam itu juga kami ke sana. Pak Hermawan melihat bahwa Kampoeng Ilmu itu salah satu denyut nadi perekonomian di Surabaya.

Krisis global yang berimbah pada PHK ibarat rumput kering yang rawan terbakar. Kemudian pilkada, pemilu legislatif, dan pilpres membuat dana tersodot ke sana. Nah, kita di Surabaya perlu menciptakan sumur di mana wong cilik bisa mengembangkan diri. Pak Hermawan sangat antusias dengan Kampoeng Ilmu.

Kemudian, ulang tahun Hermawan Kartajaya diadakan di sana?

Itu wujud dukungan beliau pada Kampoeng Ilmu. Menurut dia, sekarang ini yang berlaku adalah new wave marketing. Kalau masa lalu marketing itu bersifat legacy atau vertikal. Dan itu pelan-pelan kita kembangkan di Kampoeng Ilmu.

Lantas, bagaimana ceritanya Anda dan sejumlah warga Tionghoa terlibat aktif mengembangkan Kampoeng Ilmu?

Begini. Para PKL di Jalan Semarang, khususnya yang dekat Stasiun Pasar Turi, itu digusur oleh pemkot beberapa waktu lalu. Kebetulan ada teman kami, Hendy Prayogo, ternyata pelanggan buku-buku bekas di sana. Dari situ kami tergerak untuk ikut membantu agar pusat ilmu atau intelektualitas di Surabaya itu jangan sampai hilang. Teman-teman pengusaha Tionghoa bantu listrik, terpal, dan sebagainya. Kita tidak bisa jalan sendiri, tapi juga melibatkan teman-teman Dewan Kota, Dewan Pendidikan, aktivis dari berbagai organisasi.

Kampoeng Ilmu itu mau difokuskan ke mana?

Pak Hermawan Kartajaya sudah bilang positioning-nya jelas, yaitu ilmu dan pengetahuan. Itu tidak bisa dihilangkan meskipun Kampoeng Ilmu bakal dikembangkan lebih lanjut. Pemkot sendiri sudah menyatakan Kampoeng Ilmu akan dijadikan ikon wisata pendidikan. Dan itu, mudah-mudahan, bisa terwujud tahun depan.

Apa sudah ada dana pengembangan Kampoeng Ilmu?

Saya dengar di PAK (perubahan anggaran keuangan) ada alokasi dana Rp 2,5 miliar untuk tiga tempat. Yakni, pusat burung, pusat ikan, serta pusat buku dan majalah. Pusat buku dan majalah atau Kampoeng Ilmu ini kebagian dana paling besar.

Kehebatan Kampoeng Ilmu ini dia punya koleksi buku dan majalah bekas paling lengkap di Jawa Timur. Konsumennya dari 38 kabupaten/kota di Jatim. Koleksi buku-buku yang tidak ada di tempat lain bisa ditemukan di sana. Para pedagang, saat ini ada 84 orang, sudah punya mekanisme internal seperti tukar tambah, barter, yang memungkinkan masyarakat mendapatkan buku-buku atau majalah yang diinginkan.

Selain pusat buku bekas, apa lagi yang akan dinikmati di Kampoeng Ilmu?

Yang jelas, dia akan menjadi ajang interaksi seni budaya dan pendidikan di Surabaya. Wi-Fi pasti masuk. Saya juga sudah usul agar ada pusat dolanan anak-anak. Kita ingin memunculkan berbagai hal yang berbau Surabaya. Dialek Surabaya kita lestarikan di sana.

Mengapa harus dolanan anak-anak?

Sebab, mainan modern seperti play station, internet, membuat orang semakin individualistis. Padahal, kita punya banyak sekali permainan tradisional yang sangat edukatif, melatih kerja sama, dan solidaritas antarsesama. Saya harapkan nanti minimal dua bulan sekali ada lomba. Misalnya, lomba main kelereng para eksekutif, agamawan, mahasiswa, wartawan.

Soal lain. Bagaimana ceritanya Anda dikenal sebagai 'juru bicara' para konglomerat Tionghoa di Jatim?

Saya pernah menjadi ketua harian Yayasan Bakti Persatuan selama 1,5 tahun. Yayasan ini dibentuk para pengusaha keturunan Tionghoa untuk berbuat sesuatu bagi masyarakat yang membutuhkan. Tujuan utamanya, ya, menciptakan hubungan yang harmonis antara warga Tionghoa dan non-Tionghoa. Saya juga pernah jadi sekretarisnya Pak Bambang Sujanto, tokoh PITI Jatim. Jadi, wajar saja kalau saya dianggap sebagai juru bicara para pengusaha Tionghoa.

Tapi di Yayasan Bakti Persatuan, saya itu ibarat air di bendungan raksasa. Sementara saya ini lebih suka menjadi air hujan. Air hujan itu bisa membasahi tanah yang kering, sawah, dan sebagainya. Ada risikonya tentu saja. Menjadi air hujan berarti siap menangung risiko dianggap orang yang kontroversial. Tapi, bagi saya, tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini. (*)


Energi Berlebih, Awet Membujang

MESKI usianya mendekati kepala lima, Sidharta Adhimulya masih awet membujang. Pria 47 tahun ini bahkan sangat menikmati statusnya single-nya. Sebab, dengan begitu dia bisa tetap menyalurkan hobi sejak remaja, yakni aktif di berbagai kegiatan sosial.


"Kalau saya punya istri, anak, belum tentu saya bisa terlibat dalam berbagai kegiatan seperti sekarang. Dibilang bujang lapuk, ya nggak apa-apa," ujar Sidharta Adhimulya lantas tertawa kecil.

Bakat sebagai aktivis mulai dirasakan Sidharta ketika sekolah di SMAK Sint Louis I Surabaya pada 1970-an. Dia selalu dipercaya sebagai ketua kelas di jurusan paspal (ilmu pasti dan alam). Karena bosan, Sidharta ingin diganti oleh temannya. "Tapi di kelas tiga saya terpilih lagi," kenangnya.

Dia kemudian melakukan diplomasi agar jabatan ketua kelas disandang orang lain. Maka, Sidharta menunjuk anak orang kaya yang terkenal paling nakal di kelasnya. "Kalau ada apa-apa, saya akan tanggung jawab," papar Sidharta bersemangat.

Pola macam ini pun dilakukan Sidharta Adhimulya dalam mengembangkan berbagai organisasi sosial budaya di Surabaya dan Jatim umumnya. Ketika organisasi sudah berkembang, dia segera memberikan tanggung jawab kepada orang lain yang punya potensi.

Sidharta sendiri mencari tantangan baru, dengan merintis atau aktif di kegiatan yang lain. Alasannya, "Saya harus menyalurkan energi saya berlebih di tempat yang tepat," tegasnya.

Satu prinsip yang dipegang teguh penggemar musik ini adalah ikhlas memberikan kepercayaan kepada orang lain. "Orang sebaiknya mundur ketika telah mencapai puncak prestasi," ujarnya.


SIDHARTA ADHIMULYA

Nama asli : Poo Tjian Sie
Lahir : Surabaya, 2 Maret 1961
Alamat : Nirwana Eksekutif Surabaya

Pendidikan :
SMAK Sint Louis I (lulus 1981)
Universitas Narotama (lulus 1986)
Pekerjaan : Kacab PT Duta Permai Wijaya

ORGANISASI
Forum Komunikasi Tionghoa Simpul Jatim
Sinergi untuk Multikultural dan Multipluralis
Forum Lintas Agama Jatim
Komunitas Tionghoa Peduli Demokrasi dan HAM
Jaringan Intelektual Tao Liberal Indonesia

8 comments:

  1. Yah.. Bapak Sidharta ini memang menginspirasi..

    Ajari beta bikin blog yang bagus lah mister..
    hehehe..

    ReplyDelete
  2. Hehehe... Rima arek UPN. Justru aku yang perlu belajar bikin blog yang bagus, enak dilihat. Soale aku iku gaptek banget, gak iso buat variasi2 di blog.

    Yah, namanya aja arek kampung. Met kuliah, semoga cepat selesai.

    ReplyDelete
  3. selamat berjuang utk pak sidharta...

    ReplyDelete
  4. Selamat siang Pak Sidharta Adhimulya, salam ju7mpa lagi di blog Bapak, pengalamannya banyak, saya perlu banyak meninba ilmu kehidupan dari Pak Sidharta Adhimulya, selamat beraktivitas semoga sukses.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini bukan blognya pak sidharta tapi blog saya. Kebetulan saya yg nulis sedikit profil beliau. Aneh... kok punya kesimpulan begitu??? Cukup banyak pembaca juga menganggap blog ini milik tokoh yg dibahas di sini.

      Delete
    2. Cina Jawa Amrik1:31 PM, June 14, 2016

      Sidharta (dan saudaranya yg namanya Hantje) ini temanku les Bhs Inggris di Kalianyar. Waktu itu aku masih jauh lebih muda - pas dia mahasiswa aku masih SMP. Senang melihat teman lama aktif bekerja nirlaba.

      Delete
    3. Pak Sidharta ini orangnya berani, kritis, suka blakblakan kalau bicara di media massa khususnya radio. Beliau sering jadi sumber di radio Suara Surabaya. Terakhir saya bertemu pak Sidharta saat melayat jenazah alm Ben Anderson di Adi Jasa Surabaya. Dia tipe tionghoa intelektual aktivis... bukan pedagang hehe

      Delete