05 November 2008

Selamat jalan Romo Haryanto



Romo Julius Haryanto CM, mantan Administrator Keuskupan Surabaya, meninggal dunia dalam usia 75 tahun. Hari Kamis, 6 November 2008, jenazah pastor senior asal Wlingi, Blitar, itu dimakamkan di Puhsarang, Kediri.

Oleh LAMBERTUS HUREK
hurek2001[at]yahoo.com

Sekitar 2.000 umat Katolik kemarin mengikuti misa requiem untuk mendiang Romo Haryanto di Gereja Kristus Raja, Jalan Residen Sudirman Surabaya. Dipimpin Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono, misa ini juga diikuti puluhan pastor serta biarawati dari berbagai kota di Jawa Timur.

“Romo Haryanto memang punya relasi sangat luas di Jawa Timur, bahkan di seluruh Indonesia. Bahkan, sebagian besar romo yang sekarang bertugas di Jawa Timur itu mantan muridnya,” ujar Pastor Paroki Katedral Surabaya Romo Yosef Eko Budi Susilo kepada Radar Surabaya usai misa requiem.

Romo Haryanto meninggal dunia di RS Adi Husada Surabaya karena komplikasi penyakit dalam. Di usia senja, rohaniwan yang ramah dan murah senyum itu juga terserang kanker pankreas. Nah, ketika warga Jawa Timur ramai-ramai datang ke tempat pemungutan suara, Selasa (4/11/2008), Romo Haryanto menghembuskan napas terakhir.

“Kita percaya bahwa semua ini merupakan rencana Tuhan. Semoga amal baik dan jasa-jasanya selama menggembala umat di Keuskupan Surabaya diterima oleh Tuhan,” ujar Romo Eko yang juga ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Surabaya ini.

Setelah disemayamkan selama dua malam, pagi ini kembali digelar misa requiem di Gereja Kristus Raja. Usai misa, sekitar pukul 09.30, jenazah Romo Haryanto dibawa ke Musoleum Pieta di Puhsarang, Kediri, untuk dimakamkan. Musoleum adalah tempat pemakaman para rohaniwan Keuskupan Surabaya yang dirintis Mgr Johanes Hadiwikarta (almarhum). “Beliau dimakamkan di Puhsarang biar umat lebih mudah berziarah ke sana,” papar Romo Eko Budi Susilo.

Bagi umat Katolik di Jawa Timur, Romo Haryanto adalah figur pastor yang paling komplet. Pria kelahiran Blitar, 12 April 1933, itu pernah menduduki semua jabatan penting di Keuskupan Surabaya. Mulai dari pastor pembantu, kepala paroki, guru seminari menengah, dosen Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana, vikaris jenderal, hingga administrator keuskupan.

Posisi sebagai administrator--semacam pejabat sementara uskup--dipegang Romo Haryanto setelah Mgr Hadiwikarta wafat pada 13 Desember 2003. Tugas berat ini diemban hingga 29 Juni 2007 ketika Mgr Sutikno Wisaksono ditahbiskan di Lapangan Bumimoro. “Jadi, selama 3,5 tahun almarhum menduduki posisi kunci di Keuskupan Surabaya. Kita benar-benar kehilangan seorang gembala yang bisa ngemong dan rendah hati,” ucap Romo Eko.

Sejumlah umat yang ditemui Radar Surabaya mengaku sangat kehilangan Romo Haryanto. Mereka menilai figur almarhum sangat sulit ditemui di masa sekarang. “Romo Haryanto itu pastor yang sangat terbuka dan mau mendengar curhat kita kapan saja. Figurnya benar-benar kebapakan,” ujar Sugianto, umat Katolik asal Kenjeran. (*)

RIWAYAT HIDUP

Romo Julius Haryanto CM lahir di Wlingi, Blitar, 12 April 1933, dari pasangan suami-istri Claudius Hardjosoedarso dan Roberta Sri Mardijah. Keduanya guru sekaligus katekis lulusan Sekolah Romo van Lith di Muntilan dan Mendut. Tahun 1936 dipermandikan di Gereja Santo Yusuf Blitar oleh Romo Anton Bartiasen CM.


Setelah lulus SMP di Blitar, masuk Seminari Menengah pada 1949 di Ganjuran, Jogjakarta. Julius Haryanto salah satu dari delapan siswa pelopor Seminari Menengah Santo Vincentius a Paulo, Keuskupan Surabaya, yang diantar oleh Romo Dwidjosoesastro CM ke rumah Provinsialat Kongregasi misi di Jalan Kepanjen 9 Surabaya (seminari pertama). Julius Haryanto harus melewati garis demarkasi Indonesia dan Belanda.

Pada 1953 menjalani pendidikan di Seminari Tinggi Rembang. Masuk novisiat CM di Heiden, Panningen, Belanda, 1957. Kemudian pindah ke Amerika Serikat. Ditahbiskan sebagai imam pada 5 Mei 1960 di Saint Louis, Perryville, Amerika Serikat.

Setelah itu Julius Haryanto CM langsung ditugaskan studi lanjut teologi dan kitab suci di Universitas Gregoriana dan Biblicum di Roma sampai 1964. Beliau salah satu romo CM dan Ordo Carmel yang aktif merintis Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Widya Sasana, Malang, yang rapat-rapat pendiriannya dilakukan pada 1968-1970.

Para imam alumni STFT Widya Sasana berasal dari berbagai kongregasi dan tarekat religius dan keuskupan di Indonesia. Bahkan, mereka menjadi misionaris di seluruh penjuru dunia.

TUGAS PERUTUSAN

1968-1970 : Dosen Seminari Tinggi Kediri dan pastor pembantu di Kediri.
1970-1973 : Rektor pertama dan dosen kitab suci STFT Widya Sasana Malang.
1971-1972 : Sekretaris Uskup Surabaya.
1974-1976 : Pejabat rektor AKI Madiun.


1977-1988 : Pastor Paroki Langsep, Malang.
1977-1987 : Sekretaris Uskup Malang.
1990-1991 : Dosen STFT Papua.
1993-1995 : Pengurus Persekutuan Usahawan Katolik.

1994-1999 : Konfesor Misionaris Claris Surabaya dan Madiun.
1994-1999 : Pastor Paroki Ngagel, Surabaya.
1995-1996 : Vikep Regio I Surabaya.
1994-2004 : Vikjen Keuskupan Surabaya.

1997-2007 : Ketua Komisi Kerasulan Kitab Suci.
1999-2007 : Ketua Yayasan Widya Yuwana Madiun.
2004-2007 : Administrator Keuskupan Surabaya.
2007-2008 : Pastor Pembantu Paroki Kristus Raja Surabaya.

19 Oktober 2008
Menerima Sakramen Perminyakan dari Romo Marto Kusumo CM.

4 November 2008
Wafat di Rumah Sakit Adi Husada Surabaya.

6 November 2008
Dimakamkan di Musoleum Pieta, Puhsarang, Kediri.

6 comments:

  1. selamat jalan Romo senyum mu selalu terukir di hati umatmu

    ReplyDelete
  2. Turut berbelasungkawa atas berpulangnya Romo Julius Haryanto. Selamat Jalan Romo ..

    ReplyDelete
  3. Mbak Wenny di Sidoarjo dan Mbak Judith di Swiss, terima kasih sudah baca saya punya tulisan. Salam damai dan God bless you all.

    ReplyDelete
  4. almarhum rm haryanto emang kebapakan, perhatian, halus, dekat sama umat. beliau juga fasih banyak bhs asing. RIP. selamat jalan romo.

    ReplyDelete
  5. Benar sekali Romo Haryanto menguasai 7-8 bahasa asing (Eropa). Lancar macam dia omong Jawa atau bahasa Indonesia. Karena itu, beliau selalu jadi penerjemah (interpreter) khotbah atau pidato duta besar Vatikan atau rohaniwan asing yang memimpin misa di Keuskupan Surabaya.
    Menjelang akhir hidupnya Romo Haryanto ingin mengabdi di Puerto Rico agar bisa berbahasa Spanyol. Tapi keinginan ini tidak kesampan. Kita semua sedih dengan kepergian beliau. Tapi inilah, saya yakin, sudah jadi rencana Tuhan.

    Wong Kampung

    ReplyDelete
  6. Turut belasungkawa meninggalnya Romo. Julius Haryanto.
    Selamat Jalan .....

    'n saya suka sekali tulisan mas. Lambertus Hurek untuk nambah informasi

    ReplyDelete