11 November 2008

Piet Wani SVD dan musik liturgi Katolik



Misa Dolo-Dolo (karya Mateus Wari Weruin), Misa Syukur (Martin Runi), Misa Piet Wani (karya Pater Piet Wani SVD), Misa Pustardos, Misa Senja (Martin Runi), Misa Henri Daros SVD, Misa Ferdy Levi, Misa Atlantika (AS Letor SVD), Misa Gaudens Gaudebo (Jan Riberu)... sangat disukai paduan suara gerejawi. Dan masih banyak nama lagi. Dan banyak pula partitur stensilan lagu-lagu yang beredar luas di kalangan aktivis paduan suara gerejawi.

Apakah karena pelatih dan anggota kor kebanyakan Flores? Pastornya asal Flores? Tidak juga. Kor-kor yang didominasi orang Jawa, Tionghoa, atau Tapanuli pun gemar lagu-lagu misa Flores.

"Lagu-lagu Flores enak-enak dan sederhana. Semua umat bisa menguasai dengan cepat," ujar Frans, umat Paroki Redemptor Mundi, Dukuh Kupang, Surabaya.

Sebagai orang Flores, kami yang di Jawa tentu bangga dengan kenyataan ini. Ikut misa di gereja ibarat berada di rumah sendiri. Itu juga yang bikin orang Flores punya ikatan sangat kuat dengan Gereja Katolik. Sangat sulit pindah gereja--misalnya protestan, pentakosta, atau karismatik--karena sudah pasti karakter Floresnya tidak ada di gereja-gereja itu.

"Saya baru bikin rekaman lagu-lagu rohani. Beberapa karya almarhum Pater Piet Wani SVD masuk di saya punya album. Saya ingin mengenang beliau sebagai komponis musik liturgi yang luar biasa asal NTT. Kebetulan Pater Piet itu saya punya guru vokal," ujar Pietche Ranitoa, penyanyi rohani asal Ngada, Flores Barat, kepada saya.

Pater Piet Wani SVD. Lagu-lagu misa karyanya memang sangat populer di Flores sejak 1970-an sampai hari ini. Dia termasuk salah satu komposer yang sangat produktif menciptakan lagu-lagu liturgi untuk kebutuhan umat Katolik di NTT. Setelah Konsili Vatikan II, Gereja Katolik mendorong inkulturasi di seluruh dunia. Orang Flores yang mayoritas Katolik ikut dalam arus inkulturasi ini. Maka, Piet Wani, pastor yang seniman itu pun melahirkan karya-karya musik liturgi yang berbobot.

Saya pribadi--dan orang Flores Timur umumnya--paling terkesan dengan WARTAKANLAH, lagu yang dimuat buku EXULTATE Nomor 64.

"Wartakanlah, hai bangsa-bangsa kabar gembira.
Maklumkanlah ke pulau-pulau yang jauh.
Aleluia... Alleluia
Sabda Tuhan bagi manusia...


Lagu ini, yang diaransemen sendiri oleh Pater Piet Wani SVD, menjadi lagu wajib lomba paduan suara antarsekolah, stasi, hingga paroki di Flores Timur. Saya jamin (hampir) semua orang Flores menguasai lagu ini dengan baik. Di Jawa Timur pun sangat populer. Bagian solo yang ada dua ayat itu sangat melodius. Kesempatan bagi penyanyi sopran (suara satu) dan alto (suara dua) untuk pamer suara. Praktik yang sangat umum di kampung-kampung Flores Timur dan Lembata.

Pater Piet Wani SVD meninggal dunia di Kupang pada 2006 dalam usia 52 tahun. Di hari-hari terakhirnya, almarhum juga tetap membina musik liturgi sekaligus mengajar di Universitas Widya Mandira, Kupang. "Pater Piet Wani itu komponis besar yang pernah dimiliki Flores," kenang Pietche, orang Bajawa, bekas murid almarhum Piet Wani.

Menurut Pietche, Piet Wani dipercaya Takhta Suci Vatikan sebagai salah satu anggota Tim 100 penyelia musik liturgi internasional. Tugasnya, antara lain, mengembangkan musik liturgi Katolik di gereja-gereja sejagat. Inkulturasi musik terus didorong, dikembangkan, namun tetap memperhatikan pakem liturgi Roma.

"Saya selalu ingat dia punya pesan. Kunci musik litugi ada tiga: Komponis yang menciptakan nyanyian bermutu. Dirigen yang mumpuni. Pemain sekaligus penyanyi. Tiga unsur ini mutlak ada dalam pelayanan musik liturgi di gereja," papar Pietche.

Dia memuji Pater Piet Wani sebagai organis gerejawi asal Flores yang sulit dicari tandingannya. "Kalau Pater Piet Wani main organ, aiiii... gereja bisa runtuh. Dia main sepuluh jari dengan sentuhan seni tingkat tinggi. Dia itu maestro musica sacra. Di Jawa sih banyak pemain organ, tapi apa ada yang masuk maestro musica sacra?" tegas Pietche dengan gayanya yang meledak-ledak.

Dalam berbagai lokakarya musik liturgi di Flores, Pater Piet Wani SVD menyampaikan beberapa kriteria sebuah lagu diterima sebagai lagu geejawi (liturgi).

SATU: Jika dinyanyikan dalam bahasa apa pun, tanpa dimengerti, umat merasa tersentuh.

DUA: Syair harus sejalan dengan Alkitab dan ajaran gereja. Punya misi mewartakan sabda Tuhan.

TIGA: Jika lagu dinyanyikan, umat terpecah, misalnya hanya orang Flores yang menyanyi, maka lagu itu tak layak gereja.

Salah satu lagu karya Piet Wani SVD yang sangat populer di gereja-gereja Katolik Indonesia adalah NYANYIKANLAH HALELUYA (buku EXULTATE Nomor 180). Lagu ini, kata Pietche, pernah "dipamerkan" Piet Wani di hadapan umat Katolik non-Indonesia yang tentu tidak paham bahasa Indonesia. Dia main organ, 10 jari, sambil menyanyi:

"Di kala sinar cahaya merekah
Pujilah Tuhan Allahmu
Di kala redup mentari hidupmu
Arahkanlah hatimu pada-Nya


Hasilnya? "Semua orang suka. Mereka meresapi lagu itu meskipun tidak mengerti artinya apa," sebut Pietche.

Teman saya yang satu ini memang sering memuji-muji Pater Piet Wani dalam berbagai kesempatan. Dan itu wajar karena Pietche berutang budi dan ilmu pada almarhum. Tapi, yang jelas, karya-karya Piet Wani memang diterima umat Katolik di seluruh Indonesia, sehingga dinyanyikan terus sampai sekarang.

Ars longa, vita brevis!
Seni itu panjang, sementara hidup itu pendek.

14 comments:

  1. jadi ingat kampung... huhuhu....

    ReplyDelete
  2. hehehe.. terima kasih sudah dikunjungi pak guru pakar fisika. good luck.

    ReplyDelete
  3. Halo Lambertus, saya kebetulan membaca blog anda dan karena itu saya menulis email ini. Nama saya Sam, saya tinggal dan bekerja di Amerika sejak 6 tahun lalu. Dalam kehidupan gereja Katolik di sini, terutama dari segi liturginya, saya banyak menyaksikan berbagai macam liturgi yang memasukkan unsur2 dari berbagai macam budaya etnik karena begitu banyaknya latar belakang umat di sini.

    Di Los Angeles ini terutama dari Mexico dan Amerika Latin, Vietnam, Chinese, African American, dan Filipin. Yang menarik adalah adanya beberapa komposer yang menciptakan lagu bilingual, trilingual, dan bahkan lebih dari itu. Umumnya lagu2 ini mudah diikuti, termasuk oleh umat yg tidak terbiasa dengan bahasa tersebut. Yang berkesan bagi saya adalah bagaimana berbagai bahasa dan budaya ini mempererat persatuan kita sebagai satu Gereja. Di berbagai kesempatan yang lain juga banyak seminar dan lokakarya yang memperkenalkan liturgi dari berbagai daerah dan kebudayaan.

    Mengalami itu semua, saya tergerak untuk menyelami lebih dalam bagaimana liturgi Katolik di negeri sendiri, apalagi dengan beragamnya budaya yang ada di Indonesia. Saya berencana berlibur ke Indonesia dari akhir November sampai pertengahan Januari. Besar harapan untuk mengalami sebanyak mungkin berbagai macam liturgi Katolik dalam budaya setempat, tidak harus dalam misa, devosi2 dan doa2 juga termasuk.

    Saya dibesarkan di Jakarta dan inkulturasi yang saya tahu hanya lagu gaya Jawa, Flores, dsb. dari Madah Bakti, yang seringkali dinyanyikan oleh koor yang tidak terbiasa menyanyikan lagu tsb sesuai budaya asalnya. Karena itu saya mencari informasi jika anda tahu di mana saja saya bisa menemukan hal2 tsb dan kapan waktu yang paling baik untuk menyaksikannya. Atau mungkin malah berbincang-bincang dengan para tokoh seperti Karl E Prier atau Paul Widyawan, saya tertarik sekali untuk mendengar langsung pengalaman mereka.

    Dari beberapa teman di internet, saya sudah mendapatkan saran untuk ke ganjuran, sumur kitiran mas sleman, gereja jalan kepundung denpasar, dan kampung sawah jakarta. Mungkin saya akan ke sumba juga karena ada kenalan pastor di sana. Kalau tidak salah Lambertus aslinya dari Flores? Apakah ada tempat2 khusus di sana yang bisa saya kunjungi? Atau mungkin di sekitar surabaya karena anda tinggal di sana sekarang?

    Terima kasih sebelumnya atas bantuan anda. Mudah2an kita bisa bincang2 lebih banyak lagi.

    Sam

    ReplyDelete
  4. Oke, Samuel, jawaban sudah dikirim via email. Terima kasih.

    ReplyDelete
  5. Halo (Mas, Om, Pak) Lambert,
    Pertama-tama saya harus sampaikan apresiasi utk adanya Blog ini, terima kasih Bung Lambert. Saya belum pernah berkunjung ke suatu blog yang betul2 syarat informasi seperti ini. Anyway, saya suka sekali dengan lagu2 misa bernuansa Flores. Apakah saya bisa dapatkan lagu2 tersebut dalam bentuk partitur. Lagu2 yg saya maksudkan bukan lagu misa yang ada di Madah Bakti atau Puji Syukur, tetapi diluar ordinarium. Saya ingat satu lagu : Kupersembahkan, arranged by Marthin Runi. Yah lagu2 seperti itulah. Terima kasih banyak sebelumnya. awidodo@enu.edu.au, Armidale-Oz.

    ReplyDelete
  6. Wow, terima kasih atas apresiasi sampean. Panggil nama sajalah, Lambertus atau Hurek atau Bernie, kayak di USA atau Eropa. Gak usah embel2 Mas, Om, Pak, Paman, Kakang, Kakek... hanya bikin susah. Saya punya kenalan orang USA, 70an tahun, tak sudi dipanggil Mister atau Bapak. Cukup nama saja.

    Lagu Kupersembahkan karya Martin Runi saya punya. Martin Runi komposer yang sangat produktif, melodinya kuat, enaklah. Dia pun sangat mewarnai lagu2 liturgi di Flores dan Indonesia umumnya.

    Saya akan minta teman untuk nyeken, karena saya gaptek, untuk dikirim ke Bung Eddy. Kalau harus nyeken partitur2 lain, wah abot banget Cak, gak sempet dan memang gak iso. Sekali lagi, terima kasih atas apresiasi sampean. Salam damai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lamber, salam kenal Tuhan Memberkati mu. Saya mau repotkan anda sedikit sekiranya tdk menyita waktu anda.
      Jadi gegini, saya mau minta teks lagu dan syair dengan judul SEBUAH ZIARAH karya Pater Piet Wani SVD. mudah2an Anda ada simpan filenya.

      reff syairnya sbb:
      Biarkanlah kami menjadi saksimu.....
      Bagai dian dipersadamu indah
      Pembawa kasihmu abadi
      Cintamu paling bestari tiada ... bertepi
      dstnya

      Sekali lagi mhn maaf ya kalau saya menganggu waktu anda. Kalau Anda mempunyai filenya dengan sangat mengharap agar bisa di emailkan ke saya dengan alamat : chowsusang@yahoo.com.

      Salam dan doa kami.
      Agustinus Sutarsang - Meliau KALBAR

      Delete
    2. Salam damai Mr Chow,
      Saya tidak punya partitur lagu tersebut. Kayaknya akan lebih baik kalau sampeyan hubungi pastor2 atau aktivis paduan suara di Flores.

      Mungkin ada kawan yang bisa bantu? Terima kasih.

      Delete
  7. ama lambert, bagus sekali tulisan ama. Lagu-lagu gereja gaya flores memang sederhana. Kesederhanaanya itulah terletak keindahannya - artinya bisa cepat mengumat atau gampang dimengerti. lagu-lagu gereja gaya flores itu lebih enak kedengaran kalau dinyanyikan oleh semua umat. Pernah waktu liburan ke kampung istri saya kebetulan bukan orang Indonesia - sangat terkesan dengan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh umat setempat selama upacara liturgi. semua orang dengan spontan menyanyikan dengan bagian suara (1,2,3,4). kedengaran sangat harmonis. Sangat tidak merdu kalau lagu-lagu ini hanya dinayayikan oleh beberapa orang saja. Ya itulah keunikan lagu-lagu gereja gaya flores dan kita bersyukur bahwa orang seperti P. Piet Wani SVD dan yang lain-lainnya telanh merintis ini. Kami di Pilipina selalu bertemu bersama dan merayakan misa bersama karena saat- saat inilah kami menyanyikan lagu-lagu gereja gaya flores...ina tua ee ..inga kampung kalo so denga gini ni..apalgi ada orang baru bale dari kampong bawa jagong titi...nah tambah RW hmmmm ena

    franskupangujan

    ReplyDelete
  8. Terima kasih atas komentar Ama Frans yang bernas dan memperkaya informasi. Good luck.

    ReplyDelete
  9. bung, thanks atas paritur dari almarhum romo piet wani. good luck.

    wahyu, bandung

    ReplyDelete
  10. mas, thanks atas infonya. sangat disesalkan kalau informasi mengenai pengarang lagu tersebut tidak termuat di buku lagu Madah Bakti. Di situ hanya tertulis Misa syukur, dll. Sampai kita pengguna buku tidak tahu siapa penulis yang sebenarnya. Juga banyak beberapa lagu yang selalu "disembunyikan" nama pengarang aslinya dan diganti label pengarang menjadi "lokakarya musik liturgi". Memang kita, baik awam maupun institusi gereja belum terlalu menghargai HAKI seseorang.

    ReplyDelete
  11. Alma, terima kasih sudah beropini di sini. Dari dulu PML Jogja memang kurang teliti dalam soal hak cipta, copyright. Nama penulis lagu dan lirik tidak ditulis apa adanya, sehingga hak-hak ekonomi dari musisi terabaikan. Royaltinya bagaimana?

    Sampai sekarang yang bikin saya ketawa adalah lagu populer Minggu Palem: "Di Kala Yesus Disambut di Gerbang Yerusalem". Orang-orang yang sering lihat konser atau resital klasik tahulah bahwa lagu itu terjemahan The Holy City terjemahan karya Stephen Adams. Tapi versi Madah Bakti beda banget.

    Aneh karena orang-orang PML sebetulnya musikolog, begawan musik liturgi, musik klasik. Saya tunggu opini-opini musik yang kritis khas Alma. Salam damai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena dulu memang HAKI belum diberlakukan. Lagian dalam hal ini PML cuma penerbit. Entah kalau produk2 yang baru

      Delete