02 November 2008

M. Thalib Prasojo



Di usia 77 tahun, M. Thalib Prasojo tetap bersemangat. Energi keseniannya meluap-luap. Alih-alih pensiun atau menghabiskan masa senja dengan bersantai atau ngemong cucu di rumah, Thalib Prasojo justru membuka padepokan seni rupa di Perumahan Magersari Permai U/7 Sidoarjo. Setiap hari dia menggarap patung, membimbing anak-anak muda, dan keluyuran membuat sketsa.

Thalib bahkan menantang anak-anak muda. “Saya mau lihat apakah stamina saya masih bisa mengimbangi anak-anak muda. Hehehe,” ujar Thalib Prasojo yang saya temui di padepokannya kemarin. Berikut petikan percakapan dengan pria yang akrab disapa Eyang Thalib ini.

Sejak kapan Anda membuat padepokan seni di Magersari? Selama ini biasanya Anda berkarya di rumah atau bikin sketsa langsung di lapangan?

Sejak Februari 2008. Ini sudah jadi obsesi saya sejak lama. Apalagi, sekarang saya merasa betul-betul sudah kaya.

Sudah kaya?

Iya. Benar-benar kaya ide. Kaya ide itu nilainya tidak bisa dibandingkan dengan materi. Sekarang saya harus memberi waktu sepenuhnya kepada anak-anak muda. Mereka yang belajar di sini, termasuk ibu-ibu rumah tangga, tidak harus jadi seniman. Tapi paling tidak punya apresiasi seni. Kalau tahu seni, ibu-ibu itu lebih punya estetika. Cara menata piring, gelas, lemari... akan berbeda.

Mungkin ini kelihatan kecil, hal-hal sepele, tapi justru sangat penting. Jangan lupa, virus dan kuman itu sangat kecil, tapi pengaruhnya sangat besar.

Apakah ini semacam obsesi lama Anda?

Bisa dikatakan begitu. Waktu kecil saya punya tetangga yang pintar gambar. Saya ingin belajar gambar sama dia. Setiap kali saya datang ke rumahnya, pintunya ditutup. Saya hanya ditemui di teras. Saya merengek-rengek minta belajar mengambar.
Tapi dia bilang tidak bisa. “Kalau kamu belajar gambar, nanti jadi saingan saya.”

Sejak itu saya punya obsesi. Kalau bisa menggambar, saya akan membagikan kepada siapa saja yang mau. Saya tidak takut punya saingan. Punya saingan itu malah bagus. Orang menikah itu kan supaya dapat saingan. Kenapa takut? Hehehe.... Nah, padepokan ini wujud pembalasan dendam saya. Sekarang saya total, 100 persen, mengajar di sini. Dan--ini yang penting--saya tidak memungut biaya apa pun. Gratis!

Sudah banyak anak-anak muda yang belajar di sini?

Alhamdulillah, banyak. Ada dua macam murid saya, yaitu cantrik dan siswa. Cantrik itu mereka yang berguru, siang malam berkarya, makan minum, tidur di sini. Mereka ada sekitar 15 orang. Selain belajar seni rupa (menggambar, sketsa, patung, instalasi), juga belajar filsafat dan hakikat hidup.

Kalau siswa itu anak-anak SD sampai SMP. Mereka belajar hanya hari Minggu. Saya kasih dasar-dasar seni rupa seperti volume, proporsi, gelap-terang, bentuk. Setelah itu mereka bebas berkarya, diskusi, dan ada kritik seni. Siswa diberi kesempatan untuk bicara, mempertahankan pendapatnya. Mereka dan saya kan sama saja hanya beda usia dan pengalaman. Jangan dikira anak-anak muda itu kalah sama orang tua. Belum tentu.

Anda banyak membuat patung-patung di Surabaya sejak 1970-an. Apa masih punya keinginan untuk mengisi ruang-ruang publik dengan patung?

Oh, jelas. Tapi saya ingin agar patung-patung itu punya karakter Indonesia, bukan karakter asing. Makanya, semua patung yang saya buat di Surabaya itu selalu figur pahlawan. Mulai tahun 1978 saya buat (patung) Akabri Laut di Bumimoro. Kemudian di Grahadi (1980), WR Supratman (2006), Pahlawan Tak Dikenal di Tugu Pahlawan (2007), semuanya pahlawan. Surabaya ini disebut Kota Pahlawan, maka patung-patungnya pun kalau bisa menggambarkan sosok pahlawan Indonesia. Bukan pahlawan Romawi atau Yunani.

Mengapa tidak bikin patung besar-besar seperti di Monumen Jalesveva Jayamahe?

Itu yang bikin sudah kelas PT (perseroan terbatas, Red). Miliaran rupiah itu. Saya cukup yang sedang-sedang saja. Saya tidak punya PT. Hehehe.... (*)



Patung WR Supratman karya Pak thalib.

SIKAP berkesenian Thalib Prasojo yang ulet dan keas tak lepas dari gemblengan Akademi Seni Rupa Surabaya alias Aksera. Akademi yang didirikan sejak 1960-an ini terbukti menelurkan banyak pelukis yang konsisten sampai akhir hayat. Menurut Thalib Prasojo, suasana belajar di Aksera memang sangat demokratis meskipun sistem politik waktu itu diwarnai indoktrinasi ala Orde Lama.

“Orang-orang Aksera itu militansinya tinggi. Sampai sekarang pun mentalnya tetap kokoh dan independen,” ujar pria 77 tahun itu. Eyang Thalib, sapaan akrab perupa senior ini, tampak berbinar-binar mengenang kejayaan Aksera tempo doeloe.

Mengapa Aksera sangat militan dan independen? Menurut Thalib, ini tak lepas dari latar belakang para pengelola akademi yang dulu bermarkas di Balai Pemuda itu. Mereka-mereka itu, kata Thalib, tidak dapat tempat di rezim Orde Lama dan Orde Baru. “Orde Lama tidak diterima, Orde Baru juga disingkirkan. Maka, ketika dapat kesempatan untuk berpendidikan, ya, habis-habisan,” tegasnya.

Sayang, Aksera ditutup pada 1974 karena gagal memenuhi syarat sebagai lembaga pendidikan tinggi versi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Gedung tidak punya. Begitu juga perangkat-perangkat keras lain. Thalib besama para eks Aksera pun berproses sendiri di berbagai tempat. “Komunitas Aksera tetap ada meskipun kampusnya sudah gak ada,” kenangnya.

Setelah rezim Orde Baru tumbang, Thalib dan kawan-kawan berusaha menghidupkan kembali Aksera. Kampusnya di kawasan Dukuh Kupang. Ternyata, zaman sudah berubah, konstelasi kesenian pun sudah lain sama sekali. Obsesi orang-orang lama menjadikan Aksera seperti era 1960-an dan 1970-an pun tak tergapai. “Mahasiswanya hanya dua orang. Bagaimana bisa berkembang,” kata Thalib lalu tertawa kecil.

Toh, Thalib Prasojo mengaku tidak berkecil hati. Saat ini dia dan para perupa senior alumni Aksera sedang mempersiapkan pameran bersama. “Saya sih sudah siap. Tinggal cari waktu yang pas saja,” katanya.



Patung Gubernur Soerjo karya Pak Thalib.

M. THALIB PRASOJO

Lahir: Bojonegoro, 17 Juni 1931.
Istri: Sri Mulya Jumlah.
Anak: lima orang.
Studio: Perum Magersari Permai U/7 Sidoarjo.

KARYA PATUNG
Pahlawan Tak Dikenal, Jl M Duryat.
Gubernur Soerjo, Taman Apsari.
TNI AL, Bumimoro.
WR Soepratman, Jalan Kenjeran.
Pejuang 10 November, Tugu Pahlawan.
Swarapalo, Surabaya.
Udang dan Bandeng, Trosobo, Taman.

PENGHARGAAN
Gubernur Jawa Timur.
Wali Kota Surabaya.
Panglima Armada Timur.
Sejumlah lembaga swasta.

2 comments:

  1. salu sama pak thalib. moga2 bisa jadi inspirasi generasi muda.

    frans

    ReplyDelete
  2. alhamdulillah ketemu lagi di dunia maya. aku sekarang di jember mas, meh pensiun dua suk 2011. Yen alumni sekolah minggu aksera pengin kontak bisa neng facebook "alumni sekolah minggu aksera" kesuwun.
    imansuligi@gmail.com
    www.imansuligi.@multiply.com

    ReplyDelete