02 November 2008

Komunitas classic rock di Surabaya



“Rocker sejati tak pernah tua. Mati boleh, tua jangan,” begitu kata-kata Achmad Albar, pentolan God Bless. Empat kali seminggu, ratusan penggemar musik rock di Surabaya dan Sidoarjo merayakan rock dari kafe ke kafe. Classic Rock Community pun menjadi komunitas penggemar musik yang paling solid.

LAMBERTUS L. HUREK
hurek2001[at]yahoo.com


Sedikitnya 200 penggemar rock, rata-rata berusia 40-60 tahun, memenuhi Griya Kopi Sidoarjo, Jumat malam. Berbeda dengan kafe atau resto umumnya yang tertutup, kafe di depan Gelora Delta ini tak punya dinding. Ada panggung dengan sound system lumayan, meja-meja penunjung baik di dalam maupun depan kafe.

Saking penuhnya, sekitar 50 orang duduk lesehan di pelataran Monumen Ponti. “Di sini memang paling ramai karena tempatnya luas. Tiap malam Sabtu, ya, begini ini,” ujar Suhartono alias Elton, pemain bas Shadow Band, kepada saya. “Dan kami siap melayani reques dari pengunjung. Lagu apa saja asalkan classic rock kami layani, sepanjang ada waktu,” tambah Erwin, vokalis band spesialis nomor-nomor classic rock itu.

Elton dan Erwin, dua pemusik gondrong-ikal, berusaha menyapa para pengunjung kafe dengan ramah. Jarak antara artis dan penonton seperti tak ada. Pengunjung pun tak segan-segan menyampaikan masukan tentang sound system, stage act, improvisasi, hingga suara cymbal yang kurang sempurna. “Simbalnya kok kedengaran bagus banget,” tukas Sahara disambut tawa Syamsul, sang drummer.

Sebelumnya, selama hampir dua jam, Elton dan kawan-kawan menghangatkan suasana malam yang mendung itu dengan nomor-nomor cadas legendaris. Nomor-nomor hit milik supergrup mancangera macam Deep Purple, Helloween, Metallica, Van Hallen, Scorpion, Europe, Guns n’ Roses, Led Zepellin, Queen, Judas Priest, Bon Jovi... dibawakan dengan apik oleh Erwin bersama dua vokalis pendamping Galuh dan Shirley. Para pengunjung yang rata-rata mengalami masa muda pada 1970-an dan 1980-an ini merespons semua komposisi classic rock.

“Si Sahara ini maniak banget sama Deep Purple. Kalau diberi kesempatan nyanyi, dia pasti bawain lagu-lagunya Deep Purple,” ujar Erwin sambil menjabat tangan Sahara. Pria yang tinggal di Pondok Jati ini pun tertawa ngakak. “Vokal saya itu nggak bagus, tapi pas dengan Deep Purple. Soalnya, saya suka rock sejak remaja,” kata Sahara kepada saya.

Usai break selama 40-an menit, Shadow Band kembali ke panggung. Galuh mengambil kertas kecil. “Selamat malam semua! Ini ada request dari Mr John from Philippina: Coccaine! Beri tepuk tangan untuk Mr John,” teriak sang lady rocker. Tanpa banyak basa-basi pria setinggi 160-an sentimeter ini naik panggung, mengambil mikrofon.

Lantas, terdengar suara sang ekspatriat Filipina yang sangar, tapi enak. Nomor hit Eric Clapton ini dibawakan dengan baik. Suaranya tidak kalah dengan penyanyi beneran. “Memang komunitas ini banyak yang bisa nyanyi, bahkan juga mantan player. Kalau ada player, ya, kami ajak untuk menghibur teman-teman semua,” ujar Elton, pemusik rock yang tak asing lagi di Jatim sejak 1980-an.

Rabu malam, sebagai misal, gitaris Rock Tricle, Herman, tiba-tiba ditodong untuk memperlihatkan kebolehannya di Tropiz Cafe, kompleks Sun City. “Aku sudah 10 tahun gak gitaran kok ditodong Erwin. Yah, saya coba saja, siapa tahu masih kuat,” ujar Herman. Basa-basi ala rocker lah. Buktinya, Herman masih bisa mengiringi empat lagu dengan baik.

Selain di Griya Kopi dan Tropiz Sidoarjo, Classic Rock Community mangkal di My Way (Jalan Tidar Surabaya) dan Makan Time (Jalan Dinoyo Surabaya). Komunitas rock klasik ini, meski solid, tidak kenal formalitas. Tak ada member card, pengurus, dan sebagainya. “Rocker itu bebas, tapi solidaritasnya tinggi,” kata Elton.

Awalnya tidak ada rencana untuk menghimpun para penggemar classic rock secara rutin, apalagi empat kali sepekan di Surabaya dan Sidoarjo. Pada 2006/2007 ketika kafe-kafe marak, pemusik ngeben untuk meramaikan suasana. Jenis musiknya macam-macam: pop lawas, top 40, classic rock, dan sebagainya. “Lama-kelamaan seperti terjadi seleksi alam. Ada penyaringan, sehingga teman-teman penggemar classic rock merasa perlu bikin acara khusus,” jelas Elton.

Dan, selama dua tahun terakhir muncul semacam fanatisme di kalangan penggemar classic rock. Mereka selalu hadir di mana pun Shadow Band atawa grup classic rock lain tampil. “Coba Anda perhatikan meja di tengah itu,” ujar Sahara sambil menunjuk selusin ‘jamaah’ di depan pintu masuk Griya Kopi. “Mereka itu maniak betul sama classic rock. Pokoknya, di mana ada Shadow, di situ ada mereka,” ujar Sahara.

Sayang, penggemar mobil tua ini tidak bisa tampil membawakan lagu Deep Purple di atas panggung. Maklum, request terlalu banyak dan si Filipina dianggap sudah mewakili penggemar. “Padahal, saya sudah siapkan dua lagu. Hehehe,” pungkas Sahara.

17 comments:

  1. hebat rocker arek2 sby! rock never die!!!!!!!!! Juancuk tenan!

    ReplyDelete
  2. Bravo Classic Rock, ayo ramekno rek.


    Wong Jambi(jaman Biyen)

    ReplyDelete
  3. hehehe.. aq yo wong jambi (jaman biyen). pokoke rock ojo sampek matek nang suroboyo.

    cak kentrung

    ReplyDelete
  4. aq setuju 100 persen. musik rock gak boleh mati. sayang, skrg rock gak gebyar kayak jaman 90an dan 80an. kapan rock bangkit lagi????

    ReplyDelete
  5. bagus,kobarkan semgat rock di indonesia. etuju banget.soalnya gue jugalagi belajarbikin blognih,tapi juga belum keren banget,perlu banyak diperbaharui.kalomau kasih koment,hehe gue butuhbanget sih,buat ngembangin gaya tulisan gue.www.immagz.blogspot.com

    ReplyDelete
  6. rock!!! rock!!! rock!!!

    ReplyDelete
  7. POKOK'E KOBARKAN SEMANGAT ROCK KAYAK JAMBI HEAVY METAL, SPEED METAL THRAST METAL

    ReplyDelete
  8. Pesen buat temen2 yg buat acara untk festival/lomba musik rock, tlong dong.. waktu TM jelasin dulu pada adik2 kita yg baru yg suka musik rock, apa arti musik rock biar nggak salah persepsi,karena saat ini byk aliran musik yg mengatas namakan musik rock, dan kasih batasan2 musik rock mana yg menjadi kiblat menurut penyelengara biar lebih pas dan tidak menyimpang dr harapan kita untuk memainkan musik rock dg terarah dan benar

    oke... salam metal....

    ReplyDelete
  9. Hurek apa kabarmu, sekarang nulis rock juga yah ..:P
    kangen jadi wartawan lagi hehe:P

    ReplyDelete
  10. Baik-baik aja Mas Said, guru internet pertama saya. Nulis rock sekadar iseng, soale Mas Ibnu Rusyidi Sahara ikut jadi bintang tamu di komunitas ini. Mas Ibnu itu spesialis Deep Purple. Gak nyangka enak nyanyinya. Hehehe...

    Kangen jadi wartawan lagi? No comment. Hehehe

    ReplyDelete
  11. hi semua.
    mampir ke blog kita ya.

    www.vangguard.blogspot.com

    tq.

    ReplyDelete
  12. wl usia da 40an...namun jiwa metal trus mengalir tak surut...Metal Never Die.......

    ReplyDelete
  13. heavy metal,trash metal n speed metal selalu lengket pd kulit tubuhku,wl usia ku da 40 taon lbh

    ReplyDelete
  14. ikutan ya... like di kenangan rocks 80's di facebook... berbagi pengetahuan tentang musik rock

    ReplyDelete
  15. Salam Metal \m/

    Maaf numpang promo yaa gan smua

    Now Open Red Bridge Studio
    Jln.Kedung Cowek no.9 lt.2 suramadu surabaya, berletak ke arah suramadu, arah kiri, pinggir jalan (ruko)

    Cp: Gustav 083852444666
    Pin bb: 748B9C5F

    Instrument:
    Yamaha stage custom drum, schallop cymbals, sabian cymbal, dw3000 pedals, hk amp, marshall amp, fender bass amp, aria guitar, ibanez guitar, ibanez 5string bass, zoom effect, boss digital metalizer pedal, shure&behringer mic

    Senin-Rabu Rp.30.000/shift
    Kamis-Minggu Rp.35.000/shift

    Let's rock sby!!! \m/ \m/

    ReplyDelete
  16. Band2 lawas sudah kehilangan ruang untuk main.
    Shadow juga gak seaktif 5 tahun lalu.

    ReplyDelete