01 November 2008

Hartono, bos Akar Jati Sidoarjo

Kamis malam saya cangrukan bersama Hartono Aje di Akar Jati Sidoarjo. Mas Har pemilik kafe sekaligus galeri kecil di dekat Gelora Delta, Jalan Lingkar Barat Sidoarjo itu. Diiringi organ tunggal, lagu keroncong, kami bercerita ringan tentang berbagai persoalan di Sidoarjo.

Politik, pilkada, lumpur, dewan kesenian, komunitas pelukis (teman-temannya Mas Har), hingga kepiting kalikajang yang lezat. "Mau jadi apa Indonesia tahun depan? Saya baru saja diundang ke DPRD Sidoarjo. Saya kecam habis-habisan dewan yang gak jelas orientasinya. Kasihan rakyat," ujar teman asal Tuban ini.

Hartono ini aslinya dokter hewan, tapi ilmunya tidak pernah dipakai. Diajak bicara penyakit-penyakit hewan, flu burung, sapi gila... paling malas dia. Ini karena sejak lama dia memilih hidup dari kesenian. Paling suka seni kriya dari bahan kayu jati. Rumah-rumah tua Jawa, lukisan, musik (meski suaranya fals), dan apa-apa yang berbau seni.

"Seni itu membuat hidup kita jadi indah. Politik membuat hidup kita ruwet. Hehehe," kata Mas Hartono lalu tertawa kecil.

Saya tahu kalimat pertama itu dikutip dari Pak Win Hendrarso, bupati Sidoarjo. Hartono hafal benar kata-kata Pak Win karena memang dia bekas ketua Dewan Kesenian Sidoarjo. Posisi ini membuatnya sering diundang Pak Win dan instansi-instansi penting di Kabupaten Sidoarjo. "Saya sudah kapok jadi ketua dewan kesenian. Uangnya tidak ada, tapi tiap hari dihantam sama teman sendiri. Hehehe..."

Nama Akar Jati sempat mencorong di Sidoarjo pada 2003 sampai 2005. Waktu itu Mas Har menjadikan Akar Jati sebagai kafe plus arena kesenian. Lukisan-lukisan para pelukis Sidoarjo dipajang di kafe. Diskusi kebudayaan rutin diadakan. Juga acara-acara hiburan layaknya kafe hiburan. "Omzetnya naik cepat sekali," kenang Mas Har.

Ketika musik dangdut booming, Inul Daratista naik daun, kafe dangdut bermunculan di Sidoarjo. Mas Har pun tergoda dengan dangdut. Akar Jati pun didangdutkan. Orkes-orkes dangdut dihadirkan secara bergantian. Tentu saja, ehm... minuman keras dan cewek-cewek penikmat dunia malam berdatangan. Tiap malam selalu ramai baik musik maupun ocehan pengunjung.

Tapi rupanya dangdut bukan dunia Mas Har. Teman-teman lama yang seniman, budayawan, wartawan, pejabat... pelan-pelan meninggalkan Mas Har. Pria berbadan subur ini memang punya teman-teman baru, komunitas dangdut, tapi pola pikir dan filosofinya beda. Penikmat dangdut di kafe-kafe malam, sudah jadi rahasia umum, doyan mabuk dan hidup tak karuan. Suka obral cinta remeh-temeh.

"Waduh, Bang, dulu kisruh melulu waktu Akar Jati saya jadikan kafe dangdut," tutur Mas Har. Ada istri yang mengamuki suaminya yang tepergok selingkuh dengan wanita malam. Kemudian perkelahian brutal berdarah-darah. Mas Har yang menekuni seni patung ini mengaku tak ingin mengenang masa-masa kelam pada pertengahan 2005 hingga 2006 itu.

Akar Jati pun bangkrut. Kalah bersaing dengan kafe-kafe sejenis di kompleks Gelora Delta dan beberapa tempat lain di Sidoarjo. Sebab, sepanas-panasnya goyang dangdut di Akar Jati, belum sehebat di kafe-kafe lain. Mas Har kalah nekat.

"Di tempat lain malah 'disediakan' cewek. Makanya, orang lebih suka ke tempat lain ketimbang Akar Jati yang dindingnya serba terbuka," ujar Jerry, teman asal Maluku, 'pengamat' dunia malam di Sidoarjo dan Surabaya.

Selama dua tahun lebih Hartono 'puasa' dari kafe dan gebyar hiburan malam. Akar Jati tinggal nama saja. Aneka kerajinan jati diringkas, dilego ke mana-mana. Tapi, itu tadi, Hartono mustahil bisa dipisahkan dari komunitas seniman Sidoarjo. Akar Jati itu identik dengan Hartono. Maka, Mas Har dikenal dengan nama Hartono Aje (Akar Jati).

Dia bikin pondok kecil di depan rumahnya. Bahannya tetap kayu jati, atap alang-alang, ada taman. Arena kecil untuk sekadar cangkrukan, minum kopi, menikmati kepiting kalikajang. Demi mengusir sepi, Mas Har beberapa kali menundang teman-teman pelukis untuk menggambar bersama di pondok Akar Jati. Model cewek, setengah tua, tidak manis, didatangkan. Lalu, bakar sate ramai-ramai.

"Saya ingin gairah berkesenian tetap ada di Sidoarjo. Kita perlu gerilya kecil-kecilan," ujar Mas Har. "Hartono itu bisa mati kalau dijauhkan dari kesenian. Darahnya sudah darah kesenian meskipun dia bukan seniman," nilai Bambang Haryadjie, pelukis senior yang tinggal di Sidokare.

Sajian musik hidup diakhiri dengan lagu Keagungan Tuhan karya Pak Malik Bz. "Insaflah, wahai manusia, jika dirimu bernoda. Dunia hanya naungan 'tuk makhluk ciptaan Tuhan," begitu lirik awal lagu religius ini. Pemusik asal Makassar, tapi lahir di Jakarta dan besar di Jawa Timur, kemudian meringkas instrumennya.

"Saya benar-benar insaf. Kapok ngadakan dangdut di Akar Jati," sebut Mas Har.

"Kenapa? Dangdut kan banyak penggemarnya di Sidoarjo ketimbang musik lain?" pancing saya.

"Komunitasnya itu tidak bisa lepas dari kerusuhan. Musik dangdut sih baik, tapi disalahgunakan oleh penggemarnya di dunia malam. Saya kapok, Bang," ucap Mas Har serius.

Hartono baru saja mendandani Akar Jati. Nuansa seni kriya jati dikembalikan. Beberapa lukisan dipajang di dinding kayu jati. Dan, ini menarik, dia membuat miniatur Candi Pari di belakang panggung. Candi Pari itu candi kebanggaan penduduk Kabupaten Sidoarjo yang berlokasi di Kecamatan Porong, sekira lima kilometer dari lokasi bencana lumpur lapindo.

Miniatur candi itu dibuat dari gabus dan semen. "Saya mau bikin air terjun mini di bawah pintu gerbang Candi Pari," ujar Mas Har sambil tersenyum.

Untuk menemani pengunjung menghabiskan malam, Mas Har mengaku sudah menyiapkan musik Latin. Pemainnya Tjutjuk Hariono dan beberapa pemusik Sidoarjo. Audisi sudah pula dilakukan. "Saya nilai kualitas mereka bagus. Kalau digembleng terus, insyaallah, semakin maju," katanya.

Pukul 00.30 hujan yang mengguyur Sidoarjo di akhir Oktober ini reda. Saya pun pamit meski belum ngantuk. Saya mendukung penuh upaya Mas Har menghidupkan kembali Akar Jati sebagai salah satu kantung kesenian di Sidoarjo. Lokasi strategis, menu khas hasil tambak Kalikajang di Kecamatan Candi tentu sangat menunjang.

Satu hal yang perlu diingat Mas Har: business is business! Bisnis tidak akan jalan jika dikelola secara "kekeluargaan" macam dulu. Siapa pun dia--pelukis, wartawan, budayawan, teman--harus bayar kalau makan atau minum di Akar Jati. Tunai! Tidak bisa gratisan seperti dulu-dulu.

Hartono sebagai manajer Akar Jati harus TEGA mendidik para seniman untuk menghidupi kantung kesenian. Caranya, ya, makan harus BAYAR. Mental gratisan, prodeo, justru mematikan galeri, kafe, resto, atau apa pun namanya.

Selamat berjuang, Mas Har!

1 comment: