09 November 2008

Didit Hape pahlawan anak negeri di Surabaya



Sudah sembilan tahun Didit Hari Purnomo alias Didit Hape bergelut dengan ratusan, bahkan ribuan 'anak negeri' di Surabaya. Selama itu pula Didik aktif mempopulerkjan istilah 'anak negeri' sebagai pengganti 'anak jalanan'.

"Sebutan anak jalanan itu melanggar konstitusi. Kalau ada pegawai negeri yang hidupnya dibiayai negara, mengapa tidak ada anak negeri?" ujar Didit seraya mengutip pasal 34 UUD 1945.

Sayang, sampai hari ini anak-anak telantar belum bisa disantuni negara. Alih-alih dipelihara dan dididik, anak-anak negeri itu kerap menjadi korban razia aparat. Toh, Didit Hape tak berputus asa. Bersama Sanggar Alang-Alang yang dibentuknya pada 16 April 1999, Didit tetap antusias mengentaskan anak-anak negeri yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang keluarga itu.

Berikut petikan percakapan LAMBERTUS L. HUREK dengan Didit Hape di rumahnya, kawasan Dukuh Pakis Surabaya, Sabtu 8 November 2008.

Apa masih aktif di TVRI?

Saya sudah pensiun sejak 14 September lalu. Jadi, sekarang saya konsentrasi untuk mengurus anak-anak negeri di Sangar Alang-Alang. Kami punya beberapa program lagi yang perlu dikembangkan. Alhamdulillah, saya baru saja dapat undangan dari (Penjabat) Gubernur Jawa Timur untuk menghadiri acara penyerahan Anugerah Pahlawan. Saya salah satu yang dipilih. Pahlawan tanpa senjata. Hehehe....

Sekarang berapa jumlah anak-anak negeri di Alang-Alang?

178 anak. Mereka datang dari berbagai daerah di Jatim, bahkan luar Jatim. Kita tetap mendampingi mereka dengan program khas Alang-Alang sampai usia 17 tahun. Pada usia 18 mereka harus keluar untuk menata hidup masing-masing. Lulus dari Alang-Alang, anak-anak itu tidak dapat ijazah, tapi kecakapan hidup. Mereka juga dibekali dengan etika, estetika, dan agama.

Selain pembinaan anak-anak negeri yang sudah tersistem selama sembilan tahun, apa ada program baru?

Ada. Namanya PAUD: pendidikan anak usia dini. PAUD ini kita kombinasikan dengan BOT: bimbingan orang tua. PAUD bukan play group, tapi taman kanak-kanak. Istri dan anak saya (Budha Ersa dan Wuri Pramesti) yang turun langsung menangani PAUD.

Mengapa Anda merasa perlu membuat TK?

Begini. Sekarang ini di mana-mana muncul banyak keluhan dari masyarakat karena biaya masuk TK itu ternyata lebih mahal ketimbang masuk SD. Keluarga miskin jelas tidak punya biaya. Untuk makan sehari-hari saja susah. Lha, kalau anak-anak tidak bisa masuk TK biasanya sulit diterima di SD. Akhirnya, anak-anak itu keleleran di terminal, lampu merah, dan sebagainya.

Kalau kita tidak antisipasi, ya jumlah anak negeri tidak akan pernah turun. Makanya, saya membuat TK gratis untuk anak-anak miskin di sekitar Alang-Alang.

Sistem pendidikannya sama dengan TK biasa?

Lain. Mereka sekolah sore hari, pukul 15.00 sampai magrib. Pertemuan dua kali seminggu di Sanggar Alang-Alang. Dan orang tua harus ikut belajar bersama anaknya. Ini penting agar sejak dini anak-anak mendapat kasih sayang orang tua. Kita ingatkan bahwa anak itu bukan hanya manusia kecil, tapi titipan Tuhan yang harus disayangi.

Bagaimana respons warga?

Oh, antusias sekali. Sekarang ada 40 anak dan ibunya yang belajar di PAUD. Alhamdulillah, hasilnya cukup bagus. Alumni PAUD bisa diterima di berbagai SD. Tidak ketinggalan dengan anak-anak yang sekolah di TK biasa. Bahkan, SD Sawunggaling V selalu menampung anak-anak kami.

Bagaimana pula dengan Sekolah Perawan (Perempuan Rawan)?

Wah, perkembangannya luar biasa. Kita launching tanggal 21 April 2006, sekarang sudah 500 lebih peserta. Mereka perempuan-perempuan rawan, khususnya pekerja rumah tangga. Wuri yang langsung jadi koordinator di lapangan. Kita punya dua unit mobile school untuk memberikan bimbingan dan pendampingan kepada para PRT.

Di luar dugaan, program ini mendapat penghargaan dari Korea Selatan. Hadiahnya antara lain berupa uang, dan itu dipakai membeli mobil untuk pengembangan program ini. Ternyata, Tuhan itu punya cara yang sangat halus untuk membantu kami. Alhamdulillah.

Dukungan Pemkot Surabaya bagaimana?

Kami dapat support yang besar dari PKK. Ibu Dyah Katarina sangat mendukung sehingga kami dapat akses untuk mendatangi berbagai perumahan di Surabaya. Bagaimanapun juga support dari Ibu Dyah sangat membantu perkembangan program bimbingan belajar anak ‘perawan’. Beberapa waktu lalu Ibu Dyah mendapat Alang-Alang Award. Ini penghargaan khusus untuk orang-orang yang sangat mendukung program-program Alang-Alang.

Dengan begitu, apakah ancaman trafficking di Surabaya sudah berkurang?

Kita tidak boleh lengah sedikit pun karena trafiicking itu tetap ada. Saya baru baca di koran kasus penjualan perempuan masih marak. Apa yang kami lakukan ini hanya sekadar usaha kecil untuk mengurangi traficking. Ini harus menjadi gerakan bersama semua warga kota dan pemerintah. Sebab, trafficking itu punya jaringan yang sangat kuat dan sistematis.

Bagaimana perasaan Anda mendampingi anak-anak negeri selama hampir 10 tahun?

Sangat bahagia. Sulit mengungkapkan dengan kata-kata. Saat Lebaran yang lalu, setelah salat Id, rumah saya penuh dengan anak-anak saya dari berbagai kota di Jatim. Pagi, siang, malam penuh orang. Ada yang bawa istri, anak, seakan-akan mau melapor kepada saya keluarga bahwa mereka sekarang sudah berhasil. Kalau dulu mengamen di terminal, bus, stasiun... sekarang sudah kerja di tempat lain, bisa membina rumah tangga.

Saya juga merasa sangat haru, meneteskan air mata, ketika Siti dan Dayat, lolos Idola Cilik sampai tingkat nasional. Padahal, saingannya dari sekolah musik atau sanggar seni yang hebat-hebat. Kok anak Alang-Alang yang lolos? Saya sampai tidak bisa bicara ketika diwawancara sama reporter RCTI. Saya hanya bisa berterima kasih dan minta maaf sama Allah. Ini pelajaran kesekian yang saya peroleh setelah membina Alang-Alang.


Apresiasi NHK Jepang

Sebelum bergelut dengan 'anak negeri' alias anak jalanan, Didit Hape banyak dikenal di Jawa Timur sebagai pengasuh Rona-Rona di TVRI Surabaya. Program berdurasi 30 menit ini menarik karena berbeda dengan format acara TVRI pada era 1980-an yang cenderung kaku dan formal.


"Saya ini kan orang yang gak suka formal-formalan. Hobi saya itu bertualang ke mana-mana. Saya banyak menemukan hal-hal menarik dan itu mau saya tayangkan di televisi," cerita Didit Hape.

Reporter kawakan ini ingin agar televisi satu-satunya di Indonesia itu menyajikan program features yang bagus seperti televisi di luar negeri. Berita-berita tentang orang biasa, hal-hal unik, yang tidak formal.

"Saya kemudian menyampaikan masukan kepada pimpinan pemberitaan di TVRI. Tapi mula-mula responsnya kurang baik. Wartawan-wartawan lain pun menganggap program saya itu tidak lumrah," kenangnya.

Meski begitu, dia tetap bertualang ke tempat-tempat di Jawa Timur, kadang-kadang luar Jawa Timur, untuk bikin liputan khas. Setelah lobi kanan-kiri, akhirnya liputan Didit mulai ditayangkan di TVRI Surabaya. Nama programnya Rona-Rona. "Saya sajikan hal-hal aneh dan menarik," tutur suami Budha Ersa ini.

Sejak itulah penonton televisi bisa menikmati liputan khas Didit Hape. Binatang aneh, koleksi-koleksi antik, upacara tradisional, budaya lokal, hingga orang-orang sakti. Singkatnya, hal-hal yang tidak umum dan luar biasa. Rona-Rona ternyata disukai penonton. Bahkan, televisi Jepang NHK pada 1992 mengundang Didit ke Osaka karena tertarik dengan Rona-Rona.

"Jadi, apresiasi pertama justru datang dari orang Jepang. Kalau nggak ada Rona-Rona nggak mungkin saya bisa jalan-jalan ke Jepang. Mana mungkin TVRI mau membiayai?" tutur Didit lalu tertawa kecil.

Setelah diundang NHK, petinggi TVRI akhirnya mendukung penuh Rona-Rona. Didit diberi kebebasan dan fasilitas untuk membuat liputan sebanyak-banyaknya dan semenarik mungkin. Awalnya, tayang setiap bulan, tapi karena diminati pemirsa, Rona-Rona tayang setiap pekan. "Saya sampai kewalahan."

Selama 10 tahun lebih Rona-Rona menemani pemirsa setia di Jawa Timur. Didit mengaku mendapat ribuan surat dari masyarakat terkait Rona-Rona. Ada kritik, informasi, saran, dan sebagainya. Didit bahkan dianggap 'orang pinter' atau dukun sakti. Suatu ketika ada orang di Surabaya yang rumahnya didatangi tiga ular besar.

"Pemilik rumah itu datang ke saya. Padahal, saya nggak bisa ngatasi ular. Hehehe," cerita Didit Hape.

Pada awal 1996, Didit Hape fokus pada anak-anak jalanan. Rona-Rona pun meredup. Tayangan masih ada, tapi tidak serutin dulu. "Sekarang program Rona-Rona diteruskan TVRI nasional," katanya.


DIDIT HARI PURNOMO

Lahir : Lumajang, 14 September 1952
Istri: Budha Ersa
Anak: Ramadhani Wuri Pramesti dan Dea Ari
Pendidikan: Akademi Wartawan Surabaya
Karir: Reporter/Produser TVRI Surabaya, Pekerja Sosial

Penghargaan

Program televisi populer versi NHK
Gubernur Jatim
Pahlawan Jatim
Korea Selatan untuk Sekolah Perawan

5 comments:

  1. Sebenernya saya lagi mencari voulenteer job yang bisa dilakukan pada malam hari dan ingin tau lebih banyak tentang sanggar alang2 yang ada di surabaya, siapa tau sanggar alang2 mempunyai programme yang kira2 cocok. Bisa minta no. telp nya

    makasih
    felie_lim@yahoo.co.uk

    ReplyDelete
  2. mau tanya
    berapa kisaran umur anak yang ada di alang alang?
    berapa banyak sukarelawan di alang alang?
    apa saja yang diajarkan untuk membekali anak2 tsb?
    lalu apakah mereka ada yang sekolah?
    klo ada berapa jumlahnya?


    trimakasih

    ReplyDelete
  3. salam indonesia...
    menarik sekali membaca ulasan kepribadian om didit. apalagi, pagi tadi sekitar jam 9. saya dan teman2 kampus bertandang ke rumahnya beliau. kesan pertama begitu menegangkan. tapi, setelah mengobrol dengan beliau, suasana jadi lain. banyak hal yang dibicarakan dari cerita-cerita beliau. hingga membuat kami ber-4 kagum akan kegigihan dan perjuangan beliau dalam merintis sanggar alang-alang.
    satu hal yang kami perolehi, bahwa...
    "aku ingin dekat dengan Tuhan, dengan caraku sendiri. semuanya dari Tuhan, saya hanya perantara."
    kata-kata bijak tu motivasi...
    thanks...bro...

    ReplyDelete
  4. i love indonesia
    saya ada beberapa pertanyaan yang saya ingin lontarkan kepadsa pak didit berkaitan dengan pendidikan anak2 di sanggar alang-alang.
    begini adakah suatu program di sanggar alang-alang yang tujuannya menumbuhkan sikap kewirausahaan di benak anak-anak di sanggar alang-alang?
    itu saja pertanyaan awal dari saya

    ReplyDelete
  5. hormat saya u/ orng yg sprti ini ...

    ReplyDelete