19 November 2008

10 bahasa di Flores





Orang Jawa Timur lebih suka berbahasa Jawa ketimbang bahasa Indonesia. Wajar karena bahasa Jawa adalah bahasa daerah terkuat dan paling komplet di Indonesia. Kata-kata yang tidak ada di bahasa Indonesia justru punya padanan berlimpah di bahasa Jawa. Grammar bahasa Jawa pun sempurna.

Karena itu, teman-teman di Jawa--yang suka bahasa ibu--selalu bikin analogi. "Bang, bahasa Floresnya 'namamu siapa' itu apa?" begitu pertanyaan yang sering saya dengar. Saya jawab: "Mo naranem heku."

Hehehe... Teman-teman itu tertawa ngakak karena lucu kedengarannya.

Mo = kamu.
Naran = nama.
Naranem = nama anda (kata milik orang kedua).
Heku = siapa.

Jadi, susunan kalimat dalam bahasa daerah Flores Timur--disebut bahasa Lamaholot--memang tidak umum untuk bahasa-bahasa besar di tanah air macam Jawa atau Melayu. Saya juga ingatkan bahwa pulau Flores plus Kepulauan Solor (Adonara, Solor, Lembata) punya banyak logat yang sangat berbeda. Satu kecamatan bisa 7-8 logat.

"Katanya, tiap kabupaten punya bahasa daerah sendiri? Orang Ngada tidak paham bahasa orang Manggarai dan seterusnya. Apa begitu?" tanya Pak Bambang, budayawan senior dari Sidoarjo.

"Benar sekali!" saya jawab.

Jangankan Ngada dan Manggarai yang memang berbeda kabupaten, dipisahkan gunung dan bukit-bukit, kami di Flores Timur dan Lembata (sebelum reformasi Lembata masuk kabupaten Flores Timur) pun sering kesulitan komunikasi. Orang Larantuka yang berbahasa Nagi--bahasa Melayu ala Larantuka--tidak (atau kurang) paham bahasa Lamaholot. Orang Solor sering sulit menangkap kata-kata saya (Lamaholot versi Ile Ape) meski sama-sama Lamaholotnya.

Bahasa Lamaholot versi Adonara, baik Barat maupun Timur, relatif dipahami semua orang Flores Timur karena dianggap standar. Orang-orang kampung saya yang "melarat" (artinya merantau) di Malaysia kalau pulang pasti berbahasa Lamaholot ala Adonara Timur. Nadanya tinggi, tekanannya jelas, dengan irama yang khas.

"Reu, go Tawau dai kete doi aya-aya di!" ujar si teman, Kopong, bangga. Maksudnya, pulang merantau dari Tawau, dia bawa uang banyak. "Doi nepe go kang tula lango muringen." (Uang itu mau saya pakai untuk membuat rumah baru).

"Kecongkakan" khas perantau Lamaholot yang menganggap Sandakan, Sabah, Kuching, Tawau di Malaysia Timur sebagai kampungnya sendiri. Hehehe.... Lantas, berapa banyak bahasa daerah di Pulau Flores dan kepulauan di sekitarnya?

Pertanyaan ini tidak bisa dijawab orang awam. Hanya ahli-ahli bahasa (linguistik) dan peneliti bahasa yang bisa. Juga para misionaris Societas Verbi Divini alias SVD yang sejak awal abad ke-19 masuk kampung keluar kampung di Pulau Flores. Hanya para misionaris yang punya mobilitas tinggi. Kalau orang biasa, saya jamin tidak bisa.

Sejatinya, riset tentang bahasa-bahasa di Flores sudah banyak. Namun, bahan-bahannya tersimpan rapi di Belanda. Orang Flores sendiri, karena baru keluar dari alam buta huruf, masih sedikit meneliti bahasa-bahasa di kampung. Beberapa nama yang patut disebut adalah Prof. Dr. Gorys Keraf (Universitas Indonesia), Dr. Inyo Yos Fernandez (Universitas Gadjah Mada), D.A. Kumanireng, A.N. Liliweri, M.M. Pareira. Saya berterima kasih kepada mereka semua.

Dari buku Dr. Inyo Yos Fernandez, saya akhirnya tahu bahwa Flores itu punya 10 bahasa. Bahasa-bahasa ini tidak sehomogen bahasa Jawa, tapi selalu ada variasi di sana-sini. Berikut bahasa-bahasa daerah yang dipakai penduduk Flores dan sekitarnya. Kita awali dari ujung timur.

1. BAHASA LAMAHOLOT

Digunakan sebagian besar penduduk Kabupaten Flores Timur dan Kepulauan Solor (Adonara, Solor, Lembata). Kami di kampung 100 persen bicara dalam bahasa ini. Susunan kalimatnya, seperti pengantar di atas, berbeda dengan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa sehingga anak-anak kampung macam saya awalnya kesulitan berbahasa Indonesia. Mengubah konstruksi kalimat bahasa Lamaholot ke bahasa Indonesia bukan pekerjaan gampang.

Maka, kalau Anda melihat di televisi orang-orang kampung Flores Timur sulit bicara dalam bahasa Indonesia, ya, begitulah kenyataannya. Memang paham sedikit-sedikit, tapi sulit lancar. Perbendaharaan kata bahasa Indonesia sangat minim. Saya sendiri baru "agak lancar" bahasa Indonesia setelah sekolah di SMP Pankratio Larantuka.

Wilayah Lamaholot dikelilingi lautan. Kontak dengan dunia luar sangat lancar. Maka, sejak dulu orang-orang Lamaholot sudah biasa kedatangan orang-orang luar yang berbahasa Melayu atau bahasa Indonesia. "Kelebihan" lain: sejak zaman penjajahan Portugis, Larantuka menjadi kota utama di Flores Timur dan Kepulauan Solor.

Penduduk Larantuka berbahasa Melayu (atau bahasa Nagi) yang tak lain bahasa Melayu pasar. Ini "memaksa" orang-orang Lamaholot macam kami untuk berbahasa Indonesia meskipun tertatih-tatih. Sampai sekarang pun bahasa Indonesia (yang sudah kompleks) itu masih disebut bahasa Melayu oleh orang-orang kampung di Flores Timur dan Lembata.

"Mo ake koda mang melayuhn terus. Koda mang lohumen hae," begitu teguran khas adik saya ketika saya selalu bicara dalam bahasa Indonesia dengan orang-orang kampung. (Kamu jangan bicara dalam bahasa Indonesia terus. Pakailah bahasa Lamaholot!)

Memang, orang yang tiap hari berbahasa Lamaholot biasanya tidak suka berbahasa Indonesia. Sebaliknya, orang yang tiap hari berbahasa Indonesia atau Jawa kesulitan mengubah cara berpikir, morfologi, serta sintaksis ala bahasa Lamaholot. Beda, misalnya, dengan bahasa Jawa yang strukturnya sama 100 persen dengan bahasa Indonesia. Wajar saja kalau orang Jawa sangat lentur ketika berbahasa Indonesia.


2. BAHASA KEDANG

Digunakan penduduk Kecamatan Omesuri dan Buyasuri di Kabupaten Lembata. Orang Kedang ini ibarat orang Madura di Jawa Timur yang bahasanya berbeda total dengan bahasa Jawa. Meski sama-sama di Lembata, dikelilingi oleh mayoritas penduduk berbahasa Lamaholot, orang Kedang punya bahasa sendiri.

Bapak saya pernah jadi guru di Kedang sehingga saya sedikit banyak paham bahasa Kedang. Beda banget dengan bahasa Lamaholot. Karena itu, guru-guru bahasa di Larantuka sering menjadikan bahasa Kedang sebagai bahan guyonan. "Siapa di sini yang asalnya dari Kedang? Angkat tangan," kata Pak Aldo, guru saya di SMPK San Pankratio Larantuka dulu.

Ketika ada teman Kedang yang angkat tangan, suasana kelas pun riuh. "Pandita ne amo?" canda Pak Guru. Maksudnya, "Bapak mau pergi ke mana?"

Hehehe.... Acap kali kaum "minoritas" menjadi bahan guyonan orang-orang dominan macam Lamaholot karena dianggap aneh. Kok bahasa Kedang lain sendiri? Begitu yang selalu muncul di benar orang Flores Timur.

3. BAHASA NAGI (MELAYU LARANTUKA)

Digunakan di Kecamatan Larantuka, Wure, dan Konga. Sejenis bahasa Melayu pasar yang berkembang seiring masuknya warga Melayu ke Flores Timur. Digunakan sekitar 25.000 orang. Kata-katanya sama dengan bahasa Indonesia, tapi terpengaruh bahasa Lamaholot dan Portugis.

Meski pemakainya tak sebanyak Lamaholot, bahasa Nagi sangat populer dan mudah dipelajari siapa saja. Macam bahasa Indonesialah. Orang-orang Lamaholot pun tak kesulitan menangkap bahasa Nagi. Karena itu, sejak dulu bahasa Nagi menjadi lingua franca yang andal.

4. BAHASA SIKA

Digunakan di enam kecamatan di Kabupaten Sika, yakni Talibura, Kewapante, Bola, Maumere, Nita, dan Lela. Menurut beberapa peneliti, ada dua dialek yang dipakai penutur bahasa Sika. Dialek Sika Barat dan Dialek Krowe atau Kangae atau Tana Ai di Sika Timur.

Maumere sejak dulu menjadi kota penting di Flores bagian timur. Ini membuat orang Flores Timur daratan paham beberapa kalimat dasar bahasa Sikka. Biasanya, anak-anak muda Larantuka belajar bahasa Sika dari para sopir atau kernet bus-bus Maumere yang tiap hari datang ke Larantuka.

5. BAHASA PALUE

Digunakan sekitar 15.000 penduduk Pulau Palue. Pulau vulkanis (ada Gunung Rokatenda) ini lebih dekat dengan Kabupaten Ende, tapi masuk Kabupaten Sika. Tokoh Palue yang terkenal di Jawa Timur adalah Damianus Wera. Dia tabib tradisional yang tiap hari mengoperasi pasien dengan pisau cutter tanpa pembiusan apa pun. Damianus belakangan ini membina Sasana Rokatenda yang mulai berkibar di Jawa Timur.

6. BAHASA LIO

Digunakan di Kabupaten Ende dengan jumlah penutur hampir sama dengan bahasa Lamaholot, sekitar 215.00 penduduk. Ada enam kecamatan yang menggunakan bahasa Lio: Nangapanda, Ende, Ndona, Wolowaru, Maurole, dan Detusoko.

Sejumlah pengamat menganggap bahasa Ende sebagai bahasa tersendiri. Namun, ahli-ahli terkemuka macam Dr Inyo Fernandez dan Dr Gorys Keraf memasukkan bahasa Ende sebagai salah satu dialek dalam bahasa Lio. "Sebab, tingkat saling pengertian antara penutur bahasa Ende dan Lio sangat tinggi," tulis Dr Fernandez.

7. BAHASA NGADA

Digunakan di Kabupaten Ngada, Flores Barat. Penutur bahasa Ngada tersebar di tujuh kecamatan: Aimere, Golewa, Mauponggo, Nangaroro, Boawae, Bajawa, Aesesa. Seperti bahasa-bahasa lain di Flores, bahasa Ngada pun mengenal macam-macam dialek.

Pater Arndt SVD sejak 1930-an sudah melakukan penelitian mendalam tentang bahasa dan budaya Ngada. Pada 1933 pastor ini bahkan sudah menulis tata bahasa Ngada, kemudian kamus Ngada-Jerman pada 1961. Ini menunjukkan bahasa bahasa dan kebudayaan Ngada menjadi kajian penting ketika misionaris SVD merintis misi Katolik di Flores.

8. BAHASA REMBONG

Digunakan di Riung Tengah, Kabupaten Ngada bagian utara. Kawasan ini berbatasan dengan Manggarai dan pengguna bahasa Ngada. Jumlah penuturnya cukup banyak, 20 ribu orang. Di kawasan ini, pesisir utara, juga ada penutur BAHASA BAJO. Bahasa ini dipakai orang-orang suku Bajo, kaum nelayan yang biasanya berumah di atas laut.

9. BAHASA MANGGARAI

Bahasa paling banyak penuturnya di Flores. Sekitar 500.000 penutur bahasa ini tinggal di Kabupaten Manggarai, ujung barat Flores. Ada sembilan kecamatan: Lembor, Satarmese, Mbrong, Elar, Lambaleda, Ruteng, Cibal, Reo, Kuwus. Menurut Fernandez, bahasa Manggarai kurang menampakkan pengaruh luar karena penuturnya "lebih akrab ke dalam".

Pakar-pakar Barat juga sudah lama meneliti bahasa Manggarai. Sebut saja J.A.J. Verheijen yang menulis Kamus Manggarai-Indonesia pada 1967 dan Kamus Indonesia-Manggarai pada 1970. "Alam yang bergunung-gunung dengan sungai dan hutan yang belum disentuh tangan manusia turut berperan dalam membentuk dialek-dialek di Manggarai," kata Dr. Fernandez.

10. BAHASA KOMODO

Digunakan di pulau-pulau kecil yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Manggarai Barat. Selain Pulau Komodo yang terkenal dengan buaya darat, varanus komodoensis, pengguna bahasa Komodo tinggal di Pulau Rinca. Berbatasan dengan Pulau Sumbawa di Nusa Tenggara Barat, bahasa ini terpengaruh bahasa Bima yang dipakai penduduk Pulau Sumbawa.

43 comments:

  1. Salut bang Hurek...
    Saya harus banyak belajar ke bang hurek...
    Ini tulisan2 Abang di Radar ya...
    top deh...

    ReplyDelete
  2. Waduh, Mas Rudi, terima kasih atas kunjungan sampean. 90 persen materi blog ini khusus untuk blog. Ada juga yang dimuat Radar Surabaya, tapi tidak banyak. Sebab, fokus dan segmen Radar Surabaya sangat berbeda dengan materi di sini.

    Yah... Semacam corat-coret saya kalau ada waktu kosong. Awalnya hanya cerita-cerita kampung halaman, Flores (NTT), sekadar mengisi informasi di Google. Lama-kelamaan ada usul dari beberapa teman Flores di luar negeri agar tulisan saya yang macam-macam itu dijadikan satu. Sekadar sharing, bagi-bagi informasi, untuk teman-teman pengguna internet.

    Kira-kira begitu. Matur nuwun.

    ReplyDelete
  3. Ama Lambert,
    Selkali lagi sangat informative tulisanmu ini. Kita gunakan istilah "melayu untuk bahasa Indonesia. Memang pada dasarnya dasar dari bahasa indonesia adalah bahasa Melayu.
    Bahasa Lamaholot sekarang masih kuat di Adonara IleApe, dan Solor. Sudah mulai pudar di beberapa tempat di Lembata. Makanya sekarang agak susah cari orang untu Oreng di tempat-tempat itu. Persyaratan untuk seorang untuk bisa oreng, pertama-tama harus bahasa Lamaholot dan punya kemampuan bersastra memakai kata-kata lamaholot. selain itu juga punya bakat seni (suar dan tari), dan lebih penting siap selalu kalau ada pesta

    ok ama itu saja
    franskupangujan

    ReplyDelete
  4. Saya saja baru tahu bung... orang flores tapi gak tahu bahasa flores... bisanya ngerti separuh-separuh... salute bung...!!!

    ReplyDelete
  5. Mengagumkan....!

    Mengagumkan kekayaan negara kita...!
    Mengagumkan juga usaha mas Hurek membahasnya dalam posting-an puanjang lebar ini! hehe

    Pakabar mas?

    ReplyDelete
  6. Marianus, terima kasih sudah baca saya punya blog. Memang, selama ini kita dari Flores rata2 kurang peduli pada bahasa di tempat lain meski sama2 Flores. Saya sendiri, sebelum baca buku2 itu, pun tidak bisa menjawab ada berapa sih bahasa di Flores.

    Mbah Dyah, saya baik2 saja seperti sampean di negeri Singa. Moga2 tetap semangat mendidik arek2 yang manis2. Posting-nya panjang? Hehehe... ini sudah saya pendekin. Good luck.

    ReplyDelete
  7. Hehe.. bagus tulisannya.. tu buku papa saya yang nulis mas.. waktu pertama kali dicetak (sbg disertasi)sy bener2 ga paham maksudnya.. (hehe.. wktu itu sy masih duduk di taman kanak2 sih..) sekarang wktu sy dah gedean blom sempat baca lagi.. ternyata.. gitu to isinya.. hehe.. trims yaa..

    Silvia Fernandez (north_yecha@yahoo.com)

    ReplyDelete
  8. Terima kasih Silvia Fernandez. Saya tidak menyangka anda, putri Pak Inyo, berkunjung ke laman ini. Benar-benar kejutan dan bikin saya senang banget. Ternyata, di jagat maya kita bisa berkomunikasi secara efektif.

    Yah, tulisan tentang bahasa daerah di kampung ini saya buat sebagai apresiasi saya atas kerja keras para linguis perintis macam Pak Inyo Fernandez dan Pak Gorys Keraf (almarhum). Berkat riset merekalah, kita tahu banyak tentang bahasa dan budaya kita. Nama Flores pun lebih dikenal di forum intelektual nasional dan internasional.

    Titip salam saya untuk Pak Inyo. Semoga selalu diberkati Tuhan.

    ReplyDelete
  9. Om Lamber,
    Go dahan esi, e...
    bahasa lamaholotnya terima kasih itu apa?
    Saya bingung menjawab saat ditanya anak saya.
    yang jelas bukan nein hode, kan?
    Terima kasih sebelumnya

    ReplyDelete
  10. Wah, saya juga bingung. Kata "terima kasih" tidak ada padanannya di Lamaholot. Kame teti Ile Ape maring: trima kasih, trima kasi aya-aya.

    Salam damai.

    ReplyDelete
  11. Bung Hurek bahasa lamaholotnya i love u apa?
    Penting nih demi masa depan

    ReplyDelete
  12. Wah, ini pertanyaan gampang, tapi jawabannya sulit. Kenapa? Tradisi romantisme dan menyanjung lawan jenis, pacaran, itu zaman dulu tidak dikenal di Flores. Di Indonesia umumnya pun begitu.

    "I love you" itu ungkapan bahasa Inggris yang hanya cocok untuk konteks budaya Barat. Baru diindonesiakan menjadi "aku mencintaimu". Itu pun jatang atau tidak biasa diucapkan orang. Di Flores yang jodoh ditentukan keluarga atau orang tua--dulu dan masih ada sedikit sekarang--ungkapan I LOVE YOU tidak ada.

    Kalau mau dipaksakan, ya, ada beberapa versi Lamaholot:

    GO ONEK PETEN KONG MO. (rindu)
    GO ONEK SAYANG [SUKA) KONG MO.
    GO SUKA MO.

    Dan masih ada beberapa lagi, tapi menurut saya tetap kurang pas. Maksa!!!

    ReplyDelete
  13. Mkasih bnyak bung tas jawabannya. Sy mo nanya lagi Bung. Bung Hurek punya gak puisi atau syair tentang cinta dalam bahasa lamaholot. Sebelumnya Thanks banget atas terjemahannya. GBU

    ReplyDelete
  14. salam kenal. blog ttg bahasa2 di flores ini sangat informatif. thanks.

    richard di jakarta

    ReplyDelete
  15. apa kabar bahasa floresnya apa pak ?

    ReplyDelete
  16. mau belajar bhs ende kota gimana caranya????? :)

    ReplyDelete
  17. Belajar bahasa Ende, ya, kamu harus ketemu orang Ende dan belajar secara langsung dengan bicara pelan-pelan. Lebih baik lagi kalo kamu langsung pergi ke Ende, Flores, selama satu dua bulan. Intinya, belajar bahasa apa pun metodenya sama saja.

    ReplyDelete
  18. bahasa sika nya cantik apa?

    ReplyDelete
  19. bahasa di indonesia memang banyak banget, apalagi di flores yg suku2nya beda. tinggal bgm masyarakat bersama pemda setempat melestarikannya. kita memang harus menguasai bahasa indonesia, bahasa inggris, dan bahasa internasional lainnya, tetapi jangan lupa bahasa ibu.

    aikoli

    ReplyDelete
  20. saya rena, mau tanya kalo 'hau domi o' artinya apa ya?

    ReplyDelete
  21. HAU : mari, ke sini
    DOMI : nama orang, Domi, Dominikus
    O : interjeksi, kata seru, tak ada arti.

    HAU DOMI O : Mari, ke sini Domi!

    ReplyDelete
  22. pak lambertus , bisa tolong ajarkan saya bahasa flores??

    david_kurniawan90@live.com
    tolong bantuan nya..
    thx
    GBU

    ReplyDelete
  23. thank's bung lambert. informasi penting bagi putra/i flores untuk lebih mengenal akar budaya daerahnya sendiri.
    syalom.....

    ReplyDelete
  24. ka2, saya cici, mau nanya artinya : "ka'i mo a mate" apa ya?
    makasi ka2,saya gag tau artinya,padahal pacar saya orang flores,hehehe..

    ReplyDelete
  25. salam, bung. kebetulan saya sedang perlu referensi untuk buku saya, kalau bahasa lamaholotnya setan laut/hantu laut/dewa laut/penguasa laut itu apa ya bung?

    ReplyDelete
  26. Ama trimakasih ya, saya orang flores tapi saya kurang mengenal bahasa Flores. maka dengan adanya tulisan Ama saya jadi tau dikit.

    ReplyDelete
  27. Bang Lambert, kalau bahasa Lamaholotnya : Cinta. apa ya?

    ReplyDelete
  28. Banyak yang nanya CINTA dalam bahasa Lamaholot, tapi saya selalu kesulitan menjawab. Setahu saya tidak ada kata CINTA yang spesifik di kawasan Flores Timur sana karena tradisi pacaran, berkasih-kasihan, rayuan mesra... memang tidak dikenal. Orang Lamaholot (dulu) itu menikah bukan karena pacaran, cari sendiri, tapi melibatkan FAM atau suku atau keluarga besar . Ada persoalan belis, gading, penang, dagel... dan sebagainya.

    Tahun 1990-an, ketika mulai maju, saya sering dengan orang pakai kata SUKA (dari bahasa Indonesia) untuk CINTA dalam arti asmara muda-mudi. Tapi kalau CINTA yang bukan falling in love, eros, asmara muda-mudi... ada banyak kosa kata. Ada cinta kampung halaman, MENGASIHANI, berkorban untuk keberhasilan orang lain... dan seterusnya.

    Mungkin CINTA dalam budaya Lamaholot itu tidak untuk diucapkan, tapi dibuktikan saja dalam perbuatan, tindakan...

    ReplyDelete
  29. mau minta tolong cara memperkenalkan diri dengan bahasa flores gimana ya? perkenalan standar si kaya gini :
    selamat pagi
    nama saya Ermy Multiyarti
    umur saya 20 tahun
    saya berasal dari Bogor

    makasii

    ReplyDelete
  30. nice share :) terimakasih atas postingan yg bermanfaat ini. salam

    ReplyDelete
  31. nama saya Ermy Multiyarti
    umur saya 20 tahun
    saya berasal dari Bogor
    neh mau di translate pake bahasa apa..??? ingat, bahasa flores ada 10 macam...nah looooee

    ReplyDelete
  32. Maaf, telat jawab. Pakai bahasa Lamaholot (Flores Timur) saja ya:

    GO NARANEK ERMY MULTIYARTI,
    GO TUNEK PULU RUA,
    GO TEI LAU BOGOR.

    GO (atau GOE) = SAYA
    NARAN : NAMA
    NARANEK : NAMA SAYA
    TUN : TAHUN
    20 : PULU RUA

    ReplyDelete
  33. Nais aku nanang ite nu ga.
    Tombo tu ung daku.
    Tapi toe ngance tombo laku.
    Landing wie ho o, aq kut tombo aq nanang ite.
    itu artinya apa yaa ?

    ReplyDelete
  34. Sebagai tambahan, Bahwa Kabupaten Ngada dan saat ini nagekeopun memiliki beberapa bahasa yang sangat berbeda yaitu Bahasa Soa, Bahasa Boawae dan Mbay yang sama tidak saling mengerti.

    ReplyDelete
  35. Pantas saja org Flores umumnya kurang kompak ketika berada di Jawa. Orang Manggarai bikin acara sendiri, Ngada sendiri, Ende sendiri, Maumere sendiri, Larantuka sendiri, Adonara sendiri. Beda dgn orang Batak yg kelihatan sangat kompak dan selalu bikin acara bareng2.

    ReplyDelete
  36. Wow...
    Tulisannya keren om lambertus.
    Saya pernah bekerja diflores selama beberapa minggu, dan hampir semua kota saya kunjungi.
    Saya senang punya banyak kenalan orang flores, karena orang flores itu baik semua, welcome sama saya, dan yang bikin tenang disana sangat aman walaupun jalan tengah malam. cuma klo makan disana harus merogoh kocek lebih dalam. Hehe...

    ReplyDelete
  37. Bung Hurek, budaya di Kepulauan Sunda Ketjil koq mirip. Setahu saya di Bali juga tidak mengenal kata CINTA. Tiga tahun silam, abang-saya bertanya, tahukah engkau apa artinya,
    I dot you. Aku jawab tidak tahu, dan balik menanya, kenapa lu tanya hal itu.
    Dia lalu bercerita, kita bersaudara, (8 laki dan 3 perempuan), mempunyai langganan tukang cukur sejak zaman penjajahan Jepang. Tiap tahun, pada hari raya Ceng-beng, abang kepulau Bali untuk berziarah kemakam papa. Dia bernostalgia pergi cukur ketempat langganan-kita, dijalan Wangaye-Denpasar. Bapak tukang cukur sudah meninggal dan usahanya diteruskan oleh anaknya. Selama dicukur, abangku tertarik dengan tulisan, I dot you, diatas cermin. Dia ber-menit2 memeras otak, apa arti kalimat itu. Setelah selesai, dia bertanya kepada anak Bali itu. Apa artinya itu ? Si anak Bali tertawa, jawabnya I love you.
    Kalau kita ngidam rujak atau babi guling, juga kita di Bali pakai kata dot.
    À propos Ceng-beng. Bung Hurek, saya sangat minta tolong kepada Anda. Sudikah kiranya Anda menulis sebuah Artikel atau tepatnya Reportasi tentang situasi-keamanan dan suasana-kenyamanan di Pemakaman Tionghoa Sentong-Lawang. Kalau berziarah kemakam Tionghoa di Bali, suasana sangat tentram, tidak ada yang mengganggu.
    Sebaliknya berziarah ke-Pemakaman Tionghoa Sentong Baru-Lawang, suasana mencekam. Entah darimana datangnya gerombolan bersenjata celurit, mengganggu orang bersembahyang, memeras dan memalak para peziarah. Kita tahu situasi itu, makanya selalu membawa uang pecahan 2000,- atau 5000,- Rupiah untuk di-bagi2-kan kepada gerombolan tsb. Setelah selesai, datanglah PREMAN KUBURAN pakai uniform loreng tentara, naik sepeda motor, minta uang, dikasih 50000,- Rupiah, masih marah2, mengancam akan merusak kuburan. Dikasih 100000,- masih mukanya kecut.
    Bung Hurek, inilah salah satu sebabnya, saya Hwe-kuok, pulang kenegeri leluhur. Maaf, Indonesia yang saya anggap Tanah Tumpah Darah dan Ibu Pertiwi, lacurnya sudah dikuasai oleh para preman.

    ReplyDelete
  38. sedikit kritik saja, di kabupaten ende ada tiga bahasa dari tiga suku berbeda. bahasa suku nga'o, bahasa suku lio, dan bahasa suku ende.

    ReplyDelete
  39. Dimana sy bisa mendapatkan kamus manggarai-Indonesia ya pak?

    ReplyDelete
  40. pengguna bahasa daerah di flores yg paling banyak tuh di daerah mana ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Flores itu ada 9 kabupaten. Dan semuanya sehari-hari berbahasa daerah. Bahasa daerah sebagai bahasa ibu atau bahasa pertama. Bahasa Indonesia baku yang baik dan benar itu bahasa kesekian. Nah, pengguna bahasanya ya tergantung jumlah penduduk yang berbahasa daerah tersebut.

      Contoh: Bahasa Lamaholot dipakai di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata. Cukup banyaklah. Tapi bahasa Kedang hanya dipakai di 2 kecamatan saja. Bahasa Nagi malah hanya digunakan di setengah kecamatan Larantuka saja.

      Kasusnya mirip dengan Jawa Timur. Bahasa Osing hanya dipakai di sebagian Kabupaten Banyuwangi saja. Bahasa Madura di Pulau Madura dan daerah Tapal Kuda seperti Jember, Lumajang, Bondowoso, Pasuruan, Probolinggo. Mayoritas penduduk Jawa Timur berbahasa Jawa. Kira-kira begitu.

      Delete
  41. abang bolehkah sa tau arti kata "maimoni" dalam lagu yg sering diputar untuk tarian ja'i??
    sa bukan oleh flores tapi punya ortu angkat dan marganta sama, bapak hurek di kupang :)

    ReplyDelete
  42. Maimoni terdiri dari dua kata yaitu MAI: mari dan moni: lihat/nonton, itu adalah bahasa ngada yang artinya mari nonton/lihat

    ReplyDelete