06 October 2008

Uskup Bandung ternyata blogger




Uskup Bandung Mgr. Pujasumarta silaturahmi Lebaran ke Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan dan Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf, Bandung, 1 Oktober 2008.


Saya baru saja membaca majalah HIDUP, mingguan Katolik yang terbit di Jakarta, edisi 5 Oktober 2008. Ada yang menarik di halaman 34. Iklan satu halaman penuh dari Uskup Bandung Monsinyur Johannes Pujasumarta. Beliau berterima kasih atas partisipasi banyak pihak dalam rangkaian tahbisannya sebagai uskup Bandung pada 10-20 Juli 2008.

"Kerelaan Anda berbagi telah menggetarkan hati saya," tulis Mgr. Pujasumarta.

Iklan ucapan terima kasih, syukur kepada Tuhan, sudah sangat biasalah. Tapi yang bikin saya terkejut Mgr. Pujasumarta juga mengumumkan alamat blognya di http://pujasumarta.multiply.com. Juga ada alamat e-mail, nomor telepon, alamat keuskupan, website resmi Keuskupan Bandung. Bapak Uskup tersenyum, tangan kanan menyapa umat, tangan kiri pegang tongkat uskup.

Bukan main! Baru kali ini saya tahu bahwa ada uskup Katolik di Indonesia punya blog
pribadi. Kalau website keuskupan, blog pastor-pastor, sih sudah banyak. Bahkan, ketika belum banyak orang Indonesia belum kenal internet dan komputer, beberapa pastor sudah memanfaatkan teknologi ini. Gembala-gembala kita tidak gaptek amatlah. Hehehe...

Tapi uskup punya blog? Amboi, saya baru tahu dari iklan Mgr. Pujasumarta di HIDUP. Dan saya sangat terkesan. Lebih terkesan lagi ketika saya bertamu ke blog berjudul JOHANNES'S SITE ini. Isinya selalu aktual, selalu dimutakhirkan, dan banyak sekali
komentar. Rata-rata setiap artikel dikomentari 20-30 orang, bahkan lebih. Ini berarti upaya Mgr. Pujasumarta bak gayung bersambut, kata berjawab.

Setiap komentar pembaca--bisa dipastikan umat Katolik yang taat, jika memembaca isi
komentar--pun dijawab. Bapa Uskup juga balas meminta umat di luar negeri untuk berbagi pengalaman rohani ketika mendengar lagu Ndherek Dewi Maria.

"Ayolah berbagi pengalaman mengenai devosi kepada Maria," tulis Mgr. Pujasumarta untuk seorang perempuan, umat Katolik di luar negeri.

Mgr. Pujasumarta punya moto BERTOLAKLAH KE TEMPAT YANG DALAM. Bahasa Latinnya: DUC IN ALTUM. Bertolak ke tempat yang dalam berarti pula menggali berbagai kemungkinan, peluang, memanfaatkan teknologi apa pun untuk mewarkan kabar gembira Tuhan. Salah satunya di zaman ini, ya, internet.

Bagaimana bisa menyapa umat di kota besar macam Bandung, Jakarta, atau Surabaya yang melek internet kalau gembalanya gagap teknologi? Ini sebuah terobosan cerdas dari Mgr. Pujasumarta menjawab tantangan dunia KINI dan di SINI. Umat yang tiap hari "makan" internet tentu beda pendekatannya dengan, katakanlah umat di Papua atau Flores, yang belum kenal listrik PLN.

Saya yakin Mgr. Pujasumarta sudah menyadari benar konsekuensi "bermain" di dunia internet, sebagai blogger. Sebab, bagaimanapun juga karakter pengguna internet itu biasanya kritis, cerdas, kadang iseng dan ngawur. Saya pastikan komentar yang masuk di bisa saja membuat Bapa Uskup kecewa, prihatin, sedih, sakit hati, bahkan marah. Mudah-mudahan ini bisa diantisipasi Bapa Uskup.

Juga jangan dilupakan, sehebat-hebatnya internet, jauh lebih banyak umat yang belum kenal internet. Penetrasi internet di Indonesia masih di bawah 10 persen. Mayoritas umat itu orang biasa, sederhana, penghasilan pas-pasan, tidak mampu beli laptop atau memasang internet di rumah. Umat wong cilik--istilah Romo Mangunwijaya LEMAH-DINA-MISKIN--ini harus lebih diperhatikan kehidupan rohani dan jasmaninya ketimbang yang KUAT-MULIA-KAYA.

Jangan sampai karena keasyikan main internet, sibuk menjawab pertanyaan sesama blogger (orangnya ya itu-itu saja), para wong cilik diabaikan. Oke, Mgr. Pujasumarta, selamat bertugas! Semoga sukses mendampingi umat Katolik di Keuskupan Bandung untuk BERTOLAK KE TEMPAT YANG DALAM.

6 comments:

  1. mudahan-mudahan indonesia tetap indonesia dalam bingkai panca sila.
    tetapi kalaupun telah menjadi puing-puing tidak akan menghalangi persatuan kita yang kaya akan tradisi. mari bersatu dalam kemajemukan.

    ReplyDelete
  2. salut sama bapa uskup bandung. saya doakan semoga sehat2 dan sukses dalam membimbing domba2 ke jalan yg benar.

    frans, malang

    ReplyDelete
  3. makasih atas artikel ini.

    ReplyDelete
  4. JEJAK PERJALANAN USKUP SAN
    (Sebuah Catatan Lengkap Hasil Perjalanan Jurnalistik Ke Flores NTT, Jelang Tabhisan)

    DI TAHUN keenam usia perkawinan pasutri Roben Robo dan Katharina No’o Nere, kembali dikarunia seorang anak. Betapa bahagianya mereka, terutama sang Kakek. Chum Kin San, sang Kakek sungguh menantikan peristiwa ini. Ia lalu menitahkan, agar sang cucu memiliki nama, yang sama dengan dirinya. Maka dinamai bayi itu, Tung Kiem San.
    Dalam usia yang masih balita, San sudah bersekolah, “sekolah ikut-ikut”, istilah ibunya. Ia sering diajak oleh seorang guru, bernama Guru Lena. Menurut cerita ibunya, pernah suatu ketika, dikala San masih berusia tiga tahun, San terkena penyakit di sekitar daun telinganya. Segala macam obat, seperti penysilin, telah dicoba tetapi penyakit tersebut tak kunjung sembuh, karena penyakitnya ini San kerap dipanggil “Soso Moso”.

    (Simak Catatan Lengkap Dalam BUKU KENANGAN TABHISAN MGR DR SILVESTER SAN, PR – Faris Wangge)

    ReplyDelete
  5. Saya baru tahu kalau Mgr. Pujo juga seorang blogger. Bisa jadi inspirasi untuk blogger muda Katolik, bisa menyampaikan "kabar gembira" melalui blog. Berkah dalem ;p

    ReplyDelete