21 October 2008

TOA pengeras suara favorit wong ndeso



Pengeras suara TOA di Desa Bungurasih, Kecamatan Waru, Sidoarjo, dekat perbatasan Kota Surabaya. TOA tua ini tetap berfungsi.


Anda sudah membaca novel LASKAR PELANGI? Aha, Andrea Hirata, sang pengarang asal Belitong, beberapa kali menceritakan soal TOA di kampung halamannya. Saya tertawa geli membaca deskripsi Andrea tentang pengeras suara antik itu.

Dulu, saya mengira TOA hanya ada di kampung-kampung pelosok di Indonesia Timur macam Flores, Maluku, atau Papua. Setelah membaca LASKAR PELANGI, sadarlah saya bahwa TOA itu ternyata ada di mana-mana di seluruh Indonesia. Orang-orang desa paling paham fungsi TOA dalam kehidupan sehari-hari. Sulit membayangkan sebuah desa tanpa TOA.

Hidup di desa itu serba kurang. Tak ada uang untuk membeli sound system dengan power besar. Kalaupun bisa beli, dengan dana urunan dari para perantau di Malaysia, tenaga listrik dari mana? Listrik desa baru dikenal akhir-akhir ini saja. Dayanya hanya sekadar untuk satu dua neon plus seterika. Itu pun sering jeglek karena dayanya 'amat sangat' minim.

Sebelum 2000-an, pengeras suara model kerucut (orang Flores Timur bilang NOME) itu bak barang mewah di pelosok Flores Timur. Semacam status simbol. Hanya perantau kawakan dari Malaysia yang bisa membeli TOA untuk sound system di rumah. Ketika pulang kampung, dia tak lupa membawa TOA. Diletakkan di atas tiang bambu (makin tinggi makin baik), si tuan rumah memutar lagu-lagu dangdut atau pop yang baru dibawa dari Malaysia. Paling banyak Rhoma Irama, Ida Laila, Muchsin Alatas, Elvy Sukaesih, Camelia Malik, dan sejenisnya.

Apa warga terganggu dengan musik yang disebarluaskan lewat TOA? Sama sekali tidak. Orang-orang desa justru senang bisa menikmati lagu-lagu "baru" (sebetulnya lagu lama) yang hampir tak pernah didengar di kampung. Anggap saja sedekah musik. TOA sekaligus mewartakan bahwa si A sudah pulang setelah kerja delapan tahun di Sabah. Si B balik kampung membawa istri orang Melayu, punya tiga anak, dan sudah pindah agama.

Anak-anak paling senang jika suatu senja ada bebunyian musik dari TOA. Dasar anak-anak, mereka datang ke rumah empunya TOA. Syukur-syukur dapat hadiah baju, celana, permen, atau oleh-oleh khas Malaysia. Tidak dapat pun tak mengapa. Bukankah bunyi TOA itu saja sudah merupakan hiburan yang asyik?

"Adik, kamu tolong pigi baterai. Batunya sudah swak (lemah)," begitu kata si perantau yang baru balik kampung.

Anak-anak senang pigi beli baterai karena nanti malam pasti ada pesta khusus semalam suntuk. Joget dan dansa sampai pagi. Pakai pengeras suara TOA buatan Malaysia. Elok nian, Pak Cik!

Pesta musik TOA--plus minum TUAK dan makan enak sampai kenyang--ini tidak berlangsung lama. Listrik tak ada, bolak-balik beli batu (baterai), ya uang dari Malaysia cepat habis. Tidak ada pendapatan, hanya konsumsi thok! Maka, si TOA yang tadi dikibar tinggi-tinggi di tiang bambu harus diturunkan. Disimpan saja di gudang. Tapi, jangan khawatir, TOA tersebut akan sangat berfungsi jika ada hajatan atau pesta di kampung.

Penduduk desa di pelosok Flores Timur tidak punya sound system canggih yang bisa disewa macam di Surabaya atau Sidoarjo yang dayanya ribuan watt. Uang sewa dari mana? Gensetnya mana? Maka, TOA-TOA milik eks perantau (mungkin orannya sudah balik lagi ke Malaysia Timur) dipinjam. Ada satudua orang keberatan, tapi umumnya bersedia. TOA-TOA dikumpulkan di lapangan kampung, tempat pesta. Agar lebih mantap suaranya, operator tidak pakai baterai, tapi aki.

Bagaimana dengan kaset-kaset? Hehehe... Lagi-lagi harus pinjam di para bekas perantau yang punya TOA. "Hati-hati, pitanya jangam sampai rusak. Kaset ini tidak ada di Indonesia. Adanya hanya di Malaysia," pesan seorang pemilik TOA. Pinjam sana-sini, kaset yang terkumpul cukup banyak.

Apa jadinya bila lebih dari 10 TOA dibunyikan bersama-sama? Heboh. Ramai tidak karuan. Suara musik terdengar bisa sampai radius 10 kilometer. Tapi TOA tetap TOA, suaranya asal keras. Musikalitasnya tidak ada. Bas nyaris tak terdengar. Keindahan aransemen musik sama sekali tidak muncul di TOA. Tapi orang-orang desa bisa menikmati musik dari TOA, berjoget, bergembira, tak beranjak sampai pagi.

Berkat TOA pulalah, saya bisa mengenal lagu-lagu lama Rhoma Irama, Ida Laila, Orkes Melayu Awara, Muchsin-Sandora, Mus Mulyadi, Iis Sugianto, Obbie Messakh, Inggrid Fernandez. "Sampai sekarang TOA masih ada di kampung. TOA itu sangat awet. Daya yang dipakai tidak besar, tapi bisa bikin rame pesta," ujar seorang teman yang baru kembali dari Flores.

Bagaimana dengan TOA di Jawa Timur?

Tadi saya melintas di jalan raya kawasan Sidoarjo. Saya berpapasan dengan mobil pikap berjalan lambat. Di atasnya dipasang... hehehe TOA warna putih. "Bapak, Ibu... amal jariyah Anda sangat dibutuhkan untuk perbaikan masjid," begitu teriak juru bicara yang disebarluaskan lewat TOA.

Hehehe.... Saya berhenti sejenak memperhatikan TOA tua yang fungsinya sangat berbeda dengan di pelosok Flores Timur. "TOA itu punya siapa, Mas?" tanya saya.

Si jubir bilang milik sebuah masjid di pelosok Kabupaten Pasuruan. Memang, TOA-TOA banyak dipakai di masjid untuk pengeras suara. Azan atau panggilan salat diperkeras dengan TOA. Ada masjid yang hanya memasang satu TOA, tapi ada juga yang empat, lima, bahkan delapan TOA. Pengumuman orang meninggal dunia pun pakai TOA. Pengumuman orang hilang atau kesasar di terminal atau stasiun pakai TOA.

"Panggilan untuk Saudara John, ditunggu keluarganya di dekat ruang informasi," bunyi pengumuman di Gapura Surya Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Saya cek pengeras suaranya, hehehe.... ternyata pakai TOA juga.

Saya langsung teringat suara Rhoma Irama yang pernah saya dengar lewat TOA di kampung:

"ku rela menjadi pesuruhmu
karena aku ingin padamu.
tanpa gaji pun tiada mengapa
asalkan nona hmm-hmmm padaku..."


Hidup TOA!

6 comments:

  1. Ama Lamber, mo tulis tentang toa, saya jadi ingat kenangan waktu kecil dengan benda itu. Dulu kalau ada pertemuan desa (aen beto) pamong desa harus naik di atas pohon tuak untuk panggil orang. Tapi sekitar tahun 80-an, saat banyak orang rian ebak (waowala) pulang dari sabah, aktivitas gere tuak sudah berganti dengan toa. Tinggal stel radio fm, pasang toa dan jalan keliling di setiap dusun atau pasang toa di atap rumah berita aen beto sudah sampai ke warga. Kebetulan ayah saya pengurus desa maka waktu kecil saya pikul toa ke dusun-dusun untuk kumpul masyarakat aen beto. Enak ya kalau pake toa? John Mamun Sabaleku

    ReplyDelete
  2. Halo, intip-intip blognya. Lumayan.

    ReplyDelete
  3. Hehehe.. John,memang lucu kalo tite peten waktu tite kutulen teti lewo. listrik take, wai take, oto di take, tai lewoleba be lerin. buley dagel geler seba TOA.
    Salam damai.

    ReplyDelete
  4. toa itu ada di mana2. di jawa juga ngetop, khususnya di mushala n masjid2. org cari sumbangan di jalan raya juga pake toa, pengumuman pemda, sampek promosi film atau hiburan pake toa. hidup toa!!!!

    ReplyDelete
  5. Artikel yang bagus dan bermanfaat, semoga ke depannya kita bisa menjalin kerjasama dengan TOA. terima kasih

    ReplyDelete