01 November 2008

Sandra Angelia Miss Indonesia '08



Mahkota Miss Indonesia 2008 telah mengubah hidup SANDRA ANGELIA. Mahkota yang mulai dikenakannya pada 14 Mei 2008 itu membuat Sandra ingin berbagi kasih pada sesama.


Bagaimana rasanya menjadi Miss Indonesia?

Saya gak menyangka pulang dengan gelar ini. Ada perasaan wow karena di mana-mana orang mengenal saya sebagai Miss Indonesia. Padahal, sebelum berangkat ke Jakarta saya bukan siapa-siapa.

Apa Anda merasa berubah?

Oh sama sekali tidak. Saya tetap Sandra yang dulu. Saya ingin tetap rendah hati dan tidak sombong. Perubahan yang mencolok adalah hanya pada perhatian orang pada saya yang kini lebih tajam. Saya disorot dan menjadi panutan. Itu menuntut saya untuk lebih tanggung jawab karena semua orang menghubungkan segala gerak-gerik saya dengan Miss Indonesia 2008. Itu bukan penjara buat saya, tapi tantangan.

Apa yang ingin Anda bagi terkait gelar Anda?

Saya ingin dunia makin tahu bahwa negeri ini sangat indah. Untuk bisa meyakinkan orang lain di dunia tentang keindahan Indonesia, kita perlu menjaga keindahan tanah air kita.

Tak saja lewat menjaga potensi sumber daya alam atau tempat-tempat wisata, tapi juga lewat pembenahan di semua bidang. Bukan fisik saja, juga dari sisi moral seperti menjaga keramahan dan adat ketimuran. Itu juga salah satu keindahan Indonesia. Secara pribadi, inilah saat yang tepat untuk berbuat pada sesama dan lebih aktif di bidang sosial. Ada banyak kesempatan saya bersentuhan dengan orang lain.

Apa yang menarik dengan gelar Miss Indonesia?

Saya antusias sekali karena ada sebagian ilmu desain yang dapat dari kampus bisa saya terapkan. Ketika bertemu dengan anak-anak, saya harus melakukan sesuatu yang kreatif sehingga mereka bisa belajar sekaligus terhibur. Lewat Miss Indonesia, saya ingin menjadi sosok yang berdampak baik bagi orang lain. Saya ingin bisa melakukan sesuatu dan bisa menjadi contoh, insiprasi dan motivator bagi orang-orang dan lingkungan saya.

Siapa yang menjadi inspirator Anda?

Mama dan Papa. Mereka profil yang lengkap buat saya teladani. Dari Mama, saya belajar bagaimana menjadi wanita yang sabar dan gigih. Ia tipe wanita yang mau melakukan apa saja untuk kebahagiaan keluarga. Dari Papa, saya belajar tentang prinsip hidup yang teguh. Prinsip itu penting ahar kita tak gampang diombang-ambingkan oleh kemauan orang lain. Mereka berdualah yang menjadi pendukung langkah saya selama ini.

Kira-kira Anda sudah seperti mereka berdua?

Belum. Saya selalu merasa diri saya kurang dalam banyak hal. Gelar ini adalah salah satu jalan untuk membuat diri saya lebih matang dan lebih baik dari hari ke hari. Gelar ini hanya setahun. Itu waktu yang cukup pendek dan amat sayang untuk disia-siakan.

Di final Miss Indonesia 2008, Anda menyebut hukum menjadi prioritas Anda jika menjadi pemimpin negeri ini. Baru kemudian membenahi pendidikan. Mengapa?

Selama saya menempuh pendidikan SMP, SMA, hingga perguruan tinggi di Australia, saya menemukan kultur positif di sana. Warga Australia sangat taat pada peraturan. Prinsipnya: hukum dibuat untuk ditaati, bukan untuk dilanggar. Hukum dibuat karena kesepakatan semua warga demi kehidupan yang lebih baik. Semua taat peraturan tanpa dipaksa-paksa. Kondisi ini berbeda sekali dengan di Indonesia. Hukum dibuat justru untuk dilanggar.

Pembenahan hukum harus diprioritaskan di Indonesia. Aturan sudah tersedia, tinggal apakah rakyat Indonesia mau atau tidak mematuhinya. Kalau hukum sudah jalan, baru membehani bidang lain, termasuk pendidikan.

Setelah tak lagi menyandang gelar Miss Indonesia, apakah Anda tetap melakukan aktivitas yang sama seperti ketika menjadi Miss Indonesia?

Oh, saya tidak akan berhenti berbuat untuk orang lain. Tanpa gelar, saya justru akan lebih bebas melakukan banyak hal tanpa sorotan yang tajam. Kelak, saya ingin merancang program pendidikan untuk anak-anak miskin. Saya juga ingin bikin Panti Asuhan. Saya juga ingin mencari jalan untuk mengejar cita-cita saya sebagai presenter. (*)


Tak banyak orang Indonesia yang berkesempatan sekolah di luar negeri. Kalau yang lain belajar ke luar negeri setelah lulus SMA, Sandra Angelia bersekolah di Australia sejak SMP. Di usia yang masih sangat belia.

Tawaran itu datang dari kakek, Pendeta Abraham Alex Tanuseputra. Cucu pendiri Gereja Bethany Indonesia ini pun menerima meski awalnya ragu. Maklum, di usia 12 tahun sudah harus terpisah hidup dengan papa mama.

"Waktu datang pertama kali di Australia, saya tidak bisa bahasa Inggris sama sekali," katanya. Maka, pada tahun pertama, Sandra kerja keras untuk menyempurnakan bahasa Inggris.

Itu masih ditambah dengan penyesuaian dengan kehidupan asrama yang ketat. Di Saint Hildas Anglican School For Girls di Mosman Park, Perth, Western Australia, itu Sandra hanya punya teman perempuan. "Hingga SMA, teman saya perempuan melulu. Gak sempat deh kenal cowok. Mana sempat pacaran?"

Tak cuma pacaran, Sandra tak punya waktu untuk sekadar jalan-jalan. Kalau pun ada hanya ada waktu di akhir minggu. Itu pun tiga jam saja. Durasi itu sudah terpotong perjalanan ke kota yang makan waktu dua jam pergi-pulang. "Satu jam buat jalan-jalan mana cukup? Jadi, lebih senang di asrama saja. Begitu pulang ke Indonesia lah saya senang-senang."

Meski begitu, Sandra tidak merasa terpenjara. Justru dari sekolah berasrama Sandra belajar banyak hal positif: kedisiplinan, tepat waktu, kemandirian. Tiga hal ini terus ia pegang ketika pulang ke Indonesia pada 2007. Juga menjadi bekal utama ketika mengikuti pemilihan Miss Indonesia 2008.

Lama berada di Australia juga tak membuat Sandra kehilangan rasa nasionalisme. Meski hanya pulang ke tanah air setahun sekali, orang tuanya selalu memberikan wawasan tentang adat-istiadat timur selama di negeri orang. "Mama selalu ingatkan saya untuk patuh pada orang tua, sopan, menjaga kehormatan, dan tekun beribadah."

Saat SMA di Australia, Sandra terpilih sebagai ketua program multikutural. Anggotanya 20 siswi asal Indonesia. Sandra dan kawan-kawannya kerap menampilkan kesenian atau mengenalkan makanan dan budaya Indonesia. "Saya pernah menari Bali dan jualan sate," katanya.

SANDRA ANGELIA
Lhir : Surabaya, 11 Mei 1986
Tinggi/berat badan : 165 m/48 kg
Orang tua : Yusak Hadisiswantoro (ayah)
Asti Tanusaputra (ibu)
Saudara : Billy Z (kakak)
Gerry Jordan (adik)
PENDIDIKAN
TK/SD : Pucang Petra 5 Surabaya
SMP : Saint Hildas Anglican School For Girls Australia
SMA : Saint Hildas Anglican School For Girls Australia
PT : University of Western Australia

PENGALAMAN
Magang reporter RCTI Surabaya, presenter SBO
Cita-cita : Presenter
Makanan Favorit : Gado-gado dan tempe goreng
Musik Favorit : Jazz

3 comments:

  1. wajar cewek bethany seleb krn gaya gereja karismatik ala bethany emang kental hiburannya. kebaktiane gebyar pake musik rock n teriak2. salam kenal.

    ReplyDelete
  2. Hebat nih nak Suarabaya awak orang Malaysia cuma banyak bikin party2 jigong lah.
    Awak cuma sering ribut soal tkw macam tak ada kerja lah.

    ReplyDelete
  3. hiii.... cakep juga sandra. good luck.

    ReplyDelete