11 October 2008

Paduan Suara Laetitia Iuventia

Tidak banyak paduan suara Katolik yang baik dan bertahan di Surabaya. Salah satunya Paduan Suara Laetitia Iuventae. Kor ini dibentuk menjelang penahbisan Mgr Johanes Hadiwikarta (almahum) sebagai uskup Surabaya pada 25 Juli 1994. Beberapa penggiat paduan suara di Keuskupan Surabaya diminta mempersiapkan kor tahbisan.

Mereka antara lain Antonius Tjahjoanggoro, Albert Maramis, Anton Teguh, Marcellino Rudyanto, Matheus Suprat, Ardi Handojoseno, B. Sotyoanggoro, dan Edy Prast. Nama-nama ini kemudian tercatat sebagai pendiri Paduan Suara Laetitia Iuventae. Artinya, pada 2008 ini Laetitia Iuventae telah berusia 14 tahun.

Untuk ukuran paduan suara, terbilang tua lah. Sebab, jarang ada paduan suara kategorial di Keuskupan Surabaya yang bertahan sekian lama. Persoalannya klasik: regenerasi. Ketika teman-teman anggota lulus kuliah, bekerja, menikah, punya anak, paduan suara ditinggal. Kalau nyanyi terus, siapa yang cari uang?

Menyanyi di lingkungan gereja itu benar-benar Pro Deo, untuk Gusti Allah. Sonder pakai bayaran apa-apa, selain sedikit konsumsi ringan.

Pesan moral: Paduan suara maju kalau 100 persen anggotanya lajang!

LAETITIA IUVENTAE berarti anak-anak muda yang bersukacita. Motonya: Per Laetitiam Iuventae ad Caelestiam. Semua bersukacita, bersemangat muda, demi Kerajaan Allah di Surga. Laetitia Iuventae didesain sebagai paduan suara kader. Anggota harus lekas belajar, lekas pintar, lekas membagikan sukacita berpaduan suara kepada jemaat lain. Bikin kelompok baru, tapi tidak lupa akarnya di Latetitia.

Sekarang tercatat 100 alumni tersebar di Indonesia. Mereka aktif membina paduan suara meski sibuk mencari nafkah untuk keluarga. Nah, pada akhir Agustus 2008 paduan suara ini bikin Oratorium Maria di Gedung WTC Surabaya. Konser sekaligus devosi, refleksi, renungan tentang Misteri Bunda Maria. Sambutan umat, penggemar paduan suara, sangat bagus. Maklum, akhir-akhir ini jarang ada konser paduan suara rohani di Kota Surabaya.

Sesuai dengan tema, PS Laetitia Iuventae membawakan komposisi bertema Maria karya Mozart, JS Bach, Beethoven, sampai Paul Widyawan. Didukung 26 penyanyi, 10 pemusik, Matheus Suprat ketiban sampur sebagai dirigen. “Ini bukan sekadar konser, tapi oratorio. Biasanya paduan suara lain hanya menggelar konser,” sebut Anton J. Tjahjoanggoro, ketua panitia, yang dikenal sebagai pentolan paduan suara alumni Pusat Musik Liturgi Jogjakarta.

Susunan lagu dibuat kombinasi: berat, sedang, ringan. Lagu-lagu umat macam Nderek Dewi Maria, Di Lourdes di Gua, dilantunkan dengan syahdu oleh anggota kor. Umat ikut bersenandung karena lagu-lagu itu sangat familier. “Paduan suara Laetitia makin matang. Anggotanya serba sibuk, tapi masih komit mempertahankan eksistensinya,” komentar Yohanes, umat asal Paroki Juanda Sidoarjo.

Mudah-mudahan semangat berpaduan suara Laetitia Iuventae juga menular di semua paroki di Keuskupan Surabaya.

Pesan moralnya: nyanyi dan nyanyi terus karena upahmu besar di surga!

1 comment:

  1. Maaf,, untuk koreksi saja,, namanya PS Laetitia Iuventae,, bukan PS Laetitia Luventae,,

    terima kasih,,

    ReplyDelete