18 October 2008

Paduan suara independen di Keuskupan Surabaya

Selain paduan suara lingkungan atau wilayah, di lingkungan Gereja Katolik tumbuh banyak paduan suara independen. Disebut independen karena kor-kor ini tak terikat lingkungan, wilayah, atau paroki. Biasanya, digerakkan oleh aktivis paduan suara mahasiswa, musisi, sekolah musik, atau kelompok orang Katolik yang punya visi-misi sama.

Saya menilai kinerja paduan suara independen ini umumnya jauh lebih bagus ketimbang paduan suara reguler di lingkungan atau paroki. Kenapa? Anggota kor independen berbakat, suka nyanyi, semangat, anggotanya rata-rata muda. Pelatih, dirigen, pemusik kor independen pun pastilah mereka-mereka yang mengerti musik (klasik), tahu bagaimana mengangkat mutu paduan suara.

"Kita kecewa sama kor-kor di lingkungan atau wilayah yang gak maju-maju. Makanya, aku ikut paduan suara independen," ujar seorang teman, bekas aktivis paduan suara mahasiswa. Beberapa pembaca blog ini pun menulis komentar di saya punya artikel tentang betapa buruknya paduan suara reguler di lingkungan, wilayah, paroki.

Paduan suara independen itu tumbuh sendiri-sendiri. Tidak ada koordinasi meski kebanyakan dirigen atau pelatih saling kenal. Mereka saling bersaing, juga 'membajak' anggota, meskipun tujuannya sama: memuji dan memuliakan Tuhan. Paduan suara gerejawi tidak pernah diarahkan untuk mencari tepuk tangan manusia. Tapi ya banyak teman saya, aktivis paduan suara, yang sangat suka tepuk tangan dan puja-puji umat. "Rasanya gimana gitu. Kita jadi tambah semangat," ujar teman saya.

Belum lama ini, puji Tuhan, para pembina paduan suara independen di Keuskupan Surabaya mengadakan pertemuan konsolidasi. Yang hadir 75 paduan suara. Ini angka yang menggembirakan. Pertanda bahwa paduan suara ternyata tumbuh subur di Keuskupan Surabaya. Kalau ditambah paduan suara dari 41 paroki yang ada, wilayah, lingkungan, wah bisa ratusan deh. Tapi bagaimana kualitasnya?

Ehmmm... sudah menjadi rahasia umum bahwa mutu paduan suara di Keuskupan Surabaya sangat jomplang. Ada yang luar biasa, standar internasional, tapi banyak yang memprihatinkan. Saya sering melihat kor mingguan di gereja yang tidak jelas pembagian suara sopran, alto, tenor, bas. Ada yang tenornya cuma satu, bas dua, alto empat, sopran 10. Ada yang tidak punya bas dan alto.

Dirigen sekadar melambai-lambaikan tangan, tidak paham ketukan, mana arsis mana tesis, mana birama 4/4, 2/2, 3/4, 6/8. Pokoke gawat banget!

Pokoke gak karu-karuan, Cak! Mangkane, aku setuju banget ono pertemuan kayak ngene, Cak!

Menurut AJ Tjahjoanggoro, dedengkot paduan suara di Surabaya, sekaligus penggagas pertemuan paduan suara independen, ke depan kor-kor ini akan digembleng dalam program jangka pendek, menengah, panjang. Juga digagas perlunya dapur musik liturgi di Surabaya macam Pusat Musik Liturgi di Jogjakarta. Dan, yang terpenting, pemahaman kor-kor independen tentang hakikat musik liturgi dalam Gereja Katolik.

"Perlu pemahaman yang benar tentang kaidah-kaidah musik liturgi," kata Bung Tjahjo.

Yang menggembirakan, saat ini ada semangat di kalangan teman-teman paduan suara Katolik untuk menggali dan mempelajari lagu-lagu gregorian. Ini juga sejalan dengan minat Uskup Surabaya Monsinyur Vincentius Sutikno Wisaksono yang besar terhadap tradisi-tradisi Katolik lama macam bahasa Latin dan Misa Gregorian. Pada 30 Mei 2008 Monsinyur juga meresmikan Schola Cantorum Surabaiaensis. Paduan suara ini diharapkan menjadi motor penggerak tradisi gregorian di Keuskupan Surabaya.

"Kita ingin semua anggota paduan suara punya semangat AMARE CANTARE, cinta menyanyi," ujar Bung Tjahjo.

KONTAK PERSON
Yulius Kristanto (Komisi Liturgi)
081 653 1917, 031 602 381 07
yuliuskristantomulit@yahoo.co.id

http://tradisikatolik.blogspot.com/

8 comments:

  1. Pak, banyak terima kasih untuk berita ini dan juga link ke Blog Tradisi Katolik. Saya nitip ya, seandainya ketemu orang yang potensial untuk bergabung dengan Kelompok Studi dan Paduan Suara Gregorian Schola Cantorum Surabaiensis, mohon dikenalkan ke saya atau Mas Anggoro. Salam, Albert Wibisono di awibisono[at]hotmail.com

    ReplyDelete
  2. Pak Albert, terima kasih banyak sudah mampir di sini. Salam damai.

    ReplyDelete
  3. saya juga mw share tentang paduan suara independen. awalnya, pendirinya yg melatih...
    anggotanya berlatih dengan semangat
    kemudian ada pengkaderan
    tapi karena pendirinya musti menjalankan tugas,sehingga yang di kaderlah yang mengambil alih
    Sayangnya, semangat saya untuk latihan jadi kurang setelah itu
    TASTEnya beda
    hehe...

    ReplyDelete
  4. yah, TASTE org emang beda2. tapi kalo mo nyanyi utk TUHAN ya gimana lah.

    freddy

    ReplyDelete
  5. untuk ikut paduan suara independen harus orang katolik ya? karena sebutannya independen, saya kira bisa dimasuki oleh orang-orang yang beragama lain, karena saya ingin ikut paduan suara independen, terlepas dari paduan suara gereja, terimakasih

    ReplyDelete
  6. Hehehe..
    Johan yang baik. Independen di sini dalam arti tidak masuk dalam struktur paroki atau keuskupan. Tapi tetap saja paduan suara Katolik karena misinya memang pelayanan gerejawi. Saya kira, paduan suara "independen" yang bersifat umum, lintas agama, masih banyak kok.

    Selamat bernyanyi, Bung!

    ReplyDelete
  7. ya saya kan nggak tau mas lambert, saya aja juga baru di sby, kalau paduan suara gereja untuk kedepan pasti ikut juga, hanya kan sayajuga inginbelajar lagu-lagu yang lain gitu

    ReplyDelete
  8. kapan nih berkunjung di malang untuk beri semangat di paroki Maria Ratu Rosari Malang?

    ReplyDelete