23 October 2008

Ndherek Dewi Mariyah di Jawa



Tinggal di Jawa Timur berarti menjadi minoritas. Minoritas Katolik. Orang Kristen (semua gereja entah Protestan, Katolik, Pentakosta, Baptis, dan sebagainya) di sini tak sampai 2%. Bahkan, di banyak tempat hitungannya nol koma nol sekian. Karena umat Katolik sangat sedikit, ya, kita tidak pernah melihat kegiatan-kegiatan "berbau" Katolik di kampung-kampung.

Oktober ini bulan Maria. Bulan khusus buat jemaat Katolik meningkatkan berdevosi kepada Bunda Maria. Sampai hari ini saya tidak melihat kegiatan apa pun untuk mengisi bulan Maria. Doa rosario tak ada. Novena belum saya dengar. Ziarah memang ada, tapi itu selalu dikaitkan dengan ngelencer atau peziar. Ziarah ke Puhsarang atau Sendangsono atau Jogjakarta lebih kental nuansa jalan-jalannya.

Latihan nyanyi atau paduan suara lagu-lagu Maria? Mana ada. "Pokoknya, kita berdoa masing-masing saja. Mau doa rosario, novena, ziarah, ya, terserah. Sikon (situasi dan kondisi) di Jawa memang sangat beda dengan di kampung halaman. Yang penting kita tetap eling sama Tuhan," begitu pesan seorang satpam asal Flores.

Bapak ini beruntung kerja di gereja sehingga sedikit banyak suasana rohani selalu dapat. Beda dengan orang-orang Katolik yang tinggal di kampung-kampung. Kalau mau sedikit merasakan suasana rohani, ya, jalan-jalanlah ke gereja. Syukurlah, gereja Katolik di Surabaya Raya tergolong sangat banyak dan dekat-dekat. Saya bisa ke Paroki Paulus di Juanda, Salib Suci di Waru, Sakramen Mahakudus di Pagesangan, Maria Annuntiata Sidoarjo, Yohanes Pemandi di Wonokromo, atau Katedral di Surabaya.

Tadi saya mampir ke Katedral. Saya lihat banyak orang, sebagian besar anak muda 20-an tahun, berdoa rosario di Gua Maria. Selesai, datang lagi umat yang lain. Mereka rata-rata berpakaian kantor (kerja). Mereka dengan kesadaran sendiri datang untuk berdoa dan berdoa. Ini kelebihan orang Katolik di Jawa Timur yang minoritas mutlak. Yakni, kesadaran pribadi mereka untuk bergereja tinggi sekali tanpa harus "dipaksa" oleh lingkungan sosial macam di Flores yang mayoritas Katolik.

Orang yang tidak ikut misa di kampung, Flores Timur, bisa-bisa berurusan dengan orang banyak. Jadi buah bibir di mana-mana. Tidak terima komuni pun dibahas orang banyak, kenapa, sejak kapan, punya pelanggaran apa, macam-macamlah. Di sini, Jawa Timur, engkau tidak ke gereja selama tiga tahun pun terserah. Tidak ada yang gubris.

"Aku sudah lima tahun gak ke gereja lho. Gereja aku ada di hati," kata seorang teman, bekas aktivis organisasi mahasiswa Katolik. Teman yang satu ini sangat bangga karena bisa cetak rekor absen ke gereja selama bertahun-tahun.

Ada lagi Pak Bambang di Sidoarjo, seniman, yang "mogok" ke gereja selama belasan tahun. "Ikut misa itu capek. Apalagi kalau khotbahnya jelek," kata bapak seniman nyentrik ini. "Aku mau ke gereja atau tidak atau pindah agama, ya, urusanku dhewe. Agama itu urusan pribadi, hak asasi manusia," kata kenalan lain, orang Katolik juga.

Saking lamanya tidak ke gereja, doa-doa dasar macam Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, Aku Percaya... dia sudah lupa. "Tapi Doa Tobat saya masih ingat. Soalnya, doa itu masih sering saya ucapkan. Mudah-mudahan suatu saat saya bertobat dan rajin lagi. Tuhan itu mencintai orang-orang berdoa. Tuhan itu selalu mencari domba-domba yang tersesat kayak aku," ujar kenalan lain, juga seniman, seperti tukang khotbah amatiran di persekutuan doa. Hehehe....

Saya sendiri, karena sudah larut dalam irama Jawa Timur, tidak kaget dengan "tradisi" umat Katolik di sini yang beda banget dengan Flores. Tradisi mereka, ya, tidak ada tradisi. Kalau di Flores setiap bulan Mei dan Oktober ada KONTAS GABUNGAN (doa rosario keliling) yang meriah, perarakan panji-panji Bunda Maria, menyanyi lagu-lagu Maria yang merdu dan syahdu, di sini NOL BESAR. Tradisi Katolik tidak ada karena, itu tadi, jumlah umat Katolik itu nol koma nol sekian persen.

Umat Katolik di Jawa Timur (Keuskupan Surabaya dan Keuskupan Malang) terlalu sedikit untuk menciptakan tradisi. Tak apa-apa. Yang jelas, umat Katolik di Jawa punya himne Bunda Maria yang sudah berusia hampir 100 tahun. NDHEREK DEWI MARIYAH, judul lagu itu, selalu dinyanyikan pada setiap misa atau sembahyangan yang berkaitan dengan Bulan Maria atau devosi kepada Bunda Maria. Lagu ini mula-mula populer di desa-desa Jogjakarta dan Jawa Tengah pada awal masuknya kekatolikan.



NDHEREK DEWI MARIYAH
do=Bes, 4/4, Moderato

1. Ndherek Dewi Mariyah, temtu geng kang manah
boten yen kuwatosa, Ibu njangkung tansah
kanjeng ratu ing swarga, amba sumarah samya

Sang Dewi, Sang Dewi, mangestonana
Sang Dewi, Sang Dewi, mangestonana

2. Nadyan manah getera, dipun godha setan
nanging batos engetnya, woten pitulungan
wit Sang Putri Mariyah, mangsa tega anilar

Sang Dewi, Sang Dewi, mangestonana
Sang Dewi, Sang Dewi, mangestonana

3. Menggah saking apesnya, ngantos kelu setan
boten yen ta ngantosa, klantur babar pisan
ugeripun nyenyuwun, Ibu tansah tetulung

Sang Dewi, Sang Dewi, mangestonana
Sang Dewi, Sang Dewi, mangestonana


Sumber lagu:
KIDUNG ADI Nomor 440, Pusat Musik Liturgi Jogjakarta, 1983.

2 comments:

  1. bung, share macam begini bagus buat kami2 yg di ntt. biar bisa adaptasi kalo sudah kuliah atau kerja di jawa.

    frans,
    maumere, flores

    ReplyDelete
  2. Aq kira jadi minoritas gak selalu rugi kok. Ada untungnya juga. Qta lebih tertantang. Gimana Bung?

    ReplyDelete