09 October 2008

Makan ketupat di rumah Pak Malik Bz.



KIRI KE KANAN:
Abubakar, A. Malik Bz, Said Alamus, Ali Alatas, Andrew Weintraub (profesor asal USA), H. Urip Santoso, Hj. Moerahwati (aka Ida Laila), Rubajak, Imron. Mereka anggota Orkes Melayu Sinar Kemala yang masih tersisa.


Satu minggu setelah Idulfitri ada pesta ketupat. Perayaan kecil-kecilan di keluarga muslim di Jawa Timur sebagai penanda bahwa momem Lebaran sudah selesai. Bermaaf-maafan, minal aidin fal faizin, maaf lahir batin, tetap berlaku selama bulan Syawal, tapi stok kue-kue lebaran sudah habis.

Aku memanfaatkan momentum pesta ketupat ini dengan bersilaturahmi ke rumah beberapa tokoh musik melayu-dangdut di Sidoarjo. Salah satunya Bapak Abdul Malik Buzaid atau yang lebih dikenal dengan A. Malik Bz. Usianya 60 tahun. Pak Malik salah satu pelopor musik melayu di Jawa Timur, bahkan Indonesia.

Dia menulis banyak lagu--sampai sekarang pun--salah satunya KEAGUNGAN TUHAN. Kau suka nonton televisi? Nah, kau pasti sering menikmati lagu ini selama bulan Ramadan. Syairnya antara lain:

"Insyaflah wahai manusia,
jika dirimu bernoda
Dunia hanya naungan
'Tuk makhluk ciptaan Tuhan.

Dengan tiada terduga
Dunia ini kan binasa
Kita kembali ke asalnya
Menghadap Tuhan yang Esa
.................."


"Hurek, kamu tahu enggak? Lagu KEAGUNGAN TUHAN itu saya tulis tahun 1966. Waktu itu saya dan teman-teman jalan-jalan malam-malam di Kremil (salah satu lokalisasi di Surabaya). Saya melihat arek-aek iku (baca: pekerja seks) duduk menunggu tamu. Tiba-tiba muncul ilham untuk menulis lagu. Syairnya, melodinya, aransemennya langsung jadi begitu pulang ke rumah," cerita Pak Malik, yang lahir di Surabaya 31 Desember 1948.

Kita tahu KEAGUNGAN TAHUN kemudian direkam oleh Orkes Melayu Sinar Kemala pimpinan Abdul Kadir di Lokananta. Ini perusahaan rekaman milik pemerintah paling top pada 1960-an dan 1970-an. Dibawakan vokalis Ida Laila (nama aslinya Moerahati, sekarang jadi pendakwah), KEAGUNGAN TUHAN meledak. Piringan hitamnya diputar di seluruh Indonesia, bahkan Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam.

"Sampai sekarang pun saya dikenal orang karena KEAGUNGAN TUHAN. Padahal, lagu yang saya tulis dan sukses itu banyak sekali," ujar Pak Malik Bz sambil tersenyum bangga.

Ketika aku mulai banyak bertanya soal musik, dangdut, Rhoma Irama, Pak Malik menukas: "Wis wis, engko ae. Saiki awakmu mangan ketupat sek yo. Wuenak, enak," kata Pak Malik dengan keramahan yang khas. Lantas, dia meminta Bu Is, istrinya, membawa makanan khas Lebaran itu ke ruang depan. "Saya tahu kamu kan suka makan. Pasti habis dua piring," goda Pak Malik lalu tertawa kecil.

Abah Malik benar. Ketupat masakan istrinya memang nikmat. Opor ayam, kuah, lezat. Bumbunya pas. Aku menikmati kegembiraan Lebaran seakan-akan aku bukan tamu. Satu piring tandas tak terasa. "Saya bilang apa? Kamu mesti habis dua piring," katanya. "Kemarin, saya dan keluarga baru pulang dari Bojonegoro. Riroyoan. Tapi selama Lebaran saya di rumah saja. Anak-anak yang datang."

Setelah menghabiskan dua piring ketupat plus opor ayam, mulailah Pak Malik bicara tentang musik. Tak sekadar nostalgia, kenangan masa lalu akan kejayaan OM Sinar Kemala, tapi juga musik masa kini. Aku mendengarkan dengan penuh minat sambil sesekali menyela atau bertanya. Pak Malik tampak bahagia.

Pelajaran moral: Sisihkan waktu, biarkan orang-oang tua bicara, cerita tentang masa muda dan kegemilangannya di masa lalu. Mereka pasti bahagia dan merasa usia panjangnya punya makna.

Tapi Pak Malik juga sedih dan kecewa dengan pengelola televisi kita, khususnya TVRI Jakarta, yang tidak profesional. Pada bulan puasa lalu, TVRI beberapa kali menayangkan KEAGUNGAN TUHAN yang dibawakan D'Lloyd. Pada kredit titel ditulis pencipta KEAGUNGAN TUHAN adalah Sam D'Lloyd. "Orang TVRI itu bagaimana? Sudah jelas lagu KEAGUNGAN TUHAN itu ciptaan saya. Kok ditulis orang lain. TVRI itu sudah sering begitu," kesalnya.

"Mungkin orang TVRI tidak tahu karena sekarang kan banyak orang muda yang tidak paham sejarah musik Indonesia," aku kasih komentar untuk meredakan kemarahan Pak Malik.

"Orang baru apa? TVRI itu televisi paling tua. Mereka pasti lebih tahu ini lagunya siapa, itu lagunya siapa. Kita bicara copyright dan profesionalisme," tukas penasihat Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI) Jawa Timur itu.

Bagi Pak Malik, juga seniman-seniman senior lainnya, pengakuan akan eksistensi sangatlah penting. Tayangan lagu itu ada kaitan dengan royalti. Sekali tayang di televisi, rumah karaoke, show panggung, atau acara komersial apa pun dipungut royalti. Setiap tahun Yayasan Karyacipta Indonesia mengirim royalti ke rumah sang seniman. Tidak besar sih, tapi cukuplah untuk hidup Pak Malik (dan seniman lain) di usia senja.

"Alhamdulillah, selama Lebaran kemarin beberapa sinetron pakai saya punya lagu, KEAGUNGAN TUHAN, untuk ilustrasi sinetron. Alhamdulillah, lagu saya masih abadi sampai hari ini. Insyallah, lagu itu tetap bertahan meskipun saya sudah tidak ada lagi," ujar Pak Malik tetap sumringah.

Sambil menghirup kopi panas, Pak Malik juga cerita bahwa beberapa penyanyi dangdut belum lama ini meminta lagu-lagunya untuk rekaman. Salah satunya Maria Eva, pedangdut asal Sidoarjo, yang bikin heboh lantaran skandar seksnya dengan Yahya Zaini, politikus Golkar, anggota parlemen di Jakarta. Pak Malik sangat siap.

"Saya punya banyak lagu yang belum dirilis. Coraknya macam-macam, saya sesuaikan dengan karakter penyanyi. Mau yang berbau Melayu Malaysia, Arab, pop, koplo... semuanya ada," ucapnya.

Tak terasa sudah hampir dua jam aku berada di rumah A. Malik Bz., seniman musik melayu. Aku lalu minta diri karena harus masuk kerja. "Hurek, kamu ini teman lama saya. Jangan segan-segan ke sini. Kapan saja, silakan ke sini," kata Pak Malik.

Terima kasih! Assalamualaikum!

No comments:

Post a Comment