15 October 2008

Krisis calon pastor di Keuskupan Surabaya

Oleh Prof Dr. John Tondowidjojo CM
Pastor Paroki Kristus Raja Surabaya

Para pemimpin hierarki di daerah-daerah misi sudah sejak dini berpikir tentang adanya bibit-bibit panggilan yang berasal dari daerah misi sendiri yang nantinya bisa menggembalakan Gereja lokal dan meneruskan misi Kristus yang telah dirintis oleh para misionaris mancanegara. Hal tersebut terungkap dari sikap Prefektur Apostolik Mgr. J. De Backere CM dengan mengirim beberapa frater yang mau menjadi anggota Kongregasi Misi seperti Romo Ignatius Dwidjasoesastra CM.

Setelah selesai Seminari Menengah di Yogyakarta para frater lalu dikirim ke Seminari Tinggi Kongregasi Misi St. Jozef di Helden, Panningen, Belanda. Mgr. Michael Verhoeks CM, Vikaris Apostolik Surabaya, mengirim para Frater ke Seminari Tinggi di Code, Yogyakarta, sampai selesai lalu bekerja di Vikariat Apostolik Surabaya.

Bahkan, Mgr. Michael Verhoeks merintis berdirinya Seminari Menengah Keuskupan Surabaya pada 29 Juni 1948, lalu dilanjutkan serta dikembangkan oleh Mgr. J.A.M. Klooster CM, Mgr. A.J. Dibjokarjono, dan Mgr. Johanes Hadiwikarta, hingga saat ini diteruskan oleh Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono.

JEJAK LANGKAH SEMINARI GARUM

Seminari Menengah pertama Keuskupan Surabaya dengan nama Pelindung St. Vincentius à Paulo didirikan oleh Mgr. Michael Verhoeks CM pada 29 Juni 1948, berlokasi di Pavilyun Pastoran Paroki Kelahiran St. Perawan Maria, Jalan Kepanjen 9 Surabaya. Hal tersebut sebagai realisasi gagasan Mgr. de Backere CM – Prefek Apostolik Surabaya. Sebenarnya calon-calon Seminaris itu sudah berhimpun di Kediri sejak 26 Juni 1948 atas perjuangan Romo Ign. Dwidjasoesastra CM.

Pada waktu itu situasi pendudukan tentara Belanda masih genting. Dari Kediri ke Surabaya harus ditempuh jalan darat yang memakan waktu tiga hari. Angkatan pertama ada delapan orang dan sebagian besar atas hasil perjuangan Romo Ign. Dwidjasoesastra CM. Kelompok ini ialah J. Haryanto, S. Sunaryo, R. Sutarno, B. Suryadi, A. Hardjatmo, lalu menyusul dari Yogyakarta yakni J. Purnomo, C. Subagiyo, dan dari Surabaya Adel Koentjoro dan Max Soegriwo (setelah beberapa hari lalu keluar).

Enam bulan kemudian Keuskupan Surabaya mendapatkan rumah di Jalan Dinoyo 42 Surabaya, atas jerih payah Romo G. van Bakel CM, Pastor Kepala Paroki Hati Kudus Yesus, Surabaya. Pada 25 Februari 1950 Seminari Menengah St. Vincentius à Paulo dipindahkan ke Jalan Dinoyo 42 Surabaya dan Romo H. van Megen CM Rektor pertamanya, dibantu oleh Rm J. Wolters CM, Romo Sjef Verbong CM, Romo H. Niessen CM, Romo W. van den Brand CM, Romo Michel van Driel, Romo B. Slutter CM, Romo J. Rulkens CM, Romo O. Blondeel CM, Romo G. Boonekamp CM.

Siswa makin bertambah dari delapan menjadi dua belas, yaitu PC Surjanto, Ign. Suharto, Ign. Widijanto, dan Karel Dommers. Mereka kebanyakan hasil dari upaya Romo Ign. Dwidjasoesastra CM. Setelah itu ditambah lagi dengan R. Widijat, L. Sumarto, A. Siswadi, L. The Bing Kwie, Johnny Soetiarso (John Tondowidjojo), A. Soegianto, J. Suhakto, Th. Kho Sie Tjoen, Ign. Sunardi, PC. Utoko, Fr. Budoyo, Chr. Ismanadji.

Angkatan ini pun kebanyakan berkat upaya Romo Ign. Dwidjasoesastra CM. Pada 1950, karena jumlah seminaris semakin banyak dan rumah di Dinoyo 42 sudah tidak bisa menampung lagi, maka Mgr. Klooster CM menugaskan Romo Michel van Driel CM untuk mencari lahan baru. Akhirnya, diperoleh sebidang tanah luas di Garum, Blitar. Di sinilah dibangun Seminari Menengah baru. Pada 1 Oktober 1958 seluruh penghuni Seminari Menengah St. Vincentius á Paulo Jalan Dinoyo 42 Surabaya pindah ke Garum, Blitar. Yang menjadi rektor Romo Sjef Verbong CM (1958-1965).

Seminari Garum lambat laun membuka kemungkinan untuk mengikuti ujian SMP-SMA seperti ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam tahun 1959 untuk pertama kalinya para siswa menempuh ujian negara tingkat SMP, sedangkan untuk tingkat SMA dalam tahun 1964. Pertama-tama hanya ada SMA jurusan Budaya, tetapi lambat laun juga membuka jurusan Paspal. Sampai sekarang dapat dikata selalu lulus 100 persen. Program proses belajar yang dirintis oleh Romo Sjef Verbong CM dilanjutkan oleh Romo Johanes Haryanto CM, rektor pengganti (1965-1968).

Dalam-tahun 1973 Seminari Menengah St. Vincentius à Paulo, Keuskupan Surabaya, genap 25 tahun berdiri. Dalam momentum ini penulis menyelenggarakan reuni para eks seminaris dan para siswa Seminari Menengah St. Vincentius á Paulo, di Garum, Blitar. Dari tahun 1948 sampai 1973 tercatat 400 siswa yang pernah belajar pada Seminari Menengah St. Vincentius á Paulo Keuskupan Surabaya di Garum Blitar. Dari jumlah itu ada 35 orang ditahbiskan menjadi imam, 19 orang menjadi mahasiswa Seminari Tinggi (11 CM dan 8 Projo di Yogyakarta). Siswa Seminari Garum pada 1973 mencapai 100 orang, termasuk 18 orang dari Keuskupan Denpasar.

Setelah Romo Adam van Mensvoort CM meninggal dunia lalu rektor selanjutnya ialah Romo Louis Pandu CM (1987-1994). Sudah sejak Romo Adam van Mensvoort CM diadakan kegiatan kursus-kursus untuk menambah gemblengan khusus sambil memperdalam penyaringan dalam seleksi kepribadian. Hal yang baru dalam proses penyaringan ini ialah mereka yang selesai dan lulus tingkat SMA dikirim ke Institut Pastoral Indonesia yang diasuh Romo Paul Janssen CM di Malang. Di sini mereka menghadapi masa orientasi pastoral yang pada dasarnya penyaringan kepribadian dan diterjunkan untuk hidup sosial dalam arti siap hidup berbaur dengan umat.

Pada 1988 Seminari Menengah St. Vincentius à Paulo genap berusia 40 tahun berdiri. Sehubungan dengan hal tersebut penulis mengkoordinasi para eks seminaris di Indonesia untuk reuni di Garum, 19 Juni 1988, dengan tim khusus dari para eks senior yakni Tan Tjong Hian, Ronald Wolfe, Jangkung Karyanto, Sukopurwanto, Liem Tjien Hoo, Kian Haryanto, Djokodwihatmono, Nic. Dadiadi, FX Totok Kusdianto, Adel Koentjoro, Anton Suharyo, dan Handoko Sasmito. Acaranya ialah Temu kangen antara eks Seminaris dengan para siswa Seminari Menengah di Garum Blitar, Seminar dengan pembicara antara lain Romo St. Reksosusilo CM, bertema euni. Lalu dibahas tentang seminari itu sendiri dan diadakan evaluasi tentang pendidikan di seminari.

Dalam periode ini ada pergantian dari Romo Louis Pandu CM ke Romo Alb. Haryopranoto (1994-1995), dan setelah itu digantikan oleh Romo Ag. Marsup CM (1995-2000). Para eks seminaris Surabaya menyumbangkan dana untuk membenahi perpustakaan Seminari Garum. Dalam periode ini terjadi lagi pergantian rektor. Pada 2000 Romo Ag. Marsup CM digantikan oleh Romo Petrus Canisius Edi Laksito. Sehubungan dengan adanya Tahun Suci 2000, di Seminari Menengah diadakan pembenahan, terutama aula direhab dengan ditingkat serta perpustakaan mendapatkan pula perhatian khusus. Saat ini rektor dipegang oleh Romo Cosmas Benediktus Centi Fernandez.

INFANTILISME DALAM HIDUP BERAGAMA

Berbicara masalah calon imam di Keuskupan Surabaya khususnya dan Indonesia pada umumnya, dewasa ini layaknya kita melihat panorama yang indah dari kejauhan. Dari jauh sangat indah dan marak, tapi semakin didekati banyak hal yang memprihatinkan. Pemandangan itu terpancar pada situasi Gereja kita saat ini. Dari jauh indah penuh dengan berbagai nuansa, semakin kita dekati nuansa yang kita gambarkan indah itu ternyata masih banyak hal yang masih perlu dibenahi, salah satunya panggilan calon imam.

Keindahan Gereja Katolik dewasa ini nampak pada perkembangan jumlah umat dan bangunan gereja yang marak, namun kalau kita telusuri lebih lanjut perkembangan itu tidak diimbangi dengan perkembangan calon imam. Kita tidak dapat mengatakan perkembangannya menurun atau naik, namun sangat cocok kalau kita katakan sangat minim. Sistuasi semacam ini sangat dipengaruhi oleh gejala makro yang berkembang di zaman ini yang sering kita sebut dengan ”Zaman Modern”.

Di zaman modern pengaruh agama terhadap tata hidup masyarakat sangat menurun, bahkan kecil sekali. Banyak sistem pemerintahan dewasa ini sekularis. Keterlibatan agama sangat kecil dalam proses pembangunan bangsa dan masyarakat. Banyak pemeluk agama lebih cenderung mengikuti hal-hal ritual dan sangat kurang dalam penghayatan imannya. Mereka jatuh ke dalam ATHEISME PRAKTIS: mengakui Tuhan dengan bibir, tetapi dalam hidup sehari-hari tidak memedulikan Tuhan. Munafik.

Dari sini muncul krisis iman yang antara lain mengakibatkan krisis panggilan menjadi suster, bruder, frater, imam, serta rasul-rasul awam di paroki-paroki. Kehidupan menggereja menurun. Salah satu konsekuensi lain dari krisis iman ialah munculnya INFANTILISME, yakni orang beriman seperti kanak-kanak. Hal semacam ini menjalar di seluruh dunia dan juga di Indonesia. Akhirnya, masing-masing orang mempunyai pengetahuan yang kabur tentang agamannya.

Masalah keagamaan di negara-negara maju hampir kurang disentuh dalam setiap pendekatan humaniora di kalangan masyarakatnya. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah kemajuan teknologi yang sangat berpengaruh pada tata kehidupan masyarakat. Waktu untuk hal-hal yang bersifat religius sangat minim. Manusia lebih melihat jauh ke depan dengan wawasan teknologi untuk memenuhi hasrat nuraninya, yang pada akhirnya membentuk masyarakat manusia bersifat global. Pemimpin religius, bahkan tokoh yang paling terkemuka sekalipun, berpengaruh hanya pada sebagian kecil dari masyarakat dunia. Ia hampir tidak memberikan penekanan moral atas urusan-urusan global. Mereka memberikan kontribusi hanya pada satu bagian atas pengaruh keseluruhan yang membentuk ekspresi-ekspresi budaya dunia.

Gejala semacam ini sedikit atau banyak telah merasuk pula ke dalam kehidupan beragama di lingkungan kita. Sebenarnya dari pihak Gereja di Indonesia tidak henti-hentinya telah berusaha untuk menyadarkan jemaat akan dampak kehidupan menggereja seperti itu. Walau hasil yang dicapai masih kurang memadai namun usaha itu terus berlanjut. Pendalaman iman di wilayah dan lingkungan tak henti-hentinya di laksanakan. Bahkan kursus pengetahuan iman, pendalaman Kitab Suci dan berbagai kegiatan yang bersifat kerohanian digiatkan, namun semua itu tidak mampu untuk menjawab kebutuhan Gereja akan “Panggilan menjadi Rohaniwan dan Rohaniwati”.

Faktor lain yang sangat berpengaruh terhadap minimnya jumlah panggilan, khususnya menjadi imam, karena masalah panggilan itu sendiri dalam setiap kegiatan gereja sama sekali tidak pernah disentuh. Persoalan ini nampaknya hanya disinggung pada saat diadakannya “Aksi Panggilan” yang hanya dilaksanakan setahun sekali, dalam Minggu Panggilan. Hal itu pun hanya disinggung dalam Khotbah Mimbar. Memang ada acara khusus yang menanggapi masalah panggilan yang dikemas dalam Ekspo Panggilan, itu dilaksanakan tidak setiap tahun.

Keluarga Katolik yang seharusnya merupakan sekolah panggilan dan suplier panggilan, pada kenyataannya TIDAK PERNAH memberi porsi cukup terhadap panggilan hidup menggereja kepada anak-anak mereka. Keluarga Katolik dewasa ini lebih memfokuskan masalah pendidikan pada bidang-bidang profan untuk bekal hidup di masa depan dengan hasil yang menggembirakan dalam bentuk materi. Sisi hidup alternatif sebagai imam tidak pernah diperkenalkan kepada anak-anak mereka. Sehingga, anak-anak tidak tertarik untuk memilih hidup sebagai biarawan/biarawati karena mereka kurang mengenal.


SIMPULAN DAN SARAN

Kurang berkembangnya jumlah panggilan sebenarnya tanggung jawab kita semua. Banyak kasus yang sebenarnya merupakan tanggung jawab kita sebagai TUBUH GEREJA UNIVERSAL, namun dampak yang paling langsung ada pada diri Hierarki Gereja Lokal. Pada skala yang lebih luas sangat berpengaruh pada panggilan hidup menggereja. Satu contoh kasus di Amerika Serikat, Gereja sangat terpukul dengan skandal seks. Bagaimana pula dengan di Afrika yang disinyalir bahwa panggilan menjadi imam diwarnai krisis nilai, karena imamat hanya dilihat sebagai upaya perolehan status sosial.

Bagaimanapun juga masalah panggilan merupakan tanggung jawab kita bersama, karena imam itu dari kita, bersama kita, dan untuk kita. Baik buruknya, maju mundurnya jumlah para imam, tidak lepas dengan peran kita sebagai umat yang mengkristal dalam sebuah keluarga. Keluarga adalah tempat panggilan lahir, dikenal, dan dipelihara. Keluarga juga sekolah menjadi imam, sekolah pengorbanan, cinta, pemberian diri, doa, dan pelayanan. Di sinilah kaum awam atau umat harus ikut terlibat mencari, memelihara, dan menumbuhkan benih panggilan.

Dalam Gereja Katolik, peranan imam menjadi inti dinamika kehidupan religiusnya. Peranan kunci yang dipegang mereka di altar untuk mendoakan umat kepada Allah, di sini diperlukan kedewasaan dalam iman. Seorang pastor bisa saja berdosa, tetapi dia harus tetap membawa mereka yang berdosa kepada Allah. Konsekuensi moral yang harus dia emban sedikit banyak sudah dibina sejak di seminari, sehingga saat melangkah dalam meniti hidup panggilannya, mereka siap dengan kedewasaan iman. (*)

2 comments:

  1. Modern tenan ya penampilan Pastor jaman sekarang. Kayaknya nggak di Surabaya aja yang lagi krisis calon Pastor, di Yogja juga..

    Aku turut prihatin..

    ReplyDelete
  2. saya hanya mau bertanya.........

    entah kenapa akhir akhir ini, saya merasa ada sesuatu yang mendorong saya untuk menjadi imam.

    saya mau bertanya apakah itu panggilan dari Tuhan atau itu hanya perasaan saya saja?

    thx
    God bless us

    ReplyDelete