04 October 2008

Empat mahasiswa UPN magang


Nevy sama Anggun lagi kerja keras.

Pada bulan puasa lalu, saya kembali mendapat tugas untuk membimbing empat mahasiswa UPN (Universitas Pembangunan Nasional) Veteran Surabaya. Mereka Antonius Angga, Randie William, Nevy Periyanti, dan Anggun Dewi. Seperti biasa, lama magang satu bulan.

Magang, bagi mahasiswa komunikasi, merupakan tugas wajib. Kalau tidak magang di media, maka beberapa mata kuliah tidak bisa diambil. Dus, magang mau tidak mau, suka tak suka, senang tak senang, harus dilalui. "Cari tempat magang di Surabaya itu susah lho. Makanya, saya senang sekali bisa magang di Radar Surabaya," kata Randie, yang mengaku jago main bola.

Dibandingkan teman-teman lain, saya termasuk "berpengalaman" mendampingi para mahasiswa magang. Ada yang dari UPN, ITS, Stikosa AWS, Unesa, Unmuh Sidoarjo, hingga Universitas Airlangga. Karena itu, sedikit banyak saya hafal karakter mahasiswa dari berbagai universitas di Surabaya. Paling asyik, ya, mendampingi mahasiswa-mahasiswa macam UPN ini.

Kenapa? Mereka pasti benar-benar bekerja. Meskipun tidak dibayar, mereka kerja mati-matian layaknya reporter beneran. Cari data. Memfoto. Wawancara. Mengetik. Padahal, mereka tak beroleh bayaran. Upahnya, ya, bisa magang dan dapat pengalaman lapangan. Juga bimbingan langsung dari redaktur.

Saya masih ingat bagaimana Elsa dan Ira--juga dua mahasiswa UPN Veteran--jalan kaki dari Joyoboyo ke Kupang Baru, rumah pelawak Kartono, karena sopir angkutan kota mogok massal pada Mei 2008. "Anggap saja ini pengalaman. Jarang lho mahasiswa bisa setiap hari bertemu dengan orang-orang penting," kata Ira. Bukan main!

Sebelum magang, saya selalu bertanya apakah mereka sudah mendapat teori menulis berita langsung, fitur (feature), dasar-dasar jurnalistik. "Oh, kami sudah dapat semua. Bahkan, kami selalu dapat tugas menulis berita di kampus," begitu jawaban adik-adik magang UPN Veteran. "Kalau belum ambil kuliah itu, ya, kami nggak mungkin magang," tambah yang lain.

Saya percaya saja. Mahasiswa komunikasi di mana-mana memang sudah banyak makan teori. Hanya praktiknya yang kurang. Kalaupun sudah praktik, biasanya jarang mendapat bimbingan intensif. Terlalu sulit bagi seorang dosen menangani sekian banyak mahasiswa.

Bagaimana si dosen bisa membaca tulisan anak-anak didiknya satu per satu? Membetulkan ejaan? Logika yang berantakan? Belum soal akurasi, gaya bahasa, dan elemen-elemen dasar jurnalistik lainnya. Karena itu, saya tidak pernah menuntut banyak dari para magang. Asal rajin masuk, mau ke lapangan, menulis satu berita tiap hari, cukuplah.

Nilainya pasti bagus. Kalau tulisan anak magang jelek, ya, sayalah yang harus membaguskannya. Sudah tugas redaktur to yang harus bikin baik itu tulisan-tulisan. Tapi memang sangat afdal kalau tulisan-tulisan yang disetor itu pressklaar alias fit to print. Biar tidak capek-capek edit sana edit sini, bukan?

Selama ini saya puas dengan kinerja mahasiswa-mahasiswa UPN. Mereka benar-benar bekerja. Saking seriusnya, banyak yang tidak sempat mandi. Langsung ke kantor, mengetik berita, untuk kemudian diedit. Kehadiran mereka membuat pasukan saya lebih segar dan energetik. Saya sering kehilangan ketika masa magang para mahasiswa ini habis.

Kekurangan magang? Tentu banyak. Tapi yang paling serius adalah EJAAN. Mereka umumnya kurang tertib menggunakan ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Kapan titik, koma, kalimat langsung, kalimat tak langsung, belum tertib.

Para magang, juga reporter baru, memang suka memakai kalimat-kalimat panjang alias kalimat majemuk. Padahal, surat kabar di mana pun lebih suka kalimat sederhana. Kalimat-kalimat pendek. Ihwal KALIMAT PENDEK selalu saya tekankan kepada wartawan baru dan para magang. Tapi, ya, adik-adik ini selalu lupa. Apa boleh buat, si penyunting dibuat pusing dan capek.

Mudah-mudahan para guru kita, mulai sekolah dasar sampai universitas, semakin serius membekali anak didiknya dengan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulisan. Ingat, hasil ujian nasional bahasa Indonesia tahun ini--juga tahun-tahun sebelumnya--paling parah dibandingkan mata pelajaran lain.

5 comments:

  1. istimewa boz... emang mahasiswa-mahasiswa UPN, hebat semua. kalau bisa semua yang magang di Radar anak UPN aja, hehehe...
    syukur2 lulusannya bisa diterima jadi reporter di sana, hahaha...amin,,

    elsa & Ira

    ReplyDelete
  2. hehehe...
    ira dan elsa, dah lulus belum? anak UPN memang ulet dan rajin. aq paling semangat kalo bimbing magang UPN. selamat jalan2 ke taman dan rumah cak kartolo.

    ReplyDelete
  3. Kalau ada magang buat anak informatika adari UPN juga,tolong beritahu infonya,dong!

    ReplyDelete
  4. Sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas bantuan liputan kegiatan di al muslim yang selama ini sudah tampil di Radar Surabaya..sejak kenal blog ini saya sekrang kenal dengan reporter Radar SBY termasuk yang lagi magang di koran harian ini..ke depan mungkin ada kerjasama yang berkesinambungan. Semoga kerjasama ini terus terjalin dengan erat..amin..

    ReplyDelete
  5. Sama-sama. Saya juga senang karena teman-teman di Al Muslim selalu memberitahukan kegiatan sekolah kepada kami, khususnya via email saya. Semoga sukses selalu!

    ReplyDelete