16 October 2008

Eddy Samson ketua de Indo Club Surabaya



Mau belajar bahasa Belanda secara cuma-cuma? Datang saja ke rumah Eddy Emanuel Samson. Hampir setiap hari rumah tua di Jalan Asem Mulya IV/1 Surabaya ini didatangi para opa, oma, om, dan tante yang ber-Hollands Spreken. Sebagai ketua de Indo Club Surabaya, Eddy Samson memang ‘mewajibkan’ para anggotanya untuk bicara dalam bahasa Belanda.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

“Bahasa apa pun kalau tidak dipakai lama-lama mati. Biar bahasa Belandanya pasaran, bengkok-bengkok, tidak apa-apa. Yang penting, jangan sampai bahasa ini hilang dari Surabaya dan Indonesia umumnya,” kata Eddy Samson.

Bagaimana komunitas Indo di Surabaya?

Kondisinya cukup memprihatinkan. Rata-rata usia orang Indo--maksudnya berdarah campuran Indonesia dan Belanda, jadi bukan negara-negara Eropa lain--sudah berumur. Kehidupan ekonominya pun tidak semuanya baik. Mereka terpencar di mana-mana. Nyaris tidak ada komunikasi satu sama lain.

Sama-sama Indo, mengapa tidak bisa berkomunikasi?

Asal tahu saja, orang Indo ini kan punya pengalaman sejarah yang tidak enak. Ketika ada masalah Irian Barat, perang antara Indonesia dan Belanda, tahun 1960-an, posisi orang Indo ini serba salah. Sebab, dia punya dua macam darah, yaitu Belanda dan Indonesia. Saya sendiri campuran Belanda (bapak) dan Indonesia (mama). Situasinya semakin sulit dengan pengusiran orang-orang Belanda pada tahun 1962. Kondisi ini membuat orang-orang Indo yang bertahan di tanah air, termasuk Surabaya, tiarap. Nah, komunitas Indo yang ada sekarang itu sedikit banyak masih ingat situasi tahun 1960-an.

Lantas, bagaimana Anda bisa mengumpulkan para Indo yang tersebar di mana-mana?

Wah, ceritanya panjang. Tahun 1994 saya buku Soerabaja: Beeld van Een Stad terbit di Belanda. Ternyata, buku ini tersebar sangat luas. Saya kebetulan menjadi pemandu sekaligus narasumber utama buku yang diterbitkan oleh Asia Maior itu. Orang-orang Indo di Belanda atau yang punya keluarga di Surabaya membaca buku itu. Sejak itu mereka berdatangan ke Surabaya untuk melihat keluarganya atau sekadar nostalgia.

Puji Tuhan, salah satu orang Belanda yang datang ke rumah saya adalah Ruud von Faber. Dia ini anaknya GH von Faber, sejarawan yang menulis tiga buku master piece Surabaya, yakni Oud Soerabaia (terbit 1926), Nieuw Soerabaia (1931), dan Erwerd Een Staad Geboren (1953). Von Faber ini meninggal tahun 1955 dan dimakamkan di Kembang Kuning.

Kedatangan putra von Faber dan orang-orang Belanda lain didengar orang-orang Indo di Surabaya?

Iya. Mula-mula beberapa orang, kemudian makin banyak. Saya dan Ibu Elkana Jonathan Olivier di YPKIB (Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Belanda) kemudian berusaha menghubungi teman-teman Indo. Mereka gethuk tular, menghubungi temannya lagi, dan seterusnya. Ibu Elkana pindah ke Tiongkok, akhirnya saya jalan bersama teman-teman yang berminat. Kami, sesama Indo, akhirnya bisa ketemu. Yang dulu masih muda-muda, cantik, ganteng, sekarang sudah pada uzur. Saya dulu juga, kata orang, ganteng. Hehehe....

Lalu, kapan de Indo Club mulai eksis?

Tahun 2007 sudah jalan, tapi masih informal. Sering ada pertemuan di sini (rumah Eddy Samson, Red). Baru tahun 2008 kami adakan dua kali pertemuan resmi. Pertama, 11 Mei 2008, sangat mengejutkan karena yang hadir dua kali lipat dari perkiraan. Sekitar 90 orang. Pertemuan kedua, 31 Agustus 2008, lebih hebat lagi. Yang hadir tercatat 226 orang. Pantia sampai kewalahan karena meja yang dipesan ternyata kurang. Tapi bagaimanapun juga ini perkembangan yang sangat menggembirakan bagi de Indo Club Surabaya.

Saya dengar de Indo Club mewajibkan anggotanya berbahasa Belanda dalam setiap pertemuan?

Benar. Itu memang salah satu tujuan klub ini. Kita ingin melestarikan bahasa Belanda kepada masyarakat luas. Teman-teman Indo ini kan sejak kecil diajari bahasa Belanda, berbicara dalam bahasa Belanda, di rumah. Tapi, karena tidak ada teman bicara, jarang praktik, ya, lama-lama kaku dan lupa. Setelah ada de Indo Club, bahasa yang tadinya hampir mati jadi hidup lagi. Bahasa Belanda ini penting karena banyak sekali dokumen sejarah kita yang ditulis dalam bahasa Belanda. Bagaimana kita bisa mempelajari kalau kita tidak tahu bahasanya?

Apakah semua anggota de Indo Club berdarah campuran Indonesia-Belanda?

Tidak. Dari 226 anggota itu, hanya sekitar 30 persen yang Indo tulen. Yang 70 persen itu teman-teman yang biasa berbahasa Belanda, ikut menghayati kultur Indo, dan simpatisan. Kita memang sengaja membuka diri agar klub ini bisa lebih berkembang. Semakin banyak orang yang berbahasa Indonesia kan semakin baik.

Bagaimana dengan Indo generasi ketiga? Sebab, saya melihat Anda dan para aktivis senior itu semuanya generasi kedua.

Wah, ini memang persoalan krusial di kalangan komunitas Indo. Terus terang saja, generasi ketiga ini tidak tertarik dengan bahasa Belanda dan kebudayaan Indo. Bahkan, anak saya pun tidak bisa berbahasa Belanda. Makanya, ini menjadi pe-er yang sangat berat bagi kami di de Indo Club.

Ensiklopedia Berjalan
Meski bukan ahi sejarawan, EDDY EMANUEL SAMSON sangat cinta sejarah. Apalagi, sebagai pria berdarah campuran Belanda- Manado, dia terbiasa membaca buku-buku berbahasa Belanda sejak kecil. Sang ayah, Johannes Alexander Samson (almarhum), memang mewajibkan anak-anaknya untuk berbahasa Belanda di rumah.

Maka, Eddy pun menguasai cerita-cerita tentang Surabaya masa lalu. Kondisi Surabaya sebelum kemerdekaan, pascakemerdekaan, hingga sekarang. “Bapak saya itu punya banyak dokumentasi. Dan itu saya koleksi karena suatu saat pasti digunakan,” tutur pria yang tetap energetik di usia senja ini.

Eddy Samson kemudian dipercaya sebagai narasumber utama buku berjudul Soerabaja: Beeld van Een Stad. Buku ini didominasi foto-foto masa lalu Surabaya yang dikoleksi Eddy dari berbagai sumber. Tiga buku karya von Vaber menjadi referensi utama. “Jasa mendiang von Faber itu sangat besar bagi kita di Surabaya. Berkat karya-karyanya, kita jadi tahu banyak tentang perkembangan Kota Surabaya,” kata ayah empat anak dari dua istri ini. Eddy menikah dua kali karena istri pertama, Diana, yang memberinya dua anak, meninggal dunia.

Nah, setelah buku Soerabaja: Beeld van Een Stad beredar, nama orang kampung Asem Mulya ini pun melejit. Orang-orang Belanda, khususnya yang punya pertalian darah dengan Indonesia, selalu mencari Eddy ketika berkunjung ke Indonesia. Mereka menganggap Eddy Samson sebagai ensiklopedia hidup tentang Surabaya di era Hindia Belanda. “Rumah saya ini selalu didatangi orang-orang Belanda. Kebetulan saya masih punya data nama-nama jalan lama di Surabaya, dan itu memudahkan mereka untuk napak tilas rumah keluarganya dulu.”

Semangat Eddy Samson untuk menggeluti Oud Soerabaia semakin berkobar ketika Radar Surabaya membuka rubrik Soerabaia Tempo Doeloe yang diasuh oleh Dukut Imam Widodo. Eddy tak sekadar memberikan saran dan masukan, tapi juga menyumbangkan banyak koleksi foto-foto lama untuk dimuat di Radar Surabaya pada 2001.

Berkat Soerabaia Tempo Doeloe pula, terbentuklah Tim 11 yang bertugas antara lain mencari makam von Faber di Kembang Kuning. “Kami mencari selama dua minggu dan akhirnya ketemu,” kenang Eddy Samson. Makam sejarawan Indo-Surabaya itu kemudian direnovasi oleh Pemerintah Kota Surabaya.


EDDY EMANUEL SAMSON

Tempat, tanggal lahir: Surabaya, 3 April 1934
Alamat: Jalan Asem Mulya IV/1 Surabaya


Telepon : 031 547 4877, 031 720 539 10
Agama: Kristen Protestan
Istri I: Diana Runtulalo (meninggal)
Anak: Fabian Cornelius Samson, Agustine Samson
Istri II: Haryati
Anak: Johannes Samson, Samuel Samson

AKTIVITAS

*Tim 11 Von Faber Cagar Budaya Kota Surabaya
*Tim Soerabaia Tempo Doeloe
*Surabaya Heritage
*Ketua de Indo Club Surabaya
*Pemandu wisata sejarah Surabaya

11 comments:

  1. hebat pak eddy. gedank!!!

    ReplyDelete
  2. mas..
    nama aku yoko dari pandaan-pasuruan.
    umur 35 tahun. Aku suka postingan anda tentang candi dan majapahit
    history.

    yoko s. suyono

    ReplyDelete
  3. ikbenindoenblijfindo1:59 AM, December 10, 2008

    Senang dengar tentang "De Indo Club Soerabaya". Mudah-mudahan menjadi perkumpulan yang memberi banyak manfaat bagi Indo-indo dan turunan yang tersisa. Hup de Indo's

    ReplyDelete
  4. nama saya titi...senang sekali saya baca artikel ini...kapan2 boleh ya opa saya main ke tempatnya...saya pengen dengar crita tempo dulu langsung dari sumbernya..he..kalo boleh..

    ReplyDelete
  5. hebat pak eddy, tetap peduli bangunan tua dan komunitas indo belanda. sampean layak dapat penghargaan dr pemerintah indonesia n belanda.

    ReplyDelete
  6. dukungan atas dedikasi pak eddy buat sejarah kota surabaya.

    ReplyDelete
  7. Hallo ED;hier met Oepoeng.Ik heb deze site even snel gelezen,maar ik heb je toch twee maal opgezocht of ben je het al vergeten.
    de eerste keer in 1995 waarbij Hariaty liet weten de papieren en trouwfoto van Oma Dien aan mij mee te geven.Een kleine vier maanden heb ik je nog gebeld en kreeg een e-mailtje van van je kleindochters.Goed dan groetjes van je neef;GBU

    ReplyDelete
  8. Beste heer Samson, leuk om uw blog te lezen al gaat dit voor mij moeizaam omdat ik bahasa Indonesia niet meer zo goed kan lezen. Ik moet de Google vertaling op uw blog nog proberen.
    Omdat ik gezien en gehoord hebt in een uitzending van Van Dis In Indonesië dat u de Nederlandse taal nog heel goed beheerst schrijf ik u in het nederlands.
    Wilt u de uitzending van Van Dis in Indonesië bekijken waar u zelf deel van heb uitgemaakt dan is hier de link:
    http://www.hebikietsgemist.nl/aflevering/95306/nederland-2/van-dis-in-indonesie/hollandse-duinen-.html

    Ik heb met bewondering uw moed en wilskracht gezien en wens u nog een goede gezondheid en geluk toe.
    Zal uw blog regelmatig bezoeken.
    Met vriendelijke groet, Andy de Leau

    ReplyDelete
  9. Pak Eddy yth.,
    Saya senang sekali bahwa secara kebetulan saya boleh bertemu anda face to face bulan maret 2012 ybl di Hotel Garden Palace Surabaya sewaktu libur saya (dari Amsterdam) ke tanah luhur Kota Suro ing Boyo. Usaha anda untuk melestarikan sejarah dan budaya Indonesia, Surabaya pada chususnya, menyenangkan saya tidak ketanggungan. Salut. Di Amsterdam saya pernah memberi suatu presentasi tentang kota Surabaya, kota kelahiran saya, untuk para hadirin bermulti keturunan. Tentang aktivitas bapak saya ingin anjurkan "Ga zo door, meneer" atau "Terusno pak." Salam hormat dari Arek Surobyo di Amsterdam. Tot ziens / Sampai bertemu.

    ReplyDelete
  10. buat yang udah fasih bahasa belanda, ada buku klasik yang isinya bagus nih. monggo dilihat bagi yang minat :)
    http://buku.tokobagus.com/sejarah/seri-buku-sexueele-zeden-in-woord-en-beeld-lengkap-16477264.html

    ReplyDelete
  11. sedikit ralat gan
    Johanes Samson tdk ada hub darah sm Eddy Samson
    thnkd

    ReplyDelete