27 October 2008

Dansa di Bill Belle Garden Palace Surabaya



Mau belajar dansa suka-suka tanpa bayar? Datang saja ke Bill Belle di Hotel Garden Palace. Setiap malam pasangan suami-istri (atau kekasih) merajut kemesraan dengan berdansa sampai dini hari. Komunitas pedansa Bill Belle bahkan sudah bertahan puluhan tahun.

Oleh LAMBERTUS L. HUREK

JUMAT (24 Oktober 2008), pukul 23.20 WIB. Bill Belle di lantai dua Garden Palace yang tadinya sepi mulai ramai. Delapan pasang suami-istri plus enam pria tanpa pasangan nongkong sambil menikmati lagu-lagu nostalgia yang dibawakan Abouwhim Band. Seorang pria berkacamata, bertubuh subur, terlihat menggoyangkan kepala. Sesekali dia merespons pembicaraan istri serta dua wanita di sampingnya. Tertawanya lepas.

Tiba-tiba, band yang dimotori anak-anak Papua ini mengganti irama. Kristina, vokalias asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, melantunkan Send Me The Pillow. Suaranya merdu merayu. Tanpa banyak pikir, pria lansia itu menggandeng sang istri. Mereka pun berdansa. "Saya dan istri memang paling suka waltz. Orang kalau sudah kenal waltz, wah-wah, seperti kecanduan deh. Kalau nggak dansa, kaki ini rasanya gatal sekali," ujar pria itu kepada saya.

Pria 70-an tahun ini tak lain Buckley RJ Alling dan Jacqueline Toorop. Bahasa Indonesianya lancar, logatnya campuran Belanda dan Manado. Buckley warga negara Belanda, tinggal di kota Voorburg. "Saya liburan satu bulan di Surabaya. Kalau sudah ke Surabaya, saya harus mampir di sini. Itu kebiasaan saya sejak 1970-an," ujar Buckley RJ Alling lalu tertawa kecil. Jacqueline Toorop pun mengiayakan.

Tuan Buckley tidak membual. Beberapa pasutri yang baru datang ramai-ramai menyalami tamu khusus dari Belanda ini. Mereka mengucapkan selamat datang, selamat berdansa di Bill Belle. "Hampir semua orang yang ada di sini saya kenal. Mereka juga kenal saya. Kami kan sama-sama suka dansa," ujar Buckley.

Sebetulnya manajemen Garden Palace tak pernah membentuk komunitas dansa-dansi untuk para lansia. Pihak hotel hanya menyediakan Bill Belle sebagai lounge & bar layaknya hotel-hotel berbintang. Juga tiga band tetap yang menyuguhkan live music: Abouwhim Band, Royal Beat Band, dan Sepherd Band. Namun, entah bagaimana asal-muasalnya, terbentuk semacam komunitas penggemar dansa. Sebut saja Bill Belle Community.

"Kalau dibilang komunitas sih tidak ada. Wong tidak ada organisasi, tidak ada member, tidak ada pengurus. Kita ini datang secara spontan, cari hiburan, kebetulan sama-sama suka menyanyi dan dansa. Kalau ada lagu-lagu yang enak, ya, kita dansa," ujar Frans, pria berdarah Manado yang sudah 54 tahun tinggal di Surabaya.

Sejak kapan Frans menghabiskan malam di Bill Belle?

"Waduh, sudah lama sekali. Yang jelas, sudah 20 tahun lebih. Saya pertama kali ke sini itu waktu masih muda dan ganteng. Sampai usia begini (mendekati 60) saya masih tetap ke Bill Belle," ujar pria yang sangat doyan menyanyi besama Abouwhim Band itu. Frans memirip-miripkan suaranya macam Luois Amstrong, pemusik jazz kondang Afro-Amerika.

Bagi penggemar dansa-dansa, juga penikmat tempat hiburan malam umumnya, Bill Belle dianggap tempat hiburan paling aman. Kenapa? "Nggak ada purel yang harganya Rp 350 ribu itu. Hehehe.... Ini tempat hiburan keluarga. Yang dansa juga suami-istri, keluarga, atau teman sendiri. Orang tidak akan curiga kalau malam-malam kita ke Bill Belle," tukas pengusaha kayu itu.

Abouwhim Band, yang dipimpin Marten Korwa, terus menghadirkan musik di Bill Belle berkapasitas 70 orang itu. Yohana, vokalis asal Sangir, membawakan medley tiga lagu: Moon River, Around the World, dan Selamat Tinggal Sayang. Dua pasangan mendemonstraksikan kebolehannya berdansa. Gerakan kaki mereka lincah. Si perempuan seakan dibawa pasangannya melayang ke langit ketujuh. "Aku ini ya baru belajar, belum apa-apa. Di sini saya hanya menyalurkan hobi," ujar Ita yang mengaku belajar dansa di Balai Sahabat.

Gurunya, A Ming, malam itu hadir di Bill Belle. Instruktur dansa ini mengawasi dengan cermat detil-detil gerakan beberapa anak buahnya yang dinilai kurang sempurna. "Maklum, mereka pedansa amatir. Dansa karena hobi, bukan profesional. Tapi nggak apa-apa, kalau sering latihan, lama-lama gerakannya jadi bagus," kata A Ming kepada saya.

Menurut Frans, krisis ekonomi ternyata ikut mempengaruhi pasang-surut komunitas dansa di Bill Belle. Ketika krisis parah pada 1997, penggemar dansa yang menghabiskan malam lounge andalan Garden Palace ini menurun drastis. Ketika kondisi perekonomian membaik lagi, para penghobi dansa kembali ramai. “Sekarang krisis ekonomi datang lagi. Makanya, seperti Anda lihat sendiri okupansi Bill Belle sekarang tidak sampai 50 persen. Kalau dulu, wah, tiap malam penuh terus,” ujar Frans.


Komunitas dansa di Bill Belle, Hotel Garden Palace, tak bisa lepas dari live music. Para pemusik yang tampil di sini rata-rata sudah kawakan. Bertahun-tahun mereka ditanggap oleh manajemen hotel di Jalan Yos Sudarso Surabaya itu. Abouwhim Band merupakan salah satu band tetap di Bill Belle.

Kehadiran band serbabisa yang diperkuat beberapa pemusik Papua ini ini senantiasa ditunggu oleh para penggemar dansa-dansi. "Biasanya, kalau yang main Abouwhim pasti ramai. Om-om dan tante-tante kayaknya cocok banget sama Abouwhim," ujar seorang pelayan Bill Belle kepada saya.

Abouwhim Band tampil saban Senin, Rabu, dan Jumat. Coba datang ke lounge di lantai dua Garden Palace, Anda niscaya menemukan beberapa pasangan suami-istri (atau kekasih) yang siap melantai hingga larut malam. "Kami memang selalu melayani permintaan para tamu. Mau minta lagu apa saja kami siap. Meskipun basic Abouwhim itu reggae, semua jenis lagu kami bisa," ujar Edward David, pemain perkusi Abouwhim Band.

Sesuai segmen pasar 50 tahun ke atas, Abouwhim mula-mula memainkan lagu oldish untuk pemanasan. Lagu-lagu 1960-an dan 1970-an paling banyak disajikan. Juga lagu-lagu nostalgia Indonesia, termasuk musik pop daerah (Jawa, Sunda, Batak, Manado, Maluku, Papua). Abouwhim mengandalkan Marten Korwa sebagai vokalis utama sekaligus gitaris utama (lead guitar). Marten didampingi Kristina dan Yohana, dua nona manis, vokalis serbabisa.

"Kami juga selalu mengundang penunjung untuk menyanyi. Dan ternyata suara mereka bagus-bagus. Ini sangat membantu karena vokalis kami bisa istirahat sebentar," tukas Edward lalu tertawa kecil.

Kira-kira pukul 23.00 WIB, suasana mulai panas. Ketika sejumlah tamu, yang dikenal doyan dansa-dansi, sudah siap, Abouwhim Band kontan menyesuaikan musiknya dengan irama dansa. Menurut Edward, ada enam macam irama yang 'wajib' dihidangkan untuk pengunjung Bill Belle. Yakni, slow beat, slow rock, waltz, rumba, chacha, jive. "Kita buat variasi supaya orang tidak bosan," kata Edward yang bergabung bersama Abouwhim Band sejak 2000 di Bill Belle.

Ada pengalaman menarik selama mengiringi para pedansa? "Oh, banyak sekali. Setiap malam selalu menarik. Dan itu membuat kami bertahan main di sini sejak tahun 1999," tukas Edward.

Dia menyebut seorang om yang senang sekali berdansa sambil menggoyang-goyang gelas berisi minuman. Ketika musik makin hot, si om naik ke panggung penyanyi dan menyirami beberapa personel band dengan cairan itu. "Awalnya kami takut juga, tapi lama-lama jadi biasa. Enaknya, kalau sudah atraksi, dia bagi-bagi uang ke musisi. Hehehe...," tutur Edward.

2 comments:

  1. boleh juga, kitong bisa dansa reggae di sana.

    ReplyDelete
  2. boleh dicoba nih tempat ....
    makasih buat pak lambertus atas rekomendasinya ...

    ReplyDelete