21 October 2008

Cewek korban kawin kontrak



Namanya sebut saja Wulan. Wajah manis layaknya perempuan Jawa pedesaan. Usia 28, anak satu. Wulan sekarang merintis usaha kecil-kecilan, bisnis kecantikan, di Surabaya. Luwes, ramah, cepat akrab. Bahasa Inggrisnya bagus. Padahal, logat Jawanya medhok.

"Aku pernah kerja di Singapura, jadi babu. Ngurus anaknya orang. Di Singapura, bahasa Inggris aku bagus banget. Sekarang kurang lancar, wong jarang dipakai," papar Wulan kepada saya di sebuah kedai kopi Surabaya.

Suara musik hidup dari band spesialis lagu-lagu lawas mewarnai percakapan kami. Dia mengaku sering bersantai di kafe atau pub malam hari untuk refreshing. Kebetulan dia suka menyanyi meski suaranya berantakan. Nyanyi, kata dia, bisa mengusir kepenatan jiwa dan raga. "Daripada aku stres, mending enjoy aja. Toh, semua orang punya masalah sendiri-sendiri."

Kamu bilang punya anak satu. Bapaknya siapa?

"Hehehe... aku dah tebak kamu bakal nanya itu. Bapaknya aku, ibunya aku. Aku single parent," kata Wulan tetap sumringah.

Bosan menjadi TKW (tenaga kerja wanita) di Singapura, cewek Nganjuk itu balik ke tanah air. Konsumsi jalan terus, pendapatan tidak ada. Tak lama kemudian tabungannya ludes.

"Aku terpaksa kerja di sebuah kafe di Surabaya. Kerjaan aku sederhana aja: menemani tamu, ngobrol, ambil minuman.... Kayak gitulah. Hehehe..."

Pada suatu malam Wulan bertemu pria Singapura, 40-an tahun. Omong punya omong, ternyata mereka cocok. Nyambung. Wulan bisa berbahasa Inggris, pernah kerja di Singapura, gayanya tidak ndeso.

Mister Lee, sebut saja begitu, ekspatriat kaya, tapi kesepian. Dia punya projek di Indonesia, uang banyak, tapi tak ada istri. Kalau sekadar membeli cewek nakal sih gampang saja. Tapi Mr Lee bosan begituan.

"Dia ajak aku kawin," cerita Wulan.

"Oh ya, kawin? Nikah resmi?"

"Kawin KONTRAK. Maksudnya, selama dia di Indonesia aku jadi istrinya. Tapi, kalau sudah selesai projeknya, ya, dia pulang. Hubungan selesai," tutur Wulan.

Saya geleng-geleng kepala mendengar cerita ini. Di surat kabar Surabaya cerita macam begini, kawin kontrak, sering dibahas. Tapi baru sekarang saya mendengar langsung dari mulut salah satu pelakunya. Wuedaan tenan!!!

Tuan Lee pun mengontrak rumah di kawasan strategis. Tidak mewah, tapi di atas rata-ratalah. Wulan tinggal di situ. Tugas utama Wulan, ya, seperti istri atau ibu rumah tangga biasa. Menemani "suami" jalan-jalan, nongkrong di kafe, memasak sekali-sekali.

"Aku jalanin aja. Aku tahu juga kok risikonya kawin kontrak, tapi mau gimana lagi," katanya dengan bahasa Betawi logat Jawa Timur.

Wulan mengaku asyik-asyik aja menemani sang suami profesional Singapura itu. Semua kebutuhan terpenuhi. Mr Lee yang kesepian sayang padanya. Dan, hasilnya, mereka punya anak laki-laki. "Wajahnya campuran Cina dan Jawa. Manis kayak mamanya. Hehehe."

Wulan juga mengaku tidak pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Jangankan main tangan, menurut dia, kata-kata kasar tak pernah keluar dari mulut Mr Lee. "Orang Singapura itu kayak orang Barat. Sopan banget dan gentlement. Aku juga sayang banget sama dia."

Kontrak Mr Lee di Indonesia habis. Maka, kontrak perkawinannya dengan Wulan pun tamat. Mr Lee tak mau membawa Wulan dan anaknya ke Singapura. Bisa perang sama istri sah di negaranya. Wulan sendiri pun enggan ke negara tetangga itu.

"Sekarang cerita kami sudah selesai. Saya jadi single parent. Mantan suami saya pulang, tapi masih kontak-kontakan via hape."

Sebelum pulang, Wulan meminta Mr Lee agar membeli rumah kontrakan itu. Buat tempat tinggal dan anak semata wayang mereka. No problem! Minta dana untuk modal usaha pun dituruti.

"Kami berpisah baik-baik kok. Pengalaman hidupku asyik, tapi juga pahit. Kami sudah cocok, hidup bersama hampir dua tahun, tapi statusnya tetap KAWIN KONTRAK. Kebahagiaan itu tidak bisa panjang," kenang lulusan sekolah menengah atas ini.

Kini, Wulan fokus mengasuh anak tunggalnya. Tiap hari dibiasakan bicara dalam bahasa Inggris ala Singapura. Dengan modal dari mantan "suaminya", Wulan membuka usaha kecil-kecilan yang mulai berlaba. Dia tak perlu pusing memikirkan besok makan apa seperti masa-masa sulit jadi pekerja di kafe malam dulu.

Bagaimana reaksi tetangga dengan status kamu?

"Status opo? Apa urusan tetangga dan orang lain dengan aku? Toh, aku gak pernah menyusahkan orang lain, gak pernah minta apa-apa sama orang lain. Alhamdulillah, aku tinggal di perumahan yang sangat menghargai privasi. Ingat, semua manusia itu makhluk lemah, tidak luput dari dosa. Yang penting, kita bangkit dan melihat ke depan. Jangan lihat ke belakang," tegas Wulan mirip tukang khotbah amatiran.

Ada rencana menikah beneran?

"Tidak ada. Aku sekarang mikirin anak aku yang masih TK. Aku ingin anak aku bisa lebih baik dari aku yang hanya bisa jadi babu di negeri orang."

Band nostalgia masih terus mengalunkan musik-musik lawas. Seorang bapak, 50-an tahun, suara besar, mengambil mikrofon dan menyanyi. Lagunya KUCARI JALAN TERBAIK, ciptaan Pance Pondaag.

Lagu ini paling digandrungi pasutri yang rumah tangganya kacau karena salah satu pihak selingkuh.

Sepanjang kita masih terus begini
Tak akan pernah ada damai besenandung
Kemesraan antara kita berdua
Sesungguhnya keterpaksaan saja

Senyum dan tawa hanya di bibir saja
S'bagai pelengkap sempurnanya sandiwara
Berawal dari manisnya kasih sayang
Perlahan kita hanyut dan terjatuh....

14 comments:

  1. Ama Lamber, kawin kontrak sekarang ini sudah menjadi trend. Bukan hanya hanya di kota besar seperti di Surabaya, Jakarta, dan kota besar lain, tetapi sudah merambah di kota kecil seperti di NTT. Di Kefamenanu kawin kontrak dengan warga lokal ada juga, ada orang eropa, dan Korea. Kasusnya sama, kontrak kerja habis, perkawinanpun bubar. Ko mau ya... jadi istri kontrak? John Mamun Sabaleku

    ReplyDelete
  2. Wah kok judulnya KORBAN kawin kontrak ? Memang bagi kamu mungkin si cewek adalah KORBAN, tetapi bagi si cewek bukanlah demikian. Wulan sadar dan menerima keadaannya sebagai kawin kontrak, jadi dia tidak menganggap sebagai KORBAN.

    =)

    ReplyDelete
  3. Ama John Mamun Sabaleku, terima kasih aya2, mo baca nong komentar tulisan2 goen. Semoga sehat2 selalu.

    ReplyDelete
  4. @geisha
    jadi tidak jelas siapa yang jadi
    korban

    jangan2 dua2nya korban atau dua-duanya bukan korban

    salam

    ReplyDelete
  5. ama lamber.
    selamat bertemu lagi. Saya baru pulang dari kampung.Hari raya orang mati di Pilipina sekarang sangat rame.
    Ama, single parent sekarang hanya trend tapi sudah sangat diterima kebanyakan masyarakat di sini. Yang jadi korban itu adalah anak. Anak generasi sekarang kekurangan figure salah satu dari orangtuanya. kadang tringkah mereka sangat sulit dipahami. Ini karena hasil ketidakseimbangan dari Role model in his/her life.
    Ok ama, sangat bagus article nya
    franskupangujan

    ReplyDelete
  6. hehe.. menarik. kalo kasus gini sih kawin kontrak yg baek. beda dg kawin kontrak selamam dua malam hanya utk pemuas syahwat. tp aq setuju lembaga perkawinan makin rapuh.

    ReplyDelete
  7. semua jalan udah terlanjur dijalanin jadi mb.wulan pun juga fine2 aja. semoga mb.wulan cepet kawin resmi deh.

    ReplyDelete
  8. kayaknya si wulan seneng2 aja... dia tahu risikonya dan pintar 'menekan' lakinya utk beli rumah... bagus juga...

    ReplyDelete
  9. minta nopenya wulan donk, kali aja mau over kontrak...

    ReplyDelete
  10. Tolol aja yg mau kawin kontrak..biasanya yg mau kawin kontrak itu ya alasan ekonomi dan pendidikan nya kurang. Kalo kita otak nya berisi ya org asing mikir mau gituin si perempuan. Alat kelamin kok ya mau di hargain seharga rumah dan mobil. Kalo pun dr kampung ya mbok harga diri sih..mrka kalo dateng dr hati pasti semua nya legal. Kl da org asing nyari yg buat kontrak kasih aja pecun dah jelas dia cuma cr duit persetan dengan cinta..ga da itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut cerita ini, si Wulan ini pintar dan tidak tolol. Dia bisa menguasai bahasa Inggris, bisa level dengan seorang ekspatriat sampai si ekspatriat mau punya anak dengannya, dan mau membelikan rumahnya. Kekurangan ekonomi, ya. Prinsip? Ya. Otak? No ...

      Delete
  11. Tolol aja yg mau kawin kontrak..biasanya yg mau kawin kontrak itu ya alasan ekonomi dan pendidikan nya kurang. Kalo kita otak nya berisi ya org asing mikir mau gituin si perempuan. Alat kelamin kok ya mau di hargain seharga rumah dan mobil. Kalo pun dr kampung ya mbok harga diri sih..mrka kalo dateng dr hati pasti semua nya legal. Kl da org asing nyari yg buat kontrak kasih aja pecun dah jelas dia cuma cr duit persetan dengan cinta..ga da itu.

    ReplyDelete
  12. Hehehe ... cerita lama yg menarik. Saya jadi ingat mbak wulan yg tegar dan asyik diajak ngobrol. Tapi saya sudah kehilangan jejaknya.. Orangnya pinter muter duit alias dagang.

    ReplyDelete