27 October 2008

Budi Prasetiadi, mural, Tiada Ruang Art Community




Mural di Surabaya memang belum semarak di Jogjakarta. Namun, kini kita bisa menikmati lukisan dinding itu di sejumlah sudut kota. Temanya fokus dan jelas. BUDI PRASETIADI adalah salah satu tokoh di balik Tiada Ruang Art Community, penggerak mural Surabaya.

Berikut petikan percakapan LAMBERTUS L. HUREK dengan Budi Prasetiadi, koordinator Tiada Ruang, di Gedung P, kampus Universitas Kristen Petra Surabaya.



Bisa dijelaskan proses terbentuknya Tiada Ruang Art Community?

Komunitas itu muncul karena ada kegelisahan di antara saya, Mas Obed (Bima Wicandra), dan teman-teman di Desain Komunikasi UK Petra. Kita mau bikin apa? Masak, setiap hari hanya ngajar, memberi kuliah, pulang ke rumah, besoknya ngajar lagi, dan seterusnya. Lalu, sekitar tahun 2005 kami mencetuskan ide membuat mural yang murah. Waktu itu pakai tripleks. Para mahasiswa, dosen, dan karyawan dilibatkan dalam gerakan ini.

Mengapa tidak melukis langsung di tembok UK Petra?

Idealnya sih begitu. Tapi di universitas itu kan ada birokrasi, harus mengurus perizinan, dan pertimbangan-pertimbangan lain. Termasuk mempertimbangkan persepsi pihak luar seperti masyarakat sekitar serta pemerintah kota. Maka, kita coba dulu di tripleks. Lantas, kita bikin festival mural tahun 2006.

Festival mural itu di luar dugaan mendapat respons yang sangat bagus. Tidak hanya mahasiswa, dosen, dan karyawan Desain Komunikasi, tapi juga yang lain. Karya-karya yang dihasilkan banyak sekali, ratusan. Itu mau diapakan? Yah, dipamerkan. Tapi, karena baru proyek uji coba, lukisan di tripleks itu diarahkan ke dalam kompleks kampus. Padahal, mestinya kan diperlihatkan ke luar agar bisa disaksikan masyarakat yang melintas di Siwalankerto.

Ada ide memamerkan karya-karya itu di tempat umum?

Ada. Bahkan, kami sempat membawa 60 karya untuk dipamerkan di Balai Kota Surabaya. Wali Kota Bambang DH dan Wakil Wali Kota Arif Afandi sangat antusias dengan karya-karya tersebut. Bahkan, sempat tercetus ide agar suatu ketika kami bisa melakukan muralisasi di seluruh Surabaya. Kita sedang menunggu kapan ide itu direalisasikan.

Sejak itu komunitas Tiada Ruang terbentuk?

Yah, awalnya sih Tiada Ruang itu tidak ada mahasiswanya. Hanya sekitar 15 anggota saja. Kita ingin memberdayakan karyawan Petra yang memang punya potensi. Kita mulai bergerak keluar, uji coba, di jalan masuk Siwalankerto. Respons masyarakat cukup bagus. Dan itu semakin memotivasi kami untuk melakukan gerakan muralisasi di Surabaya.

Titik-titik mana saja yang sudah digarap oleh Tiada Ruang?

Awalnya di Siwalankerto, kemudian Ngagel dua kali, Wonokromo (dekat DTC), terakhir di Dinoyo. Kami sebetulnya sudah siap untuk bergerak lebih jauh lagi. Tapi memang selalu ada kendala karena Surabaya ini kan bukan Jogja. Belum ada persepsi yang sama.

Sebagai alumni ISI Jogja, apa perbedaan mencolok masyarakat Surabaya dengan Jogja?

Jogja itu sangat kondusif untuk gerakan street art seperti mural. Masyarakatnya sangat senang dan bisa menikmati kesenian itu. Beda dengan di sini. Orang Surabaya itu umumnya komersial. Agak susah diajak kerja sama untuk mural. Masak, kita mau melukis di temboknya malah dimintai uang. Mestinya para pelukis itu yang dikasih uang. Hehehe.... Tapi memang perlu waktu, kerja keras, agar mural bisa diterima di Surabaya.

Mungkin karena sekarang ini banyak perusahaan, khususnya seluler, yang membeli tembok untuk dilukis iklan.

Bisa jadi. Itu juga mural, tapi komersial. Kami di Tiada Ruang sudah komit agar komunitas ini benar-benar nonkomersial, nonpolitik, independen.

Lalu, bagaimana dengan gerakan di Jalan Dinoyo yang disponsor sebuah organisasi onderbouw partai politik?

Wah, terus terang, kami kecolongan saat itu. Awalnya ada teman yang mengajak kerja sama karena dulu pun pernah kerja bareng. Saya tidak punya kecurigaan apa-apa. Tapi, setelah di lapangan, kami kaget karena acara itu ditunggangi orang-orang politik. Saya juga kecewa karena cat maupun konsumsinya di bawah standar. Saya sendiri tidak pakai cat yang disiapkan panitia karena kualitasnya jelek.

Apa obsesi Tiada Ruang?

Kami masih menyimpan cita-cita untuk melakukan muralisasi Kota Surabaya. Kami ingin mural diapresiasi oleh seluruh masyarakat Surabaya. Jangan sampai tembok-tembok yang ada di ruang publik dikuasai oleh pesan-pesan konsumsi atau komersial. (*)


Mau Jadi Dosen asal Tetap Gondrong

Sebagai seniman, orang bebas, tak mudah bagi Budi Prasetiadi memulai karir sebagai dosen Universitas Kristen Petra. Dia tak ingin gaya hidupnya berubah hanya karena masuk kampus. Karena itu, sejak awal Budi tak segan-segan mematok syarat yang unik.


"Saya mau jadi dosen asal rambut saya jangan dipotong. Biarkan saya gondrong," kenang Budi Prasetiadi. Ternyata, syarat ini bisa diterima pihak UK Petra. Budi diberi kebebasan untuk menggembleng mahasiswa Desain Komunikasi dengan metodenya sendiri. Metode seniman.

Para mahasiswa lebih banyak berkarya, praktik, ketimbang dicekoki sekian banyak teori dari buku teks. "Makanya, saya lebih banyak berkutat di studio," ujar Budi lalu tertawa kecil.

Kehadiran Budi dan beberapa kawannya yang sama-sama berlatar seniman tak pelak memberi warna tersendiri di kampus UK Petra. Mereka sering bikin gebrakan dengan memamerkan karya-karya mahasiswa, dosen, maupun karyawan. Karena ruang ekspresi terbatas, mereka pun pameran di mana saja.

"Bagaimanapun kampus itu ada aturan main, birokrasi, dan sebagainya. Tapi kami berusaha menembus itu semua dengan kesenian. Dan, ternyata, banyak yang suka," ujarnya.

Penampilan Budi yang gondrong, polos, apa adanya, ala seniman kerap membuat sivitas akademika UK Petra sendiri salah sangka. Mereka mengira Budi Prasetiadi pelukis atau seniman yang sekadar bertamu di UK Petra. "Eh, tahunya dia itu dosen di sini. Soalnya, sosoknya lain sama sekali dengan dosen-dosen lain," komentar salah satu karyawan UK Petra asal Maluku.

Budi mengakui posisinya sebagai dosen memang punya plus minus tersendiri. Paling tidak, urusan nafkah sehari-hari sudah terpenuhi dari gaji bulanan. Namun, kekurangannya, dia tidak bisa produktif menghasilkan karya seperti seniman yang bukan dosen. "Tapi justru dengan begini, kami bisa mempertahankan Tiada Ruang Art Community sebagai komunitas seniman yang nonkomersial dan independen," tegasnya.


BUDI PRASETIADI

Tempat, Tanggal Lahir: Semarang, 28 Oktober 1966
Istri: Sri Lestari
Anak: Dimas Hafiz
Alamat: Bumi Citra Fajar, Sidoarjo

Pendidikan: Institut Seni Indonesia (Jogjakarta), Desain Komunikasi Sosial.
Aktivitas:
Dosen Desain Komunikasi UK Petra
Koordinator Tiada Ruang Art Community

3 comments:

  1. kalo ada event jangan pelit ye kabar kabari aye ya ta tunggu lho.siap booz 24 jam sukses buat tiada ruang n street art nya jangan lupa di kabarin lho fahrul n friend hahaha piss

    ReplyDelete
  2. tau CP komunitas mural di surabaya ga ?
    kalo ada boleh minta ??
    kita mau ngadain lomba mural soalnya ..
    makasih

    iera
    email/facebook: theresia_vishy@yahoo.com

    ReplyDelete