07 October 2008

Bertemu Rhoma Irama, sang superstar

Siapakah superstar musik Indonesia?

Setahu saya belum ada riset dari lembaga yang kredibel. Dan rasanya tidak ada lembaga atau individu Indonesia yang mau capek-caek bikin penelitian macam begini. Tapi, berdasar pengalaman saya masuk keluar kampung, lihat televisi, menyimak rekaman dan film, Rhoma Irama layak disebut mahabintang. Superstar musik Indonesia.

Rhoma Irama bukan hanya penyanyi, pemimpin Orkes Melayu Soneta, gitaris dangdut-rock, pendakwah, pengurus Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia, pria bernama asli Oma Irama ini [RHoma itu Raden Haji, tambahan setelah naik haji] punya karisma luar biasa. Dia ibarat magnet yang bisa menyedot ribuan orang ke stadion atau lapangan kampung. Di mana-mana.

Bukankah konser band pop mutakhir macam Ungu, Peterpan, Dewa 19, Padi, juga sering dikunjungi ribuan penggemar? Benar. Tapi, ingat, popularitas band-band anyar ini cepat pudar. Ingat Sheila on 7? Di masa jaya, Stadion Tambaksari, Surabaya, penuh. Tapi konser tahun berikutnya penonton tak sampai 2.000.

Masa popularitas band-band pop anyar ini sangatlah pendek. Lalu, muncul band-band dan penyanyi-penyanyi baru. Albumnya meledak, stadion penuh. Lalu, gembos dan tidak laku. Rumus ini tidak berlaku untuk Rhoma Irama. Belum lama ini saya menyaksikan kegilaan penduduk desa-desa di Jawa Timur untuk melihat show Rhoma Irama dan Soneta Group. Kata-kata, gerak-gerik, syair... Bang Rhoma belum lekang di usianya yang tak muda lagi.

Hmm... Rhoma Irama juga masih digilai cewek-cewek cantik lho! Pelajaran moral nomor satu: Kalau ingin dikejar gadis-gadis cantik, jadilah superstar dangdut! Jangan jadi wartawan!

Saya sendiri kali pertama mendengar suara Rhoma Irama dari album lama milik Bapak Hamzah S. Hurek (kini almarhum) di kampung, pelosok Lembata, Flores Timur. Kebetulan dia baru pulang dari Malaysia. Sebagian besar koleksi kasetnya memang Rhoma Irama. "Lagu-lagu Rhoma Irama itu mengajak kepada kebaikan," ujar Pak Hamzah.

Paman beristrikan orang Malaysia ini juga dikenal sebagai pendakwah Islam di tengah penduduk yang mayoritas Katolik. Setiap hari dia memutar album Rhoma Irama sampai batu baterai zwak (lemah). Ingat, di kampung saya belum ada jaringan listrik dari Perusahaan Listrik Negara! Karena ingin dengar terus, saya membawa baterai dari rumah agar tape recorder yang dibawa dari Sabah, Malaysia Timur, itu bunyi terus.

Mau tahu lagu Rhoma Irama yang paling saya suka? PIANO. Duet Rhoma Irama dan Nur Halimah. Isinya dialog antara guru piano (Rhoma) dan muridnya, gadis cantik. Syairnya antara lain begini:

...........................
Pak Guru, not ini apa namanya?
(Yang mana?) Re la la fa la la re
Pak Guru, yang ini apa namanya?
(Yang mana lagi?) Mi do do sol do do mi

Pak Guru, kini aku sudah tahu
Sekarang beri pelajaran baru
...............................

Ungkapan MI DO DO SOL DO DO MI pun jadi sangat terkenal di kampung saya. Anak-anak, remaja, muda-mudi, bercanda dengan melantunkan not-not ini. Aha, ternyata, setelah pindah ke Jawa Timur, masyarakatnya ternyata lebih gila lagi pada Rhoma Irama, yang digelari Raja Dangdut. Ribuan orang antre di bioskop untuk menonton film musikal yang dibintangi Rhoma Irama. Saya sendiri ikut antre tiket MENGGAPAI MATAHARI di Bioskop Merdeka, Kayutangan, Malang.

Bukan main! Sepanjang film bedurasi sekitar dua jam, penonton bertepuk tangan memberi dukungan kepada si Rhoma Irama, tokoh baik-baik (protagonis). Ketika Rhoma bernyanyi, penonton, orang-orang kota dingin itu, ikut besenandung dan bertepuk tangan. Acara layar tancap di pelosok Bondowoso, waktu saya kuliah kerja nyata, lebih heboh lagi. Masyarakat datang dari mana-mana hanya untuk menonton film lama Rhoma Irama.

Meski bukan penggemar musik dangdut, bagi saya, Rhoma Irama tetap superstar. Mahabintang musik pop Indonesia (dangdut itu ya termasuk pop juga menurut definisi pop culture) yang belum ada tandingannya sampai hari ini. Dia ibarat raja atau "dewa" dari dunia lain. Apalagi kalau sudah tampil di panggung dengan jubah kebesarannya, dengan tekanan kata yang khas.

Saya sudah berkali-kali menyaksikan secara langsung konser Rhoma Irama di Surabaya, Sidoarjo, Malang, Jember. Di televisi tak terbilang lagilah. Tapi saya baru SATU KALI bertemu Rhoma Irama secara langsung. Tatap muka. Omong-omong santai ketika Bang Rhoma tidak memakai baju artis.

"Ayo, kita cari tempat yang enak sajalah. Pesan minum atau makanan, silakan," kata Rhoma Irama.

Superstar ini tampil sederhana. Baju biasa, celana panjang biasa, ya, seperti orang biasa. Beda jauh dengan penampilan di televisi atau panggung yang serbagemerlap, wah, jauh dari bumi. Beberapa pelayan hotel, juga penggemar Rhoma Irama, bahkan tidak sadar bahwa tamu yan sedang mereka layani itu Rhoma Irama.

"Gak kaya artis lain yang wah. Rhoma Irama ini datang diam-diam kayak nyamar," kata si pelayan di Hotel Hyatt Surabaya beberapa waktu lalu.

Yang membuat saya paling terkesan, nada bicara Rhoma Irama tidak pernah tinggi. Halus banget. Rhoma juga selalu tersenyum ramah kepada lawan bicara. Dia selalu bilang MATUR NUWUN untuk terima kasih. "Saya ini sudah main musik sejak awal 1970-an. Dulu saya gabung sama OM (Orkes Melayu) Purnama sebelum membentuk Soneta Group," tutur Bang Rhoma.

Bersama Soneta, Rhoma Irama menggebrak musik Indonesia dengan DANGDUT. Bahan-bahan dasar musik yang satu ini sejatinya sudah ada (gambus Arab, Melayu, India, etnik, pop), tapi di tangan Rhoma Irama dan Soneta dandut menjadi sangat populer. Bahkan, istilah DANGDUT sendiri dibuat oleh Rhoma Irama.

Sepanjang sejarah Indonesia, menurut saya, belum pernah ada musik yang membius begitu banyak orang Indonesia, kecuali DANGDUT. Mainkan dangdut dan dipastikan ratusan, bahkan ribuan orang, datang ke lapangan. Mainkan dangdut, maka kampanye pilkada atau kampanye pemilihan umum disesaki massa. Kalau ingin beroleh banyak pendukung, ya, kerahkanlah pemusik dan penyanyi dangdut. Jangan musik pop, apalagi keroncong atau seriosa!

Album Rhoma Irama pertama yang bikin geger persada musik Indonesia tentulah BEGADANG. Diterbitkan Yukawi pada 1974, album ini menampilkan lagu BEGADANG, SENGAJA, SAMPAI PAGI, TUNG KRIPIT, CINTA PERTAMA, KAMPUNGAN, YA LE LE, TAK TEGA, SEDINGIN SALJU. Musik Melayu ala Rhoma Irama (kemudian populer menjadi DANGDUT) lebih canggih, dinamis, modern, dengan sentuhan rock. Rhoma sukses melakukan revolusi musik Melayu yang tadinya stagnan, begitu-begitu saja.

Ah, saya hampir tak percaya duduk berdampingan dengan Rhoma Irama sambil mencicipi ayam goreng, kentang, dan panganan yang dibeli superstar. Saya tidak bertanya lebih banyak karena bahan-bahan tentang dangdut, perjalanan karier, kesibukan Rhoma Irama, sudah banyak tesedia di internet dan media cetak. Jadi, tidak perlulah bertanya-tanya lagi hal yang sama.

"Saya tetap bermusik, dakwah, dan ikut kegiatan yang positif. Termasuk membantu kampanye Ibu Khofifah Indar Parawansa di Jawa Timur," ujar pria asal Tasikmalaya, Jawa Barat, ini.

Petemuan saya dengan Rhoma Irama tak lepas dari jasa Prof. Andrew Weintraub PhD, peneliti musik dari University of Pittsburgh, Amerika Serikat. Andrew bukan sekadar profesor, tapi penggemar berat Rhoma Irama. Dia khusus datang ke Indonesia untuk mengikuti tour show Rhoma Irama dan Soneta Group.

"Saya punya band di Amerika, Dangdut Cowboy. Kami membawakan lagu-lagu dangdut, khususnya punya Rhoma Irama," ujar teman akrab Rhoma ini. Sekarang Prof. Andrew Weintraub tengah mempersiapkan buku tentang perjalanan musik melayu-dangdut di Indonesia sejak dulu hingga sekarang.

Saya dikenal Prof. Andrew lewat blog ini yang memuat cukup banyak cerita tentang musik Indonesia (lama), khususnya OM Sinar Kemala. Orkes pimpinan Abdul Kadir (almarhum) asal Surabaya ini salah satu pelopor musik melayu di tanah air. Ketika datang ke Surabaya, Andrew Weintraub menghubungi saya, sehingga saya bisa bertemu langsung Rhoma Irama dalam suasana santai, gayeng, sambil makan-makan kentang goreng.

Pelajaran moral nomor dua: Punya blog itu banyak gunanya. Bisa bertemu, bercanda, makan bersama superstar musik Indonesia. Dan ditemui profesor hebat USA, diwawancarai, jadi teman dekat.

10 comments:

  1. Hallo Ama, Bagus Juga Tulisan Mu, Aku juga punya bloger tapi ga biasa nulis, bagi-bagi dong tulisannya. kalau mau kirim ke emailku ya.
    ini bloger ku
    http://www.bloganakpantai.blogspot.com/

    ReplyDelete
  2. Hii Nolan,
    Foto2mu tentang suasana pantai dan anak2 Lembata bagus. Teruskan posting foto karena, kata jurnalisme, foto itu lebih berbicara daripada seribu kata. Good luck!

    ReplyDelete
  3. Bung Bernie, blog anda banyak berguna karena tulisan anda informatif dan unik. Jadi wajar kalau anda meraup keuntungan atas kerja keras anda.

    ReplyDelete
  4. mo tulis rhoma irama bekin tite peten lewo. kame rehaken nolo di suka dengan kaset2 dangdut rhoma irama. salam kenal.

    thom kimakamak

    ReplyDelete
  5. hebat bang rhoma!!! sukses dangdut!!!

    ReplyDelete
  6. mas, salam kenal, saya soleh. saya sudah liat blognya yg mengangkat ttg rhoma irama. saya punya impian penggemar rhoma bisa solid di seluruh indonesia.

    mas pasti sudah buka rajadangdut.com. kalo abang gabung pasti makin seru. salam.

    ReplyDelete
  7. Bung Lambertus,

    Dibawah ini tulisan saya yang berjudul BERTEMU RHOMA IRAMA, SANG LEGEND.
    (Mohon pendapat apabila tulisan ini cukup layak untuk dikirim kesurat kabar di Indonesia.)

    Ada sebuah lembaga kredibel yang mengakui Rhoma Irama sebagai penyanyi terpopular Indonesia. Lembaga tersebut ialah SMITHSONIAN INSTITUTION (http://www.si.edu), berada di Washington DC. Lembaga yang terbesar di Amerika, memiliki 20an gedung musium, salah satunya ialah Musium Musik Rakyat.
    Bila kita ketik 'dangdut' di search enginenya, maka Volume 2 dari CD yang diproduksi oleh lembaga tersebut memuat 5 lagu dangdut terpopuler. 4 lagu yang dikarang oleh Bang Haji, dan satu lagu oleh Mansyur S. CD ini memasang foto Bang Haji dicovernya.
    http://www.folkways.si.edu/albumdetails.aspx?itemid=2298
    Saya sendiri pengagum Bang Haji sejak tahun 1977.
    Dalam kunjungan Bang Haji ke Washington DC, saya berbahagia karena mendapat kesempatan untuk mengantar Bang Haji jalan2 melihat kota Washington DC.
    Saya sendiri hampir tidak percaya bahwa saya makan siang dan mengantarkan Bang Haji jalan2 dari siang sampai makan malam jam 10 malam. Setelah berjalan2 didepan White House, Bang Haji saya ajak ke Musium Smithsonian. Lalu kami berdiri ditengah2 taman musium yang panjangnya sekitar 5 kilometer. Musium ini tepatnya terletak diantara dua buah bangunan yang terkenal, Capitol Building dan Washington Monument.
    Didepan kastil musium yang dibangun tahun 1800 itu, saya bilang ke Bang Haji: "Bang Haji, musium ini terbesar di Amerika, bahkan salah satu yg terbesar didunia. Musium ini memiliki musium musik rakyat yang mengakui Bang Haji sebagai pemusik yang popular di Indonesia." Rhoma sendiri tercengang dan baru dengar dan baru mengetahui bahwa dia diakui sebagai musisi terpopuler oleh musium itu pada saat saya mengantarkan dia. Padahal lembaga ini sudah mengakui dan mengeluarkan CD tersebut pada tahun 1991. Dia baru yakin setelah saya tunjukkan print out dari website musium tersebut.
    Bang Haji ingin sekali mengunjungi musium Musik Rakyat untuk melihat lembaga yang mengeluarkan CD tersebut. Pada saat itu waktu sudah menunjukan pukul 17:20, dimana kantor sudah tutup. Lalu saya bilang kalau kantor sudah tutup dan baru buka besok jam 10 pagi. Bang Haji ingin sekali berkunjung ke musium itu, bahkan kalau perlu menunda keberangkatannya ke Indonesia. Akhirnya saya telpon musium ini, ternyata ada pegawai yang mengangkat telpon sambil mengatakan bahwa musium sudah tutup. Lalu saya bilang bahwa saya ingin sekali datang kesana sekarang juga. Pada mulanya dia sangat heran kenapa saya ingin berkunjung sekarang juga. Lalu saya katakan bahwa saya sedang bersama Mr. Irama, the singer from the Indonesian Popular Music CD that you produced. Mereka sangat gembira dan langsung mengatakan bahwa mereka akan menunggu kami.
    Sampai disana, kami diterima oleh petugas yang langsung mengajak ketempat penyimpanan kaset dan album Bang Haji. Sayang Bang Haji tidak sempat melihat semua kaset dan pringan hitamnya yang disimpan oleh lembaga tersebut karena mereka baru pindahan, dan beberapa kasetnya masih didalam box. Bang Haji sendiri terharu ketika melihat salahsatu kasetnya di rak musium tersebut.
    Kami juga disambut oleh Acting Director musium tersebut yang ternyata dengan fasih berkata: Anda Bapak Irama? CD anda salah satu best seller." Ternyata dia pernah melakukan riset di Indonesia beberapa tahun yang lalu.
    Yang sangat berkesan bagi saya, Bang Haji orangnya sangat ramah, santai, rendah hati dan menghargai orang lain. Saya sering bertemu dengan orang terkenal dari Indonesia, bagi saya, dia satu2nya orang terkenal yang sangat berkesan bagi saya. Pada saat saya minta untuk foto bersama, pada umumnya orang2 terkenal yang saya pernah temani biasanya 'jaga jarak.' Bang Haji ternyata lain, dia merangkul saya seakan-akan kami sudah saling kenal, bagaikan dua orang sahabat yang sedang reuni. Beberapa hari yang lalu, Bang Haji menelpon saya dari Jakarta. Dengan suaranya yang lembut dan merdu, Bang Haji mengucapkan terima kasih atas kebaikan saya selama dia berkunjung ke Amerika, satu hal yang saya tidak pernah saya alami sehabis saya mengantar orang terkenal pada saat mereka berkunjung ke Amerika.
    Untung juga ada CD tersebut, jadi kalau ada temen yang protes sama lagunya Bang Haji, saya hanya bilang: "Terserah anda mau suka atau tidak, yang jelas Bang Haji diakui sebagai musisi paling populer oleh musium yang terbesar di Amerika."
    Lagu kesayangan saya RUPIAH, mungkin karena saya tidak memiliki banyak rupiah ketika saya tinggal di Indonesia...he..he..he. Saya terkesan dengan syair lagu tersebut yang bermakna. Lagu kedua yang saya suka ialah Terajana, karena menceriatkan suasana hiburan rakyat. Saya sangat bergembira karena Bang Haji membawakan lagu Terajana pada waktu konser di Washington, sayangnya dia tidak membawakan lagu Rupiah.
    Secara tidak berlebihan saya menganggap dia seorang legend yang menciptakan sebuah aliran musik yang unik, disamping sebuah ikon yang diakui oleh lembaga yang bertaraf internsaional.

    ReplyDelete
  8. Bang Yusri,

    Tulisan Anda bagus, bisa menggambarkan popularitas Bang Haji di luar negeri, khususnya USA. Ini jelas pengalaman langka. Tak semua orang bisa mengalami.

    Tinggal diedit sedikit, khususnya tata bahasa seperti kata ulang harus ditulis utuh, tak boleh pakai angka 2, naskah Anda layak dikorankan. Juga layak dimuat Blog Orang Kampung. Hehehe....

    Selamat bertugas di negara Paman Sam, Bung!

    ReplyDelete
  9. Yang pasti tulisan ini telah membuat saya merinding bangga saking bagusnya mewartakan tentang Rhoma, disamping kharisma bang Rhoma sendiri

    ReplyDelete
  10. Saya terharu membaca postingan anda berdua, Pak Lambertus dan Pak Yusri.
    Kini, sejak 4 April 2013 telah berdiri fans club Rhoma yang bernama FORSA, Fans of Rhoma and SONETA.
    Kami telah banyak melakukan pengawalan Dalam Konser dan pengajian sejak 2010 lalu.
    Alhamdulillaah, Pak HAJI memang ramah seperti yang Anda tuliskan.

    Salam kenal.
    Ahmad Rosyidi, Ketua DPC
    Forsa Banyuwangi

    ReplyDelete