01 September 2008

Selebriti, selebritis, selebritas




Mana yang baku: SELEBRITI, SELEBRITIS, SELEBRITAS?

Pertanyaan ini sering muncul di kamar redaksi surat kabar. Banyak orang bicara, mengajukan argumentasi, tapi tidak ada kata putus.

Maklum, ketiga kata serapan ini dipakai dan hidup di masyarakat kita. Surat kabar, majalah, radio, televisi, pun menggunakan tiga kata itu. Tanpa ada upaya untuk membakukannya. Saat ini kata SELEBRITI paling dominan.

Seharusnya para penyunting di media massa bersepakat untuk menggunakan satu bentukan yang berterima. Menjadi kata baku dalam bahasa Indonesia modern. Sayang sekali, tidak semua media punya penyunting bahasa yang jeli dan punya keahlian yang bisa dipertanggungjawabkan.

Dulu ada Pak Slamet Djabarudi (almarhum), penyunting bahasa majalah TEMPO, yang kerap dijadikan rujukan media massa di Indonesia. Sekarang belum ada penyunting sekaliber Pak Slamet. Juga ada Pak Jus Badudu yang, dulu, gencar mengadakan pembinaan bahasa Indonesia di TVRI. Sekarang tidak ada lagi.

Sekarang bahasa Melayu-Betawi justru menggeser bahasa Indonesia standar. Berbahasa Indonesia gaya Jakarta dianggap lebih keren, lebih maju, lebih modern.

Jika merujuk kata-kata bentukan sejenis dari bahasa Inggris, menurut saya, seharusnya tidak perlu ada bentuk kembar tiga SELEBRITI, SELEBRITIS, SELEBRITAS. Sudah jelas kata itu berasal dari CELEBRITY. Kamus bahasa Inggris John M. Echols dan Hassan Shadily, halaman 104, menjelaskan:

celebrity seorang yang terkenal/masyur.
celebrities bentuk jamak dari celebrity.

Kita sudah punya beberapa contoh akhiran -ty yang diindonesikan menjadi -tas.


University ---> universitas.
Commodity ---> komoditas.
Activity ---> aktivitas.
Popularity ----> popularitas.


KESIMPULAN

Celebrity -----> selebritas.


BUKAN selebriti atau selebritis.

Setahu saya, kecuali beberapa kata dari bahasa Latin seperti data/datum, alumnus/alumni, bahasa Indonesia tidak menyerap unsur jamak dari bahasa asing, khususnya Inggris. Karena itu, kata SELEBRITIS yang dimaknakan sebagai bentuk jamak orang-orang terkenal [artis dan sebagainya] tidak bisa diterima.

Istilah SELEBRITI yang sangat populer di Indonesia, seiring popularitas program berita artis di televisi hanya cocok dipakai di Malaysia. Sebab, negara tetangga kita itu menyerap akhiran -ty dengan -ti.

Universiti. Komoditi. Aktiviti. Populariti.

Saya bergembira sekaligus mengapresiasi redaksi majalah TEMPO dan GLOBAL TV yang selama ini konsisten menggunakan istilah SELEBRITAS. Mudah-mudahan media lain segera menyusul.



Anda punya komentar? Silakan tulis di bawah artikel ini.

6 comments:

  1. trpote di indonesia byk salah kaprah. n jarang yg peduli bhs.

    ReplyDelete
  2. bener banget! orang-orang udah ga pada peduli juga sama bahasa.
    menurut saya, media massa punya peran penting buat memperbaiki tata bahasa masyarakat.

    ReplyDelete
  3. Mas.. mau tanya.

    Kalo dijadiin selebritisme gimana?

    ReplyDelete
  4. Saya menemukan istilah SELEBRITI di KBBI Edisi III (2005). Sedangkan SELEBRITAS tidak ada. Kok jadi rancu.

    ReplyDelete
  5. Rujukan utama di KBBI memang SELEBRITI.
    Tak ada lema SELEBRITAS.

    Tapi, ingat, penyusun KBBI juga manusia yang punya banyak kealpaan dan kengawuran. Sejak dulu KBBI dikritik karena mengandung terlalu banyak inkonsistensi.

    Kita sebagai rakyat harus kritis, pakai akal sehat, tidak selalu mengikuti KBBI kalau memang tidak sesuai dengan pola penyerapan yang berlaku selama ini.

    Terima kasih sudah baca blog ini.

    ReplyDelete
  6. Kalau menurut saya, gunakan saja dulu apa yang tertulis dalam KBBI versi 3, karena sebentar lagi akan keluar KBBI versi 4 yang mungkin ada perubahan kata yang dianggap kontroversial dalam KBBI v.3 menjadi kata yang benar-benar mengikuti aturan Ejaan Yang Disempurnakan. Para ahli bahasa sebaiknya juga mengadakan pertemuan yang membahas masalah kata-kata yang kurang sesuai dengan EYD Bahasa kita.
    Mungkin itu sedikit saran dari saya..
    Terima kasih..

    ReplyDelete