10 September 2008

Ramadan, Ramadhan, Idul Fitri, Idulfitri

Bahasa Indonesia menyerap banyak sekali kata-kata asing, khususnya Belanda, Inggris, dan Arab. Persoalan yang paling banyak ditemui di media massa adalah kata serapan dari bahasa Arab. Variasinya sangat banyak.

Contoh: Ramadhan, Ramadan, Ramadlan, Romadlon, Romadon, Romadhon, Romadhan.... Dan beberapa variasi lagi. Kalau penyerapan kata dari bahasa-bahasa Barat--Belanda, Inggris, Portugis, Latin, Prancis--kita bisa cepat bersepakat, mengapa sangat sulit dalam kasus bahasa Arab?

Menurut saya, ini karena tidak banyak pakar bahasa yang menguasai bahasa Indonesia dan bahasa Arab dengan sama baiknya. Kiai-kiai atau santri-santri yang fasih berbahasa Arab belum tentu memahami struktur atau gramatika bahasa Indonesia. Dan sebaliknya. Karena itu, sampai sekarang kata-kata serapan Arab selalu kembar dua, tiga, empat, lima, bahkan sepuluh.

Tentu, ini tidak bagus dalam proses pembakuan bahasa Indonesia. Kata apa pun yang dipungut dari bahasa asing harus 'dimatikan', disesuaikan dengan pola serapan bahasa Indonesia. Tidak bisa dibiarkan mengambang. Di Jawa Timur sering kita baca kata ISTIGHOTSAH, doa bersama yang umumnya dilakukan jemaat NAHDLATUL ULAMA.

Saya menilai istilah ini masih berbau Arab meskipun tiap hari dipakai. Sudah dianggap sebagai kata-kata kita sendiri. Mengapa tidak dipakai ISTIGASAH, NADATUL ULAMA, atau NADIYIN? Sayang, saya tidak paham bahasa Arab sehingga tidak bisa mengurai kasus kata-kata serapan Arab ini dengan baik.

Kembali ke bulan RAMADAN atau RAMADHAN atau RAMADLAN atau ROMADLON? Istilah mana yang benar sesuai dengan pedoman penyerapan? Kalau kita membaca berita di kantor berita asing yang berbahasa Inggris, bentuknya sudah baku: RAMADAN. Tidak pakai H. Media-media yang berbahasa Malaysia, bahasa yang dekat dengan bahasa Indonesia, pun sama. RAMADAN.

Kenapa KOMPAS sebagai harian besar, yang punya penyunting bahasa, tetap mempertahankan RAMADHAN? Begitu juga televisi-televisi di Indonesia?

Menurut Abdul Gaffar Ruskhan, pakar bahasa Indonesia yang paham bahasa Arab, yang benar adalah RAMADAN, bukan RAMADHAN, apalagi RAMADLAN. Mengapa?

"Kata itu merupakan serapan bahasa Arab RAMADHAN. DH dalam transliterasi yang mutakhir menggunakan tanda titik di bawah huruf D. Huruf DAD [DH] diserap menjadi D," jelas Pak Gaffar Ruskhan yang juga pembina bahasa Indonesia di media massa.

Kasus serupa dijumpai dalam DARURAT, HADIR, HADIRIN. Salah: DHARURAT, HADLIR, HADLIRIN.

Setelah berpuasa selama satu bulan, umat Islam merayakan Lebaran. Istilah serapan Arab yang lazim: IDUL FITRI atau IDULFITRI? Menurut Pak Gaffar, kata itu diserap dari ID AL-FITR yang berarti hari raya kesucian atau fitrah. Dalam bahasa Arab, ID berarti hari raya.

Dan--ini yang sangat penting--IDUL merupakan bentuk terikat yang harus diikuti kata lain. Maka, penulisannya disambung, tidak terpisah.

IDULFITRI, bukan IDUL FITRI. IDULADHA, bukan IDUL ADHA.

Lain halnya dengan SALAT ID, penulisan ID terpisah dari SALAT.

Aha, penulisan SALAT di Indonesia pun ada beberapa versi:

SALAT
SHALAT
SOLAT
SHOLAT.

Yang benar pastilah SALAT.

SALAT MAGRIB, bukan SALAT MAGHRIB.

Mudah-mudahan kita, orang Indonesia, makin cermat dalam berbahasa. Ingat, bahasa menunjukkan bangsa!

9 comments:

  1. terima kasih sharing info/ilmunya...
    saya membuat tulisan tentang "Benarkah Kita Hamba Allah?"
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/09/benarkah-kita-hamba-allah-1-of-2.html
    (link di atas adalah tulisan ke-1 dr 2 buah link benarkah kita hamba Allah?)

    Apakah Allah juga mengakui bahwa kita adalah hamba-Nya?

    semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

    ReplyDelete
  2. Masuknya sebuah bahasa asing ke indonsia dan perubahan struktur katanya kadang tergantung juga latar belakang kebudayaan mana yang menerima atau menjadikannya sebagai bahasa setempat...kalau yang menerima itu orang Jawa ya pasti lain cara pengucapannya tergantung orang jawa mengucapkan bahasa Jawanya...nah lebih parah kalau pengucapn ini lalu diBAHASAINDONESIAKAN ....kacau balo ...dulu kata DENGAN ata MAKA diucapkan secara Bahasa indonesia resmi tidak berubah...tetapi era Suharto..kata DENGAN diucapkan DENGGAN...MAKA jadiny MANGKANYA...lebih para...Pengarunya itu datang dari Sebuah kebudayaan(bahasa daerah) yang dominan...Bahasa Indonsia kan datangnya dari Bahasa Melayu ..kenapa Orang Malasia tak punya kesulitan? Jawaban karna tak ada bahasa daerah dominant.
    franskupangujan

    ReplyDelete
  3. lucu juga ya bang selama beberapa tahun terjadi kesalahan seperti ini. apakah ini kesalahan atau bukan? yang pasti ini karena kebaisaan yang kita juga ga mau tahu yang benar yang seperti apa. pasti masih banyak kata-kata yang penulisaanya masih keliru.
    aku sebagai muslim aja ga pernah tau juga kalau Ramadhan itu ga pake H, begitu juga dengan Shalat. kurangnya informasi yang dipublikasikan, membuat kita jadi salah kaprah. kartu-kartu ucapan semuanya memakai H di ramadhan.
    sebenernya ada program televisi yang membahas tentang menggunakan bahasa Indoenesia yang benar tapi mungkin karena tayang di TV nasional yang kurang bisa menarik orang untuk menonton, jadinya ya seperti ini.
    well, kalau sekarang setiap kata Ramadhan dihilangin H nya, aku rasa ga bisa secepat itu ya... butuh banyak waktu untuk membiasakan ke yang benar.
    at least u;ve tried ur own way bang...
    btw, bang Hurek pha kabar?

    ReplyDelete
  4. Menarik dan bagus kajiannya:-).
    Salam...
    Tara FM

    ReplyDelete
  5. menurut saya, kasus kata serapan arab ini tidak mulus karena ustad2 cenderung berbahasa indonesia dengan gaya kearab-araban. makin arab makin islami hehehe... lihat aja Uje, Zainuddin MZ, Aa Gym, Neno Warisman. tidak ada niat untuk 'membumikan' kata2 arab itu. makanya, di kalangan islam sendiri kayaknya tidak pernah ada pembakuan kata2 serapan arab.

    cak gatot

    ReplyDelete
  6. sebuah kajian menarik.
    jangankan untuk standarisasi sebuah kata serapan, bahkan ujian bahasa indonesia dengan pertanyaan sekitar bahasa indonesia baku adalah momok bagi sebagian besar siswa indonesia sendiri.
    mungkin karena perhatian terhadap bahasa baku sangat minim.
    sangat perlu sosialisasi kata-kata serapan dari lembaga yang berwenang (lembaga apa ya? saya sendiri belum pernah dengar). karena merekalah yang punya "rumus" bagaimana sebuah kata asing diserap.
    tetapi andai saja rutin diluncurkan manual bahasa serapan yang baku terbaru dari lembaga tersebut, masih sulit menembus rintangan yang ada di lapangan. yaitu karena orang pada dasarnya lebih suka menulis menurut gaya/ cita rasa sendiri. dibanding harus menuruti kaidah bahasa baku.
    ketaatan pada bahasa baku rupanya hanya jika ada kewajiban dalam penggunaanya. misal dalam skripsi atau tugas-tugas sekolah. selebihnya orang cenderung untuk lebih merdeka berkreasi, termasuk dalam merangkai kata-kata.

    ReplyDelete
  7. kalau dipaksakan dengan bahasa indonesia penulisan ramadan maka cara bacanya akan semakin rusak.
    lalu kenapa yang inggris tidak dibahas?
    contohnya universal dibaca yuniversal,bagaimana kalau itu di tulis yuniversal saja?
    sebenarnya pembelajaran cara menulis arab ke bahasa rumi itu sudah ada sejak MI mungkin ada perlu mengingat pelajaran MI,tidak tahu kalau anda tidak sekolah MI!
    coba baca http://bulan-ramadlan.blogspot.com/2012/12/tulis-ramadlan-bukan-ramadhan-atau.html

    ReplyDelete
  8. UNIVERSAL dibaca UNIVERSAL (persis tulisannya) bukan YUNIVERSAL.

    UNIT dibaca UNIT (sama tulisan), bukan YUNIT.

    Tentang transliterasi Ramadlan, Romadlon, Ramadhan... Pusat Bahasa sudah lama mengeluarkan bahasan panjang lebar, kemudian dibakukan di KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA.

    Persoalannya, bukan sekolah di MI, MA, atau SMA.

    Sekian.

    ReplyDelete
  9. MEMANG CUKUP SULIT UNTUK MENGINDONESIAKAN KATA SERAPAN DARI BAHASA ARAB
    LEBIH JAUH KARENA BAHASA ARAB MEMILIKI KHAZANAH KONSONAN/VOKAL YANG LEBIH VARIATF DIBANDING BAHASA LAIN.....
    CONTOH UNTUK HURUF A ADA ALIF/HAMZAH ( / ) SEPADAN DENGAN HURUF AIN ( ع ) BILA KITA BAKUKAN HANYA DENGAN A ( ا / ء ) PADA KATA YANG ASALNYA MENGGUNAKAN HURUF AIN ( ع ) MAKA MAKNANYA AKAN JADI JAUH MELENCENG SEDANG DALAM BAHASA ARAB SATU KATA YANG HAMPIR SAMA (HANYA BEDA ء DENGAN ع SAJA, MAKNANYA SUDAH BERBEDA
    APALAGI SEMACAM HURUF د\ذ\ض\ظ BILA DISEPAKATI MENJADI SATU HURUF SAJA "D" ATAU PERBEDAAN ANTARA HURUF ح\خ\ه KITA SEPAKATI HANYA MENGGUNAKAN HURUF "H" ATAU PERBEDAAN ANTARA HURUF ث\س\ش\ص BILA SEPAKAT KITA HANYA PAKAI HURUF "S" MAKA KITA AKAN SANGAT KESULITAN UNTUK MENCARI ETIMOLOGI NYA......... DANA MAKNA ASLINYA AKAN JAUH MELENCENG
    SOLUSI DENGAN TANDA TITIK DIATAS ATAU DIBAWAH HURUF UNTUK MEMBEDAKAN SEMUA ITU....BELUM DIDUKUNG OLEH PIRANTI KEYBOARD DALAM FORMAT "BAHASA INDONESIA"
    YA TERPAKSA SAYA MASIH MENGGUNAKAN ع='A ء=A ث=TS س =S ش=SY ص=SH د=D ذ=DZ ض=DH ظ=DL ك=K ق=Q ت=T ط=TH خ=KH SAYA MASIH BINGUNG ANTARA ح DAN ه MANA YANG HARUS MENGHGUNAKAN HURUF "H"

    ReplyDelete