18 September 2008

Pop Mandarin di Indonesia



Ling Ling Ling Ling oh kekasihku,
dara lincah tetanggaku,
diam-diam aku jatuh cinta kepadanya,
oh Ling Ling Ling
Pada suatu hari yang indah,
di pesta ulang tahunmu,
diam-diam aku menciummu....”



Oleh THEDORE K.S.

Itulah antara lain lirik lagu Ling Ling berirama Mandarin yang menjadi sangat populer tahun 1975. Tekanan politik Orde Lama dan Orde Baru yang melarang peredaran dan menyanyikan lagu-lagu Mandarin di tempat umum justru melahirkan lagu-lagu Indonesia berirama Mandarin.


Diawali Titik Shandora tahun 1971 lewat lagu-lagu Bersama Angin Laut, Terang Bulan di Gunung, Si Cantik Jelita, Dayung Sampan, dengan beberapa di antaranya justru menjiplak asli Mandarin seperti Ni She Chun Ze Feng, atau Si Cantik Jelita yang konon mentah-mentah dijiplak dari lagu Jepang, Sina no Yoru (Malam yang Indah).

Ling Ling adalah salah satu lagu dari album pertama grup The Phoenix. Kelompok yang beranggota R. Ashari Asaari, Yusuf, Syarif, Irfan, Yarzuk Arifin, dan Bob Salem ini pun menjadi pusat perhatian pada awal tahun 1975.

Menurut R. Ashari Asaari, pencipta Ling Ling, irama lagu Cina sudah dikenal di Indonesia sejak lama, antara lain seperti lagu gambang kromong Jangan Malu Malu Kucing. Jadi, apa yang dilakukannya bukan hal baru. Seperti juga gambang kromong, Ling Ling juga disukai masyarakat Indonesia umumnya, tidak terbatas pada masyarakat keturunan saja.

“Yang banyak beli kasetnya justru orang kita sendiri,” kata Ashari, yang sebagaimana anggota The Phoenix lainnya berasal dari Palembang, kepada sebuah majalah berita musik bulan Agustus 1975. Master rekaman album pertama The Phoenix itu dijual Ashari Rp 2 juta kepada perusahaan rekaman Remaco.

Sedemikian populernya Ling Ling sehingga menjadi wabah, yang menyebabkan penyanyi dan grup lainnya ikut-ikut merekam lagu pop Indonesia dengan irama Mandarin. Mulai dari Deddy Dores, Leily Dimyathi, Ferdi Ferdian, Irni Basir, Is Haryanto, Rudy’s Grup, Dominos, hingga The D’lloyd, dan The Steps. Imron dan Ismet yang menjadi penggerak The Steps menyatakan lagu mereka sebagai pop Mandarin Melayu dan dinyanyikan Marini. Dua lagunya antara lain berjudul Moy Moy dan Wo Ai Ni Nio, yang dua-duanya ciptaan Imron.

Pada saat yang sama Titik Shandora yang sudah terlebih dulu sukses dengan lagu-lagu berirama Mandarin-nya mendulang emas pula berduet dengan Muchsin. Mereka merekam sejumlah album berbagai jenis musik; pop, melayu, pop Jawa, dan lain-lain. Duet Titik Shandora-Muchsin juga diikuti munculnya duet-duet yang lain.

Sementara itu, penyanyi Indonesia keturunan Cina, Ervinna, malang melintang di Hongkong, Taiwan, dan Singapura. Meskipun tidak pernah menyatakannya secara eksplisit, tampaknya langkah Ervinna meniti kariernya mulai dari Hongkong pada tahun 1974 disebabkan banyak rambu-rambu yang harus dilewati lagu Mandarin dalam lalu lintas industri musik Indonesia.

Setelah keluar masuk studio rekaman Hong Kong, Singapura dan Taiwan dengan album Mandarin-nya yang laris manis, Ervinna memperoleh sejumlah penghargaan. Menurut A. Riyanto, yang lagu-lagunya dinyanyikan Ervinna dalam rekaman pop Indonesia, Ervinna termasuk penyanyi yang cepat mengerti maunya pencipta lagu. Penyanyi yang sekarang berusia 45 tahun itu [pada 2005] menghasilkan sekitar 200 album rekaman di dalam dan luar negeri sepanjang kariernya.

Langkah Ervinna bisa dimengerti, mengingat hingga tahun 1991 lagu Mandarin tetap diwaspadai pemerintah. Karaoke di Jawa Tengah dilarang memutar lagu-lagu Mandarin, sementara penayangan video lagu-lagu Mandarin di karaoke Jakarta dianggap melanggar peraturan. Sampai tahun 1996 lagu Mandarin tetap dihadang dengan berbagai peraturan.

Kaset lagu Mandarin berlisensi (izin resmi dari perekam aslinya di negeri asalnya) harus lolos sensor baru boleh beredar. Tetapi, anehnya, kaset bajakan juga ada tanda lolos sensornya. Kaset yang berlisensi dan tidak berlisensi dijual bersama-sama, bahkan ada yang hanya menjual kaset lagu Mandarin tanpa lisensi alias bajakan, tetapi lolos sensor.

Meski demikian, penyanyi dan grup musik Mandarin di Indonesia terus tumbuh. Di Medan berdiri grup Nila Nada tahun 1969 yang menjadikan lagu Mandarin sebagai andalan, kemudian berganti nama menjadi Nila 73 pada tahun 1973. Mereka mengisi acara di restoran chinesse food dan klab malam seperti Tropicana dan Bali Plaza. Nila 73 hadir pada saat yang bersamaan dengan kejayaan grup The Rhythm King’s, The Minstrel’s dan The Mercy’s, namun mereka tetap dapat tempat di hati masyarakat dengan modal lagu-lagu Mandarin-nya.

Dan sekarang Medan seakan tidak mau berhenti beregenerasi. Gen’s 21 yang beranggotakan Robent (vokal), Huang Ie (vokal), Edwin (vokal), EQ (keyboard), Agus (drum), Yudhie (bas) dan Jay (gitar), yang mengandalkan lagu Mandarin, Jepang, dan Indonesia, terbentuk tahun 2002. Walaupun selama tiga tahun ini dikenal di Medan, baru sekarang, tiga tahun kemudian, perusahaan rekaman Gema Nada Pertiwi memproduksi rekaman perdananya berjudul The Past and The Future yang antara lain berisi lagu Feng Yun Tian Di (Angin Awan Langit Bumi) dan Xing Xing Suo versi Mandarin lagu rakyat Tapanuli, Sing Sing So.

Di samping The Phoenix, di Jakarta juga dikenal penyanyi Dewi Puspa yang nama aslinya The Coe Cou, yang pada tahun 1973 masih dikenal sebagai penyanyi pop anak-anak. Dewi juga bintang film yang muncul dalam Aku Tak Berdosa (1972), Ketemu Jodoh (1973), Suster Maria (1974) dan Arwah Penasaran (1975), di samping menyanyi lagu Mandarin hingga ke luar negeri.

Dari Semarang pada era 70-an antara lain juga tercatat Fang Fang dan Evi Lukito. Pada waktu itu Fang Fang terbilang sudah kawakan karena sudah mulai menyanyi sejak pertengahan tahun 50-an. Fang Fang sering tampil dengan grup rock kondang Semarang, Fanny’s dan Dragon, yang beberapa anggotanya keturunan Cina. Media musik tahun 70-an menyebut dua kelompok musik itu grup cap-cai.

Fang Fang dan Evi Lukito membawa lagu Mandarin dalam versi aslinya. Evi sering membawakan antara lain lagu Ming Rek Dien-ya (Jika Esok Tiba) dan Wo Ai Ni Ie Wan Pe (Aku Mencintaimu Sepuluh Ribu Gudang). Sementara Fang Fang suka melantunkan Ye Siang Ye Ai Nie (Semakin Dipikir Semakin Cinta) dan Jiau Jiau Men (Ketuk-ketuk Pintu). Walaupun lagu-lagu asli Mandarin sering terdengar di atas panggung, ternyata banyak di antaranya yang dibajak dengan menggantikan liriknya ke bahasa Indonesia.

“Mentang-mentang lagu Mandarin dicekal di Indonesia sehingga dikira tidak ada yang tahu lagu ciptaannya adalah hasil jiplakan. Bagi yang berminat ingin melihat dan mendengar bukti penjiplakan lagu Mandarin dapat menghubungi saya. Saya memiliki data sekitar 30 buah lagu hasil jiplakan, judul aslinya beserta nama-nama pencipta lagu yang menjiplak,” demikian antara lain tulis Teddy Teguh Raharja, siswa SMAN 4 Singaraja, Bali, di “Surat Pembaca” Kompas, Minggu 9 April 1995.

Padahal, masalah hak cipta gencar dibicarakan dua puluh tahun sebelumnya, yang pada puncaknya diselenggarakan “Seminar Hak Cipta” di Denpasar, Bali, 20-25 Oktober 1975. Seminar itu adalah untuk mengumpulkan berbagai sumbangan pemikiran bagi disusunnya Rancangan Undang-Undang Hak Cipta.

Industri musik tahun 1975 bagai hutan belantara. Penjiplakan lagu terjadi begitu saja, seakan-akan tidak ada pemiliknya. Itulah yang terjadi pada Ling Ling, yang tiba-tiba menjadi Kenangan Manis, dengan notasi yang sama tapi lirik dan judulnya di ubah tanpa pemberitahuan apalagi minta izin penciptanya. Tetapi urusannya selesai, setelah Ashari memperoleh imbalan Rp 500.000.

Kalau Kenangan Manis dinyanyikan Lily Junaedhy, Ling Ling dalam versi gambang kromong dibawakan Suheiri juga tanpa izin dari Ashari sebagai pencipta. Entah bagaimana caranya urusannya selesai secara damai. Ketika Ling Ling lagi-lagi direkam penyanyi lain dengan cara yang sama, Ashari pun naik pitam. Apalagi ketika dia hanya diberi Rp 60.000 sebagai tanda permintaan maaf. Ashari tersinggung dan meneruskan perkaranya ke pengadilan. Hanya saja, kelanjutan perkara itu tidak pernah kedengaran.

“Ling Ling di-CIA (dimakan) hopeng (teman baik)nya sendiri,” begitu gerutu pencipta lagu pada era Ashari. Mereka memelesetkan cia dengan CIA berhuruf besar dan dibaca si-ai-e. Masalah cia-mencia ini terus berlangsung sampai Dinding Pemisah yang sangat populer lewat suara Merry Andani dan irama lagu dangdut pada tahun 1993. Lagu itu ternyata jiplakkan dari Lai Sen Yen.

Kebijaksanaan Presiden Abdurrahman Wahid menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional dan kedatangan grup boyband Taiwan, F-4, tahun 2002 yang dielu-elukan masyarakat luas melegakan warga negara Indonesia keturunan Cina. Namun, ketika lagu-lagu Indonesia yang dinyanyikan duet Harry dan Iin dalam bahasa Mandarin dan akan ditayangkan di stasiun televisi ditolak sambil diberi komentar, “Masak lagu rakyat Indonesia dinyanyikan dalam bahasa Cina!”

Lalu lintas industri musik memang terus memasang rambu-rambu dan teman seperjalanan masih main kayu walaupun sebenarnya wo men hen ai ni (kami sangat mencintaimu) Ling Ling. Sebagaimana hau ce (lezat)nya menu kami sehari-hari: capcai, siomay, bakso, mi ayam, kecap, taoge, dan tahu.

Sumber: Kompas, 10 Juni 2005

6 comments:

  1. mas bahas yulia yasmin, mario dong .tq

    ReplyDelete
  2. mas, ada lagu mandarin lama judulnya Anna penyanyi Robin.Saya coba cari di google tidak ada apa mas tahu siapa nama aslinya robin

    ReplyDelete
  3. bisa don lot dimana ya mp3 nya?? plz help me

    ReplyDelete
  4. lagu ling ling dimana mendonlotnya?

    ReplyDelete
  5. kalau lagu tapanuli dimandarinkan, lagu jawa bisa nggak?

    ReplyDelete
  6. musik adalah bahsa universal ,, apapun bahasanya selama lagu itu enak dan dapat diterima pencinta musik maka tidak ada masalah...peac ,, my life is music

    ReplyDelete