24 September 2008

Pentingnya silentium, PUASA BICARA





Anda pernah melihat acara DEBAT di TVOne?

Saya tidak tahu apa kesan Anda. Tapi saya sendiri mual melihat acara yang hura-hura, debat kusir, ramai tak karuan, macam debat anak-anak belasan tahun. Topik sosial politik yang berat dibahas ala obrolan warung kopi. Kacau!

Pernah lihat badut-badut, pelawak, yang tampil tiap malam di televisi selama Ramadan? Juga hiruk-pikuk, kacau-balau. Tertawa cekakan. Konyol. Meledek fisik orang lain. Kata-kata kasar, makian, agar penonton bisa tertawa. Suasana bulan puasa yang seharusnya reflektif, merenung, sama sekali tidak tergambar di acara-acara badut itu.

Puji Tuhan, sejak dulu saya tidak tertarik pada program-program badut slapstik macam itu. Saya, meski bukan Islam, lebih suka menyaksikan pengajian Alquran yang diasuh Prof. Dr. Quraish Shihab di Metro TV. Saya sungguh terkesan dengan kematangan, pembawaan, serta suasana acara yang sangat reflektif.

Manfaatnya sangat banyak untuk kita semua, tak hanya untuk kaum muslim. Tahun lalu, di blog ini, saya menulis bahwa Pak Quraish Shihab penceramah terbaik selama bulan Ramadan. Tahun ini pun beliau masih the best-lah.

Setahu saya, bulan puasa itu tak sekadar pantang makan minum, berhubungan seks (dengan istri), pada siang hari. Puasa selama 30 hari punya dimensi yang jauh lebih luas. Ini arena latihan rohani terbaik. Manusia belajar menahan diri, tidak mengumbar kata-kata yang tidak perlu, lebih peduli sesama, dan seterusnya.

Maka, saya sungguh senang membaca tulisan Ibu Siti Musdah Mulia di Jawa Pos, 24 September 2008. Pakar Islam sekaligus aktivis perempuan ini menekankan PUASA BICARA. Puasa ini dilakukan Maryam (Bunda Maria).

"Puasa bicara jauh lebih sulit ketimbang puasa biasa. Menahan diri dari berbicara ternyata jauh lebih berat daripada menahan makan dan minum," tulis Siti Musdah Mulia di halaman satu koran terbitan Surabaya itu.

Sungguh, saya terinspirasi oleh tulisan Ibu Siti Musdah Mulia. Membaca artikel ini, saya langsung ingat badut-badut pengantar sahur. Artis-artis yang saling menjelekkan, perang kata-kata di televisi, misal si Dewi Persik dan Andi Soraya. Atau Ahmad Dhani dan Maya yang berbulan-bulan seakan berlomba memuntahkan kata-kata kasar di televisi.

Juga suasana pengajian Ramadan di televisi yang lebih mirip lawakan. Lha, kapan PUASA BICARA? Kapan kita dikondisikan untuk melakukan refleksi, melakukan permenungan? "Namanya juga televisi, ya, unsur hiburan lebih dikedepankan," kata teman saya, wartawan televisi.

Tapi, kalau porsi hiburan berlebihan, kelewat batas, maka pesan religiusnya hilang. Orang hanya ingat ulah badut-badut konyol itu. Belum lagi kuis-kuis dengan pertanyaan yang menganggap penonton televisi itu sangat goblok.

Bicara PUASA BICARA, saya teringat SILENTIUM. Laku ini selalu dilakukan para biarawan dan biarawati di lingkungan Gereja Katolik. Jemaat awam pun kerap diajak SILENTIUM saat retret menjelang Natal, Paskah, atau acara-acara khusus. SILENTIUM itu bahasa Indonesianya, ya, PUASA BICARA. Saudara-saudara Hindu mungkin menyebut NYEPI.

Selama SILENTIUM, kita dilarang bicara. Kalaupun bicara, ya, hanya perlu-perlu saja. Radio, televisi, ponsel, harus dimatikan. Kita diajak pembimbing retret untuk melakukan refleksi. Introspeksi ke dalam. Berusaha mendengarkan suara hati. Membaca kitab suci dan melakukan perenungan.

"Saudara, fokuskan pikiran dan perasaan Saudara kepada-Nya. Rasakan udara yang masuk ke paru-paru Saudara. Bersyukurlah kepada Tuhan atas hidup dan berkat yang telah Saudara terima...," begitu antara lain kalimat si pembimbing retret.

Namanya juga tidak biasa PUASA BICARA, banyak peserta retret yang keceplosan bicara. Atau senyam-senyum, menggoda temannya. "PUASA BICARA jauh lebih sulit ketimbang puasa biasa," kata Ibu Siti Musdah Mulia.

Memang demikianlah kenyataannya. Tapi, mengingat manfaatnya besar, naga-naganya kita perlu belajar PUASA BICARA. Meneladani Bunda Maria (Maryam) yang terbiasa melakukan latihan rohani ini. Lukas Penginjil menulis:

“Maria menyimpan segala perkara itu di DALAM HATINYA dan merenungkannya” (Lukas 2:19).

1 comment:

  1. Tulisanmu "hening" sekali. Sesuai dgn judulnya, mampu mendeliver energi ketenangan pada tiap paragraf yg kubaca. salam

    ReplyDelete