22 September 2008

Pelacuran selama Ramadan



Ehem... kalau cewek-cewek ini sih penghuni lokalisasi Gang Dolly. Tanjung Perak kapale kobong, monggo pinara kamare kosong.

Setiap malam, pulang kerja usai tenggat, beta su tentu lewat di jalan raya Waru. Tetangga paling dekat Kota Surabaya. Yah, beta kan tinggal di kawasan Aloha, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo. Sonde begitu jauhlah dari Bandara Juanda.

Di kiri jalan (sebelah timur), beta hampir selalu lihat nona manis berdiri sambil bicara di HP. Umurnya kira-kira 30-an. Tak seberapa jauh dari situ ada seorang laki-laki, 50-an, mungkin pengawal, kekasih, atau suami? Beta sonde tanya. Tiap kali ada laki-laki lewat si nona suka senyum. Kadang melambaikan tangannya.

Kadang ajakan si nona berhasil. Nyong-nyong merapat, omong-omong sebentar lalu pergi entah ke mana. Adegan macam ini mungkin biasa pada hari-hari biasa, tapi kejadian ini justru pada saat Ramadan. Ketika umat Islam menjalankan puasa selama 30 hari. Sonde boleh makan, minum, berhubungan seks dengan istri, apalagi dengan perempuan yang bukan istri. Pokoknya, sonde boleh maksiat!

"Lha, sekarang kan puasa, Mbak, kok sampean tetap kerja? Apa nggak takut dirazia sama polisi atau Satpol PP? Sanksinya berat lho?" beta kasih pancingan.

"Puasa ya puasa, tapi aku kan cari uang. Aku harus makan, anaknya saya juga perlu makan, sekolah, banyak kebutuhan. Lha, kalau aku gak kerjo, apa pemerintah mau kasih saya uang? Mau kasih makan anak saya?" balas si nona itu sengit.

Jawaban-jawaban macam ini sudah klasik. Template, istilah komputernya. Maka, beta sonde begitu terkejut.

"Tapi sampean tetap puasa, Mbak?" beta sambung lagi.

"Oh, jelas, puasa gak mangan gak ngombe awan-awan. Puasa tidak makan dan minum siang hari. Masa sih malam-malam juga gak boleh makan minum?" ujar nona yang ramah itu.

Wah, wah... Beta merenung sejenak. Khotbah-khotbah, seruan moral, perintah untuk menghentikan maksiat... memang sangat mulia. Tapi, jangan lupa, manusia perlu uang--apalagi ini kota besar--untuk membiayai berbagai macam kebutuhan. Kebutuhan itu sonde pernah ada habisnya. Satu dipenuhi, puluhan lain menyusul di belakang.

Nona pekerja seks itu so pasti tahu bahwa melacur itu tidak baik, berdosa, lebih-lebih di bulan puasa yang suci. Tapi kalau sonde kerja, dorang mo makan apa? Siapa yang mo kasih kerja, kasih susu buat dia pu anak? Melarang pelacuran tanpa disertai pemikiran mendalam tentang karut-marut masalah sosial budaya, jelas sonde bijaksana.

Puluhan pekerja seks terus dirazia di Surabaya, Sidoarjo, Malang, dan kota-kota lain di Jawa Timur, kemudian diajukan ke pengadilan, bayar denda. Kadang-kadang didatangkan rohaniwan untuk kasih petuah hidup baik, suci, meninggalkan dunia hitam. Tapi ya, pelacur tetap ada. Malah makin banyak.

"Beta su bosan dengar nasihat dan khotbah-khotbah. Kasih solusi dong," ujar Mbak Vera, aktivis organisasi nonpemerintah yang sejak 1987 mendampingi pekerja seks di Gang Dolly dan Jarak, Surabaya.

Dua lokalisasi ini--Dolly dan Jarak--paling besar di Indonesia. Ada juga media massa yang bilang terbesar di Asia Tenggara. Tapi beta kira negara Thailand masih nomor satu untuk urusan bisnis esek-esek ini.

Selain pekerja seks jalanan, termasuk kalangan banci, beta juga cari-cari informasi tentang bisnis prostitusi di Surabaya selama bulan Ramadan. Secara formal Gang Dolly, Jarak, dan beberapa lokalisasi "resmi"--pakai tanda kutip karena sebenarnya ada peraturan daerah yang sejak dulu melarang bisnis prostitusi di Surabaya dalam bentuk apa pun--tutup. Tapi... ehm... kalau mau jujur bisnis satu ini sonde pernah mati. Kagak ada matinye, kata orang Betawi.

Coba saja lu jalan-jalan ke Porong, dekat pusat lumpur Lapindo. Di situ ada tanggul Sungai Porong atau orang sini bilang Tangkis Porong. Bisnis seks tetap marak, sonde ada beda dengan bukan Ramadan. Puluhan pekerja seks yang "estewe" (40-an ke atas) dengan dandanan menor, gincu tebal, tetap saja seliwar-seliwer di sana.

"Sering sih dirazia, tapi ya sulit dihentikan. Wong, namanya juga cari uang," ujar seorang pedagang makanan di Pasar Porong kepada beta.

Kalau sudah begini, yo opo maneh Cak? Wong, larangan praktik selama puasa yang ilahi saja sonde digubris, apalagi peraturan daerah atau undang-undang sekalipun. Beta pu pesan kepada pemerintah supaya jangan terlalu sibuk cari muka, tebar pesona, sok alim, tapi perhatikan kemiskinan struktural di kalangan bawah.

Kalau orang sonde apa-apa, sonde dapat kerja, maka apa pun dilakukan agar bisa bertahan hidup. Inga, inga, tanggal 15 September 2008 ribuan orang antre zakat di rumah Pak Syaikon agar bisa dapat uang Rp 20.000 sampai Rp 40.000. Panas terik, gencet-gencetan, sonde dihiraukan lagi.

Maka, 21 ibu-ibu pun tewas terinjak-injak dan mati lemas. Kitorang mo salahkan siapa lagi?

7 comments:

  1. Hehehe... anda benar Bung, masalahnya kemiskinan. Memang miskin itu ujian, bagi yang berhasil sabar sangat luar biasa ganjarannya. Katanya di surga nanti banyak orang yang hidup miskin ketika di dunia. Tetapi memang godaannya juga luar biasa. Katanya kemiskinan dekat dengan kekufuran dan maksiat. Jadi seperti pedang bermata dua.
    Tapi saya pernah ingat ada ustadz yang bilang kalau manusia yang sekarang kaya raya, justru ujiannya lebih berat. Pertanggung jawabannya apalagi. Jadi kalau saat ini orang miskin menjadi obyek tontonan mereka. Bukan mustahil kalau sebenarnya mereka yang sedang berada dalam ujian yang lebih berat.
    Susah memang memerangi kemaksiatan. Dari dulu sudah ada, budaya pelacuran ini sudah sangat kuno. Jadi, begitulah hidup. Pejabat yang korup pemimpin yang tidak amanah bersaing dengan pelacur yang menjajakan diri di jalan karena kebutuhan hidupnya tidak terpenuhi. Selalu ada.

    ReplyDelete
  2. emang, kemiskinan itu musuh kita bersama. akar dari semua kejahatan.

    ReplyDelete
  3. Salam Damai...

    Bagus kupasannya. Salam kenal. Saya pertama lihat tulisan abang ya soal lagu Ibu Pertiwi itu. Aku mau nulis juga tentang hal itu.

    Ngomon-omong, SMU 1 Malang masuk tahun berapa bang..??

    Saya SMAN 8, masuk 88.


    Dominus Vobiscuum.

    ReplyDelete
  4. Salam kenal juga Mas Kardjo. Saya di SMAN 1 Malang pada era kepala sekolah Bapak Mohammad Chotib, almarhum. Saya pindahan dari Flores, kerja sama dinas pendidikan NTT dan Jatim. Jadi, dapat rekomendasi masuk SMA yang bermutu di Jawa.
    Hampir tiap bulan saya masih main2 ke Malang. Dominus vobis cum juga.

    ReplyDelete
  5. template?????!!!!??? template....?????!@#@##$#??@?@?!@#? Hahahahahaha.... Mas Hurek lucu juga ya...

    ReplyDelete
  6. Pak Berny, mhn untuk dapat dimaafkan kalau kami di Jakarta sering membicarakan kesuksesan Anda, kami di Jakarta ada P. H. Deddy, P. H. Basilum Mulyawan,ada juga P. Bom dimana, ada P. Harun di Jember, ada P. Pras di Madiun, Ada Pak Misjo di Asembagus, ada Pak Mbing di Ponorogo, ada Pak Ndit Asem Bagus, ada Pak Daroji di Jombang, ada Pak Misari di Lumajang, ada Pak Atok Kumis di Kencong, kalau sempet dan bagusnya disempet sempetin sudilah kiranya untuk bertandang ke Warung kami "WARTEG KHARISMA" Jl. Tebet Barat Dalam Raya No. 86, Jakarta Selatan atau di www.warteg-kharisma.blogspot.com,suwun sakdurunge cak, yok opo wis duwe anak piro?

    ReplyDelete
  7. pelacuran tak akan pernah mati. karena pelacuran telah mendarah daging dan menjadi sikap jiwa kita meskipun kita (bukan)pelacur.
    kita sering mengartikan pelacuran itu hanya pelacuran kelamin, tapi sebenarnya pelacuran yang kita lakukan lebih parah dari pelacuran kelamin dan tanpa kita sadari : pelacuran moral, etika , kejujuran.

    ReplyDelete