10 September 2008

Pantai Kenjeran yang garing



Pantai Ria Kenjeran? Orang Surabaya tentu sangat kenal pantai di kawasan Surabaya Utara ini. Pantainya tidak begitu indah, beda dengan Sanur atau Kuta di Bali, tapi lumayanlah untuk melepas penat.

Embusan angin cukup kencang membuat kita bisa beristirahat dengan nyaman. Bandingkan dengan temperatur di Kota Surabaya yang gerah, panas, bikin keringat menetes. Kenjeran ibarat oase kecil di tengah Surabaya yang panas.

Minggu lalu, saya menikmati pantai Kenjeran. Pasang surut. Hamparan pasir sangat luas. Aroma khas laut tercium di mana-mana. Ratusan pengunjung, kebanyakan membawa anak-anak kecil, menikmati suasana liburan itu. Para pedagang menawarkan makanan, camilan, meski sedang bulan puasa.

Yang puasa, silakan puasa, yang tidak, silakan mencicipi aneka panganan laut khas Kenjeran. Juga ada suvenir berupa hiasan, kalung, gelang, tasbih... semuanya dari hasil laut. Para pedagang ini biasanya berjualan di pantai Kenjeran Lama. Tapi, setelah Kenjeran Baru alias Pantai Ria semakin berkembang menjadi wisata keluarga, sebagian pedagang pun pindah ke sini.

Jajanan khas Kenjeran apa lagi kalau bukan es kelapa muda. Es degan, kata orang Jawa. Juga sate kerang, lontong kupang, soto ayam, hingga nasi goreng spesial. Harganya sedikit lebih mahal ketimbang di luar tempat wisata umum. Harga yang pantas dibayar untuk menikmati pemandangan pantai ala Surabaya.

Pengelola Pantai Ria tampaknya bekerja keras untuk mengubah imej tempat wisata ini. Dulu, Kenjeran identik dengan tempat muda-mudi memadu kasih, pacaran, bahkan tempat maksiat. Kebetulan ada motel dan hotel delapan jam yang biasa disewa para sejoli untuk berkasih-kasihan. Sampai sekarang motel dan hotel masih ada. Tapi saya tidak sempat mengecek apakah masih disalahgunakan oleh tamu-tamu yang tidak bertanggung jawab.

Yang mengagumkan dari Ria Kenjeran adalah suasana Tionghoa. Musik instrumental khas Mandarin diperdengarkan untuk menyapa hadirin. Desain kya-kya, pusat rekreasi utama, pun serba merah. Motifnya khas Tiongkok. Ukiran ular naga terlihat di mana-mana. Juga lampion merah yan digantung di sepanjang lorong di bibir pantai.

Tak jauh dari situ ada Sanggar Agung. Kelenteng yang dulu bernama Kwan Kong Bio. Bapak Soetiaji Yudho, bos PT Granting Jaya, pengelola Pantai Ria Kenjeran, merelokasi dan memperluas rumah ibadat Tridarma yang sudah berusia 30 tahun ini. Ada patung Dewi Kwan Im dan beberapa dewa-dewi menjadi tetenger atau penanda Pantai Ria Kenjeran.

"Saya ingin agar orang-orang Tionghoa bisa sembahyangan di sini. Setelah itu bisa jalan-jalan, menikmati pemandangan di pantai," kata Pak Soetiaji.

Kelenteng yang baru dioperasikan kembali pascareformasi itu cukup terkenal di Jawa Timur. Maklum, Pak Soetiaji sering menggelar even-ven besar. Beberapa rekor nasional telah dicatat di Museum Rekor Indonesia.

Melengkapi kelenteng Sanggar Agung, dibangun pula patung Buddha Empat Muka yang disaput emas. Indah sekali. Para pengunjung, apa pun agamanya, biasanya mampir ke sini untuk melihat dari dekat monumen keagamaan itu. Aroma hio merebak ke mana-mana. Orang diajak mendekatkan diri pada Tuhan dan menjauhkan pikiran-pikiran buruk, misalnya berpacaran aneh-aneh di tempat gelap atau hotel.

Pantai Ria Kenjeran alias Ken Park juga masih punya banyak fasilitas lain. Ada sirkuit khusus untuk balapan. Sering jadi tuan rumah kejuaraan nasional, bahkan internasional. Ada gedung serbaguna atau multifunction room. Aula yang sangat luas untuk konser atau konvensi kelas nasional maupun internasional.

Beberapa waktu lalu saya pernah menonton konser musik metal dari grup asal Jerman. Tempat ini sangat bagus karena areal parkirnya luas. Beda dengan stadion-stadion di Surabaya atau Sidoarjo yang parkirnya sulit. Kelemahannya: Pantai Ria Kenjeran dianggap terlalu jauh, ujung kota. Jarang ada kendaraan umum yang melintas ke sana. Tapi, saya kira, persoalan ini mudah diatasi karena Kenjeran toh berada di dalam kota.

Areal pancing di Ria Kenjeran pun cukup luas. Cuma belum banyak dimanfaatkan. Begitu pula arena mainan anak-anak yang kurang terurus. Kolam renang masih bagus. Juga ada gedung bulutangkis yang bisa dipakai untuk latihan atau pertandingan.

Melihat dari dekat Pantai Ria Kenjeran, mestinya Surabaya bisa mengembangkan wisata pantai secara optimal. Bukankah Surabaya berada di pinggir laut? Kalau mau jujur, areal pantai di Surabaya, khususnya Kenjeran, jauh lebih luas ketimbang di Singapura.

Tapi Singapura bisa mengembangkan wisata pantai seperti di Pulau Sentosa secara modern dan profesional. Dan orang-orang Surabaya rame-rame ke Singapura untuk menikmati berbagai wahana dan taman-taman kota ala Singapura. Saya sendiri, ketika berada di Singapura, tidak habis pikir mengapa begitu banyak orang Surabaya--Indonesia umumnya--suka melancong ke objek wisata Singapura yang 'begitu-begitu' saja.

Mudah-mudahan Pak Bambang DH, wali kota sekarang, dan wali kota yang akan datang, mau mengembangkan wisata pantai di Kota Surabaya. Kalau Singapura bisa, kenapa Surabaya tidak?



Bagaimana pendapat Anda? Silakan tulis di bawah artikel ini.

No comments:

Post a Comment