01 September 2008

Obbie Messakh di Metro TV


Obbie Messakh itu ternyata ceria, suka bercanda, ceplas-ceplos. Beda jauh dengan lagu-lagunya yang sebagian besar bercerita tentang kesedihan, bahkan frustrasi. Ini terlihat saat Obbie Messakh tampil di acara Zona 80, Metro TV, Minggu 31 Agustus 2008. Selama satu jam, diselingi iklan, tentu, penonton televisi diajak kembali ke era 1980-an.

Obbie Messakh, pemusik asal Rote, Nusa Tenggara Timur, memang salah satu ikon 80-an. Suka tidak suka orang harus ingat Obbie kalau bicara tentang musik pop 1980-an. Karya-karyanya mendominasi Aneka Ria Safari dan Selecta Pop di TVRI, satu-satunya stasiun televisi di Indonesia masa itu.

Ratusan lagu, bahkan mungkin ribuan, telah lahir dari tangan Obbie Messakh. Sebab, Obbie mengaku mulai menulis lagu sejak 1974. Rinto Harahap menjadi salah satu penulis lagu yang banyak memberi inspirasi padanya. Namun, setahu saya, Obbie Messakh mulai melejit ketika direkrut JK Records pada awal 1980-an. Judhi Kristianto, bos JK Records, mengandalkan Obbie dan Pance Fransisikus Pondaag sebagai penulis lagu utama perusahaan rekaman itu.

Karakter lagu-lagu Obbie memang pas dengan karakter Judhi yang juga pemusik dan penulis lagu. Maka, puluhan artis pun diorbitkan JK Records. Sebut saja Lidya Natalia, Ria Angelina, Helen Sparingga, Heidy Diana, Dian Piesesha, Marina Elsera, Nindy Ellese... dan masih banyak lagi. Sukses Obbie di JK Records membuat produser lain di era 80-an terigur. Mereka antre menunggu lagu-lagu Obbie Messakh.

"Waduh, waktu itu nyari Bang Obbie susahnya setengah mati. Dia kan lagi jaya-jayanya," kata Ratih Purwasih di Zona 80, Metro TV. "Saya malah tidak pernah bertemu langsung sama Bang Obbie. Padahal, saya terangkat karena lagu-lagunya," tambah Angel Pfaff. Pada akhir Agustus 2008 ini tubuh Angel Pfaff terlihat gemuk berisi, tak lincah, jangkauan suaranya pun tidak prima lagi.

Angel, pelantun 'Pernahkah Dulu', bersama Ratih Purwasih--adik kandung penyanyi Endang S. Taurina yang juga kondang pada 1980-an--mendampingi Obbie Messakh di Zona 80-an. Pemandu acaranya Ida Arimurti dan Sys NS, dua penyiar radio yang kondang di Jakarta pada 1980-an. Di saat begitu banyak selebitis lama mengidap obesitas dan stroke, fisik Obbie Messakh tetap langsing macam 20-an tahun silam. Suaranya lebih tebal, tapi tetap nyaman. Ini karena Obbie memang sejak dulu aktif berolahraga.

Bagi Obbie Messakh, menulis lagu-lagu sweet pop ala JK Records merupakan berkah luar biasa pada 1980-an. Hampir semua artis yang diorbitkan dengan lagu karyanya melejit. Kaset--dulu belum ada CD--laku keras. "Paling sedikit terjual 400.000. Industri musik benar-benar booming," kenang Obbie yang lahir dan besar di Jakarta itu.

Sebagai perbandingan, saat ini bisnis kaset/CD memasuki masa yang sangat sulit. Studio banyak, siapa saja bisa bikin lagu, merekam lagu, membuat aransemen dengan berbagai corak, tapi... sulit dijual. Laku 20.000 saja sudah bagus. Bahkan, ada penyanyi terkenal sudah senang bukan main ketika albumnya terjual 2.000. Masa keemasan seperti yang dirasakan Obbie dan JK pada era 1980-an tampaknya hanya tinggal sejarah.

Di program musik nostalgia Metro TV yang mulai dilirik banyak orang itu, Obbie juga menjelaskan kasus pelarangan lagunya oleh pemerintah Orde Baru. Tepatnya, pada 1988 Menteri Penerangan Harmoko--sebagai penanggung jawab utama TVRI--murka gara-gara lagu Hati Yang Luka [karya Obbie Messakh, dibawakan Betharia Sonata] sangat sering keluar di TVRI. Di mana-mana orang menyanyikannya. Lantas, Pak Harmoko meminta agar TVRI tidak lagi menyiarkan lagu-lagu cengeng.

"Saya sendiri tidak paham apa yang dimaksud dengan 'cengeng'. Di kamus bahasa Indonesia tidak ada istilah itu," kata Obbie Messakh. Namun, Obbie mengakui pelarangan lagu-lagu manis ciptaannya juga membawa hikmah. Sebab, sejak itu dia sering diundang pejabat dan menteri-menteri.

Menurut Obbie, lagu 'Hati Yang Luka' itu justru membela kaum perempuan yang sering mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Suami seenaknya main tangan. "Lihatlah tanda merah di pipi, bekas gambar tanganmu...," begitu antara lain lirik 'Hati Yang Luka'. Hanya saja, ungkapan advokasi versi Obbie Messakh dipahami secara berbeda oleh pemerintah, khususnya Pak Harmoko.

Setelah pelarangan pada 1988, Obbie Messakh tetap berkarya. Dia menulis lagu-lagu riang, bahkan pop dangdut. Masyarakat sempat suka, tapi tak sedahsyat lagu-lagu manis yang sudah menjadi trade mark Obbie Messakh. Dan, pelan tapi pasti, berakhirlah era keemasan Obbie Messakh, Pance Pondaag, Judhi Kristianto, Tommy J. Pisa, dan penyanyi-penyanyi sejenis. JK Records pun surut.

"Tapi saya senang karena sejak di JK Records sistem royalti sudah dipakai," ujar Obbie Messakh yang murah tawa itu. Gamblangnya, Obbie bisa membeli rumah, mobil, mencukupi nafkah keluarganya berkat royalti lagu-lagunya.

Sambil tidur-tidur ayam, saya menikmati Obbie Messakh menyanyikan dua lagu karyanya: Aduh Rindu dan Kau dan Aku Satu. Lagu-lagu ini pernah sangat terkenal di Indonesia, khususnya Nusa Tenggara Timur. Saya masih ingat hampi semua bemo alias angkutan umum seakan berlomba menghibur para penumpang dengan lagu-lagu Obbie Messakh.

"Melodi, melodi memori
yang pernah kucipta
jadi teman setia....

Melodi, melodi memori
pengganti dirimu
penghibur sepi malamku...."



Anda punya komentar? Silakan tulis di bawah artikel ini.

8 comments:

  1. Kalo aku suka lagunya Obbie yang .."malu aku malu, pada semut merah .. yang berbaris didinding menatapku curiga ....."

    Hii hii, inget2 diswiss juaraaang banget semut merah, lha wong cicak aja nggak ada e..

    Salam..

    ReplyDelete
  2. matur suwun mbak judith, lama gak ketemu di jagat maya. moga2 sehat dan tetap masak di swiss. yo opo kabare precil sing manis2? salam.

    ReplyDelete
  3. Benar.....malu aku malu pada semut merah...kadang kami nyanyi bersama-sama dengan pastor2 atau suster2 yang tahun 80 masih duduk di SMA ...mengingat mas lalu dan tana air kami di Manila tidak lupa nyanyi lagu-lagu Obbie..apalagi dia putra asal NTT tapi lahir dan besar di Jawa....tapi popule bukan masa 80s. apalagi waktu itu kitorang masih remaja..salute lagi atas tulisan ama

    franskupangujan

    ReplyDelete
  4. Lumayan buat pengantar tidur. hahaha....

    abang, bisa tukaran link ?

    [ http://gurumuda.wordpress.com ]

    bisa dipreview dulu


    san

    ReplyDelete
  5. Hehehe... cocok untuk pengantar tidur dan minum kopi, memang. Terima kasih atas kunjungan Prof. Nelson Tansu, Ph.D, guru muda fisika yang kreatif.

    Saya sudah mampir ke blog Anda. Luar biasa! Saya jadi ingat masa SMA, jurusan fisika (A1). Hukum Newton, Ohm, momentum, dan seterusnya. Horas, Bang!!!

    ReplyDelete
  6. Meski 80-an aku masih kecil tapi tentunya aku msh ingat betul lagu om obbie yang judulnya kisah kasih di sekolah. soalnya mirip dengan kisahku semasa di sma dulu he..9

    ReplyDelete
  7. salam utk bang obbie. aku sering dengar lagu2nya waktu aq masih anak2.

    ReplyDelete
  8. Favorit saya dulu..pas SMU,hmm so cuiiit memory!! hahaaa.

    ReplyDelete