21 September 2008

Konsistensi Galajapo dan diskriminasi seniman



Priyo, Djadi, Lutfi. Trio Galajapo yang masih bertahan di Surabaya.

Surabaya--atau Jawa Timur umumnya--dikenal sebagai gudang pelawak. Tapi itu dulu. Ketika Srimulat masih berjaya hingga pertengahan 1980-an. Srimulat kemudian hijrah ke Jakarta, diikuti pelawak-pelawak lain. Lalu, dunia lawak di Surabaya cenderung mati suri. Antara ada dan tiada.

Sebetulnya, lawakan Jawa Timur itu identik dengan ludruk. Dan ludruk, meski kembang kempis, masih hidup di desa-desa. Sehingga, ya, pelawak-pelawak tetap ada. Tapi ya itu, usianya sudah sepuh-sepuh, dan gaya lawakannya masih tetap seperti dulu. Slapstik, kasar, sulit diterima anak-anak muda.

Misalnya, pembantu menjungkalkan majikan dari kursi, salah satu pelawak digelontor dengan air kotor. Nggilani! Kita tertawa, tapi juga tidak sampai hati melihat kekonyolan macam begini. Saya jadi malas nonton ludruk, antara lain karena gaya lawakan yang slapstik, kebabalasan.

Dalam lanskap macam ini, alhamdulillah, masih ada Galajapo. Pada 19 September 2008, trio pelawak Surabaya ini--Djadi, Lutfi, Priyo--merilis buku berjudul Neraka Wail dan Kue Terang Bulan di Graha Pena Jawa Pos. Dikemas dalam acara buka puasa bersama, para pelawak, aktivis sosial, sastrawan, wartawan, budayawan, hadir untuk mengapresiasi keberadaan Galajapo.

"Kami bisa bertahan sampai sekarang karena bantuan teman-teman wartawan," ujar Djadi yang setelah naik haji mengubah namanya menjadi Haji Muhammad Cheng Hoo Djadi Galajapo. Cheng Hoo itu tokoh muslim Tiongkok yang besar jasanya dalam penyebaran agama Islam dan ekspedisi di Nusantara.

Perjalanan Galajapo sebagai pelawak DAERAH--penekanan ini penting, mengingat industri hiburan kita terpusat di Jakarta--sejak 1992 tahun tidaklah mulus. Pasang surut. Jatuh bangun. Apalagi, panggung yang disediakan di televisi daerah (lokal) maupun acara-acara lain makin sedikit.

Maka, beberapa tahun terakhir si Djadi alias Cheng Hoo lebih dikenal sebagai pembawa acara alias master of ceremony (MC). Djadi punya gaya khas, yakni dengan banyak menyisipkan pesan-pesan dakwah. Dia memang piawai menghafal ayat-ayat suci Alquran. Penonton mantuk-mantuk sambil tersenyum mendengar wejangan pak kiai yang pelawak itu.

Kemudian, si Priyo Aljabar sekarang lebih dikenal warga Jawa Timur sebagai pembawa acara Cangkrukan di JTV atau bincang-bincang di TVRI Jatim. Gaya Priyo persis jupen alias juru penerangan era Orde Baru. Suka pakai bahasa Jawa ngaka, suroboyoan, yang paling kasar, kehadiran Priyo masih ditunggu banyak kalangan.

Si Lutfi, yang sebetulnya paling lucu, tak seheboh kedua rekannya karena jarang jadi MC. "Galajapo itu grup, tapi semua personel diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan masing-masing. Jadi, tidak harus tampil bertiga terus," ucap Djadi Cheng Hoo.

Suatu ketika saya omong-omong santai dengan Djadi di Graha Pena. Saya bertanya, apakah mungkin kita mencetak pelawak-pelawak muda Jawa Timur dengan festival pelawak? "Kenapa tidak? Galajapo itu kan grup lawak hasil festival yang diadakan Jawa Pos tahun 1980-an," tegasnya. Galajapo sendiri singkatan Gabungan Lawak Jawa Pos.

Bahkan, Djadi mengaku sudah beberapa kali bikin festival, mengader pelawak-pelawak muda, tapi hasilnya tidak optimal. Ada beberapa calon pelawak yang sebetulnya potensial. Namun, karena tidak mau mengasah diri, kurang belajar, akhirnya stagnan. Lalu, mati. Ada lagi yang mengadu nasib ke Jakarta, "Karena memang pasaran lawak di daerah memang sepi. Yah, itu semua pilihan teman-teman saja."

Celakanya lagi, pemerintah-pemerintah daerah pun umumnya kurang menghargai pelawak-pelawak daerah. Contohnya tak usah jauh-jauh. Pada perayaan hari jadi ke-715 Kota Surabaya, Mei 2008, seniman lokal ditinggalkan. Termasuk pelawak-pelawak macam Galajapo, Hunter Parabola, Kartolo, Kenthus, dan para eks Srimulat. Pemerintah kota hanya mau memakai jasa artis industri dari Jakarta.

Saking mangkelnya, Djadi Cheng Hoo mengumpulkan para seniman lokal dan bikin jumpa pers. Intinya, memprotes keras sikap panitia hari jadi Surabaya yang mendiskriminasi seniman Jakarta dan daerah. Ini bahkan sudah terjadi sejak era Cak Narto (Wali Kota Sunarto Sumoprawiro, almarhum).

"Seniman daerah hanya dikasih makan nasi kotak, air putih, sedangkan artis-artis ibukota makanannya mewah dan nginap di hotel berbintang," protes Djadi dan kawan-kawan.

Lantas, kenapa Anda tidak pindah saja ke Jakarta agar dapat perlakukan istimewa dan honor tinggi? "Wah, saya sudah komitmen untuk tetap di Surabaya. Tetap di daerah. Sebab, yang namanya rezeki itu sudah diatur oleh Allah SW," tegasnya.

Ketika membaca undangan buka puasa bersama plus peluncuran buku Galajapo, saya langsung teringat guyonan khas Djadi. Humor atau lebih tepat teka-teki ini kerap dilontarkan Djadi ketika memandu kuis berhadiah. Ini disampaikan lagi sehari sebelum puasa, 31 Agustus 2008, di Taman Surya.

"Siapa yang selalu dikejar-kejar burung?" tanya Djadi.

"Perempuan."

"Huss... Besok kita mau puasa. Ojo ngeres, Rek."

"Ayo, bagi yang menjawab benar, dapat hadiah dari sponsor. Lumayan gede lho."

Ternyata, para peserta jalan sehat tidak ada yang bisa menjawab. Maka, Djadi pun menjawab sendiri. "Yang selalu dikejar-kejar burung itu, ya, orang naik becak."

Hehehe.... Tukang becak itu pasti laki-laki, mengayuh becaknya dari belakang. Tentu saja, 'burungnya' terus mengejar penumpang, tapi tidak akan pernah dapat. Ada-ada saja si Djadi ini. Dasar pelawak, meski sudah haji, suka mengutip kitab suci, ya, tetap saja nyerempet-nyerempet ke situ.

Cak Djadi, Cak Lutfi, Cak Priyo, matur nuwun atas lawakan dan buku sampean!

Semoga bisa menjadi inspirasi bagi para calon pelawak di Jawa Timur.

No comments:

Post a Comment