01 September 2008

Jurnalisme dakwah dan propaganda

Saya sering membolak-balik media rohani, entah itu yang Islam, Katolik, Protestan, Hindu. Media Buddha jarang saya temui. Begitu pula Konghuchu. Semakin hari tampilan mereka semakin bagus. Sampulnya bagus. Media kristiani macam GLORIA atau BAHANA paling sering memasang foto artis di halaman depannya. Begitu pula tabloid NURANI yang Islam.

Bagaimana isinya? Apakah sudah sesuai dengan standar jurnalisme?

Jujur saja, belum. Prinsip peliputan yang berimbang, cover both side, diabaikan teman-teman pengelola media rohani. Lebih banyak yang sepihak. Padahal, banyak sekali materi liputan yang jelas-jelas menghantam pihak lain.

Misalnya cerita tentang artis, pengusaha, atau orang biasa yang pindah agama. Redaksi media rohani menyajikan cerita panjang lebar mengapa orang itu pindah agama. Sedikit banyak si sumber menjelek-jelekkan agama lama. Agama lamanya dianggap ngawur, sesat, buruk, tidak layak dianut. Agama baru dipuji-puji. Semua ditulis apa adanya. Tanpa upaya meminta pendapat dari 'pihak sana' yang dikritik.

"Namanya juga dakwah, ya, begitu. Pembaca media rohani itu kan sangat segmented. Hanya orang-orang seagama saja. Toh, yang kami tampilkan cerita apa adanya dari narasumber," ujar seorang pengelola media rohani kepada saya.

"Kenapa tidak minta konfirmasi, sedikit saja, dari pihak lain yang dijelek-jelekkan itu?" tanya saya.

"Nggak perlulah. Toh, semua orang sudah maklum," ujar sang kawan.

Franky Sinai [kini almarhum], pemimpin redaksi majalah rohani Kristen TIANG API, punya kiat lain. Kesaksian sumber yang pindah agama ini tetap dimuat, tapi melalui penyuntingan yang sangat ketat. Naskah asli diedit habis-habisan. Diperhalus.

"Kalau dimuat apa adanya, wah, bisa habis kita orang. Kita ini kan minoritas. Jadi, semua hal yang bersinggungan dengan pihak mayoritas, ya, sangat hati-hati. Kalaupun sudah diedit, tapi masih sensitif, ya, saya tidak muat. Bahaya!" ujar teman saya ini.

Harus diakui, cerita tentang artis yang pindah agama ke agamanya pengelola majalah selalu menarik dibaca. Apalagi, si artis itu sedang melejit. Ada semacam perasaan menang dan senang karena 'dia pindah ke agama kita'. Sebaiknya, jika si artis yang tadinya beragama Kristen, misal, kemudian pindah ke Islam, maka ada perasaan kalah. Media kristiani tidak memberitakan. Kalaupun diberitakan, porsinya cuma beberapa kalimat.

Ketika Nur Afni Octavia masuk Kristen, dulu, media-media kristiani memberitakan secara luas. Apalagi, penyanyi melankolis ini juga kemudian bikin album rohani dan menyampaikan kesaksian di gereja-gereja dan persekutuan doa. Beritanya muncul terus. Beberapa tahun kemudian, Nur Afni bercerai, dan menikah lagi, dan kembali memeluk Islam.

"Mana beritanya? Pembaca macam beta kan ingin tahu perkembangan Nur Afni?" pancing saya. "Hehehe... Kalau itu diberitakan, ya, tidak cocok dengan visi dan misi media kami. Bisa melemahkan iman pembaca. Hehehe," kata teman lain, sebut saja Samuel, pengelola media kristiani.

Tabloid kristen GLORIA, yang oplahnya besar, pernah memberitakan besar-besaran Dian Sastrowardoyo. Aktris hebat ini dipasang di halaman satu. Aktivitas Dian, pemahaman tentang gereja, kesaksian, hingga latar belakang kekristenan Dian digeber habis. Seakan-akan Dian itu teladan bagi pembaca media.

Beberapa bulan kemudian. Dian Sastrowardoyo memutuskan masuk Islam. Koran-koran umum, tabloid hiburan, televisi memberitakannya. Ada acara khusus di televisi berisi kesaksian para mualaf. Salah satunya, ya, Dian Sastro. "GLORIA kok gak nulis Dian Sastro pindah agama?" pancing saya.

"Itu kan bukan konsumsi kita. Biarkan saja dia pindah agama. Itu hak asasi manusia," ujar Daniel Rorong, teman saya, dulu wartawan GLORIA. Andai saja, suatu ketika, Dian Sastro kembali memeluk agama Kristen, naga-naganya bakal dimuat besar di media kristiani. Hehehe....

Kelemahan lain jurnalisme dakwah di media-media rohani adalah terlalu banyak memaksakan opini. Fakta dan opini dicampur habis-habisan dengan porsi yang timpang. Fakta sedikit, bumbu opini mendominasi artikel. Tentu saja, opini yang menyerang habis pihak lain yang dianggap sebagai 'musuh bersama' media itu.

Saya sering menemukan artikel di media rohani yang kadar informasi [fakta] hanya dua alinea, sementara delapan alinea sisanya opini. Saya pun langsung kehilangan selera baca. Apalagi membeli dan berlangganan media-media macam ini.

Andreas Harsono, guru jurnalisme dari Yayasan Pantau, dalam berbagai kesempatan mengatakan, jurnalisme ya jurnalisme. Tidak ada jurnalisme Islam, jurnalisme Kristen, jurnalisme Hindu, jurnalisme Buddha. Tatkala jurnalisme diberi embel-embel agama, maka jurnalisme mati.

Yang ada hanya propaganda!

6 comments:

  1. jelas lah, media keagamaan itu kan py misi dakwah. anglenya ya sempit, gak bisa imbang. menang sendiri lah.

    ReplyDelete
  2. Aku kutip pendapat Pak Andreas Harsono:

    "Kalau suatu jurnalisme dikaitkan dengan pemahaman lain, entah itu fasisme, komunisme, kapitalisme atau agama apapun, definisi yang lebih tepat, saya kira, adalah propaganda.

    Propaganda adalah suatu peliputan, penulisan serta penyajian informasi dimana fakta-fakta itu disajikan, termasuk ditekan dan diperkuat pada bagian tertentu, agar selaras dengan kepentingan ideologi atau kekuasaan yang memanipulasi komunikasi tersebut.

    Jurnalisme adalah bagian dari komunikasi. Namun tak semua elemen komunikasi adalah jurnalisme. Propaganda maupun dakwah juga bagian dari komunikasi. Namun menyamakan propaganda dengan jurnalisme, atau menyamakan dakwah dengan jurnalisme, saya kira akan menciptakan kebingungan yang serius dengan daya rusak besar."

    Antony
    Malang

    ReplyDelete
  3. Iulisan yang cerdas, Bung! Gayanya juga oke banget. Bravo. (Her Suharyanto)

    ReplyDelete
  4. media dakwah ato media keagamaan?
    kalo media dakwah, anggaplah seperti media pop yang menjual sensasi dan iklan.
    kalo media agama, pasti lebih sibuk ke dalam ketimbang ke luar.
    saya nggak tau media keagamaan muslim yang bagus, tapi Katolik punya majalah Hidup.

    ReplyDelete
  5. Terima kasih Paulina,
    Saya tahu betul kebijakan redaksional HIDUP. Waktu kecil di Flores, saya tiap minggu mengantar majalah HIDUP kepada beberapa pelanggan. Soalnya, bapak saya agen HIDUP dan beberapa media lokal di Flores. Jadi, sejak anak-anak saya membaca HIDUP, tahu persis isi majalah itu.

    HIDUP memang tidak pernah memuat berita atau artikel yang menyinggung, apalagi menyudutkan, agama/keyakinan lain. Dan itu membuat saya suka, dan panjang umur sampai sekarang. Jarang lho ada media keagamaan yang bertahan sangat lama, punya peminat besar, di seluruh Indonesia.

    Saat mahasiswa di Universitas Jember, saya juga sering mengirim reportase ke HIDUP. Saya justru belajar menulis naskah panjang di HIDUP. Liputan yang luas, mendalam, reflektif. Pater Frans-Magnis Suseno SJ, waktu itu penasihat redaksi HIDUP, selalu mengingatkan wartawan/koresponden/kontributor HIDUP untuk selalu menulis dengan iman, harapan, dan cita.

    Semua tulisan, kata beliau, harus bisa membangkitkan HARAPAN. Jangan membuat pembaca pesimis, apalagi putus asa. Pesan itu selalu saya ingat sampai hari ini. Sekali lagi, terima kasih atas komentar kawan-kawan.

    ReplyDelete
  6. Artikel yang sangat bagus bang Hurek, saya juga sering menemui hal2 semacam ini jika membaca majalah2 rohani. Jurnalisme dalam majalah rohani, tidak bisa independen.

    ReplyDelete