01 September 2008

Jubilate, SKB, Madah Bakti, Kidung Adi, Puji Syukur



Beberapa buku nyanyian liturgi koleksi saya: Yubilate, Kidung Adi, Madah Bakti, Puji Syukur. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Saya bukan ahli liturgi, bukan pastor, pun bukan bekas siswa seminari. Saya awam. Tapi, terus terang, saya cukup peka liturgi. Maklum, jelek-jelek begini saya pernah aktif di paduan suara mahasiswa, paduan suara gerejawi, bahkan sempat menjadi pelatih paduan suara di kalangan anak-anak muda Katolik alias mudika. Sekarang aktivitas yang menyenangkan macam itu tidak lagi saya tekuni.

Kerja malam-malam sih!

Karena itu, setiap kali ikut misa, di mana pun, secara refleks saya cermati berbagai hal yang ada kaitan dengan liturgi. Paduan suara. Aransemen kor. Cara organis bermain. Karakter nyanyian. Kemudian elemen-elemen dasar paduan suara. Saya sangat sering kecewa karena teman-teman aktivis tidak mempersiapkan diri sungguh-sungguh. Nyanyi asal-asalan. Teknik vokal kacau-balau. Paduan suara asal bunyi.

Romo-romo pun sering kurang persiapan dalam urusan musik. Menyanyikan prefasi asal-asalan. Pernapasan tidak diatur sehingga tidak ada keseniannya. Padahal, si romo sering memarahi umat karena tidak menyanyi dengan baik dan bersemangat.

"Romo-romo kita memang perlu belajar musik," kata Embong Rahardjo [RIP], pemusik jazz, saksofonis legendaris Indonesia, di Surabaya suatu ketika.

Sumber nyanyian, buku liturgi, menjadi perhatian utama saya. Ini penting supaya kita 'tahu diri' ketika ikut misa di luar paroki, apalagi keuskupan kita. Ah, andai kata Gereja Katolik di seluruh dunia menggunakan bahasa yang sama, bahasa Latin, tentu persoalan ini bisa diatasi. Tapi memang ada plus minus menggunakan bahasa dan tata cara lokal. Begitu banyak variasinya.

Jangankan beda keuskupan, beda paroki saja sering berbeda cara membawakan lagu-lagu aklamasi. Frasering atau cara pemenggalan kalimat lagu berbeda. Di Jawa Timur, perbedaan yang paling kentara di aklamasi:

Tuhan sertamu
Dan sertamu juga
Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan
Sudah kami arahkan.


Begitu saya ke Malang, biasanya ikut misa di Gereja Hati Kudus Kayutangan, suara saya menjadi lain sendiri. Gaya Surabaya! Jemaat di Keuskupan Malang punya pakem berbeda meski sama-sama memakai PUJI SYUKUR sebagai buku doa dan nyanyian. Maka, sebaiknya ketika engkau bertamu di paroki lain, perhatikan dulu cara umat setempat berdoa atau bernyanyi. Biar tidak lain sendiri.

Kalau misa di Jogjakarta dan Jawa Tengah, khususnya pedesaan, lain lagi ceritanya. Umat pakai KIDUNG ADI. Buku doa dan nyanyian berbahasa Jawa halus [krama inggil]. Diterbitkan Pusat Musik Liturgi, nyanyian litugi hampir sama dengan MADAH BAKTI. Satu penerbit, bukan? Hanya beda bahasa.

Orang Jawa Timur selalu kesulitan mengikuti misa di Jogjakarta atau Jawa Tengah karena hampir tidak ada misa bahasa Jawa di Surabaya, Sidoarjo, Malang, Jember -- kota-kota besarlah! Apalagi orang Flores atau luar Jawa yang sama sekali tidak paham bahasa Jawa. Tapi, karena susunan misa itu di mana-mana sama, kita bisa menebak-nebak makna doa dan syair lagu. Apalagi kalau melodi lagu sudah kita kuasai.

Lagu 'Ndherek Dewi Mariyah' [Kidung Adi 440] paling populer di kawasan Jogjakarta dan Jawa Tengah. Hampir semua umat suka. Almarhum Mgr. Johanes Hadiwikarta, mantan uskup Surabaya, selalu minta lagu ini setiap misa. Maklum, monsinyur ini berasal dari Jawa Tengah. Dan orang-orang Katolik di Jawa Tengah dan Jogjakarta punya tradisi devosi yang kuat macam jemaat di Flores. Agak beda dengan orang Katolik di kota-kota Jawa Timur yang terlalu minoritas.

Sejak Konferensi Waligereja Indonesia [KWI] mencabut rekomendasi untuk MADAH BAKTI, nyanyian dan tata liturgi di Indonesia makin variatif. Saya melihat masing-masing keuskupan bikin kebijakan sendiri-sendiri. PUJI SYUKUR dianjurkan menjadi buku resmi liturgi. Tapi, seperti saya ceritakan di depan, Jawa Tengah/Jogjakarta alias Keuskupan Semarang punya kebijakan lain. MADAH BAKTI dan KIDUNG ADI jalan terus.

Ada plus minus buku-buku liturgi ini. Saya tidak membahas karena akan sangat panjang. Lagi pula, ketika masih mahasiswa, ketika masih aktif di paduan suara, saya sudah ikut membahas panjang lebar di majalah HIDUP tahun 1990-an.

Saya pun pernah kasih masukan kepada Bapak Ernest Mariyanto, pakar musik liturgi asal Curahjati, Banyuwangi, penanggung jawab musik liturgi KWI di Jakarta. Kritik dan masukan dari umat pun sudah sering kita baca di media rohani, khususnya HIDUP.

Pekan lalu, saya mampir di Gudang Buku Nusa Indah, Jalan Polisi Istimewa Surabaya. Saya lihat ada buku YUBILATE. Bagi orang Flores macam saya, nama ini tak asing lagi. Zaman dulu bapak-ibu dan kakek-nenek di kampung pakai JUBILATE, terbit 1968, disusun oleh Pater Does alias Pustardos. Lagu-lagu JUBILATE [pakai J] dihafal benar oleh jemaat di pelosok-pelosok.

Umat ke gereja tanpa buku, tapi menyanyi dengan semangat tanpa salah syair. Tapi tidak semua lagu dinyanyikan. Ada lagu yang sangat sering dinyanyikan, ada yang sedang, ada yang jarang sekali, bahkan tak pernah. Kasus ini pun berlaku untuk MADAH BAKTI, KIDUNG ADI, dan PUJI SYUKUR. Sebab, paduan suara dan umat biasanya cari lagu-lagu yang gampang dan enak.

Nah, YUBILATE yang baru ini, cetakan pertama 1991, merupakan revisi JUBILATE dan SYUKUR KEPADA BAPA alias SKB. SKB ini menggantikan JUBILATE di Flores dan semua paroki di Nusa Tenggara Timur hingga pertengahan 1980-an. Ketika MADAH BAKTI datang dengan dominasi lagu-lagu inkulturasi--sebagian besar justru lagu-lagu bercorak tradisional Flores--SKB pun pelan-pelan surut.

Pada saat itu saya melihat umat Katolik di seluruh Indonesia terbius dengan eksperimen Pater Karl-Edmund Prier SJ dan Paul Widyawan, dua dedengkot PML di Jogjakarta, yang dahsyat. Lagu-lagu dikemas ala karnaval Bhinneka Tunggal Ika. Ada gaya Jawa, Flores, Papua, Batak, Manado, Sunda, Dayak, Keroncong, hingga Minangkabau. Paul Widyawan menjadi penulis sekaligus penyusun aransemen paduan suara utama lagu-lagu MADAH BAKTI.

MADAH BAKTI memang dahsyat. Lagu-lagunya lekas mengumat, gampang dinyanyikan, dan enak. Tapi kritik terhadap MADAH BAKTI pun banyak. Syair-syair ala Paul Widyawan terlampau 'puitis, njawani, sering mengawang-awang'. Bahasanya kurang terang.

Simak saja ungkapan Paul Widyawan:

sewaka bakti, sesaji sembah, pratala, praumat, laut terenang....

Padahal, syair untuk nyanyian liturgi, selain biblis dan sejalan dengan ajaran gereja, juga harus mudah dipahami umat.

Saya tidak tahu kenapa pada awal 1990-an, KWI menarik rekomendasi untuk MADAH BAKTI. Dan mulailah era PUJI SYUKUR di Jawa [sebagian] pada 1993/1994. Sebenarnya masih banyak lagu MADAH BAKTI--minus lagu-lagu Paul Widyawan--dimasukkan ke PUJI SYUKUR. Tapi syairnya banyak yang diubah dengan berbagai pertimbangan. Notasi sejumlah lagu pun berubah.

Umat pun sempat dilanda kebingungan massal. Bayangkan, syair lagu atau doa yang sudah dihafal selama 20--30 tahun berubah. Dan, bagi orang yang sudah berusia di atas 25 tahun, menghafal itu bukan perkara gampang. Saya sendiri, misalnya, sampai sekarang masih mengandalkan doa-doa hafalan era 1980-an versi Flores. Doa Pagi, Doa Malam, Doa Malaikat, Doa Harapan, dan sebagainya. Tak ada satu pun doa versi MADAH BAKTI atau PUJI SYUKUR yang saya hafal.

Karena itu, saya bisa mengerti mengapa umat Katolik di Jawa Timur nyaris tidak punya 'doa hafalan', kecuali Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, Aku Percaya. "Bagaimana bisa hafal kalau teksnya sering gonta-ganti?" kata teman saya, asli Jawa Timur.

"Paling gampang ya, kita baca saja. Toh, romonya pun pakai baca. Hehehe...," si teman melanjutkan lalu tertawa keras-keras.

Mudah-mudahan para waligereja, romo, pengurus liturgi keuskupan, dan pihak-pihak terkait mau memperhatikan kesulitan umat ketika membuat keputusan mengganti buku liturgi. Dampaknya sangat luas. Bukan saja umat terpaksa membeli buku baru, tapi juga mengubah HABITUS [ini istilah yang dipopulerkan KWI, hehehe...] umat terhadap doa dan nyanyian yang sudah mendarah daging.

Contohnya tanda salib. Sekarang ini sedikitnya ada tiga versi:

Atas nama Bapa....
Demi nama Bapa....
Dalam nama Bapa....


Padahal, sejak dulu sampai sekarang versi bahasa Latin sama saja:

In nomine Patris, et Filii, et Spiritus Sancto....

15 comments:

  1. Mas Hurek apa kabar? ..abis baca tulisanmu ini,aku jadi inget buku Madah Bhakti-ku. Cuma itu yang aku punya beserta Alkitab. Kidung Adi dan Puji syukur aku ndak puya e..

    Salam..

    ReplyDelete
  2. Ama Lamber, apa yang ama tulis itu perlu dipertinmbangkan oleh pemimpin Gereja Katolik. Saya sendiri tidak setuju dengan ganti-ganti buku lagu-lagu gereja. Sebenarnnya Gereja tidak perlu memberhentikan menerbitkan buku-buiku lagu yang sudah mengumat..dari segi pemasaran ya ini suatu kesempatan (captured market)...kalau ada kata-kata yang tidak sesuai....ya biarkan umat yang memutuskan..atau buat lagu baru dan ambilah resiko untuk mengumatkan lagu-lagu baru itu...

    Di Pipiipina tidak ada buku-buku khusus untuk lagu-lagu liturgi yang umat diwajibkan untuk beli...tapi ada banyak buku-buku lagu liturgi yang dijual...terserah gereja lokal - paroki atau keuskupang mengembambangkan atau memutuskan lagu-lagu yang dipake...saya tidak tau kalau gereja di sini mengambil langka tertentu menasihati umat tentang cocok tidaknya sebuah lagu. Kelemahan di sini, banyak lagu lagu yang diciptakn tapi yang dipake di gereja hanya itu-itu saja jadi bosan dengr lagu-lagu di gereja..
    selain yang ama keluhkan “ atas nama bapa ..atau demi nama bapa, saya juga rasa aneh denga "Tuhan bersama Rohmu"” lho dasar Theologi apa ni?...(manusia itu bukan hanya Roh, ada badannya -keduanya takterpisah - ada filsuf berpendapat ada yang lebih tinggi derajat, dan yang lainnya rendah - dualisme Yunani) tapi pemikiran lain - manusia itu tak dipisa-pisah kan - Tuhan tidak hanya menegur badanmu atau rohmu saja - Dia menyapaMU - MU ialah Roh dan badanmu...makanya- secara lgois --Tuhan Beserta ROHMU itu tidak logis/tidak biblical dan lemah dasar Theologynya

    Masalahnya di Indonesia..liturgi versi gereja local itu belum banyak dikembangkan..paling hanya bahasa saja..
    franskujan

    ReplyDelete
  3. Mas, banyaknya buku lagu rohani yang beredar, ternyata sering kali masih selalu saja melupakan penghargaan pada pengarang/kontributor lagunya. Penghargaan ini, bukan melulu berarti masalah finansial, namun lebih pada sikap dan attitude penerbit untuk minta ijin serta pemberitahuan apabila lagu tersebut diubah agar sesuai dengan teori musik, teologis, biblis ataupun yang lainnya. Se-ahli apapun tim penyusun buku itu dalam hal musik/liturgi, HAK UTAMA atas lagu itu tetap terletak pada pengarangnya. Setiap perubahan sekecil apapun, harus sepengetahuan pengarang. Hal ini saya kemukakan, karena beberapa kali saya harus menelan rasa tidak puas ketika lagu-lagu saya dimasukkan ke dalam beberapa buku liturgi/rohani yang diterbitkan oleh institusi resmi gereja, dan melihat bagaimana institusi resmi tersebut memperlakukan karya intelektual umat awam. salam, alma

    ReplyDelete
  4. Saya secara pribadipun merasa prihatin atas ini.Keberagaman yang mewarnai liturgi memang suatu kekayaan yg sangat bernilai bagi gereja.Namun khusus tentang lagu-lagu/nyanyian liturgi, saya sangat prihatin dengan kebijakan beberapa paroki yang pernah saya datangi, saya menemukan pemakaian lagu-lagu"comotan"yang menurut saya sama sekali tdk liturgis, sepertinya comotan dari gereja-gereja karismatik.Sangat-sangat membuat saya merasa asing dirumah(gereja)sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu karena keteledoran seksi liturgi paroki dan pastor kepala paroki setempat yg tidak tegas. Umat, khususnya dirigen dan pembina paduan suara gerejawi, perlu diberi arahan tentang musik liturgi. Jadi, tidak asal comot lagu2 untuk perayaan ekaristi.

      Dulu saya aktif juga di karismatik katolik. Dari situ saya ketahui bahwa orang2 karimatik itu ternyata tidak paham liturgi, konstitusi liturgi, sacrosanctum concilum dan sebagainya.

      Makanya PDKK sering bikin misa karismatik yg sangat heboh. Bahkan ada uskup yg ikut terseret dalam arus karismatik yg melenceng dari pakem liturgi.

      Kalau kita konsisten dengan konstitusi liturgi,maka seharusnya karismatik itu tidak ada di Gereja Katolik. Demikian pendapat saya.

      Delete
    2. Karismatik itu diperbolehkan di Gereja Katolik, agar mereka yang suka kebaktian ala Pentakosta tidak pindah gereja, tetap di dalam Tenda Besar Gereja Katolik. Begitu lah kira-kira.

      Delete
  5. Menurut saya,lagu-lagu yang digunakan itu liturgis apa tidak,itu tak jadi soal. Selama masih dalam batas kewajaran. Mungkin kalo kita ada diwilayah JOGJAKARTA dan sekitarnya,kita akan menemui beberapa gereja yang menggunakan lagu2 daerah yang mungkin tidak bisa dicerna oleh ahli bahasa latin sekalipun. Jadi mau pakai lagu dari puji sukur,madah bakti,atau apapun,selama itu menambah khitmat acara misa,ya...enjoy aja....

    ReplyDelete
  6. Menurut saya pribadi, kita mau pakai buku liturgi apa saja itu baik, bagus. Lebih bagusnya lagi kalau buku-buku panduan itu bisa memberi effek jiwa yang mendasar bagi umat dalam bersyukur, bermadah ataupun melantunkan kidung untuk memuliakan GUSTI. Sehingga tidak cukup doa dan lagu yang terucap di bibir saja, melainkan doa dan lagu yang terucap dari dasar qolbu. Sehingga tujuan kita ber'manunggaling kawula gusti dapat tercapai ... Dherek Gusti tansah pasrah lan ngabekti !!!

    ReplyDelete
  7. ha ha, kecantol ke blog ini pak waktu ketik madah bakti di mbah google. betul pak. tapi soal pakem rasanya bukan hal baru. kayak saya yang dari manggarai pindah ke waingapu juga beda nyanyi2-anya.hanya kebanggagaan kita orng NTT, madah bakti dengan addi,tional tiap daerah baik manggarai bejawa,kadang flores disatukan,sumba dan timor, syukur kepada bapa,rosario by fredi levi,exultate, belum termasuk lagu buku lagu bahasa daerah setiap daerah...belum lagi dari maumere yang tiap tahun arrangement lagu ulang, rame..benar...

    ReplyDelete
  8. saya kecewa dengan Puji Syukur. Karena lagu dan syairnya yang menurut saya sering tidak "menyatu", saya sering merasa "tidak rela" dan "jauh" ketik "terpaksa" menyanyikannya sebagai umat yang mengikuti misa.
    Terus terang, saya lebih setuju dengan lagu2 Pak Paul Widyawan yang mengadopt not2 dan irama dari banyak daerah di Indonesia... Itu jadi mempersatukan umat Katolik Indonesia yg berasal dr suku bangsa yg berbeda2...
    Harusnya, Madah Bhakti tidak ditarik! Tetap saja ada! Penyempurnaan dilakukan atas Madah Bhakti dengan memasukkan lagu2 asing yg di-translate ke bahasa Indonesia dr bahasa aslinya, spt yg dilakukan Puji Syukur.
    Maaf, tapi saya mencium aroma kental bisnis juga di penerbitan Puji Syukur....

    ReplyDelete
  9. siapa pengarang lagu "nderek dewi maria" ??

    ReplyDelete
  10. Setahu saya, belum pernah ada pencabutan izin terbit ("imprimatur", "nihil obstat") untuk buku-buku MADAH BAKTI, SKB, PUJI SYUKUR dll. karena tidak memuat hal-hal yang bertentangan dengan iman dan penghayatan iman katolik di dalamnya. Kalau banyak paroki tidak lagi menggunakan buku-buku tersebut, tidak berarti bahwa buku-buku tersebut tidak boleh dipakai.
    Dalam kata Pengantar PUJI SYUKUR (halaman vi) tertulis demikian:
    "Sebagai terbitan Komisi Liturgi KWI, PUJI SYUKUR merupakan buku pegangan resmi untuk pelaksanaan liturgi dalam bahasa Indonesia, dan sekaligus merupakan editio typica (edisi acuan) dalam menyusun buku-buku serupa untuk lingkup keuskupan atau paroki di seluruh Indonesia. Dengan demikian fungsi Buku Doa dan Nyanyian Umum yang pernah disusun oleh PWI Liturgi (Seksi Musik) sekarang digantikan oleh PUJI SYUKUR".
    Jelas, telah terjadi salah tafsir oleh umat di banyak tempat tentang dilarang digunakannya buku-buku doa dan nyanyian selain PUJI SYUKUR. Bukankah buku-buku seperti MADAH BAKTI, SKB, YUBILATE, dll. juga bukan terbitan Komisi Liturgi KWI?
    Saya sendiri merasa, bahwa dengan adanya buku-buku tersebut liturgi kita justru menjadi semakin diperkaya, dan semakin inkulturatif.

    ReplyDelete
  11. salam damai...
    saya mau cari buku" nyanyian liturgi jadul apakah masih ada yg punya?;pepudyan suci, pepudyan suci maria, sekaring karahayon, syukur kepada bapa, yubilate, gema hidup, lagu" misa rm. wahyasudibya..kalau masih ada yg punya boleh lah email di paroki_wedi@yahoo.com
    berkah Dalem, Terima kasih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buku2 lawas jelas tidak dicetak lagi karena perkembangan liturgi yg berubah, juga ada kebijakan KWI dan keuskupan masing2. Kalau mau cari buku2 nyanyian liturgi jadul ya harus blusukan ke lapak buku2 bekas atau bongkar gudangnya keluarga Katolik. Saya sendiri beberapa kali menemukan buku2 liturgi jadul di lapak toko buku bekas di Surabaya.

      JUBILATE lama tidak terbit lagi. Yang diterbitkan di Flores itu YUBILATE versi baru untuk umat Katolik di Nusa Tenggara Timur. Gema Hidup atau Pepudyan Suci saya rasa masih disimpan di biara2 susteran di Jawa.

      Selamat berburu.

      Delete
    2. Terimakasih pak Lambertus Hurek..
      akhirnya saya menemukan beberapa buku yang saya cari (Sekaring Karahayon, Pepudyan Suci(bukuumat), cuplikan beberapa lagu natal bahasa Jawa sudah SATB dari pepudyan suci, Pepudyan Bojana Kurban, Buku Misa Umat, dan beberpa buku lagi..Yang masih saya buru SKB, Jubilate, Gema Hidup, dan kalau ada beberapa buku jadul lainnya..hanya untuk referensi dan koleksi lagu2 saja pak Hurek..kalau masih punya info bisa kabar2 ya..hehehe... terima kasih...

      Delete