17 September 2008

Jagung titi dan Pater Gregorius Kaha SVD



Saya baru saja bertemu Pater Gregorius Kaha SVD di Gereja Katolik Roh Kudus, Rungkut, Surabaya. Pater kelahiran Menanga, Solor Timur, ini pastor paroki di situ. Terletak di Perumahan Puri Mas, Paroki Roh Kudus merupakan paroki terbaru di Keuskupan Surabaya. Tadinya, stasi dari Paroki Gembala Yang Baik.

Pater Goris pun sebelumnya bertugas di Gembala Yang Baik. Dia dikenal di dunia maya karena mengelola situs Yesaya (Yesus Sayang Saya), webiste Katolik yang sangat terkenal di Indonesia. Setelah pindah ke Rungkut, Yesaya pun 'dibawa' ke Rungkut. "Tiga orang yang rutin memasok bahan untuk Yesaya. Sekarang situs kami sudah masuk catatan Vatikan," ujar pastor yang sangat ramah ini.

Bertemu Pater Gregorius Kaha, bagi saya, sangat menyenangkan. Kami sama-sama berasal dari Flores Timur. Sama-sama etnis Lamaholot. Sama-sama berbahasa daerah Lamaholot. Maka, percakapan kami di ruang atas pastoran pun diwarnai bahasa daerah. Logat Solor (dia) dan logat Ile Ape, Lembata (saya), memang beda, tapi secara umum kata-kata Lamahalot sama.

Sebetulnya tujuan saya menemui Pater Goris cuma satu: ambil jagung titi. Ini makanan kecil, camilan khas Lamaholot, di Flores Timur. Bahasa Indonesianya lebih tepat emping jagung. Mula-mula jagung disangrai, kemudian 'dititi' (dipukul) dengan batu. Jagung pun menjadi pipih. Enak sekali... bagi kami, apalagi para perantauan Flores Timur.

Ceritanya, jagung titi ini dibawa oleh teman saya, Marselina. Sekarang Suster Marselina OSA, bertugas di Ketapang, Kalimantan Barat. Dia baru pulang kampung sambil membawa oleh-oleh jagung titi. Sayang, saya tidak bisa menemui Marselina di Pelabuhan Tanjung Perak. "Kalau begitu saya titip sama Pater Gregorius Kaha," kata teman yang sekarang biarawati itu.

Nah, berkat jagung titi itulah saya beroleh kesempatan untuk berbincang empat mata dengan Pater Goris. Dia sudah lama bertugas di Surabaya, tapi saya tidak pernah omong-omong dengannya. Saya pun tak menyangka bahwa dia berasal dari Solor Timur. Baru setelah saya telepon, untuk menanyakan jagung titi, tahulah saya Pater Goris ternyata sama-sama Lamaholot.

"Wah, wah, orang Lamaholot banyak yang jadi pastor paroki di kawasan Surabaya Selatan. Pater Goris Kaha SVD, Pater Yosef Bakubala SVD, Pater Sonny Keraf SVD. Wah, tuan-tuan nepe tite lewuken amuken. Pastor-pastor itu ternyata sama-sama dari kampung kita, Lamaholot," kata saya.

Pater Goris tertawa kecil. Yah, harus diakui sejak lama paroki-paroki di kawasan Surabaya selatan 'dikuasai' pastor-pastor asal Flores. Ordonya Societas Verbi Divini alias SVD. Tidak aneh juga karena Keuskupan Surabaya memang mengajak SVD untuk membina sebagian paroki di Keuskupan Surabaya.

Lha, kalau bicara SVD, ya, mau tak mau, suka tak suka, didominasi pater-pater Flores. Lha, kebetulan saat ini pater-pater Lamaholot alias Flores Timur cukup banyak di Surabaya. "Ini semua rencana Tuhan. Saya sendiri juga tidak pernah membayangkan akan ditugaskan sebagai pastor paroki di Rungkut," kata Pater Goris.

Dia ditahbiskan di kampung halamannya pada 5 September 1988 itu. Tahbisan imamat Pater Goris Kaha SVD terbilang unik karena berlangsung di kampung yang mayoritas penduduknya Islam. Banyak anggota panitia tahbisan juga bukan orang Katolik.

"Tetapi mereka bekerja luar biasa dan sangat rukun. Warna macam ini dalam refleksi pribadi saya sebenarnya melukiskan latar belakang karya perutusan kami yang ditahbiskan," tulis Pater Goris di laman pribadinya.

Sambil menikmati makanan kecil, minum air putih, makan buah, saya dan Pater Goris bicara ngalor-ngidul tentang hal-hal kecil seputar kampung halaman. Apalagi, dia baru pulang kampung sehingga sedikit banyak tahu perkembangan masyarakat dan gereja di Lamaholot. Termasuk kelakuan beberapa oknum pastor yang lucu-lucu. Hehehe....

Sebetulnya, saya tidak berbicara lebih lama dengan putra Bapak Marcelinus Kaha ini. Namun, saya tahu Pater Goris itu pastor paroki di gereja besar dengan jemaat yang sangat dinamis. Banyak umat yang juga ingin menemuinya sekadar say hello, konsultasi, atau berdiskusi seputar bulan kitab suci.

Maka, saya pun pamit pulang.

Muri ahan beng tite tutu koda balik!

9 comments:

  1. Jagung titi ? Wah saya jadi ingin icip2, seharusnya makanan tradisi harus di promosikan.

    ReplyDelete
  2. Tambahan sedikit; dimana saya bisa membeli jagung titi ?

    ReplyDelete
  3. Wah, sangat sulit cari jagung titi karena tidak diproduksi massal. Di NTT pun hanya ada di Kabupaten Flores Timur dan Lembata. Sehingga, kami yang asal Flores Timur di Jawa hanya berharap ada titipan kalau ada kebetulan keluarga berkunjung ke Jawa.
    Saya sendiri belum tentu setahun lima kali mencicipi makanan tradisional ini. Terima kasih atas perhatian Sampean!

    ReplyDelete
  4. menarik juga bung.

    ReplyDelete
  5. ama Lamber,
    ngomong2 jagung titi, saya jadi rindu Waipukang...jagung titi disiram kua ikan rasa asamasam hmmm lalu tamba ikan bakar ..hei...sambil minum tuak koli...inatuakoi..saat-saat itu biar Belina Magun pun merasa kenikmatan bersama...

    sedap sekali...jagung titi

    franskupang manila

    ReplyDelete
  6. Wah, Belinan Magumen. Menyebut namanya saja semua orang Ile Ape dulu sudah ketar-ketir. Kegilaannya memang bukan main-main. Tapi, setelah saya belajar lebih dekat dengan dua rumah sakit jiwa di Jawa Timur--Lawang dan Menur--rasa-rasanya orang-orang di kampung perlu belajar berempati pada manusia macam Ina Belinan.

    Harus ada solusi yang medis, ilmiah, dan manusiawi. Terima kasih atas tanggapan Ama Frans. Salam.

    ReplyDelete
  7. Wah... terima kasih buat tulisan ini...
    Salam saya buat Pater Goris...
    Keluarga mereka dulu pernah jadi tetangga kami di Waiwerang, Adonara Timur... Keluarga yg sangat beriman... :)
    Semoga Tuhan selalu menyertai karya Pater Goris dalam menggembalakan umat..
    Salam...
    Piter.

    ReplyDelete
  8. Hari ini, saya senang bisa berjumpa lagi dengan pater Goris Kaha
    SVD, yang memimpin misa perayaan Pentakosta dan ulang tahun gereja Roh Kudus, Rungkut.. 4 juni 2017

    ReplyDelete
  9. Hari ini, saya senang bisa berjumpa lagi dengan pater Goris Kaha
    SVD, yang memimpin misa perayaan Pentakosta dan ulang tahun gereja Roh Kudus, Rungkut.. 4 juni 2017

    ReplyDelete