21 September 2008

Gula lempeng, nusa lontar, minum tuak

GULA LEMPENG. Teman-teman di Nusatenggara Timur bilang GULA LEMPE. Tidak pakai NG. Aha, hari ini beta lihat berita foto di harian KOMPAS edisi Minggu 21 September 2008. Dia pu judul: GULA LEMPENG LONTAR DARI PANTAI LASIANA.

Ada enam foto yang dimuat satu halaman penuh, cerita tentang Yafet Nale, 37 tahun, warga Lasiana di Kupang Tengah. Bagaimana Bung Yafet memanggul HAIK KONEUK, wadah setengah lingkaran dari daun lontar, lantas memanjat pohon lontar, lantas ganti HAIK KONEUK yang sudah penuh berisi nira. Manis sekali pasti!

Cairan nira--di Flores disebut tuak manis--kemudian diproses oleh ibu-ibu menjadi gula lempeng. Cara bikin ini gula sangat gampang. Air nira tadi dipanaskan, mengental, lantas dimasukkan ke gelang-gelang. Setelah mengering pasti mengeras. Jadilah gula lempe.

Jika engkau jalan-jalan ke pasar di Kupang, ibukota provinsi NTT, engkau pasti menjumpai begitu banyak gula lempe. Oleh-oleh khas Kupang, selain dendeng dan abon sapi yang ciamik. Satu kilogram Rp 10 ribu, isi 26-30 gelang gula lempe.

"Orang Timor, khususnya Sabu dan Rote memang tidak bisa lepas dari lontar. Hidupnya dari lontar. Kebutuhan kalori banyak diambil dari lontar. Mereka sonde (tidak makan) nasi pun sonde apa-apa asal sudah minum nira yang manis atau makan gula lempe," kata Peter A. Rohi kepada beta suatu ketika.

Peter ini orang Sabu, wartawan kawakan yang beberapa kali bikin sejarah karena liputan-liputan eksklusif dan investigatif di SINAR HARAPAN pada 1980-an. Om yang satu ini sangat bangga pada kampung halamannya, nusa lontar. Biar orang bilang apa tentang NTT, dia tetap bangga. Bae sonde bae Flobamora lebe bae!

Baru-baru ini ada teman yang datang dari Kupang. "Lu bawa gula lempe ka sonde?" beta bertanya. Ternyata, dia sonde bawa. "Beta sonde sempat beli na. Habis buru-buru sih ke bandara, takut ketinggalan pesawat. Pokoke, kapan-kapan ae aku tuku nang Kupang," kata teman dengan bahasa gado-gado--Melayu Kupang, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa.

"Yo wis, gak opo-opo. Pokokoe, ojo lali maneh lho! Beta paling suka gula lempe na," kata beta, juga pakai bahasa gado-gado.

Yang jelas, berita foto KOMPAS ini bikin beta ingat beta pu kampung halaman di Flores Timur, tepatnya Pulau Lembata. Sejak zaman dulu bapak-bapak di kampung pu kebiasaan 'mengiris tuak'. Maksudnya mengambil nira dari pohon lontar alias siwalan alias koli alias Borassus sundaicus. Dua kali sehari si bapak harus panjat lontar untuk mengambil cairan berwarna keputihan itu. Rutinitas ini, beta punya banyak kenangan di kampung, sangat mengasyikkan.

Di atas pohon, si bapak bersenandung perlahan. Lagu-lagu spontan, tradisional, khas kampung. Ketika hari mulai gelap, si bapak sudah menyelesaikan tugas 'memanen' nira di empat hingga lima pohon, bahkan lebih. Hasilnya bisa tuak manis, setengah manis, agak kecut, hingga yang berat. Tergantung ramuan yang ditambahkan ke nira tersebut.

Kalau di Kupang dan sekitarnya, khususnya Rote-Ndao, nira banyak dibuat gula lempe, di Flores Timur... lebih banyak diminum. Kumpul bersama di ORING (pondokan sederhana beratap alang-alang atau daun kelapa atau daun lontar), lantas minum. Penerangannya cukup cahaya bulan atau pelita minyak tanah. Bicara ngalor-ngidul bersama rekan-rekan satu MOTING, kemudian makan bersama.

Acara ini berlangsung sampai malam, lantas pulang, istirahat. Besok kegiatan yang sama dilanjutkan. Orang-orang kampung sonde bicara politik, karena memang sonde mengerti, sonde nonton televisi, karena memang sonde ada. Mereka bicara hal-hal sederhana tentang alam, rumput liar di kebun, panen yang gagal, dan seterusnya.

Hidup terasa tanpa bebas meskipun para pengamat dan media massa sejak dulu menyebut NTT sebagai provinsi termiskin di Indonesia. "Ketong di kampung sonde merasa miskin. Tetap makan kenyang, minum sampai berlebih, sonde stres, sonde mencuri macam di kota besar," begitu kata-kata Freddy, beta pu teman yang asal Kupang.

Sarjana yang sudah pulang kampung ini menilai para ilmuwan itu sonde tahu apa-apa tentang budaya dan kehidupan orang NTT. Kriteria miskin pakai buku teks. Rumah bambu, beralas tanah, atas alang-alang, menurut ahli, disebut miskin. "Padahal, ketong di NTT dari dulu kan begitu. Kita pu nenek moyang bikin rumah pakai alang-alang, sonde pake tembok, sonde pake aksesoris macam-macam. Apa benar ketong miskin?" protesnya.

Sudahlah, Bung! Biar sa dorang omong apa. Yang penting, kalau lu ke Surabaya jangan lupa bawa gula lempe. Nanti be sama teman-teman makan sama-sama sambil nyanyi FLOBAMORA.

Bae sonde bae Flobamora lebe bae!!!

1 comment: