23 September 2008

Damianus Wera bina Sasana Rokatenda

Lu pernah dengar nama Damianus Wera ka sonde?

Wah, kalau belum tahu, silakan baca beta pu tulisan ini: Damianus Wera Tabib Asal Flores. Dia punya cara pengobatan yang lain dari lain atau orang Jawa bilang: nyeleneh. Bayangkan, tiap hari Om Dami operasi puluhan orang pakai pisau cutter, sonde (tidak) pakai bius, sonde pakai jahit.

Dan dlam hitungan menit, pasien sudah siuman. Sonde ada bekas luka apa pun. Pasien biasa-biasa saja, ketawa-ketawa. Ada yang sembuh langsung, tapi banyak juga yang harus diterapi beberapa kali. Om Dami sudah melanglang ke beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, untuk mengoperasi pasien-pasien bule.

"Padahal, beta ini orang yang sonde pernah makan sekolah," kata pria asal Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Flores, ini.

Nah, akhir-akhir ini Damianus Wera sering muncul di koran-koran terkemuka di Jawa Timur: Jawa Pos, Kompas, Radar Surabaya, Surya. Cerita tentang pengobatan alternatif di Pondok Candra itu? Sonde. Teman-teman wartawan menulis sisi lain Om Dami. Yakni, sebagai pendiri, pemilik, manajer Sasana Rokatenda. Ketika banyak sasana tutup, Om Dami mulai berusaha menghidupkan dunia tinju di Jawa Timur yang mati suri.

Anak-anak muda Flores, Timor, Sumba... yang hobi berkelahi, suka baku pukul, diajak masuk sasana. Latihan berat tiap hari. Lantas, karena frekuensi pertandingan tinju sangat sedikit, Damianus Wera berinisiatif mengadakan pertandingan tinju rutin. "Tiap bulan beta habis Rp 2,5 juta untuk kasih makan petinju-petunju saya. Rugi terus. Tapi beta sudah telanjur suka sama tinju. Beta ini dulu juga pernah main tinju," kata Om Dami.

Memang, pada 1980-an Damianus Wera pernah ikut kejuaraan tinju amatir. Prestasinya biasa-biasa saja, tapi dia sudah punya dasar-dasar ilmu dan manajemen pertinjuan. Dia pernah diajak Pak Aseng (almarhum) untuk menggelar pertandingan tinju di Maumere, Flores, tahun 2003.

Sukses besar. Dari situ Om Aseng--yang disebut-sebut Don King-nya Indonesia--meminta Om Dami bikin sasana. Ikut menggerakkan tinju di Jawa Timur, Indonesia umumnya. Om Aseng ingin agar Om Dami ini tidak hanya berkutat dengan pasien-pasien gawat darurat yang minta operasi, kena santet, dan macam-macam penyakit berat lain. Harus ada kesibukan atau hobi lain di samping pekerjaan utama. Iya to, Bung!

"Jadi, betapa bikin Sasana Rokatenda ini juga karena dorongan dari Pak Aseng. Beta sonde akan lupa jasa-jasa beliau," ujar tabib yang lahir di Pulau Palue, 27 Januari 1960 ini.

Kenapa pakai nama ROKATENDA? Yang pasti, kita orang-orang Nusa Tenggara Timur (NTT), apalagi Flores, sonde asing lagi. Rokatenda itu nama gunung di Pulau Palue, Sikka, kampung halaman Om Dami. Orang-orang yang tinggal di sekitar Gunung Rokatenda, ya Om Dami ini antara lain, sejak dulu dikenal sakti-sakti. Banyak dukun hebat berasal dari sana.

Prof Dr Josef Glinka SVD, guru besar antropologi Universitas Airlangga, secara khusus bikin riset di Pulau Palue, Rokatenda. Pater Glinka punya riset bikin nama Palue terkenal ke seluruh dunia. "Banyak hal unik yang bisa kita gali di Palue. Saya sangat menikmati kehidupan di Palue bersama masyarakat yang sederhana, tapi sangat baik," kata pater yang sekarang menghabiskan masa tua di Biara Soverdi, Jalan Polisi Istimewa Surabaya itu.

Bagi beta pribadi, Rokatenda itu identik dengan tarian khas yang sangat terkenal di Pulau Flores sebelum 1990-an. Kalau ada pesta di kampung, wuih, orang-orang selalu minta Rokatenda. Tarian massal asal Palue, kampungnya Om Dami ini, sangat sederhana. Laki-laki perempuan, muda-mudi bikin lingkaran. Diiringi musik dengan irama khas Sikka, mirip irama country, kita berputar-putar dengan langkah maju mundur. Orang mesti senang lihat tarian ini.

Lagu paling terkenal untuk mengiringi tarian Rokatenda pada masa lalu, yang beta masih ingat, berjudul MAUMERE MANISE. Liriknya kira-kira begini:

Maumere e...
dengan pulau-pulaunya
Nyiur lambai
Maumere manis e...

Mutiara di Nusa Bunga e...

Maumere e...
Kalau masih ingat e...
Jangan lupa Maumere manis e...

Kalau ketemu orang-orang Flores, beta sering bersiul membawakan lagu MAUMERE. Pasti langsung nyambung. Tapi belum ada yang ajak beta untuk sama-sama menari Rokatenda. Om Dami bilang Gunung Rokatenda itu juga lambang kekuatan. Nah, dia ingin Sasana Rokatenda bisa mencetak petinju-petinju tangguh, kuat, punya prestasi di Indonesia dan dunia.

Wuih, Om pu cita-cita tinggi macam gunung di kampung! Harus! Cita-cita harus tinggi!

Sekarang Om Dami punya nama sudah mulai bergema di Jawa Timur--mungkin juga Indonesia--sebagai pembina tinju. Kita semua sedang menunggu kiprah petinju-petinju binaan Sasana Rokatenda.

Proficiat, Om Dami!

TERKAIT
Damianus Wera operasi tanpa bius.

No comments:

Post a Comment