20 September 2008

Ali Alatas dan Gambus El Balasyik


Ali Alatas (tengah) bersama Prof Andrew Weintraub dan Rhoma Irama.

Irama gabus, siapa tak kenal? Musik ala Timur Tengah ini sangat populer di tanah air, khususnya di kalangan warga keturunan Arab (Timur Tengah). Bahkan, sudah meluas ke mana-mana, termasuk kawasan Indonesia Timur.

Namanya pun macam-macam: zafin, dana, dani, kasidah. Yang jelas, musik yang satu ini sangat khas. Melodinya repetitif alias berulang, dengan syair berpantun. Bisa pantun cinta, nasihat, pantun lama, hingga dakwah. Karena liriknya cenderung berdakwah, musik gambus selama ini cenderung disebut musik religius. Musik islami.

Iramanya sangat ritmis, rancak. Dan itu sangat cocok buat menari. Maka, lahirlah tarian zafin yang amat populer di kalangan masyarakat keturunan Arab dan para santri. Gerakan kaki sang penari sangat asyik. Kadang mirip gerakan kaki kuda, kadang mirip orang pincang... Bikin senyum dikulum.

"Sebetulnya syairnya bisa diisi apa saja. Tapi dasar musikalnya sudah pakem, khas. Jadi, begitu dengar intronya, orang langsung tahu, oh itu gambus. Irama Zafin," jelas Ali Alatas, penyanyi Surabaya, keturunan Arab, yang kini 'identik' dengan irama gambus.

Ali Alatas ini pada 1970-an sangat terkenal di Indonesia--juga Malaysia, Brunei, Singapura--dengan lagu hitnya Rindu. [Rindu, mengapa rindu hatiku tiada tertahan, kau tinggalkan aku seorang. Engkau pergi tiada pesan. Kabar darimu kunantikan...]. Karena itu, Bang Ali yang satu ini sering juga disapa 'Ali Rindu'.

"Saya ini Ali Rindu. Kamu tahu nggak lagu Rindu," ujar Ali Alatas kepada saya beberapa waktu lalu di aula Universitas Widya Mandala Surabaya.

Lantas, pria yang dipercaya sebagai juri lomba menyanyi dangdut itu melantunkan Rindu yang melambungkan namanya di belantika musik Indonesia. Aha, persis di kaset yang pernah saya nikmati di kampung, Flores Timur. "Sampai sekarang saya masih tetap menyanyi meskipun tidak lagi muncul di televisi. Musik itu tidak pernah mati, dan saya bisa seperti ini karena musik."

Baru-baru ini saya beroleh rekaman Ali Alatas bertajuk PENGANTIN BARU. Dia bernyanyi diiringi Orkes Gambus El Balasyik, grup sangat terkenal di Jawa Timur. Bukan main! Suara Bang Ali masih tetap prima, empuk, punya sedikit vibrasi. Mirip-mirip suara Muchsin Alatas. "Kebetulan nama belakangnya sama. Hehehe," kata Ali Alatas lantas tersenyum lebar.

Ada delapan lagu di album dengan penata musik (arranger) Mohammad Va'aq ini. Pengantin Baru. Jangan Pura-Pura. Pantun Bercinta. Lain di Mulut Lain di Hati. Merana. Jangan Asal. Bagai Bidadari. Gosip.

Meski musiknya sama dengan kasidah, namanya saja gambus atau zafin atau dana, isinya tetap profan. Bukan lagu khusus islami, tapi universal. "Kita buat yang umum-umum saja untuk hiburan yang mendidik," kata pria murah senyum itu. Simak saja salah satu bait lagu Ali Alatas:

"Mau cari istri harusnya kau berhati-hati
Jangan asal jadi tanpa engkau uji
Walaupun tak cantik, asal baik budi pekerti
Asal taat pula dalam beribadah..."


Bersama El Balasyik, Ali Alatas masih terus membagikan suara merdunya kepada khalayak ramai. Sebagai penyanyi senior, dia sadar bahwa sekarang eranya penyanyi-penyanyi muda yang berjaya. Puncak kejayaan Ali Alatas sudah dicapai pada 1970-an hingga 1980-an. Ibarat roda, perjalanan hidup dan bermusik pun terus berputar.

"Yang penting, kita syukuri nikmat dari Allah," ujar Ali Alatas.

ORKES GAMBUS EL BALASYIK
Mohammad Ahmad Vada'q
(031) 7091 2236
Jalan Karangtembok 41 Surabaya

2 comments:

  1. wan tolong dong di upload di ytube lagu yg liriknya antara lain begini.... burung berkicauan... bersaut-sautan...

    ReplyDelete